Lenny Agustine : Harapan Lain Perancang Busana

Mestinya Memang Ada Acara Pergelaran Busana Tahunan Yang Digagas Pemerintah.

Banyak hal yang bisa didapat Indonesia jika mengadakan pergelaran busana internasional tahunan dan efeknya akan seperti bola salju. Antara lain, yang pasti pariwisata. Dengan diliput banyak wartawan asing misalnya, acara itu akan menjadi promosi gratis tentang Indonesia; alam, kebudayaan, kesenian dan lain-lain. 

Malaysia ternyata tak hanya “mengagumi” kesenian dan kebudayaan Indonesia, tapi juga soal mode dan busana. Setidaknya begitulah kata Lenny Agustine. Menurut perancang busana yang tahun ini mengikuti Jepang Fashion Week itu, sudah sejak lama orang-orang mengagumi kreativitas rancangan busana para perancang Indonesia. Gambar Berita Koran Jakarta 439 4 73 - 1 - 20090829 205732

“Mode yang berkembang di Malaysia bisa dikatakan masih tertinggal 10 tahun dari Indonesia,” katanya.

Soalnya kemudian, perkembangan mode Malaysia yang out of date itu tak menyurutkan negara itu mengadakan acara-acara Fashion Week, atau sejenisnya. Tahun lalu misalnya, negara jiran itu sukses menggelar Malaysia International Fashion Week 2008 dan Kuala Lumpur Fashion Week 2008. Acara itu sudah berlangsung sejak 2003 dan terbukti efektif mendongkrak kunjungan turis ke Malaysia. Tahun ini, acara serupa kembali digelar di sana.  Read more »

Surga Di Jalan Ampera

Sekurangnya Dari 32 Perkara Korupsi, 16 Perkara Divonis Bebas, Dilepaskan, Atau Dihentikan Penanganan Perkaranya Di Pengadilan Ini.


Gedung itu nampak biasa saja, jika tidak boleh disebut kumuh. Catnya kusam juga kusen-kusennya yang terlihat tua. Di depannya, bertebaran pedagang makanan, mulai bakso, ketoprak, es cendol, dan sebagainya. Itulah potret Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, yang terletak di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Tapi, bagi sebagian orang, terutama koruptor, bangunan itu disebut-sebut sebagai surga.
Indonesian Corruption Watch (ICW) menyebutkan, hingga 1997 sekurangnya dari 32 perkara korupsi, 16 perkara divonis bebas, dilepaskan, atau dihentikan penanganan perkaranya di pengadilan ini. Selain 13 perkara yang dibebaskan, dilepaskan, atau dihentikan, Emmerson juga menyebutkan enam kasus divonis kurang dari dua tahun, enam kasus lain divonis antara dua hingga delapan tahun, dan tujuh kasus divonis lebih dari delapan tahun.


Mereka yang pernah merasakan ”angin surga” di pengadilan ini antara lain, Ricardo Gelael dan Hutomo Mandala Putra yang bebas murni pada kasus ruislag Bulog. Demikian pula hanya dengan Pande Lubis dan Joko Candra yang tersangkut skandal Bank Bali yang merugikan negara sebesar 904 miliar rupiah.

Kasus yang mengejutkan lainnya adalah bebasnya Nurdin Halid dalam perkara korupsi dana Bulog senilai 169 miliar rupiah pada 2004 lalu. Saat itu, jaksa menuntut Nurdin dengan hukuman penjara 20 tahun dan denda 30 juta rupiah. Namun, majelis hakim yang diketuai I Wayan Rena dengan anggota Ahmad Sobari dan Mahmud Rohimi memutuskan tidak ditemukan unsur melawan hukum, baik formal maupun materil dalam perkara ini. 
Putusan ini membuat Dewan Perwakilan Rakyat meradang. Saat itu, mereka meminta Mahkamah Agung (MA) mengevaluasi kinerja Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dinilai terlalu sering membebaskan terdakwa kasus korupsi. MA pun memeriksa kasus ini. Dalam kesimpulan pemeriksaan diakui terjadi salah tafsir terhadap hasil putusan PN Jaksel.  Read more »

Setelah Kata-Kata Habis

Benarkah Pembahasan RUU Pengadilan Tipikor Sengaja Ditunda-Tunda Penyelesaiannya/

Ada beberapa perubahan antara draft RUU dari perumus yang masuk ke pemerintah dan draft dari pemerintah yang masuk ke DPR. 

Dua pria itu memompakan asap racun tikus dari luar pagar. Di dekat kaki mereka, sebuah perangkap tikus juga sudah dipasang. Terlihat menganga menghadap ke pintu pagar. Dua lelaki lain mengambil kardus bertuliskan “racun tikus” lalu menaburkan isinya ke sekitar pagar. Orang-orang mulai bersorak-sorai tapi disemprot sekian lama, tak satu pun tikus yang keluar atau terlihat mati. Tak ada juga yang terjebak masuk ke perangkap tikus.

Gambar Berita Koran Jakarta 439 4 105 - 4 - 20090830 001825

Di depan pintu gerbang Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, aksi “penyemprotan tikus” seperti itulah yang terlihat pada Kamis siang, pekan lalu. Sebanyak 30 organisasi gabungan LSM dan sebagainya, memenuhi halaman depan gedung wakil rakyat itu. Belasan orang hadir di sana. Mereka meneriakkan yel-yel anti korupsi dan mendesak para anggota dewan agar menyelesaikan RUU Pengadilan Tipikor.

“Kita membawa racun tikus, perangkap tikus dan pembasmi tikus sebagai simbolisasi bahwa di depan pintu gerbang DPR ini, kita akan menghadang para tikus yang akan menyerang eksistensi gerakan pemberantasan korupsi yang akan menghambat pengesahan RUU Pengadilan Tipikor,” kata Wahyudi Djafar, Peneliti Peradilan dan Konstitusi, berorasi.
Aksi itu dilakukan menurut Wahyudi, karena para anggota DPR sudah tidak mau mendengarkan masukan dari masyarakat. Bahkan di tingkat pembahasan panitia kerja atau Panja, pembahasannya dilakukan tidak di Senayan. “Mereka memilih berapat di luar gedung ini, memilih enak di hotel dengan alasan supaya tidak mendengar lagi desakan-desakan dari masyarakat,” kata Wayudi. Read more »

Kisah Pilu Para Pembasmi Tikus

Kalau Sakit Ya Obati Sendiri.Kalau Pulang Kampung Ya Rogoh Kantong Sendiri.

Selama ini, Pengadilan Tipikor menjadi institusi yang menakutkan bagi para koruptor. Tak jarang, “tikus-tikus” penggerus uang negara itu dijerat dengan hukuman maksimal. Keberadaan lembaga yang dibentuk lima tahun silam ini, memang semula merupakan bagian dari upaya membentuk pemerintahan bersih , yang digagas era pemerintahan Megawati. Read more »

Pukat Bernama Pengadilan Tipikor

Tidak Ada Yang Bebas. Bahkan Vonisnya Cenderung Melebihi Tuntutan.

Kalaupun RUU Pengadilan Tipikor akhirnya gol menjadi Undang-undang, eksistensi Pengadilan Tipikor yang ada saat ini belum aman. Perppu yang akan dikeluarkan pemerintah masih rentan di meja dewan. Akankah peradilan yang dijuluki algojo para koruptor ini akan tetap bertahan kelak?

Gambar Berita Koran Jakarta 439 4 105 - 5 - 20090830 001710

Wajar bila 30 LSM yang tergabung dalam Koalisi Penyelamat Pemberantasan Korupsi berang di depan gedung MPR Kamis silam. Wajar pula jika Konsorsium Reformasi Hukum Nasional, Indonesia Corruption Watch, atau LSM Kemitraan protes keras sejak dua tahun silam. Itu semua lantaran Pansus RUU Pengadilan Pengadilan Tipikor yang belum lama ini naik level menjadi panja berjalan lambat memproses legislasi tersebut. Sejak 2006, legislasi itu masih menggantung di meja dewan. Padahal RUU salah satu pondasi utama pemberantasan korupsi di Indonesia. “Kami tidak tahu lagi mau ngomong apa,” ungkap Wahyudi Djafar, Koordinator Demo KPPK .

Bukan cuma LSM saja yang kelimpungan, orang sekelas Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata merasa dilema. “Tanya saja ke MK kenapa membuat keputusan seperti ini?” ujar dia ketika ditemui di sela-sela rapat perdana Panja RUU Pengadilan Tipikor di ruang Mezza Nine, Imperial Arya Duta Hotel, Karawaci, empat hari silam. 

Putusan MK tertanggal 19 Desember 2006 yang menggolkan Judicial Review pasal 53 UU KPK memang bernuansa “menggugat” eksistensi Pengadilan Tipikor. Peran Pengadilan Tipikor dianggap sebagai wajah dualisme peradilan Indonesia dalam penanganan korupsi. Imbas keputusan itu membuka peluang Pengadilan Tipikor tetap lanjut atau likuidasi. Read more »

Tafsir Lain Penari Keraton

nilah Perempuan Jawa, Penari Keraton Mangkunegaran, Solo Itu, Yang Justru Menolak Pakem-Pakem Takhayul Yang Mesti Dilakoni Seorang Penari Keraton.

Gambar Berita Koran Jakarta 427 4 73 - 1 - 20090815 210211
Tapi baginya menjadi penari keraton adalah jalan hidup, yang akan dilakoninya sampai kapan pun. Separuh umurnya itu, telah dihabiskan hanya untuk menari, sejak dia mengawalinya ketika masih belia, usia belasan tahun itu.

Cinta Rury Avianti pada tari dunia tari adalah cinta air pada bumi menyerap ke dalam, menyejukkan dan memberi kehidupan. Nyaris tak ada gerak hidupnya yang terlepas dari gerak tari, ide-ide dan juga pertunjukan. Baginya menari adalah ibadah, kumpulan doa, dan semadi yang meluluhkan jiwa. Jangan heran karena itu, Rury bisa menangis justru pada saat menari. Read more »

Demi Menonjolkan Pinggang

Ikat Pinggang Ini Bisa Diaplikasikan Dalam Berbagai Kesempatan: Kasual Dengan Padanan Jins, Simple Top, Cardigan, Short Hingga Dengan Tunik Dan Busana Formal. Bisa Juga Untuk Busana Kerja Dengan Blazer Atau Suit.prodImage.ms

http://cdn.is.bluefly.com/mgen/Bluefly/prodImage.ms?productCode=2081827&width=300&height=300


Ikat pinggang ini bisa diaplikasikan dalam berbagai kesempatan: kasual dengan padanan jins, simple top, cardigan, short hingga dengan tunik dan busana formal. Bisa juga untuk busana kerja dengan blazer atau suit.

Tiba-tiba wide belt, ikat pinggang lebar itu. Ini atribut atau pernak-pernik busana perempuan yang hingga sekarang tetap dianggap bisa membuat penampilan pemakainya terlihat lebih cantik. Wide belt yang dikenakan dengan kombinasi tepat, dengan rok pencil dan atasan panjang misalnya, akan membuat penampilan perempuan semakin proporsional dan terlihat lebih anggun. Read more »

Rasa Seorang Penulis

Bondan Winarno Menyebutnya Gubernur Kuliner.

Cintanya pada dunia tulis menulis melahirkan banyak karya, termasuk
buku perihal kuliner di Jakarta. Mengapa Laksmi kemudian akan meninggalkan Tanah Air?

Gambar Berita Koran Jakarta 432 4 73 - 1 - 20090822 225805

Bagi Laksmi Pamuntjak, makanan tak pernah hanya soal makanan. Ia sarana pemersatu. Di dalamnya terkandung budaya dan bisa menyuguhkan sosiologi sebuah kota . “Dengan makanan kita bisa melihat, manusia berinteraksi. Ada nostalgia dan sejarah,” kata Laksmi suatu malam. Anggur merah direguknya, sesekali. 

Malam itu, Selasa pekan lalu, Laksmi baru saja meluncurkan buku terbarunya: Jakarta Food Guide 2010. Itu buku kelima yang menceritakan seluk-beluk kuliner di Jakarta, yang ditulis dan diterbitkan Laksmi sejak 2001. Satu buku lain yang juga diluncurkan malam itu resensi tentang 100 restoran. Read more »

Saparinah Sadli : Perempuan adalah Perempuan

Perempuan Sehat Dan Yang Berpendidikan Yang Bisa Memilih Dan Menghargai Hidup

Perempuan ini memang tak pernah lepas dan tak mau melepaskan diri dari
soal perempuan. Bahkan ketika usianya kini sudah mencapai 80 tahunan.


Jika ada perempuan yang tidak betah berdiam di rumah dan hanya menikmati masa pensiun, salah satunya niscaya adalah Saparani Sadli. Di usianya yang sudah mencapai 82 tahun, perempuan ini terus aktif mengikuti banyak kegiatan terutama yang berhubungan dengan perempuan, kaumnya itu. Sekarang Bu Sap, begitulah orang-orang menyapanya, terlihat aktif dalam penanggulangan perdagangan manusia (perempuan) di Manado. 

Dia menuturkan, di provinsi Sulawesi Utara itu, kaum perempuannya banyak yang bekerja di Papua dan Jepang. Menjadi penyanyi dan sebagainya. Tapi yang sering menjadi masalah bagi para perempuan itu, tatkala kontrak kerja habis di luar negeri, mereka tak bisa kembali ke Indonesia atau pulang ke kampung halaman. “Saat itu masalah trafficking ini kerap terjadi,” kata Bu Sap, suatu pagi, pekan silam.

Dia terlihat rapi dengan atasan batik dan celana cokelat. Aksesori kalung manik-manik menghiasi lehernya. Kuku jari-jari tangan dan kakinya terlihat terawat. Terlihat sehat dan segar. “Tak ada kiat dan rahasia, pola makan tetap sama hanya saya memang harus cukup tidur, dari dulu selalu punya waktu tidur siang,” katanya.

Menurut Bu Sap, istirahat yang cukup lebih berarti dibandingkan harus merawat tubuh tapi bekerja dengan jam tak teratur. Juga olahraga itu. Sebagai perempuan yang sudah banyak makan asam garam, Bu Sap merasa kebanyakan perempuan masa kini justru kekurangan waktu istirahat. “Barangkali karena tuntutan karir,” kata dia.

Benar, perhatian Bu Sap terhadap perempuan memang sangat besar. Baginya, perempuan adalah perempuan yang memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Salah satu alasannya, bersedia menjadi Ketua Komnas Perempuan pertama, di tahun 1998, juga karena soal perempuan itu. Sebelum itu, dia ikut langsung melakukan investigasi terhadap para perempuan yang menjadi korban kekerasan Mei 1998, di tengah penolakan sebagian kalangan yang meragukan kejadian berdarah itu. Juga pemerintah.

Sebagian menganggap soal-soal kekerasan terhadap perempuan itu adalah aib dan tak wajar diangkat ke permukaan. Namun Bu Sap atas nama Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan meyakinkan Presiden BJ. Habibie bahwa memang telah terjadi kekerasan terhadap perempuan dan itu adalah pelanggaran HAM. Pemerintahan Habibie akhirnya meminta maaf atas peristiwa hitam itu. Dua minggu setelah itu, Komnas Perempuan terbentuk, dan Bu Sap ditunjuk sebagai ketuanya.

Kini dia memang tak aktif lagi di Komnas Perempuan. Tapi pendapat dan saran-sarannya masih sering terdengar kencang di sana, termasuk soal kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di keluarga TNI dan Polri. Menurutnya, seperti halnya kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, begitu pula kekerasan terhadap perempuan di keluarga TNI/Polri.

“Kita sedang mengupayakan agar ada cara yang komprehensif oleh jajaran pimpinan TNI/Polri menangani masalah ini,” kata Bu Sap.

Makin Maju
Problem semacam itu kata dia sebetulnya bukan berita baru. Para istri komandan misalnya, tidak jarang harus menyelesaikan kasus-kasus kekerasan yang menimpa para istri bawahan suami mereka. Lalu yang menjadi persoalan, banyak para korban yang enggan melapor, karena menganggap masalah rumah tangga mereka, meski penuh dengan kekerasan itu, sebagai masalah privat. Padahal menurut Bu Sap, masalah kekerasan dalam rumah tangga saat ini sudah dianggap sebagai masalah publik dab bukan hanya wilayah pribadi.

Dengan seluruh aktivitasnya itu, Bu Sap sempat tercatat pula sebagai pimpinan Convention Watch. Konvensi itu dibentuk untuk memonitor implementasi konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Ini menjadi satu-satunya di dunia yang menyatukan berbagai anggota dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Ada akademisi, aktivis, praktisi hukum, LSM, bahkan ada juga dari media. Mantan Ketua Pusat Kajian Wanita Universitas Indonesia ini juga menjadi sumber dari banyak seminar tentang perempuan. “Saya kan memang psikolog dan khusus memilih perempuan, jadi berkegiatan di bidang yang erat dengan perempuan ini sangat berkorelasi,” katanya.

Bu Sap menuturkan, posisi perempuan Indonesia sebetulnya semakin maju dari tahun ke tahun. Salah satu bukti kemajuan itu, menurutnya, kaum hawa di Indonesia sudah bisa menempati berbagai bidang dan profesi. Kalau pun ada yang disayangkannya, itu tak lain soal UU Pornografi yang dianggapnya sangat merugikan kaum perempuan. “Kita dianggap bawel dalam soal ini, padahal semestinya Kementerian Perempuan menaruh perhatian untuk hal ini,” kata perempuan yang rambutnya dicat marun kecokelatan ini.

Bu Sap, sejauh ini memang tak segan-segan mengkritik program-program pemberdayaan perempuan dari Kementerian Perempuan karena dianggapnya kurang nyata, terutama menyangkut soal kesehatan dan pendidikan perempuan. Padahal ketika bisa hidup sehat dan memiliki pendidikan maka perempuan bisa memilih apa yang dia kerjakan dalam hidup.

“Mungkin karena selama ini Bu menteri tidak bergelut dalam bidang keperempuanan. Mudah-mudahan menteri mendatang bisa lebih bergerak merealisasikan program untuk para perempuan,” kata Bu Sap. 

Dia lalu membandingkan dengan Bangladesh, negeri yang semua perempuannya, sudah tamat SMP. Dengan bekal pendidikan itu, mereka kata Bu Sap lebih mudah diajar. Susah toh mengajar soal kesehatan reproduksi kalau tak sekolah? “ 



Di rumahnya yang teduh, di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Bu Sap kini banyak menghabiskan waktu membaca buku, menulis makalah seminar dan sebagainya. Hari itu dia baru saja membaca Plaza De Mayo, buku yang menyuarakan keadilan bagi anak-anak mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM di Amerika Latin. 

Rumah di Kebayoran Baru itu, sudah ditempatinya sejak tahun 1962. Perabotannya kebanyakan bergaya klasik Jawa. Kata Bu Sap, tak pernah tatanan rumah itu diubah. “Orang yang datang 30 tahun lalu ke rumah ini, akan melihat hal yang sama saat ini,” katanya. S

Ya seperti rumah itu, Bu Sap juga tidak berubah. Sederhana dan terus belajar. Teman-teman diskusinya sekarang bahkan kebanyakan adalah anak-anak muda, yang sebetulnya pantas menjadi cucu atau anak-anaknya. Tak jarang mereka mengajak Bu Sap sekadar berjalan-jalan cuci mata atau ngobrol dan menonton bioskop. 

“Saya banyak belajar dari mereka padahal beberapa dari mereka itu anak teman-teman saya bahkan para mahasiswa saya, mereka menularkan semangat muda,” katanya sambil tertawa. Hari sudah semakin terang. N ezra sihite


Tulisan 2 
Facebook dan Internet
Para lansia mestinya diajarkan menggunakan internet, agar betah dan tahu tentang “dunia luar” itu.

Setiap pagi, Bu Sap bangun antara pukul lima atau setengah enam. Yang biasa dilakukannya, membaca koran dan menyeruput kopi pahit. Perempuan ini memang penyuka kopi sejak muda. Kebiasaannya yang lain, dia kemudian akan terlihat memunguti bunga melati yang jatuh dari pohon melati gambir yang ada di halaman rumahnya.

Setelahnya adalah dunia Bu Sap itu: menekuni komputer, membuka internet, dan sebagainya. “Dari dulu saya memang lebih suka melakukan apa pun di rumah,” kata dia. 

Menurutnya internet itu perlu bagi orang yang berusia lanjut. Melalui internet, para lansia bisa berkomunikasi paling tidak dengan keluarga dan tak harus memaksa mereka beranjak dari rumah.

“Di Amerika, orang-orang tua itu justru diajarkan komputer agar mereka punya media komunikasi dan tetap tahu tentang dunia luar, tapi di kita kan kesan komputer itu hanya untuk yang bekerja,” kata Bu Sap. 

Jangan heran kalau nama dan foto Saparinah Sadli juga ada di Facebook. “Itu keponakan saya yang buat, kata dia lihat nih tante banyak yang add,” Bu Sap tertawa. 

Sebenarnya perempuan ini bukan tak ingin mengetahui lebih lanjut soal Facebook tapi dia merasa itu bukan sebagai kebutuhan untuknya. Katanya, Facebook terlalu menghabiskan waktu meskipun tak bisa disangkal, dari situs jejaring itu bisa bertemu banyak orang, teman lama atau kenalan baru. Persoalannya bagi Bu Sap, dia sudah cukup banyak bertemu orang secara langsung, sehingga tak terlalu memanfaatkan Facebook.

“Hidup ini jangan terlalu ngoyoh. Lakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebaik mungkin, itu saja,” kata Bu Sap. zra

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 9 Agustus 2009

Kisah Cicak Melawan Buaya

“…Cecak Kok Mau Melawan Buaya….\\\” Pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji Di Majalah Tempo Itu, Kini Terus Memantik Perseteruan Antara Kepolisian Dan KPK. Istilah Itu Mencuat Setelah Sang Komjen Merasa Telepon Selulernya Sedang Disadap Terkait Dengan Penanganan Kasus Bank Century.

Gambar Berita Koran Jakarta 419 4 100 - 4 - 20090808 233023


“…Cecak kok mau melawan buaya….” Pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji di majalah Tempo itu, kini terus memantik perseteruan antara kepolisian dan KPK. Istilah itu mencuat setelah sang Komjen merasa telepon selulernya sedang disadap terkait dengan penanganan kasus Bank Century. 
Susno tak menyebutkan siapa atau pihak mana yang menyadap. Dia menyatakan, hanya menyesalkan dan menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga, kata dia, dirinya malah sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati. Benarkah?
Sebelum muncul pernyataan Susno itu polisi sudah memeriksa Chandra M. Hamzah. Wakil Ketua KPK itu diperiksa lantaran disebut-sebut melakukan penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan. Pemeriksaan Chandra itulah, penyebab keluarnya pernyataan “ cecak kok mau melawan buaya…” dari Susno. 
Tentu saja arah pernyataan Susno mudah ditebak: cecak adalah KPK, sedangkan buaya adalah kepolisian. Pernyataan itulah yang lantas dituding sebagai upaya polisi untuk melumpuhkan KPK. Muncul kemudian Cicak, singkatan Cintai Indonesia Cintai KPK.
Gerakan ini dideklarasikan di Tugu Poklamasi 12 Juli silam diprakarsai sejumlah tokoh dan aktivis antikorupsi termasuk Teten Masduki, Erie Riana Harja Pamengkas dan Taufiqurrahman Ruki. Dua nama terakhir adalah mantan petinggi KPK periode pertama. Read more »

Next Page »