Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Lemak Tak Sehat di Lantai Bursa “

leave a comment »

Yang Baik Dari Aksi Goreng Menggoreng Saham Adalah Pasar Yang Bergerak. Yang Tidak Baik, Banyak, Termasuk Bisa Menggulung Investor Dalam Kebangkrutan.

nasabah-sarijayadi-bapepam-luar

Bapepam pernah memberikan sanksi denda kepada PT Ciptadana terkait saham PT Bank Lippo Tbk.

Yang baik dari aksi goreng menggoreng saham adalah pasar yang bergerak. Yang tidak baik, banyak, termasuk bisa menggulung investor dalam kebangkrutan.

Seratusan orang itu berbondong di lantai dasar sebelum diajak masuk ke ruang galeri di lantai satu menara dua Bursa Efek Indonesia. Di ruangan itu mereka bertemu dengan perwakilan BEI yang juga merupakan tim Self Regulations Organizations (SRO) yang mengurus penyelesaian pembayaran para nasabah PT Sarijaya Purnama Sekuritas. Namun hingga satu setengah jam kemudian, nasabah kembali turun ke lantai dasar.

Awalnya di lantai bawah, hanya ada satu kerumunan yang dipimpin oleh Teguh Hartono, kordinator demonstran dan nasabah Sarijaya dari Bogor. Belakangan massa mulai berpencar sehingga ada tiga kerumunan. Para demonstran tersebut melakukan konsolidasi soal tindak lanjut yang akan mereka lakukan sehubungan tuntutan mereka akan pengembalian uang tunai yang disimpan di Sarijaya. “Memangnya cuma kita yang bisa hancur, demo berikutnya, kalau mau hancur, biar hancur sekalian pasar modal ini,” teriak salah satu dari mereka.

Aksi pada Kamis siang pekan lalu itu menandai berlarut-larutnya pembayaran uang para nasabah Sarijaya setelah manajemen perusahaan itu terlibat dalam penggelapan dana ribuan nasabah. Kasus itu bermula dari keterlibatan Sarijaya dalam repo alias gadai saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 35 miliar rupiah. Belakangan dana gadai itu nyangkut dan baru 15 miliar rupiah yang dibayar oleh Bakrie Brothers Tbk (BNBR). Sisanya masih tertahan di BUMI. Yang dilakukan Herman kemudian adalah menggelapkan dana para nasabahnya.

Sama dengan kasus-kasus kejahatan di pasar modal sebelumnya, kasus Sarijaya lalu menjadi sorotan paling buruk terhadap pasar modal pada tahun ini. Kasus itu juga mengingatkan orang pada kasus-kasus buruk di pasar modal di masa lalu.

Tujuh tahun silam, Bapepam pernah memberikan sanksi denda kepada PT Ciptadana terkait saham PT Bank Lippo Tbk. Kasus ini berawal dari penjualan AYDA (agunan yang diambil alih) yang dinilai kurang transparan. Kemudian persoalan menjadi semakin rumit dengan munculnya kasus dual dating laporan keuangan Bank Lippo per 30 September 2002. 

Masalah dual dating ini menjadi sorotan, karena terdapat dua neraca yang berbeda–untuk periode yang sama–antara yang dipublikasikan di media massa (pada 28 November 2002) dan yang dilaporkan ke Bursa Eefek Jakarta (pada 26 Desember 2002). 
Pada laporan pertama, Bank Lippo mencatat laba bersih 98 miliar rupiah. Sedangkan pada laporan ke BEJ, Bank Lippo disebutkan menderita kerugian mencapai 1,27 triliun rupiah. 

Denda 1 Miliar
Persoalan akhirnya merembet pada dugaan terjadinya manipulasi perdagangan saham Bank Lippo, yang dalam istilah bursa dikenal dengan sebutan goreng-mengoreng saham. Yang dituding pelakunya adalah PT Ciptadana Sekuritas, yang notabene masih terafiliasi dengan kelompok Lippo. 

Bapepam langsung merespon perdagangan saham ini dengan melakukan pemeriksaan. Sejumlah perusahaan sekuritas diperiksa, tidak terkecuali Ciptadana. Namun, setelah melakukan penyelidikan melelahkan serta membutuhkan waktu berbulan-bulan, akhirnya Bapepam tiba pada suatu kesimpulan yakni tidak ditemukan adanya pelanggaran berkaitan dengan penjualan saham Bank Lippo tersebut. Selesaikah persoalan? Belum. 

Karena Ciptadana tetap dikenai denda 1 miliar rupiah. Perusahaan ini dianggap telah melanggar Peraturan Nomor V.D.3 tentang Pengendalian Intern dan Penyelenggaraan Pembukuan oleh Perusahaan Efek. 

Bapepam menilai Ciptadana tidak melakukan pemisahan dana nasabah dengan dana milik Ciptadana.Selain itu, mereka dinilai tidak mempunyai rekening efek nasabah, buku pembantu efek, buku besar, dan buku pembantu transaksi. 

Sebagai wasit di pasar modal, pada 2006 Bapepam juga pernah menjatuhkan sanksi terhadap para broker yang terlibat manipulasi perdagangan saham PT Agis Tbk. Kejadiannya ketika harga saham Agis, yang berkapitalisasi pasar 4,36 triliun rupiah, melonjak fantastis sejak 28 Desember 2006 sebesar 981,4 persen. Lonjakan tidak wajar ini diduga karena manipulasi pasar, yang sempat berujung pada ancaman gagal bayar (default) broker beli.

Menurut Muhammad Alfatih, pengamat pasar modal pengertian “goreng-menggoreng” saham sebenarnya bertujuan menggerakkan harga pasar. Entah itu untuk menaikkan harga saham atau untuk menjatuhkan harga saham tertentu. Ini yang disebut dengan transaksi semu. Sebuah transaksi yang tidak diketahui orang. Dan biasanya ini terjadi bila kepemilikan publik kecil. Artinya perusahaan publik tersebut hanya sedikit melepas kepemilikan sahamnya kepada publik. 

Dan dalam transaksi semu ini biasanya dibumbui dengan rumor-rumor. Bila ini diketahui oleh pihak berwenang maka bisa saja pelaku tersebut dipidana. “Jadi goreng menggoreng saham bukanlah sesuatu yang wajar. Meski beberapa pihak sering melakukan hal tersebut,’’ ujar analis PT BNI Securities ini.

Namun, Alfatih enggan menuding Sarijaya. Di matanya, Herman Ramli, bos Sarijaya termasuk memiliki rekam jejak bagus di pasar modal. “Dia juga aktif dalam pengembangan pasar modal. Dan saya belum pernah mendengar dia mengalami kasus seperti yang dia alami saat ini.” 

Kasus Agis
Seorang pelaku pasar modal menganalogikan aksi goreng menggoreng saham seperti lemak, ada lemak yang sehat, ada lemak jenuh yang jahat. Yang baik dari aksi goreng menggoreng adalah gerakan pasar. Jadi para spekulator dalam hal ini disponsori bandar akan melakukan gerakan pasar ketika kondisi pasar sepi, gerakan pasar ini bisa memancing gerakan-gerakan lain yang aksinya lebih pada penilaian fundamental ketimbang penilaian emosional. 

“Namun akan menjadi jahat kalau investor yang nggak waspada atau investor yang masih hijau masuk ke dalam aksi gorengan karena akan terpukul oleh harga saham yang menukik drastis karena bisa dalam hitungan menit dan jauh melebihi kecepatan order transaksi,” ujar pria yang mengaku bernama Adi itu. 

Dia menyontohkan kasus gagal bayar akibat terlalu ekstrim dalam memainkan saham gorengan seperti yang terjadi pada pergolakan harga saham PT Agis yang bergerak liar dari harga dua ratusan sampai ke harga di atas 3.000 rupiah, beberapa tahun silam. 

Guna mengantisipasi aktivitas goring saham ini, pihak Bapepam akan meningkatkan kordinasi dengan lembaga SRO dalam pengawasan perusahaan efek, juga melakukan pembinaan terus menerus terkait pengendalian internal dan operasional perusahaan efek. Selain itu, mereka juga akan melakukan review atas peraturan-peraturan yang ada dan segera melakukan perubahan dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. 

“Tak ketinggalan mempercepat pembuatan fasilitas bagi investor untuk melakukan pengecekan atas efek dan atau dana yang dimilikinya yang disimpan di penitipan kolektif ( investor area ),’’ tandas Nurhaida, Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam, Jumat (13/3)

adiyanto/kristian ginting/ezra sihite
Dikutip sepenuhnya Koran Jakarta Minggu, 15 Maret 2009

Written by Me

March 17, 2009 at 6:38 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: