Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Lapangan Baru Sang Juara “

leave a comment »

Dulu ‘Diurusi’ Sekarang ‘Mengurusi’ Cerita Susanti Selepas Gantung Raket.

Cuaca mendung merata di langit Jakarta. Termasuk di daerah Kelapa Gading. Sang pemilik rumah memarkir Serena berwarna silver, dia menyambut dengan tersenyum. 

 

suschacha02

Senyum yang membawa ingatan pada momen-momen bersejarah ketika Indonesia Raya mengiringi merah putih berkibar di pinggir lapangan bulutangkis, berkat perjuangan Susi Susanti. Istri dari Alan Budikusuma ini dikenal karena permainannya yang tenang. Dia tak mau memperlihatkan kelelahan dan ketegangannya, karena dengan begitu lawan bisa merasa berada di atas angin. Padahal sebelum masuk lapangan, tak jarang Susi harus keluar masuk toilet sampai lima kali.

Susi masih menjadi pahlawan lapangan. Tapi pertandingannya bukan di lapangan, tanpa raket dan kok. Tempatnya di rumah setiap hari, mengurusi anak dan suaminya. Siang itu dia baru saja belanja keperluan rumah tangga. Susi berkomitmen menghabiskan sepanjang waktu bersama ketiga anaknya. Mulai dari menyiapkan mereka mandi dan sarapan, sampai mengantarkan mereka sekolah. Sekitar pukul 11 Susi ke sekolah anaknya lagi, mengantarkan makan siang karena jadwal sekolah mereka sampai jam 3.
Selain mengurus anak, sebagian waktu Susi tersalur untuk mengurusi perusahaan. Dia punya tiga usaha yaitu Fontana Club, Astec. Fontana adalah pusat kebugaran, terutama untuk para olahragawan. Kini sudah memiliki empat cabang, di Kelapa Gading, Sunter, Pondok Indah, dan Bogor. Astec atau Alan Susi Technology adalah brand perangkat olahraga bulutangkis. “Usaha saya nggak jauh-jauh dari olah raga. Selepas pensiun dari bulutangkis mulai mencari pekerjaan,” kata Susi tertawa. 
Susi mengatakan sebelumnya dunia dia hanya bulutangkis. Padahal seperti yang sudah-sudah, masa depan atlet di Indonesia tidak terjamin. “Jadi selepas pensiun otomatis saya seperti yang lain, harus mencari nafkah buat keluarga. Otomatis saya mulai dari nol,” kenang Susi. 

 
Pada masa awal meninggalkan lapangan itu, Susi meraba-raba pekerjaan apa yang cocok baginya. Gampangnya, mantan atlit ya jadi pelatih. “Tapi saya dan Alan ingin mencoba sesuatu yang baru karena dari kecil kami sudah jadi pemain. Kalau jadi pelatih berarti di lapangan lagi, jenuh,” kata Susi.
Kebetulan orangtua Alan dan Susi memang wiraswastawan. Jadi masih ada darah berbisnis. “Kalau pendidikan dari sekolah, kami tidak sampai selesai. Alan sempat bisnis jual beli mobil, tapi tidak cocok.” 
Lalu pasangan ini ditawari jadi agen produk alat-alat olahraga dari Jepang. Mereka menemukan kecocokan. Tapi itu bertahan hanya dua tahun karena agen hanya menjual, sementara produk bisa jadi tak sesuai dengan keinginan pelanggan. “Kami nggak bisa berbuat apa-apa karena hanya agen. Otomatis kami juga merasa susah. Saya bilang ke Alan, kenapa kita nggak bikin brand sendiri karena sebagai mantan pemain, kita mengerti spesifikasi yang bagus,” kata Susi.
Kebetulan Susi dan Alan punya jaringan berkaitan dengan produk olahraga. Apalagi ada teman mereka di Taiwan yang sangat mengerti tentang alat olahraga. Akhirnya mereka memberanikan diri membuat brand sendiri untuk produk yang benar-benar diinginkan pelanggan. 
Sepintas orang awam melihat raket sama saja. Tapi sebenarnya benda itu memiliki spesifikasi khusus, sesuai karakter pemain. Raket untuk permainan double dengan single saja sudah berbeda. “Raket saya yang pemain rally berbeda dengan raket Alan yang pemain serang. Kalau untuk pemain rally speerti saya harus enteng dan lentur. Untuk pemain serang harus lebih berat di kepala, karena tenaga kita harus dibantu dengan alat. Jadi kami benar-benar tahu apa yang sedang kita tawarkan,” kata Susi.
Menjadi atlet dan pebisnis adalah dua dunia yang sangat berbeda. Dulu saat masih jadi pemain, semua kebutuhan Susi disediakan dan diurus oleh PBSI. Tapi kalau berbisnis, harus “mengurusi” orang lain. “Dalam arti harus belajar memuaskan konsumen kita. Kita melayani customer dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka.”
Lebih senang mana jadi atlet atau berbisnis? “Dua-duanya,” dia tertawa. “Ada masanya. Dulu jadi atlet saya senang karena itu memang pilihan saya. Sekarang setelah berhenti saya juga senang. Paling tidak dapur ngebul terus.” 
Tidak berniat menjadi pelatih? Jangankan diminta jadi pelatih, jadi pemain saja Susi pernah diminta. Itu ketika Uber Cup tahun lalu, Susi diharapkan jadi tunggal ketiga. ”Aduh saya sudah punya tiga anak, kapan latihannya?,” Susi tertawa. “Terus diminta jadi manajer, kapan lagi bantu bulutangkis Indonesia. Ya sudah, saya bersedia, nggak enak hati juga kan.” Untung saja Uber Cup itu digelar di Jakarta, jadi Susi masih sempat pulang ke rumah melihat ketiga anaknya. Kalau Uber Cup di luar negeri? “Tidak janji karena pergi minimal dua minggu.”
Susi juga menjanjikan pintu rumahnya selalu terbuka untuk atlet muda di Pelatnas. Susi menyediakan dirinya sebagai pendengar cerita atau penyulut dukungan bagi mereka. “Mau curhat, mau tanya apapun saya persilakan mereka datang. Saya juga masih main badminton, jadi bisa main bareng untuk refreshing ataupun makan bareng mereka,” kata dia. 

 
Biasanya para atlet muda itu berkeluh kesah seputar bulu tangkis, tentang sikap di lapangan atau kejenuhan ingin berhenti. Susi selalu menyarankan mereka untuk membuang pikiran untuk berhenti hanya karena bosan. “Sayang. Kalau jenuh, minta waktu seminggu ke pelatih untuk keluar lapangan. Bukan jadi tidak latihan sama sekali, tapi tidak latihan di lapangan seperti biasanya sama teman-teman. Dulu saya juga, aduh lihat lapangan saja sudah eneg,” kata Susi. Saat dulu Susi merasa jenuh, apa yang dia lakukan? “Main ke mal. Renang 20 kali bolak-balik kan sudah menyehatkan. Atau lari-lari di pantai.” 

 
Meski pernah mencapai karir tertinggi sebagai atlet, Susi tidak terlalu mendorong anaknya mengikut jejak dia. Menurut dia, tetap orang tua menginginkan hal-hal yang pasti untuk masa depan anaknya. “Belum tentu mereka bisa seperti mama dan papanya. Yang paling pasti itu apa? Ya pendidikan,” kata Susi. Kalau di bulutangkis, sekalipun kerja keras belum tentu bisa juara. “Mungkin juara daerah bisa tapi makin ke atas makin sulit. Kalau menyerah di tengah terlalu sayang. Mereka juga suka latihan bulutangkis, saya tidak melarang, tapi pendidikan yang paling penting.”
Susi tidak menutup kemungkinan bila anaknya serius dalam olahraga dan masuk pelatnas. Tapi syaratnya, setelah mereka lulus SMA, agar kalau nantinya ingin meneruskan kuliah lebih gampang. “Banyak yang masuk Pelatnas baru selesai SD terus ninggalin sekolah. Saya tidak setuju. Karena masuk Pelatnas bukan akhir segalanya, itu baru permulaan. Banyak anak-anak yang masuk Pelatnas merasa itu sudah segalanya,” kata dia. 
Susi berkomitmen menghabiskan sepanjang waktu bersama anak-anaknya. Manajemen Astec lebih banyak diurusi oleh Alan. Di akhir pekan, Susi jarang sekali menerima undangan, kecuali sangat penting. “Kebersamaan dengan anak-anak lebih penting. Sabtu Minggu itu bersama untuk refreshing,” kata Susi yang biasanya berakhir pekan makan di mal, atau jalan ke Puncak atau Bandung. N ezra sihite

Written by Me

March 17, 2009 at 6:53 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: