Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Mode 2

leave a comment »

Jengah Batik Rambah Tenun

Batik belum berhentik menginspirasi desainer. Ada yang mulai merasa bosan, dan menjagokan kain tenun.

Sorot lampu dan lampu kilat dari juru kamera menyambar siluet-siluet tubuh ramping dan kaki-kaki jenjang para model. Sajian malam itu adalah eksotisme busana khas Nusantara, batik dari beragam corak dan asal daerah.

Festival Batik Nusantara yang digelar di The Hall Senayan City 10 Desember lalu ingin menancapkan eksistensi batik di negeri sendiri yang mulai mengalami booming sejak tahun 2007. Mudah-mudahan ini tidak sekadar tren yang akan usai. Sebab batik harusnya menjadi busana Nusantara yang tak pernah tergerus selera.

Syukurnya para desainer tak berhenti mengadaptasi kain batik dalam rancangan yang tak berbatas. Perajin dan pengusaha batik juga berusaha menelurkan inovasi-inovasi untuk tetap mencuri hati para konsumen. Seperti inovasi Batik Fractal yang dikembangkan oleh Pixel People Project yang didirikan oleh tiga anak muda dari Bandung: Muhamad Lukman, Nancy Margried dan Jun Hariadi.

Mereka memanfaatkan kelihaian komputer untuk memperbanyak motif dasar batik. Dari rumusan fractal di matematika, dikembangkan menjadi perangkat lunak Batik yang memudahkan pengayaan motif batik.

Batik Karya Pixel People telah dipakai oleh desainer Era Soekamto untuk koleksinya yang ditampilkan malam itu. Salah satunya pada dress pendek satu tali dari era Sophia Loren. Bagian dada yang terbuka, atasan bermodel korset. Dibawakan gerak seksi peragawati mengikuti irama lagu C’est Bon. Asesori pita dan bandana di kepala menjadi pelengkap koleksi Era yang bertemakan “koleksi batik tetap apik.”

Agnes Budi Surya memilih teknik lukis ala batik. Gaun panjang transparan, backless dengan aksen kembang di bagian leher. Bagian bawah gaun-gaun itu diterakan lukisan diagonal warna-warna keemasan. Tak ada terusan yang berbahan full motif, hanya polos, transparan dengan sentuhan lukis batik.

Musik energik dan nuansa ceria membuka hadirnya koleksi ready to wear Lenny Agustin. Ibu dua anak ini memang sudah bertahun-tahun menempel pada batik sebagai material rancangan. Para modelnya berdandan dan bergaya seperti remaja. Itulah karakter busana second line perancang, yang beberapa bulan lalu labelnya, Lennor, dipinang Grand Indonesia. “Koleksi saya memang masih rame, ala Harajuku,” kata Lenny.

Bagi para remaja hingga mereka yang berusia 30 tahunan, Lenny menawarkan gabungan corak liris dan batik yang diwujudkan pada celan pendek, atasan aneka warna, dress casual bahkan potongan bohemian yang feminin. Tahun depan Lenny tetap berbatik. “Tapi saya ingin coraknya lebih kontemporer, barangkali pakai gambar benda-benda modern, seperti mobil atau komputer,” kata Lenny.

Motif Doraemon
Ada bintang tamu yang menemani kehadiran batik malam tersebut. Sepintas seperti kain sarung yang disulap menjadi baju-baju bergaya simpel namun modern. Stephanus Hamy, mengaku sengaja tak banyak bermain detail yang rumit. Baginya, model yang simpel akan bisa dipakai lebih lama tak kalah dimakan tren. Bukan jalur gaun, rok dan blouse meramaikan koleksi Hamy. Alasannya, yang mengenakan bisa bebas mix and match sendiri. Hamy tak memboyong batik di festival yang justru menyelipkan kata batik.

“Saya lihat tren batik belakangan ini sudah mulai ambruk karena sudah terlalu banyak. Orang kita kan begitu, tunggu sampai muntah dulu baru hilang,” kata dia.

Menurut Hamy, di satu sisi tren batik membuat masyarakat tak lupa batik. Namun di sisi lain justru menurunkan nilai kain tradisional itu. “Tekstil batik dan batik print bermunculan mulai menggeser batik asli, demi permintaan pasar,” kata dia. “Motif doraemon juga bisa batik tergantung pengerjaannya,” kata Hamy mengkritisi kian banyaknya produksi batik yang hanya mementingkan sisi komersil.

Tren batik yang terlalu lama berada di atas bisa-bisa membuat sang primadona justru kehilangan nilainya, tak lagi dimengerti para konsumen. “Boleh ada tekstil batik tapi jangan kebanyakan, lihat kalau ada pameran-pameran bisa banyak stand menawarkan batik yang sama corak dan modenya,” kata Hamy.

Tapi kain tradisional tak hanya batik. Dan kain-kain semacam itu selalu ada di hampir setiap daerah di Tanah Air. Dari satu daerah saja, bisa muncul puluhan jenis kain baik tenun, jumputan maupun ikat. Bila dikumpulkan dari Sabang sampai Merauke, inspirasi budaya busana pasti tak habis-habis. Kalau biasanya kain tradisional seperti tenun hanya dikenakan saat acara adat, bukan tak mustahil menjadikannya sebagai pakaian kantor, pesta atau santai, seperti yang belakangan mulai terlihat di Jakarta, dan di banyak kota besar.

Sebuah lompatan yang lumayan jauh, terutama karena sejauh ini, pengenaan kain tenun identik dengan kebaya dan konde sehingga yang terbayang kemudian, mengenakan kain tenun adalah merepotkan, tak dimanis dan sebagainya. “Tenun ikat NTT sekarang mulai naik,” kata Hamy yang sudah merambah tenun hampir empat tahun.

Hamy bercerita, setiap wilayah di NTT memiliki kain tenun tersendiri dengan ciri khas dan motif masing-masing. Dari tenun Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, Sabu, sekitar Lio, Sikka, Lembata dan hingga tenun Timur Flores. Umumnya semua kain tenun itu berwarna gelap, hitam, kecoklatan, merah hati, dan, ungu tua dan biru indigo. “Tenun NTT bisa untuk sehari-hari, bahkan beberapa perusahaan asing meminta saya untuk merancang seragamnya dari tenun ikat, kalau songket terlalu wah untuk dipakai sehari-hari dan bekerja,” kata Hamy yang memakai tenun ikat berwarna gelap.

Hamy memunculkan kain tenun dengan motif diagonal kotak dan liris. Blouse dan rok dengan aksen bolero melebar menjadi ciri khasnya. Leher-leher bolero yang tinggi dan lebar bagai kimono. Pria ini banyak menggunakan teknik lipat dalam detail koleksinya. Tak hanya warna standar tenun ikat, biru muda dan pink jadi improvisasi warna material koleksi. Material kainnya benar sarung, tenun ikat NTT yang biasa dikenakan sebagai sarung oleh masyarakat lokal.

Di NTT kain tenun ikat sudah dihargai sebagai budaya keseharian, tidak hanya dipakai dalam ritual adat. “Pegawai negeri dan sebagian swasta pakai seragam tenun ikat setiap Kamis, anak sekolah ada juga,” kata Lusia Maria Djebe, anggota DPRD di Lembata, NTT. Lusia merasa senang dan bangga memakai tenun ikat. Beberapa potong pakaiannya, seperti dress, kemeja, rok dan selendang dibuat dari kain ikat.

Motif tenun ikat NTT bisanya hewan yang ada di daerah tertentu seperti ikan paus di Lembata atau motif kuda di Flores. Ada juga motif perhiasan emas. Sementara dari Sabu dan Adonara, menonjol motif-motif garis. Nusa Tenggara Timur dengan kekayaan kainnya patut diberi nama Nusa Tenggara Tenun. N alfred ginting/ezra sihite

Tulisan 2
Menenun Dulu Baru Nikah
Sehabis menenun perempuan memajang kain tenunnya di depan rumah, sebagai tanda bagi para pria, ada perempuan yang siap dikawinkan.

Pletok..tok..pletok. Botta Bethan duduk di lantai, asyik dengan alat tenun. Rambutnya putih seluruh. Tubuhnya tampak ringkih, pembuluh nadi tangannya menyembul. Sambil mengunyah sirih, tangannya sibuk merapatkan benang-benang . Kemudian mengadu bambu dan kayu, yang disebut pedang, benang merapat, mulai terbentuk motif tenun.

Ditemui di pameran tenun, di Jakarta, Botta mengaku hampir setiap hari menenun. Pekerjaan itu sudah dilakukan sang nenek sejak belum menikah, sudah tiga puluh bahkan empat puluh tahunan. Tangan, kaki dan pinggangnya harus ditahan pada posisi yang tak berubah saat bertenun. Kaki diluruskan, tangan bergantian menyusun benang dan merapatkan dengan kayu. Pinggang diikatkan pada tenane, alat tenun yang diikat dengan dengan tali kulit.

Tenun ikat adalah karya para perempuan NTT. Kain ini bisa selesai dikerjakan paling cepat dalam waktu seminggu jika dikerjakan setiap hari. Bahkan ada yang berbulan-bulan. Dimulai dari pembuatan benang dari kapas yang disebut benang lungsin. Selanjutnya pencelupan benang pada pewarna alami seperti dari mengkudu, tarum, zopha, kemiri, ndongu, buah usuk, dan lain-lain. Benang-benang kering setelah dijemur, ditenun mengikuti motif yang diikatkan pada helai-helai benang di tenane.

Kain tenun berbenang dan berbahan alami jauh lebih mahal dibanding tenun dengan benang rayon dan pewarna sintetis. “Bisa jutaan bahkan belasan juta kalau yang alami, kalau sintetis ratusan ribu ada, juga puluhan ribu,” kata Lusia Maria Djebe.
Tenun ikat NTT, tak bisa ditenun di mana saja. Tiap tenun ikat harus ditenun di daerah asal, antar suku dilarang menjiplak khususnya untuk tenun ikat sarung adat. Menurut Hamy, jika ditenun di Jakarta akan beda hasilnya dengan dikerjakan di daerah lokal. Sehingga desainer tersebut harus mendatangkan material kain langsung dari pulau-pulau di Nusa Tenggara.

Musim menenun adalah saat musim kemarau, karena hujan tak akan mengganggu proses pengeringan benang. Bahan-bahan pewarna alami sebagian hanya bisa ditemui di daerah asal. Kualitas air rendaman pewarna juga bisa mengubah warna yang diserapkan ke urat-urat benang. Selain itu masalah udara. Saat dijemur, udara yang mengeringkan benang bisa berbeda di tiap tempat dan mempengaruhi warna. Tak punya pilihan, untuk benar-benar mendapatkan tenun ikat asli maka harus ditenun di daerah asal.

Masyarakat setempat biasa menggunakan tenun ikat dalam bentuk sarung. Namun sekarang, bahannya yang tak panas khususnya yang alami, warna yang tak menyolok membuat tenun ikat berpotensi dikenakan untuk pakaian apa saja. Mulai dari busana kerja, seragam sekolah, dress, bahkan celana dan kulot kasual. Pasaran tenun ikat merambah ke sejumlah provinsi di Indonesia seperti Bali, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Papua, dan Kalimantan. Ini yang dirasakan sentra tenun ikat Indao yang didirikan 1991 di Kupang. Sekitar 150-300 lembar kain ikat dikirimkan ke provinsi-provinsi di Indonesia.

Kegiatan menenun adalah milik perempuan di NTT. Terutama di Ende, menenun masih menjadi hal yang wajib bagi kaum Eva. Bahkan ada tradisi, kalau perempuan belum tamat bertenun maka tak boleh kawin. Sekarang tradisi ini memang tidak seketat dahulu, terutama bagi masyarakat di daerah kota. Mengapa tak boleh kawin?

Dengan hasil tenunnya, para perempuan membantu menafkahi keluarga. Kalau tak bisa bertenun, berarti tak bisa mandiri dan menghidupi keluarga sendiri. Konon, sehabis menenun perempuan memajang kain tenunnya di depan rumah. Ini pertanda bagi para pria, ada perempuan yang siap dikawinkan. Tak ada tenunan, tak ada pernikahan. N ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 4 Januari 2009

Written by Me

January 12, 2009 at 10:02 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: