Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Republik Petruk Republik Amburadul

leave a comment »

Tontonan dan pembelajaran menjelang pemilu, karena kekuasaan mestinya dijalankan dengan amanah.

Di bawah titah Petruk, korupsi hilang, rakyat makmur, negara kuat, dan disegani. Tak ada pelanggaran hukum dan calon koruptor mesti berpikir seribu kali untuk korupsi. Besannya juga dihukum mati..

Petruk bimbang di depan Pramesti Guru dan Narada. Dua orang itu kini terus berkata-kata. “Titipan harus dimaksimalkan, kekuasaan di depan mata, peluang tak datang dua kali. Lari-larilah Petruk,” bujuk Pramesti Guru dan Narada.

“Lari kemana?” tanya Petruk.

“Lojitengara. Ratu di sana sudah saatnya dilengserkan,” Narada memberi petunjuk.

Brabat!!! Kalimasada dibawa lari. Petruk lupa jimat pusaka Atmarta yang sakti mandraguna itu sekadar titipan. Dia lari, lari, dan terus berlari hingga terhenti di alun-alun Lojitengara, lalu menantang perang ratu yang berkuasa. Menang.

Petruk menjadi ratu dengan gelar mentereng, Baginda Belgeduelbeh Tongtongsot. Tak lupa diangkat juga Ditya Kaladurga jelmaan Guru dan Kanekaretna jelmaan Narada menjadi patih dan panglimanya. Di bawah kuasa Petruk, Lojitengara berubah. Tatanan lama dibongkar dan semua aturan diobrak-abrik.Reformasi.“Demokrasi yang kureformasi adalah serbaboleh ye..” Petruk mencanangkan sungsang bawono balik –menjungkirbalikan tatanan.
Itulah sepenggal lakon Republik Petruk yang dipentaskan Teater Koma, mulai 9 hingga 25 Januari mendatang di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Menurut sutradara sekaligus penulis skenario, Nano Riantiarno, Republik Petruk merupakan tontonan sekaligus pembelajaran bagi masyarakat jelang pemilu. “Lakon ini merupakan gambaran dari dunia politik yang kini membebaskan segalanya. Apa saja boleh, bahkan sampai kekerasan pun dipakai,” ujarnya.
Ide lakon di pertunjukan Teater Koma yang ke-116 ini sebetulnya soal kekuasaan, tepatnya bagaimana seseorang memegang amanah kekuasaan. Petruk yang sebetulnya hanyalah punakawan, seolah mendapat durian runtuh dengan membawa lari jimat Kalimasada.

Cerita bermula dari perseteruan Mustakaweni (Cornelia Agatha) yang ingin membunuh Arjuna (Dessy Mulasari). “Aku harus membunuh Arjuna hari ini juga,” teriaknya diiringi musik rock yang menghentak dan lampu sorot yang berganti-ganti warna.

Singkat cerita, Mustakaweni, yang mampu mencuri jimat Kalimasada dari Gatotkaca berhasil mengalahkan Srikandi (Istri Arjuna). Tak hanya Srikandi, Pandawapun tak mampu mengalahkan Mustakaweni. Perawan cantik itu baru kena batunya saat berhadapan dengan Bambang Priambada “si anak hilang” yang sedang mencari sang bapak, yakni Arjuna.

Sebelumnya oleh Srikandi, Bambang dijanjikan akan dipertemukan dengan ayahnya, bila dia dapat mengembalikan Kalimasada ke Atmarta. Mustakaweni kalah oleh Bambang bukan karena adu jaya-kawijayan. Cintalah yang kemudian melumerkan dendam. Cinta pula yang membuat Mustakaweni membiarkan Bambang merebut Kalimasada yang disimpan di gelungnya. Sialnya, karena repot oleh perangnya, Bambang menitipkan pusaka itu pada Petruk yang lalu berkuasa.

Di bawah titah Petruk, korupsi hilang, rakyat makmur, negara kuat, dan disegani. Tak ada pelanggaran hukum dan calon koruptor mesti berpikir seribu kali untuk korupsi. “Kami juga sudah menghukum mati besan paduka yang korupsi baginda,” begitu lapor patih dalam pisowanan agung Lojitengara kepada Petruk.

Tapi semuanya hanya komoditas publik karena Petruk pun sebetulnya ngawur menjalankan kekuasannya. Dia, misalnya, berbuat KKN dengan membangun Taman Kaputren Lojitengara persis Taman Kaputren di Atmarta untuk istrinya Ambarwati. Limbuk dan Cangik, dua emban di Taman Kaputren juga ikut diboyong oleh Petruk. Keduanya dijanjikan mengelola spa di Lojitengara, untuk membalas sakit hatinya karena dipermalukan Srikandi.

Formal dan Kaku
Sejak kali pertama mentas pada dekade 70-an, paguyuban seni pertunjukan ini kerap tampil tanpa jarak dengan penonton. Para pemainnya, seperti Salim Bungsu, piawai membakar gairah penonton dengan lelucon-lelucon segar. Ciri lainnya, teater ini kerap kali menyentil kondisi sosial politik Tanah Air yang membuat Nano dan kawan-kawan mondar-mandir diinterogasi aparat Orde Baru.

Namun, seiring perjalanan waktu, sentilan-sentilan lewat celetukan di atas panggung memang mulai dikurangi, tentu karena jaman yang juga telah berubah dan sebab masyarakat sudah bebas berbicara. Nano kini lebih mementingkan unsur estetika, sembari menjaga alur cerita.

Persoalannya meskipun Republik Petruk menarik secara estetika, pementasan Teater Koma kali sulit untuk tak disebut membosankan: Berdurasi empat jam dengan hanya sekali jeda selama sepuluh menit. Bahkan di awal-awal pertunjukan, praktis hanya Budi Ros—pemeran Petruk, yang berada di panggung. Sesekali dia memang mencoba melucu. Selebihnya sang Petruk lebih asyik dengan perannya sendiri.

Keusilan dan gaya bicara ceplas-ceplos yang menjadi ciri khas Petruk seperti dalam cerita pewayangan, tak terlihat di Graha Bhakti Budaya. Petruk oleh Teater Koma ditafsirkan formal dan kaku, lebih mirip priyayi dibandingkan punakawan yang merakyat.

Tak lalu membosankan berarti jelek sama sekali. Pentas Teater Koma ini tetap menyegarkan ketika iklim politik di negara ini mulai menghangat menjelang pemilu. Republik Petruk seolah hendak menyampaikan pesan bagi para politikus untuk menjaga amanah kekuasaan.N adiyanto/teguh nugroho

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 11 Januari 2009

Written by Me

January 12, 2009 at 10:34 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: