Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Mondial 1

leave a comment »

Mereka Menyebut Sebagai “Orang Bukit”

Mereka menyebut diri mereka sebagai “orang bukit.”

Tak jauh dari perbatasan Gaza-Israel, Moti Danino duduk di atas matras yang terhampar pada bagian tanah yang di sekitar bukit Hebron sebelah selatan Gaza, tak jauh dari Gaza City. Laki-laki itu mengamati lewat teropong wilayah di utara mereka yang kini dikepung oleh asap ledakan bom dan bunyi rentetan senapan, Gaza City. “Saya datang ke sini karena pada akhirnya militer kami berbuat sesuatu, menunjukkan pada dunia bahwa kami tak lemah,” kata Danino.

Danino memang punya alasan kuat datang ke bukit Hebron. Moshe, anaknya yang berusia 20 tahun adalah pasukan infantry Angkatan Darat Israel, dan ambil bagian merangsek ke Gaza City, tepat di bawah bukit tempat dia duduk, seolah seorang ayah yang menyaksikan anaknya bermain sepak bola dan kemudian ikut menyoraki dari tribun. “Tentara menyita semua ponsel prajurit sebelum mereka bertempur, jadi inilah satu-satunya cara, saya bisa merasa tetap berhubungan dengannya,” kata Danino seperti dikutip Wall Street Journal, 8 Januari 2009.

Bersama lusinan penduduk Sderot yang lain Danino sengaja datang ke bukit itu, setiap hari sejak Senin lalu, untuk menonton serangan darat tentara Israel ke Gaza. Mereka berbagi tempat dengan juru kamera militer Israel, dan belasan wartawan asing yang dilarang militer Israel memasuki Gaza. Hampir semuanya dari penduduk Sderot yang datang ke bukit itu membawa bekal makanan dan radio untuk mendengarkan berita penyerbuan Israel. Sebagian ada yang membuat laporan tentang penyerangan Israel, dan bukit-bukit yang terlihat mengepul penuh asap dan debu. Mereka menyebut diri mereka sebagai “orang bukit.”

Di dekat Danino duduk, terlihat empat orang remaja yang duduk berdekatan. Mereka berseru “Oh” dan “Ah” ketika menyaksikan serangan udara yang berlangsung. Salah seorang dari mereka, Nadav Zebari yang sedang belajar Taurat di Yerusalem, menyaksikan pemandangan di hadapannya sambil mengunyah roti lapis keju. Sesekali dia menyeruput Coca Cola, coke diet.

“Saya ingin menjadi bagian dari perang,” kata seorang teman Zebari. Belakangan dia buru-buru meralat ucapannya, “Maksudku bukan bagian perang tapi sebuah operasi.” Menurutnya perang seperti sebuah pertunjukan pembantaian.

Juga dari bukit Hebron itu Jocelyn Znaty, seorang perawat Magen David Adom, rekan kerja Palang Merah Internasional (ICRC), bertepuk tangan ketika menyaksikan mortir-mortir Israel meledak di Gaza. “ Bravo, “ katanya.

Sepanjang tahun lalu sudah dua kali rumah perempuan gemuk berusia 60 tahun itu, dihantam oleh roket Hamas. Znaty memang tidak terluka tapi serangan roket itu membuatnya menyimpan kemarahan terhadap Hamas.

Tak Bisa Menolong
Dia mengaku sebetulnya tak nyaman karena harus menyoraki sebuah pembantaian: Pesawat-pesawat tempur Israel, kapal-kapal dan artileri yang menghancurkan Gaza lebih dari seminggu itu. Namun kata Znaty semua merupakan wujud serangan balik terhadap Hamas yang selama ini menyerang. “ Rasanya aneh saat saat saya bekerja untuk palang merah tapi bangsa saya justru mencabut nyawa orang. “Saya menyesal tapi entah kenapa, maaf ada rasa senang,” kata Znaty.

Pemandangan yang hampir sama dengan di bukit Hebron, terlihat di di perbatasan dekat Mesir-Gaza, Rafa sebelah selatan Gaza City. Seperti halnya penduduk Sderot, orang-orang Arab juga berkumpul di sana, menempuh jarak puluhan kilometer untuk menonton pengeboman pesawat tempur Israel. Bedanya mereka berkumpul di Rafa, dengan kemarahan dan penyesalan, mengutuk serangan militer oleh tentara Israel.

“Kami merasa tak bisa menolong, kami pikir kami sangat dekat tapi ternyata tidak bisa melakukan apa-apa,” kata Rami Ibrahim Shahin, seorang mekanik berusia 20 tahun dan berasal dari keluarga Palestina. Saudara lelaki Rami kini tinggal di Gaza wilayah yang diserang Israel. Setiap malam, Shahin berjalan beberapa mil untuk mencapai perbatasan, mencari tempat strategis dan menyaksikan serangan-serangan tentara Israel.

“Sepanjang hari, seperti ini, kita menyaksikan serangan di depan mata dan kepala kita sendiri,” kata Osama Al Beyali, penduduk Rafah yang berusia 51 tahun.

Ketika menyaksikan serangan, mereka berharap agar korban di pihak Israel juga banyak. Al Beyali mengatakan dia selalu memikirkan anak-anak Palestina yang sedang menderita karena flu dan kekuarangan makanan di bawah barak. “Ketika saya melihat anak-anak itu, saya merasa bersalah. Ini tak adil. Tak adil. Seharusnya saya punya cara untuk bisa masuk dan melawan Israel,” katanya.

Hingga pekan ini pembantaian Israel telah memakan ratusan nyawa, ribuan yang lain terluka dan rumah-rumah sakit di Gaza sesak dengan pasien yang tertolong. Pihak rumah sakit karena itu mendorong ICRC mengumumkan krisis kemanusiaan di Gaza, wilayah yang dihuni 1,5 juta penduduk. Menurut laporan PBB, serangan Israel paling sedikit telah menewaskan 680 orang dan melukai sekitar 3.000 orang yang sebagian besar adalah warga sipil. Di pihak Israel 10 orang diberitakan tewas termasuk 3 orang sipil. N ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta  11 Januari 2009

Written by Me

January 12, 2009 at 10:08 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: