Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Mode 1

leave a comment »

High Heels dengan Sol Setengah

Lihat, Louboutin mengeluarkan sepatu berhak 8 inci, 20 cm!

Oleh Ezra Sihite

Sepatu-sepatu hak tinggi hanya imajinasi catwalk yang selalu ingin membuat terobosan. Padahal hasilnya jadi kelihatan aneh dan membuat pemakainya seperti tokoh kartun.
Tahun ini masih tahun tinggi, tahun dengan sepatu hak tinggi. Setidaknya itu terlihat dari rancangan sepatu dari banyak perancang dan rumah mode dunia, yang mulai berpaling dari sepatu-sepatu bergaya stiletto, model hak tebal, seperti wedge platform dan sandal kelom kayu, itu. Mungkin tak berpaling, hanya modifikasi, karena rancangan sepatu tahun ini lebih tinggi, benar-benar tinggi.
Lihat umpamanya Louboutin, yang pada tahun ini akan mengeluarkan sepatu berhak 8 inci atau sekitar 20 cm! Rumah mode itu optimistis si “8 inci” akan banyak diminati.
Lalu para perancang dari Dolce & Gabbana untuk DioR dan Prada Pucci, setidaknya akan mengenalkan 10 high heels. Sepatu-sepatu yang mereka sebut sebagai “Sepatu Musim Semi 2009” itu, rupa-rupa model dan gayanya. Sebuah sepatu bahkan hanya memiliki telapak sol setengah. Diikat dengan tali-tali yang dililitkan pada betis, sepatu itu membiarkan telapak kaki pemakainya menyentuh lantai. Haknya tentu saja tinggi meskipun majalah Styleteria edisi Desember 2008, tak merinci ukuran tingginya.

Rumah-rumah mode seperti Steve Madden, Christian Louboutin, Yves Saint Laurent dan Manolo Blahnik juga menawarkan sepatu-sepatu dengan panjang hak berkuran 5-7 inci. Yang agak lain, mungkin Warren Edwards. Kata perancang itu, sepatu-sepatu hak tinggi hanyalah imajinasi catwalk yang selalu ingin membuat terobosan. “Padahal hasilnya jadi kelihatan aneh dan membuat pemakainya seperti tokoh kartun,” kata Edwards.

Ya, tampaknya, model sepatu perempuan untuk tahun ini memang masih akan didominasi sepatu hak tinggi, high heels. Sebagian dimodifikasi, sebagian lagi memang rancangan anyar seperti high heels bertapak separuh itu. Sepatu hak tinggi dengan hiasan bunga warna-warni, yang sebagian tersimpan di dalam sol tembus pandang seperti sepatu kaca Cinderela, termasuk high heels yang dirancangulang. Bentuknya tidak runcing di depan, melainkan clog.

Sepatu semacam itu, pernah popular dikenakan perempuan pada 70-an ketika generasi bunga melanda anak-anak muda seluruh dunia; rock n roll, drugs, dan seks itu. Yang membedakan, high heels berhias bunga-bunga zaman itu tak tembus pandang karena bunga-bunganya terlukis pada sepatu berbahan kulit. Hak sepatunya juga bukan tinggi, melainkan berhak tebal, kelom, clog mungkin.

Ini Soal Tumit, Risiko Tanggung Sendiri
Pengalaman sejumlah wanita dengan high heels.

Oleh Ezra Sihite

Bukkkkkk…Annet Betts tiba-tiba rubuh di trotoar, di New York’s Fifth Avenue, New York. Dia salah melangkah tak melihat lubang kecil di trotoar. Hak sepatunya yang setinggi 5 inci terjepit di sana dan Betts jatuh. “Saya masih bisa merasakan sakitnya,” kata Betts menuturkan kecelakaan yang mencederai mata kakinya seperti dikutip Wall Street Jurnal 14 Oktober 2008.

Pada peragaan busana musim semi 2008 Prada, di Milan, Italia, dua model yang sedang melenggak-lenggok di catwalk juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan yang dialami oleh Betts. Saat itu mereka mengenakan sepatu hak tinggi karya rancangan Miuccia Prada. Dan itulah masalahnya: Sepatu mereka tak terjepit di lubang dan dua model itu terpeleset. “Saat itu saya benar-benar panik, tangan saya gemetar, hak sepatunya sangat tinggi,” kata seorang model.

Beberapa model menangis di belakang panggung karena amat ketakutan dengan sepatu-sepatu mereka, sepatu hak tinggi, high heels model terbaru setinggi 10 cm. Tak dijelaskan apakah para model Prada itu, kemudian jera mengenakan high heels atau tidak, tapi setelah insiden di trotoar itu, Betts tak berpaling dari menggunakan sepatu hak tinggi. Bagi Betts high heels adalah salah satu prasayarat yang bisa mendukung penampilannya.

Ratusan ribu wanita yang lain, juga kecanduan pada high heels sama seperti Betts. Antara lain Arzeti Bilbina, pesohor dan mantan model, di Jakarta. Bahkan ketika hamil pun Arzeti tak menanggalkan sepatu berhak tinggi. “Saya harus selalu pakai sepatu bertumit,” kata Arzeti.

Benar, Arzeti memang tak punya pengalaman buruk dengan high heels seperti yang dialam Betts dan para model di Milan itu. Belum mungkin. Namun menurutnya, para model yang jatuh di catwalk saat mengenakan high heels, kemungkinan besar disebabkan oleh permukaan lantai yang licin. “Kalau ada kesempatan, saya tak keberatan jika ditawari mengenakan sepatu 8 inci (20 cm) keluaran rumah mode Louboutin,” kata Arzeti.

Sonia Wibisono, dokter yang laris ditanggap sebagai pemandu acara dan di televisi juga keranjingan dengan sepatu berhak tinggi. Sonia mengaku sudah memakai high heels sejak lulus kuliah dan koleksi sepatunya kini sudah sekitar lima puluh pasang. Tertinggi adalah high heels 15 cm. “Pakai high heels lebih nikmat, karena saya merasa lebih cantik dan tubuh lebih berbentuk,” kata Sonia.

Sakit Punggung
Tapi Eka Novitasari punya pengalaman yang lain soal mengenakan high heels. Dulu, sekretaris sebuah perusahaan swasta itu bisa memakai sepatu tinggi hingga delapan jam sehari. Tapi kini tidak lagi setelah dia terkena ostheoarthritis alias radang ikat sendi. Dokter yang memeriksa menyebut, ostheoarthritis Eka dipicu oleh tumit yang sering terbebani berat tubuh sehingga otot kaki menjadi tertekan. Akibatnya telapak kaki Eka membengkak dan harus dirawat selama tiga bulan.

Lalu Akademi Bedah Ortopedi Amerika Serikat pernah mengungkapkan temuannya soal penggunaan high heels: Pemakaian sepatu hak tinggi dapat menyebabkan gangguan pada kaki, mulai dari lutut sampai jari-jari kaki. Tekanan pada kaki dapat mengakibatkan osteoarthritis. Semakin tinggi tumit sepatu maka semakin tinggi tekanan pada kaki dan berarti risiko terkena osteoarthritis juga semakin besar.

Penelitian oleh akademi urusan tulang itu dilakukan terhadap pemakaian sepatu bertumit satu, dua dan tiga inci. Bila sepatu bertumit satu inci memberi tekanan 22 persen, maka sepatu bertumit 2 inci tekanannya 57 persen, sementara sepatu tiga inci mencapai 76 persen.

Selain osteoarthritis ada sederet gangguan lain seperti ‘naik betis.’ Ini istilah untuk otot betis yang mengalami kontsraksi dan menegang.. Ada juga morton’s neuroma, gejala sakit pada jari kaki yang jika tidak ditangani malah bisa menyebabkan mati rasa pada jari-jari itu. Hal itu terjadi akibat tekanan tumit sementara jari-jari kaki juga berdempetan dalam waktu lama sehinga saraf pada jari-jari tengah yang tertekan mengalami gangguan.

Tekanan akibat sepatu tinggi juga dapat menyebakan gangguan pada urat daging (tendon), sakit pada tulang dan pelebaran tulang sudut kaki dekat jempol. Pemakaian high heels dalam waktu lama juga bisa memicu cedera pada tumit dan penebalan pada kulitnya.

Masih ada metartarsalgia atau keretakan mata kaki. Bila perempuan yang memakai high heels jatuh, malah dapat mengakibatkan cedera pergelangan kaki. Punggung dan bagian tubuh bagian belakang juga berpotensi mengalami gangguan akibat pemakaian high heels. Selain tekanan pada kaki, otot punggung juga ikut tertekan dan tertahan.

Dr Jose Rizal membenarkan tentang efek-efek negatif dari kebiasaan pemakaian high heels. Dokter ahli pediatric atau spesialis ortopedi itu bercerita, risiko terberat dari pemakaian high heels adalah back pain (sakit punggung) sebab dengan memakai jenis sepatu ini, beban berada di punggung. “Risiko lainnya adalah cedera kaki mulai dari lutut hingga mata kaki,” kata Jose.

Tak lalu tak jalan keluar. Terapi yang bisa dilakukan para penderita antara lain dengan berenang dan terapi pengobatan. Sebagai kiat-kiat khusus, Jose menganjurkan agar tidak sering memakai high heels dan kalaupun harus, sebaiknya memilih sepatu yang ujungnya tidak lancip.

“Memakai high heels memang memaksakan otot kaki bekerja ekstra. Malam sebelum tidur, kaki karena itu sebaiknya direndam di dalam air hangat dan diangkat ke atas. Urat-urat kaki akan rileks kembali,” kata Sonia, dokter itu. N

Tulisan 3
Dari de Medici hingga John Travolta
1500. High heels kali pertama muncul di Prancis dan dalam tiga dekade terus mengalami perkembangan sehingga tumit sepatu pria bisa tiga sampai empat inci. Catherine de Medici, istri Duke d’Orleons –bangsawan Prancis yang menguasai wilayah Orleons— meminta agar tukang sepatu membuatkan high heels untuknya agar terlihat lebih tinggi. Sepatu tersebut awalnya diadaptasikan dari chopines yaitu sepatu dengan sol tebal yang terbuat dari kayu.

Ide dari Catherine de Medici, high heels menjadi daya tarik mode tak hanya bagi pria tapi juga wanita. Kecenderunga itu kemudian menular ke negara-negara lain, terutama pada kalangan bangsawan. Pada kelompok masyarakat itu, sangat familiar istilah “well-heeled”, salah satu simbol kemewahan orang kaya.

1700-1800. Sampai abad tujuh belas dan delapan belas, para bangsawan masih memakai high heels. Tren high heels sempat terguncang pada akhir abad 17 ketika terjadi revolusi Prancis. Perubahan dari sistem monarki ke republik dalam dunia fesyen berarti perubahan dari mode ala bangsawan menjadi mode rakyat jelata. High heels dianggap sebagai simbol kemewahan sehingga tidak mendapat tempat bagi rakyat.

Pada akhir abad 17 sampai 18, sepatu teplek dan sandal menjadi alas kaki yang dominan bagi perempuan maupun lelaki di Prancis. Namun pada abad ke-18, high heels kembali populer.

60 Tahun Terakhir. High heels tak terlalu terlihat pada akhir tahun 90-an. Sebaliknya sepatu bertumit pendek bahkan tak bertumit, mulai terlihat lebih dominan. Penggunaan tumit yang pendek mencapai puncaknya pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an, sedangkan tumit yang tinggi merajai tren pada akhir 80-an dan awal 90-an. Pada 1970-an itu, high heels populer di kalangan pria saat karakter John Travolta dalam film Saturday Night Fever memakai cuban heels pada adegan-adegan awal film. Penyanyi Prince juga penyanyi rock pada masa itu gemar mengenakan high heels.

Pada era 2000-an high heels muncul dengan tumit yang lebih tinggi. N

KJ04012009

Written by Me

January 12, 2009 at 9:20 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: