Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Skema Ponzi dan Bunuh Diri “

with one comment

Sudah Dua Investor Bunuh Diri Karena Dananya Terseret Pada Kasus Madoff.

Jumat kemarin hari yang benar-benar berbeda bagi Bernard Madoff. Lampu dipadamkan pukul 6 pagi, dia harus bangun. Itu pagi pertamanya sebagai narapidana dengan nomor 61727-054, setelah didakwa bersalah karena kasus penipuan massal. 
Pria 70 tahun itu akan berumah di New York Metropolitan Correctional Center, tepatnya di dalam sel berukuran 2,4 kali 2,3 meter. Keadaan yang sangat jauh dari apartemen senilai tujuh juta dollar AS di Manhattan yang dia tinggali bersama istrinya Ruth, sampai Kamis lalu. 

 

13madoff01-600

Ruang bagi Madoff akan semakin ketat bila Madoff harus berbagi sel dengan narapidana lain. Setelah beberapa dekade hidup bergelimang uang, Madoff harus berdamai dengan kenyataan untuk mengerjakan pekerjaan yang sesungguhnya, termasuk membersihkan kakus. 


Bila dia punya teman satu sel –tidak selalu hal baik di penjara- mereka bisa bermain ping pong atau menonton televisi di ruang umum. Harusnya Madoff menikmati hidup seperti itu. Itu saja sudah untung karena dia sedang menghadapi vonis penjara 150 tahun. Hukuman yang cukup janggal untuk 11 kejahatan mulai dari penipuan, bersumpah palsu, sampai mencuri. Kalau dia tidak bisa menikmati ini maka pilihan lain baginya: hukuman mati. 

FBI dan jaksa masih mencari siapa lagi yang bertanggung jawab. Banyak korban Madoff frustrasi karena absennya tersangka lain dan lambatnya kemajuan pengembalian miliaran dolar uang mereka. “Seberapa sering Anda bisa melihat setan hidup dalam manusia,” kata Daniel Strachman, seorang pialang hedge fund yang datang menonton sidang, seperti dikutip AFP.

Madoff adalah nama besar bagi pelaku pasar keuangan AS. Dia termasuk pendiri bursa Nasdaq dan mulai tahun 2006 dia duduk di Securities Exchange Commision (SEC). Bernard L. Madoff Investment Securities LLC pada 2001 dinobatkan sebagai salah satu dari tiga besar market maker di bursa Nasdaq. Madoff melakukan rekayasa keuangan dan menerbitkan 24 instrumen keuangan yang menarik. Tingkat imbal hasil berbentuk tetap (fixed rate) sebesar 10 persen dan fee yang kecil. 

Semua instrumen itu disusun dengan skema Ponzi. Madoff membayar investor lama dengan uang investor baru. Skema ini sangat rapuh. Ketika investor mulai menarik dana investasinya dan tidak ada setoran dana baru dari investor baru maka itulah saat keruntuhan kartu Ponzi. Selama 15 tahun, Madoff berhasil menjaga keutuhan skema Ponzi. Dia berhasil mengumpulkan dana kelolaan 50 miliar dolar AS (sekitar 550 triliun rupiah). 
Ketika krisis keuangan terjadi banyak hedge fund dan investor lainnya yang mengonversi instrumennya dengan dana tunai, sementara itu tidak ada investor baru yang masuk. Maka runtuhlah skema Ponzi terbesar di dunia ini. 

Bunuh Diri
Akibat skandal Madoff, seorang manager investasi asal Prancis Thierry de la Villehuchet (65) bunuh diri. Tubuh Villehuchet ditemukan kaku pada 23 Desember tahun lalu, 12 hari setelah skandal Madoff terbongkar. I Pendiri Access International itu telah menggiring kliennya rugi sekitar 2,79 miliar dolar AS atau sekitar 30 triliun rupiah. Villehuchet setidaknya mengelola dua miliar Euro atau 79 juta dolar AS untuk kliennya dari Eropa, yang tiga perempatnya diinvestasikan di Madoff sampai skandal itu terbongkar. 

Di Inggris, seorang pensiunan tentara, bunuh diri karena tak kuat menanggung kesedihan karena uangnya ambles akibat instrumen invcstasi Madoff. William Foxton menginvestasikan sekitar 1 juta poundsterling simpanan keluarganya. Pria berusia 65 tahun itu menembal kepalanya dengan sepucuk pistol semi otomatis ketika duduk di kursi taman di dekat rumahnya pada 13 Februari lalu. Foxton menulis pesan terakhir yang menyebut dua manajer investasinya terseret pada instrumen Madoff.

Runtuhnya skema Ponzi gaya Madoff ini, tak ayal akan membuat krisis keuangan global semakin kencang menghantam. Karena diindikasikan banyak bank-bank besar dunia menitipkan dananya dalam instrumen investasi Madoff. Bank besar Jepang Nomura Holding, BNP Paribas dari Prancis, Neue Privat Bank dari Swiss, bahkan bank terbesar kedua di Eropa Banco Santander merugi 61 triliun rupiah akibat Madoff. Sangat mungkin terjadi investor Indonesia juga terseret dalam jerat skema Ponzi ala Madoff. 

Kata Ponzi dilekatkan untuk instrumen investasi yang ekspansif dan spekulatif. Ini berasal dari Charles K. Ponzi, seorang emigran Italia yang menetap di Boston, Amerika. Pada 1919 Ponzi mendirikan The Security Exchange Company untuk menerbitkan surat utang (promissory notes) dengan riba 50 persen per tahun, 10 kali lipat dari bunga bank saat itu. 

Surat utang itu dijual seharga 10 ribu-50 ribu dolar AS. Dalam sekejap Ponzi berhasil membukukan dana kelolaan 15 juta dolar AS dari 40 ribu investor. Dana dari investor baru digunakan untuk membayar kewajiban kepada investor terdahulu. Begitulah inti skema Ponzi yang terkenal itu. Pada 10 Agustus 1920 The Security Exchage Company bangkrut. 

Banyak investor yang menarik dana dan tak ada investor baru yang menanamkan modalnya. Ponzi kabur. Ke Florida dia bercokol, mengganti namanya menjadi Charles Borelli. Memang sudah keahliannya, dia pun menyusun skema investasi lagi seperti saat di Boston. Ini pun mengadali banyak investor. 
Skema Ponzi banyak diterapkan di Indonesia. Dengan variasi dan modifikasi bentuk, skema ini telah memakan banyak korban. Tahun 1987, meledak kasus Yayasan Keluarga Makmur, tahun 1995 kasus PT Sapta Mitra Ekakarya (Arisan Danasonic), tahun 2001 PT Gee Cosmos Indonesia, tahun 2002 PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR). 

Tahun 2003 ada kegemparan lagi akibat ulah PT Adess Sumber Hidup Dinamika (Add Farm). Pada 2007 giliran kasus PT Wahana Bersama Globalindo dan PT Sarana Perdana Indoglobal (SPI). Tahun lalu terungkap kasus PT Platinum Investment. N alfred ginting

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu, 15 Maret 2009

Written by Me

March 17, 2009 at 6:47 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No. 551/Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan (karena terindikasi gratifikasi di Polda Jateng serta pelanggaran fidusia oleh Pelaku Usaha?). Inilah bukti inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia.
    Quo vadis hukum Indonesia?

    David
    (0274)9345675

    David

    March 25, 2009 at 4:08 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: