Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Geluduk, Engkau Pertanda

leave a comment »

 

Senangnya hari ini, akhirnya awan-awan mendung mulai menunjukkan diri di tengah cuaca dingin yang mengerutkan kulit dan merangsang rambut-rambut di tengkuk tertidur melindungi daging yang ditutupi jaringan lembut berwarna kuning kecoklatan di permukaannya.

 

Cukup lama kau kunantikan. Biasanya pada saat yang lalu engkau hadir tidak pernah terlambat, namun saat ini, meskipun engkau terlambat, aku bahagia hanya dengan mendengar gelegarmu dan titik-titik airmu yang kemudian jatuh, satu per satu dan semakin deras ke bumi tanah airku.

 

Berapa lama engkau akan bertahan. Jangan pergi cepat-cepat. Jangan pula dating bersama badai. Deraslah engkau menderu, tapi lindungi kami dari celaka. Saat engkau berhenti, kutunggu angin dingin sepoi-sepoi, yang mendinginkan pikiranku yang terasa panas dan hatiku yang rasanya gerah. Tinggal sementara tapi jangan pergi segera.

 

Aku tak akan membela diri bila pernah membuatmu sedih. Pasti kaumku juga yang membuatmu tak bergairah mengunjungi buana ini. Sekalipun engkau pernah tersiksa, relakah kau tak mendendam. Sebuah impian menyadarkan persona-persona ini bahwa dia tak berwajah dirinya sendiri tapi alam dan lingkungan yang juga gambaran dari realita kehidupan yang sebenarnya.

 

Hujan, senandungmu makin keras di luar. Aku tak ingin pergi ke luar hari ini, ku nikmati suasana yang tidak lagi sering kudapatkan. Secangkir teh hangat akan menemaniku kali ini dengan sedikit gula menceriakan girangku yang susah terluap akibat kebekuan.

 

Lagu yang kudengar hari ini lebih indah dari biasanya. Menjelang malam sepertinya aku ingin mengulur waktu jadi tak cepat berlalu. Sungguh, dalam tulisan, kuungkapkan senyum dari sebuah pertanda. Ini bukan hal biasa, tapi tak demikian bagiku. Bukankah para petani sedang mennatikannya, saat air kehidupan bagi padi-padi itu telah dikucurkan.

 

Hawa panas, engkau pembawa kekeringan saat dibiarkan terlalu lama. Daun-daun menguning, semakin coklat tapi tak menunggu untuk tumbuh kembali. Akarnya mati, dahaga tak terkira. Mungkin salah kami, membuatmu panas terlalu betah sehingga keramahanmu hilang dengan dominasi yang merusak.

 

Semua akan kembali seperti semula, seimbang, harmonis dan teratur. Esensi dan estetikamu terpancar dari keseimbangan itu. Tidak berat sebelah dan tidak memaksa yang berdampak menyakiti. Siapa yang mau terputus rantai keputusannya, siapa yang tak ingin mempertahankan keberlangsungan. Wahai dikau yang tak pernah peduli, sejenak nikmati hari ini. Terlalu indah untuk dirusak dengan pertaruhan keping-keping materimu yang justru akan membawamu binasa.

Written by Me

August 28, 2008 at 12:38 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: