Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Nixon, Sekali Lagi

leave a comment »

Sebuah film tentang perdebatan antara Presiden Amerika ke-37 dengan komedian David Frost.

Dikritik orang terdekat Nixon sebagai film yang tidak akurat, film yang disutradari Ron Horward ini meraih lima nominasi oscar tahun ini.

Film ini sebetulnya pengulangan dari drama yang dipentaskan Peter Morgan di London dan Broadway pada 1992.  Morgan yang tertarik dengan kisah David Frost yang terobsesi melakukan interviu dengan Richard Nixon, ketika itu mengemasnya dengan judul Frost/Nixon. Sekitar 16 tahun kemudian drama itu menarik sutradara Ron Howard untuk menyajikannya di layar lebar dan  Morgan dipercaya sebagai penulis skenario dengan judul yang sama Frost/Nixon.

Inilah film yang berkisah tentang skandal Watergate dari sudut pandang berbeda. Setidaknya jika dibandingkan dengan  All the President’s Men yang mengangkat kisah lika-liku Bob Wooward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman), dua jurnalis Washington Post yang menguak skandal itu. Sementara Frost/Nixon yang pengambilangambarnya dimulai sejak 2007  bercerita tentang obsesi komedian David Frost yang ingin melalukan wawancara dengan Richard Nixon, presiden Amerika Serikat ke 37.

 

frostnixonposter

Sakndal Watergate memang skandal terbesar dalam sejarah kepresidenan Amerika. Melibatkan hampir semua orang di Gedung Putih dan para petinggi di Partai Republik, skandal itu berujung pada pengunduran diri Nixon. Hari itu 7 Agustus 1974, ketika angin musim gugur bertiup kencang di Washington, Nixon terlihat berjalan penuh keyakinan menuju helikopter yang sudah menantinya di halaman Gedung Putih.

Dia terus menebar senyum, tangannya dilambaikan. Sama sekali tak tampak rasa bersalah pada wajah bulatnya. Sebuah stasiun televisi menyiarkan langsung peristiwa itu dan konon sekitar 4 jutaan orang Amerika kemudian turut menyaksikannya. Namun hingga lelaki itu meninggalkan Gedung Putih, tak seorang wartawan pun yang  bisa mengorek keterangan dari Nixon perihal skandal politiknya. 

Adalah David Frost yang lalu terobsesi mewawancarai Nixon. Komedian dan presenter berkebangsaan Australia yang bekerja pada sebuah televisi Inggris itu berusaha mendekati kubu Nixon agar mantan Presiden Amerika ke-37 itu bersedia diinterviu dalam sebuah siaran langsung televisi. Butuh waktu tiga tahun bagi Frost mendekati kubu Nixon, sebelum dia mendapatkan kesempatannya. Itu pun harus didahului dengan lobi tinggi, termasuk fee yang harus dikeluarkan pihak Frost kepada Nixon 600 ribu dolar AS. Syarat lainnya yang diajukan Nixon: Frost tidak boleh menekan Nixon dengan pertanyaan seputar Watergate dan Perang Vietnam.

 

1-3 yang Mematikan

 

Singkat cerita, terjadilah wawancara yang diimpi-impikan Frost. Dibagi menjadi empat sesi, wawancara itu direncanakan berlangsung 8 jam dengan setiap  sesi berdurasi  2 jam. Mudah ditebak, dalam wawancara itu  Frost sama sekali tak berkutik menghadapi Nixon. Politikus ulung, yang lihai bersilat lidah, sinis dan arogan itu bahkan tak memberikan Frost menyela jawabannya. Begitu seterusnya hingga wawancara sesi ketiga berakhir.

Kubu Nixon merasa di atas angin karena yang dia hadapi hanyalah seorang komedian. Empat hari sebelum wawancara sesi terakhir Nixon menghubungi Frost. Dalam keadaan mabuk, dia memperingatkan Frost bahwa siapa pun di antara mereka yang kalah dalam wawancara akan menghadapi kehancuran. Frost kata Nixon, selain gagal mengulik apa yang sesungguhnya ingin dia tanyakan, juga akan bangkrut karena harus membayar 600 ribu dollar AS kepada Nixon. Sebaliknya reputasi Nixon akan semakin buruk jika Frost berhasil memaksanya bicara.

Ocehan Nixon itu membuat Frost tergugah melakukan riset mengenai skandal Watergate. Bersama tim penyusun materi wawancara, Bob Zelnick dan James Reston Jr— Frot  lalu melakukan riset soal perkara Watergate. Empat hari dia menghabiskan waktu mempelajari skandal besar dalam sejarah presiden Amerika itu sebelum bertemu lagi dengan Nixon pada sesi terakhir wawancara.

Hasilnya di luar dugaan Nixon dan kawan-kawannya. Frost bukan saja berhasil menyela jawaban Nixon yang berbelit dan juga mengajukan pertanyaan soal Watergate— melainkan juga sanggup memancing amarah Nixon. Sifat asli sang presiden yang suka melontarkan kata-kata kotor, banyak bertaburan dalam wawancara itu. Kalimat mengutuk seperti “sons of a bitch” berkali-kali muncrat dari mulut Nixon ketika kepadanya diajukan  pertanyaan seputar upayanya membakar beberapa hasil rekaman pembicaraan dengan orang-orang partainya.

Emosi Nixon semakin membuncah saat Frost menukik dengan pertanyaan soal Watergate. “Saya telah menjatuhkan negara saya, dan yang terburuk saya telah menghancurkan mimpi para pemuda yang ingin bekerja di pemerintahan. Sekarang mereka akan berpikir,  ‘Oh, mereka (pejabat pemerintah) hanya bisa korupsi’. Saya akan menanggung beban ini selama sisa hidup saya. Kehidupan politik saya telah usai,” kata Nixon berkeringat.

Aktor Terbaik

Dua tokoh utama di film ini adalah aktor yang sama, yang bermain dalam versi panggung Frost/Nixon. Nixon diperankan oleh Frank Langella dan   Frost oleh Michael Sheen. Akting keduanya tak perlu diomong lagi karena kenyang dalam seni peran panggung.

 

Lewat perannya sebagai Nixon di film ini,  Langella bahkan  berhasil meraih penghargaan Las Vegas Film Critics Society untuk kategori Aktor Terbaik. Bentuk punggung Langella yang bulat dan suaranya yang berat dinilai berhasil menghidupkan sosok Nixon. Bahasa tubuh dan mimik Nixon yang sombong, sinis dan arogan juga  diperankan dengan baik oleh Langella. Terutama pada adegan klimaks, saat emosi Nixon meledak-ledak menanggapi pertanyaan seputar Watergate.

 

Akting Langella mengingatkan  kepada akting  Philip Baker Hall yang juga pernah memerankan Nixon dalam film Secret Honor (1984). Hall bermonolog dalam film berdurasi 90 menit ini. Ia meluapkan kemarahan, kecurigaan, kesedihan, kekecewaan dan hidupnya yang kontroversial di sebuah kamar di rumahnya di New Jersey selama 90 menit lamanya. Hall bermain habis-habisan dan mengerahkan semua kemampuan aktingnya di film besutan Robert Altman itu. Sebagian kritikus menilai akting Langella tak cukup memadai untuk dibandingkan akting Hall.

Kubu Nixon akan tetapi menilai Frost/Nixon tak akurat. John Aitken, orang terdekat Nixon yang juga menulis biografi Tricky Dick menilai adegan Nixon yang mabuk dan lalu menelpon Frost,  tidaklah nyata. Dalam sesi wawancara terakhir versi nyata, Frost juga tidak menekan Nixon untuk mengakui kesalahannya.

Pengakuan tentang Watergate kata Aitken adalah hal yang sudah direncanakan dengan pertimbangan matang dan bantuan dari tim penasehat. Hal ini sudah diatur oleh Frost agar dapat memancing Nixon untuk berbicara lebih banyak mengenai hal itu. “Dari awal hingga akhir, cerita ini telah mendapat sentuhan artistik dari Peter Morgan,” sindir Aitken.

Toh Frost/Nixon yang beredar sejak akhir Januari lalu itu, sudah meraih lima nominasi Oscar pada tahun ini. n

adiyanto/rizky Amelia

 

 Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu 22 Februari 2009

Written by Me

February 25, 2009 at 12:17 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: