Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Kraton di Catwalk New York “

leave a comment »

Auguste Soesastro Menuang Inspirasi Dari Tradisi Berbusana Jawa. Koleksi Bertema Kraton Itu Disambut Tepuk Tangan Panjang Para Hadirin Peragaan Busana.

Di New York Fashion Week, seorang perancang busana Indonesia bersanding karyanya dengan para desainer mapan.

Auguste Soesastro menuang inspirasi dari tradisi berbusana Jawa. Koleksi bertema kraton itu disambut tepuk tangan panjang para hadirin peragaan busana.
n696718227_2190017_4448

Nuansa busana raja-raja Mataram kuno muncul di rangkaian peragaan busana New York Fashion Week lalu. Makanan pembuka gelaran 20 Februari itu busana beraura maskulin tapi tetap memancarkan sebuah keanggunan. Bahan polos kasmir coklat dipadu dengan boots hitam dan sarung tangan warna sama. Lenggak-lenggok sang model juga mencuri perhatian para penonton pada kuluk. Itu sejenis penutup kepala mirip blankon yang biasanya hanya dikenakan oleh kaum bangsawan.

Malam itu adalahnya malamnya kraton. Ini impian Auguste Soesastro, desainer muda berdarah Indonesia yang sudah malang melintang mencicipi cita rasa mode di berbagai negara. Sekalipun Auguste menetap di New York tapi suguhan keanggunan busana tradisional tak lepas dari kerinduannya dalam berkarya. Koleksinya memanjakan mata para penonton di gedung Asia Society, Pusat Kebudayaan New York. Tema koleksinya “Kraton Auguste Soesastro: 2009 Fall Couture and Pret -A-Porter de Luxe.”
Sebanyak 22 koleksi yang terinspirasi akar budaya tradisional ditampilkan. Tiga belas koleksi siap pakai (ready to wear), sisanya kreasi adibusana. Secara tampilan, tak terlalu jauh berbeda antara koleksi ready to wear dan couture kali ini. Hanya bahan untuk ready to wear tak semewah kreasi adibusana. Menurut Auguste tingkat kesulitan keduanya tak jauh berbeda.
Ksatria gagah dan anggun, barangkali ini yang tersirat di pikiran sang perancang sehingga menyematkan sebuah keris di belakang busananya. Lengan kanannya menenteng blazer hitam. Tak lama keluar seorang model dengan berbusana ala kaum cendekia. Busananya berwarna bata cenderung oranye dengan warna kerah, detail pinggang dan kuluk yang lebih terang seperti bahan kulit. Keanggunan seorang terpelajar pada masa lalu direpresentasikan.
Sebagian besar materi kain koleksi malam itu berasal dari kasmir yang didatangkan dari Itali. Tapi temanya Jawa, maka tak lengkap tanpa sentuhan koleksi kain tradisionalnya, yaitu batik tulis, baik sutra maupun kasmir batik. Menurut Auguste, koleksi Kraton hanya menggunakan kain tradisional Indonesia yang bermutu paling tinggi karena misinya untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia pada dunia internasional. “Kain Indonesia sangat luar biasa apabila dibuat dengan bahan yang benar dan proses yang teliti,” kata perancang berusia 27 tahun itu.
Koleksi Kraton memang tak banyak menonjolkan cutting dengan detail rumit dan tak banyak aksen. Sekilas terlihat polos-polos saja. Tapi si perancang bermain dengan bahan material koleksi pilihan dan warna-warna yang menampilkan keeksotisan nilai tradisiona Jawa. Bisa jadi sebuah hal hal baru di rangkaian peragaan busana kelas dunia ini. Sengaja, pilihan yang dijatuhkan untuk koleksi musim gugur ini, hitam, coklat, bata, putih, abu dan sebagainya. Warna-warna netral jauh lebih abadi dan tidak akan ketinggalan zaman. Selain itu, dengan biaya yang tak sedikit, maka koleksi ini setidaknya bisa tahan lama dipakai.
Paduan hitam dan coklat tak kalah menarik. Dress coklat di atas lutut mix hitam mulai dari di kedua belahan samping ditambah blazer hitam bertali juga salah satu sajian malam itu. Stocking dan high heels hitam yang membungkus kaki jenjang sang peraga busana menambah keserasiannya. Pada gaya yang hampir sama, pilihan koleksi dengan paduan abu-abu dan hitam. Blazer panjang yang melampaui dress muncul dengan aksen kancing dua warna, hitam dan abu-abu.
Para model malam itu tak banyak mengenakan aksesori. Bahkan bisa dibilang nyaris tanpa aksen pemanis. Keindahannya terletak bukan pada variasi desain yang ramai atau warna yang menyolok. Tapi pada keanggunan aristokrat yang muncul di dunia modern ini. Sekitar 250 orang penonton yang mengisi gedung pagelaran mengganjar tepuk tangan panjang untuk rancangan Auguste.
Dominasi blazer menghiasi koleksi busana Kraton ini. Lagi, dengan paduan skirt yang warna senada ditambah aksen selendang yang dikalungkan di leher, model berwajah Barat kembali hadir. Tak lupa, tetap ada kuluk, ikon koleksi bertema Jawa kuno tersebut. Kraton sendiri menjadi label perancang berdarah Jawa, Cina dan Arab ini.
Sampai saat ini Auguste belum berniat mengeluarkan second line untuk rancangan yang lebih terjangkau pasar. Menurut dia, akan ada elemen penting yang dikorbankan jika harus berproduksi massal. Selain bahan kasmir dan batik yang dijagokannya pada NYFW barusan, Kraton banyak menggunakan bahan vicuna, sutra, wol, and kulit.
Bukan kraton tanpa sentuhan batik, peninggalan seni berbusana tradisional yang masih digandrungi hingga sekarang. Batik warna-warna netral ditampilkan sebagai blouse, selendang, dan bawahan. Blouse batik berwarna coklat keabuan dipadankan dengan celana polos berwarna dasar sama. Kulot hitam melebar dengan aksen selendang dipasangkan dengan blouse formal berkerah panjang, simpel tapi mewah.
Kemudian muncul detail asimetrik dari desain rok A line yang bagian belakangnya memanjang hingga menyapu lantai catwalk. Rok simpel tersebut dipadukan dengan shirt bernuansa maskulin putih dengan kancing di bagian tengah dan lipit di ujung lengan. Keanggunan feminin kemudian hadir saat gaun berwarna hitam gading dan bercorak batik. Simpel dengan adaptasi tube dress, asimetrik pada buttom dan aksen pita di bagian belakang. Koleksi Kraton, mulai dari kemeja, jaket, tunik, blouse hingga celana, muncul dengan alunan musik bernuansa gamelan Jawa. Benar-benar malammya Indonesia di salah satu sisi kota New York saat itu.
Warna-warna netral memang jadi fokus New York Fashion Fall Week akhir Februari kemarin. Sekalipun demikian, muncul cipratan warna terang sesekali pada koleksi-koleksi desainer ternama. Sementara tahun lalu NYFW Fall mengedepankan warna-warna kembang musim gugur. Kombinasi hitam dan warna neon tampak di jajaran koleksi Michael Kors, Narciso Rodriguez, dan Oscar de la Renta. Beberapa perancang ada juga yang mengkombinasi warna-warna gelap dengan metalik, seperti Calvin Klein, Marc Jacobs dan Ralph Lauren.
Untuk koleksi, selayaknya untuk musim gugur, jaket supersize tak pas siluet tubuh, hadir. Seperti DKNY, Proenza Schouler, dan Derek Lam, merilis jaket kelebihan ukuran. Tak demikian dengan Auguste Soesastro yang terlihat strict pada kesesuaian siluet tubuh pengguna koleksinya nanti. Selain itu, muncul kembali kreasi one shoulder dress dengan gaya asimetrik pada beberapa koleksi, diantaranya Calvin Klein, Alexander Wang, dan Marchesa.

Detail kecil tapi tak luput dari perhatian adalah berbagai dress di NYFW yang sengaja dimunculkan dengan lubang-lubang. Seperti ada sebuah keeksotisan, tatkala dari bahan baju sekilas tampak kulit yang mengintip. Kreasi ini ada dalam koleksi Michael Kors, Charlotte Ronson dan Alexander Wang. Dikenal dengan gaya missing piece. Nuansa cheers meski tak dominan tampil dalam tren ala Zac Posen dan Diane Von Furstenberg. Untuk tren kulit, belum luntur. Bahan-bahan kulit bahkan menghiasi sebagain besar catwalk NYFW yang dibentuk menjadi jaket, celana, rok dan celana pendek seperti gaya William Rast, Derek Lam dan Michael Kors.

Saatnya Juga Afrika

Negara-negara ketiga mulai menunjukkan kreasi di ranah mode Barat yang selama ini menjadi kiblat dunia. Kalau Auguste Soesastro berkarya menampilkan keanggunan budaya Indonesia, di NYFW kemarin juga tampil pagelaran busana kolektif dari negeri Sahara, Afrika. “Afrika sudah siap mengambil bagian dalam peran global,” kata Nduka Obaigbena, sponsor fesyen asal Nigeria, seperti dikutip New York Times.
Afrika memang terkenal dalam dunia fesyen terlebih urusan pasokan kulit corak leopard. Benua ini sejak lama menjadi lima besar penghasil corak kulit hewan seperti singa, gajah, kerbau hutan, badak dan leopard. Bahkan para pemburu tak jarang yang berkunjung hanya untuk mendapatkan kulit-kulit mahal ini. Dikenal sebagai pemasok dalam dunia fesyen, tapi belum menjadi subyek dalam fesyen itu sendiri, baik sebagai desainer maupun pemilik label-label fesyen kenamaan.
Padahal keeksotisan fesyen Afrika memiliki keistimewaan tersendiri. Papa Wemba, sebuah gerakan yang bertujuan memperkenalkan gaya Afrika di Eropa, orang-orangnya sengaja berbusana ala Afrika. Bagi Lamine Kouyate, desainer yang lebih dikenal dengan nama Xuly Bet, yang menjadi masalah selama ini adalah persepsi Barat akan Afrika yang masih bergelut dengan soal bertahan hidup, seakan-akan tak memikirkan hal lain seperti seni dan budaya termasuk fesyen. Selain itu di Afrika, tak banyak media yang mempublikasikan eksotisme benua tersebut. Debut Kouyate dimulai tahun 1993 saat memamerkan koleksinya di Paris.
Fesyen, mau tak mau masih berkiblat di Barat, sekalipun setiap negeri punya keistimewaan dan keanggunan tradisi berbusana masing-masing. Apa yang terjadi di Barat, itu yang kemudian menjadi tren. Seperti halnya di Afrika, para perempuan akan membeli majalah Chanel dan meminta para penjahit mereka membuat pakaiaan seperti yang ada di majalah. Jika empat desainer Afrika unjuk kreasi dalam satu rangkaian di NYFW, maka usaha mereka tak sia-sia. Seperti tiket pagelaran busana Auguste yang habis terjual, kerumunan orang juga menonton fesyen show yang menitikberatkan busana yang terinspirasi dari budaya Afrika itu. N ezra sihite
N ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta, 15 Maret 2009

Written by Me

March 17, 2009 at 7:10 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: