Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Titik Tengkar Wilayah Imajiner Tapian Na Uli

with one comment

Panitia pembentukan Provinsi Tapanuli dianggap lebih terfokus untuk mendekati pemerintahan pusat, ketimbang memupuk kepercayaan masyarakat.

Ketika Belanda menjajah, distrik Mandailing yang mayoritas beragama Islam sebenarnya tak mau bersekutu dalam Keresidenan Batak, yang meskipun berasal dari satu etnis hanya berbeda agama saja. Karena alasan agama pula, mereka konon enggan termasuk dalam sub-etnis Batak jauh mengingkari pembawaan lahirnya. Mandailing malah lebih suka bergabung dalam Keresidenan Padang. Untuk menghindari percekcokan itu, dipilihlah nama Tapanuli—berasal dari kata Tapian Na Uli, nama teluk di pantai Sibolga—sebagai titik temu. Mereka setuju.

Itu di bawah pemerintahan kolonial yang represif. Wilayah imajiner Keresidenan Tapanuli kini mau diwujudkan kembali: berbentuk Provinsi tersendiri yang keluar dari induknya, Provinsi Sumatera Utara.

Suatu hari, sejumlah penggede  warga Batak berkumpul. Mereka adalah GM Chandra Panggabean yang kemudian menjadi ketuanya, jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan (penasehat), Budiman Nadapdap (wakil ketua) dan Hasanuddin Butar-Butar (sekretaris). Bersatu, mereka bergabung dalam panitia Pembentukan Provinsi Tapanuli.

Saat itu Chandra adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara dari Partai Golkar. Ayahnya adalah pemiliki surat kabar Sinar Indonesia Baru di Medan, yang mempromosikan besar-besaran sekaligus menyebarkan opini mengenai Protap itu. sedangkan media di Medan lainnya malah memilih berseberangan: kontra Protap.

Bukan hanya sebatas retorika, panitia mendapat dukungan politis dari DPRD Sumatera Utara dan rekomendasi langsung dari lima bupati, yakni Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbahas), Toba Samosir (Tobasa), Samosir, Nias Selatan (Nisel), dan Wali Kota Sibolga.

Panitia Pembentukan Protap sah disetujui dalam Kongres Masyarakat Tapanuli, 6 April 2002 silam, di Kota Tarutung. Selain dukungan menguat, sambutannya pun amat meriah. Sedikitnya hadir 40 ribu masyarakat yang berduyun-duyun datang dari 10 daerah kabuoaten/kota yang direncanakan bergabung: Kabupaten Tobasam Samosir, Taput, Humbahas, Tapteng, Sibolga, Dairi, Pakpak Bharat, Nias, dan Nias Selatan.

Dari kabupaten yang mendukung, beberapa di antaranya baru memekar menjadi daerah tingkat II tersendiri di bawah Sumatera Utara. Misalnya ialah Kabupaten Taput, Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapteng, dan Kabupaten Nisel.

Wacana pemekaran terus bergulir, dan dukungan pun semakin mengalir. Sejumlah anggota DPRD Sumut dan DPR RI ikut mendukung. Dari anggota dewan pusat, Dr Johny Allen Marbun dan Parlindungan Purba membetikan sokongan.

Tak hanya sambutan manis. Reaksi perlawanan pun bergulir sejak awal. Pihak kontra yang tidak mendukung pembentukan Protap kebanyakan mengaku tidak mengerti tujuan Provinsi yang akan memekar itu. Sebagian kabupaten-kabupaten tetangga yang tidak masuk dalam rencana Protap menentang. Lalu, muncul kecurgiaan bahwa Protap hanyalah pemuasan kepentingan segelintir orang yang menginginkan jabatan, proyek dan penerimaan dana dari pusat.

 

Kaya Lobi, Miskin Kepercayaan

Ada pula yang bilang pemekaran bukan solusi cerdas. Pihak ini, misalnya, bercermin dari banyaknya daerah hasil pemekaran yang tidak masuk dalam daftar daerah tertinggal di Sumut seperti Kabupaten Pakpak Barat. Pemekaran disimpulkan tak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya.

Panitia banyak melobi ke Jakarta, entah eksekutif maupun legislatif. Wapres sendiri merespon positif usai ditemui panitia, 20 Februari 2007. Presiden Yudhoyono malah menerbitkan Surat Presiden tentang RUU Pembentukan Protap dan 14 kabupaten/kota lainnya. Dalam suaratnya tertanggal 1 Februari 2008 kemarin, menugaskan Mendagri serta Menhukham, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, mewakili pemerintah untuk membahas RUU yang dimaksud.

Itu surat yang dikirim Istana membalas surat DRP RI tertanggal 10 Desember 2007. Di Sebelum melayangkan surat untuk pemerintah, Protap digodok di Senatan dalam Sidang Paripurna, 11 September 2007, yang hasilnya mengamanatkan Komisi II DPR untuk melakukan verifikasi. Usai memverifikasi, Komisi II menyerahkan hasilnya ke pimpinan DPR: bahwa Protap telah memenuhi syarat teknis adminsitratif sebagaimana disyaratkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kamar legislatif lainnya, DPD RI, juga menyetujui usulan pembentukan provinsi baru di wilayah sebelah selatan Aceh itu dalam sebuah rapat paripurna, 27 November 2007. Tak sembarangan, DPD berani mengambil keputusan setelah melakukan kajian dan peninjauan langsung ke wilayah yang akan bergabung dengan Protap.

Tapi, lobi yang berjalan baik itu tak didukung oleh perhatian warga. Semangat kebersamaan yang sempat membara di Kota Tarutung dalam deklarasi dulu, makin hari makin surut. Upaya menyulut api kebersamaan semakin meredup.

Penyebabnya, panitia dianggap lebih terfokus untuk mendekati pemerintahan pusat, ketimbang kepercayaan masyarakat. Bagai dianaktirikan, masyarakat dibiarkan untuk memahami sendiri maksud dan tujuan menghadirkan kembali “wilayah imajiner” Keresidenan Tapanuli itu menjadi Provinsi. Panitia-panitia lokal di setiap kabupaten/kota juga tak memunyai kegiatan terprogram, sistematis, dan berkesinambungan.

Protap belum terbentuk, semangat perlawanan menguat dengan munculnya wacana tandingan berupa pembentukan Provinsi baru selain Protap, yakni Provinsi Tapanuli Barat (Protabar). Deklarasi yang dibacakan pada 29 Oktober 2008 di Pinang Sori, Tapteng itu sekaligus menolak pembentukan Protap. Daerah yang masuk Protabar itu terdiri atas Kabupaten Nias, Nisel, Tapteng, Kota Sibolga, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Madina, Padanglawas Utara (Paluta), Padanglawas (Palas), Tapsel, dan Pakpak Bharat. Kemudian hari, bahkan Nias juga menyatakan tak mendukung lagi Protap, dan mewacanakan Provinsi Nias. 

 

Rembug Meletihkan

Kini hampir tujuh tahun setelah dideklarasikan, pembentukan Protap hanya memakan waktu dan menyembulkan pro-kontra di masyarakat Sumatera Utara. Tak terhitung berapa kali tim teknis dari Depdagri meninjau persiapan protap itu. Hasil observasi yang masih terus berkembang melaporkan kesiapan tujuh kabupaten/kota yang siap bergabung dengan Protap: Kabupaten Taput, Humbahas, Tobasa, Tapteng, Nisel, dan Kota Sibolga.

Meskipun kedatangan mereka malah mendapat reaksi keras dari sebagian masyarakat Tapteng dan Kota Sibolga. Salah satu alasannya ialah persengketaan keputusan di mana ibu kota Protap berada. Kantor sementara yang ditunjuk untuk Gubernur Protap pun sarat dengan kepentingan sepihak, yakni di Universitas Sisingamangraja XII Tapanuli (Unita) di Siborong-borong, kampus milik GM Panggabean.

Wilayah Protap dengan luas sekitar 2 juta hektar dan jumlah penduduk 2,4 juta jiwa itu belum akan berhenti dari tarik-menarik politik. Pada 22 Desember 2008 malah muncul perlawanan lagi. Sejumlah tokoh dan pejabat eksekutif di wilayah Tapanuli bagian selatan (Tabagsel) mendeklarasikan pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara (Sumtra) di Sipirok. Deklarasi itu digagas lima kepala daerah Tabagsel, yakni, Tapsel, Mandailing Natal (Madna), Kota Padangsidimpuan, Padanglawas, dan Padanglawas Utara (Paluta).

Sidang Paripurna DPR RI malah tidak mengagendakan RUU Protap dengan pertimbangan belum memenuhi persyaratan: panitia tak mengantongi rekomendasi dari DPRD Sumut. Panitia terus melobi DPRD Sumut, bahkan dengan mengerahkan ribuan massa, termasuk demonstrasi pendukung Protap di depan gedung dewan yang menyebabkan kematian Abdul Azis Angkat, ketua DPRD Sumut, 3 Februari lalu. Kini, rembug masalah Protap benar-benar meletihkan. jacques umam/kristian ginting

 

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 15 Februari 2009

Written by Me

February 17, 2009 at 10:27 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. WAH KALAU BEGINI JADI SERBA SALAH
    MAU DUKUNG YANG MANA

    arief rachman siregar

    March 2, 2009 at 1:11 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: