Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Perjudian Terakhir Keluarga Ramli “

leave a comment »

Kalau Pengawasan Dan Hukum Tidak Ada, Pelaku Pasar Boleh Saja Melakukan Semua Hal.

Kalau pengawasan dan hukum tidak ada, pelaku pasar boleh saja melakukan semua hal.

 

herman-sarijaya-dalam

Sebagai pemilik PT Sarijaya Permana Sekuritas, Herman Ramli tentu saja adalah sosok yang paling bertanggung jawab. Orang yang lalu dituding sebagai pecundang dan penggoreng saham itu benar-benar sedang menaruh sembilu di depan bilik jantungnya. Sekaliber Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK yang ikut memeriksa Sarijaya, pernah bilang Herman cukup lama berkecimpung di belantara pasar modal dan menyesalkan kenapa bisa terjadi. 

“Kita tak tahu apa yang terjadi dalam dirinya. Kenapa dia nekat, baru sekali sepertinya. Tapi kan kita tahu siapa saudaranya,” kata Fuad. 

Yang disebut saudara Herman oleh Fuad itu tak lain adalah kakak Herman, Rudy Ramli—mantan direktur utama Bank Bali yang pernah digelandang ke penjara tahun 2000 lantaran terjerat penggelapan dan pelanggaran perbankan dalam transaksi senilai 589 miliar rupiah itu. 

Kasus keduanya memang hampir mirip. Dulu, penangkapan Rudy dimulai dari piutang Bank Bali di Bank Umum Nasional dan Bank Dagang Nasional Indonesia, dua bank yang ditutup. Bank Bali yang kini menjadi Bank Permata dulu dibangun Djaja Ramli, ayah Herman dan Rudy Ramli. Kendati piutang mendapat jaminan pemerintah, sebagai pemilik Rudy sulit menagihnya. Dia terjepit oleh Surat Keputusan Bersama No 30/1998 yang menyebut bahwa hanya debitor yang berhak memohon kepada pemerintah untuk membayarkan utangnya. Lalu SKB itu direvisi. Dalam waktu dua minggu, kas Bank Bali bertambah 904 miliar. 

Hanya saja, di luar itu ternyata ada perjanjian anjak piutang, atau transaksi cessie, antara Rudy dan PT Era Giat Priam. Uang 546 miliar rupiah itu pun masuk ke Giat Prima yang kemudian menimbulkan dugaan bahwa sebagain komisi digunakan untuk mengubah SKB tadi. 

Seperti kasus Rudy, Herman dirundung persoalan penggelapan uang investor yang ditanamkan di sekuritasnya. Tetapi, berbeda modus saja. Dalam kasus Sarijaya, Herman Ramli meminjam dana nasabah sebagai piutang dengan perusahaannya sendiri, yakni senilai 240 miliar rupiah itu, untuk memutar balik investasi. 

Celakanya, 17 rekening bank yang dibuka belakangan terungkap milik Herman. Tercatat sebagai piutang, mestinya sudah harus kembali ke kas perusahaan. Dan usai diaudit Bapepam-LK, piutang itu tak lagi tercatat dan nasibnya tidak jelas. Dana nasabah menguap. 

Meskipun masih relatif kecil ketimbang dana nasabah PT Bank Century (BCIC), penggelapan yang dilakukan Sarijaya berdampak cukup serius bagi pasar modal. Itu lantaran Sarijaya memiliki ribuan nasabah. Sebagai perusahaan sekuritas terpandang, Sarijaya tentu kini menjadi buah bibir yang dipergunjingkan. Pasalanya, sejaka 1990, Sarijaya sudah berpengalaman.

SOP Bagus
Di bawah kepemimpinan Herman, Sarijaya mengembangkan usaha riil dengan memanfaatkan momentum perekenomian Indonesia pada saat krismon 97. Dia juga melakukan modernisasi teknologi dan pemerkuatan sumber daya manusia yang profesional hingga mampu memproduksi 300 profesional. Hanya dalam beberapa tahun, pertumbuhan Sarijaya sebagai sekuritas lokal melesat dengan keunggulan layanan investasinya. Dibenarkan oleh pengacara Herman, M Lutfie Hakim. 

“Sarijaya adalah sebuah sekuritas yang amat bagus, memiliki SDM yang well great. Memiliki SOP yang bagus, jaringannya luas, dan IT-nya dikenal mutakhir,” kata Lutfie.

Keberanian Herman untuk menggunakan dana nasabah sekuritas sebetulnya bermula dari 2003 hingga 2004 saat BI rate menurun dan masuknya dana hedge fund dari Amerika. Dampaknya kemudian menyemarak pada 2005-2006. Situasi bursa yang memburuk memaksa manajemen Sarijaya untuk memeroleh dana segar, meski dengan memaksakan diri. Nasibnya, krisis keuangan malah semakin memburuk. 

“Ketika harga lagi bagus dibeli dan harga lagi buruk terpaksa dijual,” ungkap Lutfie. 

Hingga membuat repo gadai PT Bumi Resources yang terpaksa dilakukan Herman. BUMI meskipun harga sahamnya pernah cuma dihargai 50 rupiah per lembar, lalu kemudian booming di sektor komoditas. Harga sahamnya juga naik. Pada saat harga saham naik itulah kemudian terjadi penggorengan. Edwin Sinaga, analis pasar modal, mengungkapkan kelanjutan repo saham BUMI itu lalu tidak jelas. 

“Kepentingan menggadai saham itu untuk keperluan yang lain, misalnya saya punya saham,BUMI dan sedang membutuhkan dana tunai untuk merenovasi rumah, saya boleh merepokan saham yang saya punya,” ujar Edwin

Roy Sambel, analis pasar investasi, menyebut fenomena penggadai saham BUMI yang diminati Sarijaya itu sebagai shooting star, laiknya pebintang sinetron instan, yang cepat naik tetapi lekas pula terperosok turun. Roy mengungkapkan, karena landasan fundamental usaha BUMI yang tidak kuat yang kemudian menyebabkan repo itu bermasalah. 

Edwin mengatakan sebelum tersandung kasus penggelapan dana itu, Herman sering terdengar sebagai orang yang rada ambisius, arogan, dan memang sudah mengenal banyak produk pasar modal. 

Tanpa Aturan
Dalam penilaian Yanuar Rizky—analis saham dari Aspirasi Indonesia Research Institute— Herman dalam kasus Sarijaya sebetulnya tidak sepenuhnya bersalah. Persoalan utamanya kata Yanuar adalah pengawasan dan hukum sekuritas. “Kalau pengawasan dan hukum tidak ada, pelaku pasar boleh saja melakukan semua hal tanpa harus takut terikat aturan,” tambahnya. 

LutfieeHakim mengatakan secara moril Herman Ramli sebagai pemilik dan komisaris Sarijaya mau bertanggung jawab. “Pada awalnya dia menyatakan demikian, bahkan di depan penyelidikan Bapepam,” katanya. 

Tapi, kepercayaan publik menjadi taruhan. Herman terjebak dalam sebuah perangkap yang salah. Perjudiannya kandas. 
jacques umam/agus triyono/ezra sihite/kristian ginting

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta, edisi Minggu, 15 Maret 2009

Written by Me

March 17, 2009 at 6:22 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: