Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Perempuan 1

leave a comment »

Ina Thomas
Sosialita? Sosialita Apa?
Karena setiap orang harus berkarya.

oleh Ezra Sihite
Sekarang setelah bisnis busananya berjalan empat tahun, Ina sudah bisa lebih baik menggambar. Diah bahkan bisa begadang hingga pagi hanya untuk membuat satu model produk. Tipikalnya yang cenderung selalu penasaran membuat Ina tak pernah puas.

Tanpa harus bekerja, Ina Indayanti Thomas sebetulnya sudah bisa tercukupi kebutuhan hidupnya. Suaminya, Jeremy Thomas, yang menjalankan beberapa bisnis dan artis sinetron itu, sudah pasti tak akan membiarkan Ina kekurangan. Tapi Ina berbeda. Hidup baginya tak selamanya mudah.

“Saya ingin tunjukkan pada anak-anak, saya kerja sampai malam supaya mereka tahu hidup di dunia itu tidak gampang. Saya bilang ke mereka meskipun penghasilan papa cukup buat mama, tapi kalau hanya makan dan tidur, itu akan membosankan. Setiap orang harus berkarya,” kata Ina.

Maka Ina kemudian memutuskan bekerja. Bukan sebagai pegawai kantoran melainkan sebagai perancang busana, pakaian bohemian. Pilihannya pada bohemian atau boho, karena menurut Ina, busana itu mencerminkan kebebasan dan tidak terlihat pasaran, tentu. Ukurannya yang cenderung longgar dan panjang yang popular di kalangan hippie pada era 70-an itu, adalah dimensi busana yang memang digemari Ina.

Dulu, dia adalah penyuka busana bergaya etnik tapi kemudian beralih ke boho. Busana itu kerap dia padu dengan aksen bernuansa vintage dan tekstur etnik. “Dulu saya nggak percaya diri tampil beda. Tapi kalau saya sebagai pencipta mode tidak memakai produk saya sendiri, bagaimana orang lain bisa mencintai produk saya,” kata Ina.

Lewat merek busana VI (baca vi- red), Ina bahkan sudah menggelar pameran hingga dua kali tahun lalu. Pada pergelaran busana yang terakhir di Hotel Sultan Jakarta Pusat, Ina bersama rekannya Vera Abby menampilkan “Wonderful Life”, kehidupan yang indah. Sebanyak 30 busana boho dipajang dan diperagakan model-model cantik termasuk Ina. Pengunjungnya penuh, kebanyakan para artis.

Mungkin saja Ina tergolong memang baru “kemarin” di bisnis busana. Baru sekitar empat tahun silam ketika dia memulai berbisnis busana muslim. Produknya antara lain dijual ke Dubai dan Singapura. Dia juga mengelola butik Fesyen First yang sudah memiliki cabang di tiga mal di Jakarta. Llau Jeremy sang suami itu, mengeluhkan kesibukan Ina.

“Saya terlalu sibuk, VMT butuh diurus, sementara suami saya punya bisnis sendiri,” terang Ina. VMT adalah rumah produksi milik Jeremy yang kini ditangani oleh orang kepercayaan Jeremy.

Tanpa Modal
Awalnya adalah kecintaan Ina pada dunia fesyen yang lantas memunculkan cita-citanya sebagai perancang. Cita-cita itu tapi tak langsung kesampaian. Selain sibuk kuliah, setelah menikah Ina juga sibuk mengurus anak. Sebagai pelampiasan minatnya pada busana, dia salurkan dengan banyak berbelanja busana. Hong Kong, Singapura adalah sedikit tempat favorit yang menjadi pilihan Ina berbelanja.

Toh waktu akhirnya menghentikan nafsu belanja Ina dan mengembalikannya kepada cita-cita asal; menjadi perancang. “Saya pikir-pikir, daripada saya buang-buang duit, mendingan saya berkarya saja,” kata Ina.

Keinginan berkarya juga semakin membuncah karena kebutuhannya akan busana juga semakin kompleks, selalu ingin yang lebih bagus, selalu ingin beda. Misalnya dia sering tidak menemukan pakaian yang dia inginkan. Ide-idenya tentang rancangan busana cukup banyak, dan itu yang menyebabkan Ina menuangkan menjadi karya untuk merancang busana. Minimal untuk diri sendiri.

Dia lantas meminta izin kepada suaminya, mendirikan rumah busana. Bagi Juara Favorit Top Guest 1991 ini, pilihan bisnis fesyen paling tepat untuk menjembatani kemauan suaminya sekaligus mencurahkan ambisi bisnisnya. “Saya bisa banyak di rumah, mendesain dan mengatur permintaan pasar. Kecuali kalau harus meeting, atau ketemu klien yang minta konsultasi fesyen, ya saya keluar,” kata Ina.

Jeremy pula yang belakangan membantu persiapan bisnis Ina, mulai dari mengurus badan usaha hingga pembuatan situs internet. Ina juga tak perlu keluar uang, karena semuanya dimodali oleh Jeremy. “Kecil banget!,” kata Ina soal modal itu.

Mulanya kata Ina, dia hanya membeli bahan lalu bikin baju sendiri. Seorang penjahit langganan dia manfaatkan untuk mewujudkan rancangannya. Pada sebuah acara, Ina sengaja mengenakan busana yang dijahit sendiri itu. Dan wow…”Ternyata banyak yang pesan. Akhirnya dalam satu bulan dari modal dua juta rupiah bisa menjadi 60 juta rupiah. Percaya nggak?”

Sebagai perancang busana, Ina mengaku tidak terlalu bisa menggambar, meskipun menggambar adalah hobinya sejak SD. Obyek yang dia gambar pun itu-itu saja, kalau tidak bunga, ya baju. Ketika belajar melukis sama Pak Samboja, guru lukis itu meminta Ina menggambar gelas tapi hasilnya adalah gambar bunga. “Sepertinya di otak saya cuma bunga dan baju, walaupun gambar saya tidak sebagus mereka yang belajar di sekolah mode,” kata Ina.

Sekarang setelah bisnis busananya berjalan empat tahun, Ina sudah bisa lebih baik menggambar. Ina bahkan bisa begadang hingga pagi hanya untuk membuat satu model produk. Tipikalnya yang cenderung selalu penasaran membuatnya tak pernah puas.

Tak Asal Foto
Tidakkah kegiatannya hanya sebuah sosialita? Ina tertawa.

“Nggak saya bukan sosialita. Saya memang selalu dikaitkan dengan Vera yang memang sosialita. Kita kan bisnis bersama, untuk promosi saya harus sering ikut kan? Nah setelah itu orang bilang, ‘kok Ina sudah jadi sosialita?’ Padahal saya datang ke acara itu dalam rangka bekerja,” kata Ina.

Lantaran karena itu Ina juga sering menolak untuk difoto pada acara-acara tertentu. “Rasanya bete gitu difoto.”

Padahal banyak orang yang sangat senang wajahnya terpampang di majalah-majalah gaya hidup yang biasanya punya halaman khusus untuk hadirin di pesta-pesta, atau acara-acara kelas tinggi. Dalam acara-acara seperti itu, kata Ina, kerap tokoh publik seperti dirinya diundang dan dibayar untuk mengajak teman-temannya.

“Saya tidak mau asal foto, saya harus tahu bagaimana menjaga batasan-batasan. Karena orang bisa hancur oleh kelakuan dia sendiri, saya percaya itu. Kita harus menjaga nama keluarga, dan menikah itu kan berat tantangannya.”

Rumah Ina di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kini sering didatangi teman-temannya. Ina menyebut rumahnya itu sebagai markas bagi teman-teman dekatnya. N

Tulisan 2
Gaya Rombeng Menyapu Perhatian
Rasa puas memermak baju bekas. Itulah isyarat Bohemian.

Kata bohemian berasal dari bahasa Prancis, La Bohème yang mengacu pada kaum gipsi di negara Galia tersebut. Kaum gipsi sering berpetualang di sekitar Bohemia (wilayah Republik Ceko sekarang). Mereka hidup bebas, bersahabat dengan alam dan terbuka dengan budaya tempat yang mereka datangi.

Namun istilah bohemianisme kemudian digunakan untuk menyebut gaya hidup para seniman dan intelektual di Prancis dan Inggris pada era 50-an. Mereka menolak nilai-nilai konvensional masyarakat borjuis, kerap radikal dalam pandangan sosial dan politik, serta merayakan eksotisme budaya timur.

Di Amerika Serikat, mereka membariskan diri menentang perang Vietnam. Sembari mengobarkan semangat cinta, mereka mengecam hipokrisi generasi di atas mereka, dan tak berhenti bereksperimen dengan zat psikotropika (psychedelic). Kaum hippie, demikian mereka disebut.

Para bohemian atau hippie mengekspresikan pikiran bebasnya melalui prilaku dan cara berpakaian. Mereka menolak tren yang sedang berlangsung. Komunitas bohemian memanfaatkan baju-baju rombeng, menyatukannya dengan mesin jahit. Potongannya tanpa detail, simpel dan longgar. Kaum bohemian menemukan kepuasan dibanding harus berbelanja di toko American Apparel atau Urban Outfitters.

Debut mode bohemian dimulai sejak masa Anita Pallenberg pada 60-an. Pallenberg sering dianggap sebagai anggota ke-6 dari super grup Rolling Stones. Karakternya yang emosional cukup memengaruhi gaya bohemian pada masanya. Perempuan ini adalah model, aktris dan desainer, kekasih gitaris Rolling Stones, Keith Richards. Gaya bohemian bisa muncul dalam gaya busana, tas, sepatu, dan berbagai asesoris.

Jauh sebelum Pallenberg
Gaya bohemian tak berhenti pada pemakaian out of date fesyen. Paduan warna sembarang dan campuran berbagai material kain menjadi menjadi simbol sempurna sebuah niat pemberontakan, kreativitas artistik dan keanggunan vintage.

Saat ini rok-rok bohemian sedang tren di kalangan perempuan khususnya gadis remaja. Ciri busananya, panjang bahkan hampir semata kaki dengan mengenakan jenis bahan yang sama atau campuran berbagai bahan. Desainer Inggris, Laura Ashley, antara tahun 1960-1970 mempopulerkan gaya ini dengan rok katun panjangnya yang bercorak bunga.

Rok Ashley terinspirasi dari rok tumpuk penari Spanyol yang menari diiringi alat musik kastanyet. Sebelumnya rok bohemian itu juga pernah mencuri perhatian dunia mode melalui film Carmen tahun 50-an.

Gaya boho sempat menempati titik kulminasi mode pada musim semi 2005. Sentuhan etnik bohemian menjadi ikon yang universal. Tak hanya menyapu lantai, rok panjang ala bohemian menyapu perhatian dunia. Perempuan-perempuan fesyenable memakai rok berkerut dengan motif berbunga berharap agar terlihat bohemian, berpikiran bebas, dan non borjuis. Padahal para gadis gipsi terlihat seksi dan menarik karena mereka tidak punya perhatian pada fesyen. N
( Koran Jakarta 4 Januari 2009 )

Written by Me

January 12, 2009 at 9:10 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: