Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Dita Indah Sari : Hidup dengan Visi

leave a comment »

 

Satu keputusan yang tak pernah disesali Dita Sari, memilih berpihak pada buruh tanpa menunggu.

 

Kurang lebih empat belas tahun berkecimpung di dunia buruh tak membuat perempuan kelahiran Medan ini putar balik saat rintangan dan aral mengisi hidupnya. Mau tak mau, bercerita tentang Dita Sari, bagai membawa keping kisah mengenai kaum buruh yang telah digelutinya sejak tahun 1992. Kini Dita memang bukan lagi menjadi ketua umum Serikat Buruh. Tapi bukan berarti dia lepas tangan sama sekali dengan isu ini. Masih menjadi salah satu dewan penasihat serikat tersebut.

 

2008_08_02_07_29_38_dis2

 

Tinggal di kontrakan dua kali dua meter bersama para buruh dan berangkat ke kampus dari Tangerang dan Citeureup, hal yang biasa dilakukannya saat kuliah dulu.
Mengapa begitu tertarik dengan para buruh? “ Karena yang saya lihat di perkotaan itu buruh, kalau di desa mungkin petani,” tambahnya. Menurut Dita, diskusi-diskusi yang dilakukan saat kuliah di Forum Belajar Bebas saat menemupuh pendidikan di Fakultas Hukum UI, menjadi salah satu faktor pendorong minatnya. Tapi toh itu kemudian itu bukan sekadar minat ketika direalisasikan dengan masuk dalam kehidupan para buruh yang menurut perempuan ini paling tertindas. Buruh sudah sering tak dapat hak sewajarnya dari pihak pengusaha, tak dapat dukungan juga dari pemerintah. Bagai jatuh tertimpa tangga pula, kata Dita.

 

Perempuan yang siang itu mengenakan dress merah selutut, dipadankan blazer hitam. Dia tetap tampil dengan rambut pendek, seperti yang sudah-sudah. Barangkali memang alasan Dita adalah kesimpelan, tak susah mengurusnya, karena sejak dulu sudah disibukkan dengan kegiatan aktivis. Kakinya dibungkus sepatu vantovel hitam dengan tumit rendah. Saat mengisahkan pengalamannya, sesekali dia tertawa tapi juga tak jarang tersirat kesedihan saat memori-memori yang dulu teras buram terangkat. Hanya, itu semua bagi ibu dua anak ini bukan lagi masalah. “ Dulu semuanya sulit diterima dan berat, tapi kok sekarang malah bersyukur mengalaminya,” tambah Dita yang ditemui di wilayah Tebet siang itu ( 27/2/2009).

 

Sampai usia remaja, perempuan ini tinggal di Medan dan menyelesaikan sekolah di sekolah menengah pertama berlatarbelakang islam di kota itu. Setelah pindah ke Jakarta, dia menempuh ilmu di SMA PSKD 1 yang didasarkan pada kultur kristiani. Kenapa bisa? Yang pasti Dita berpendapat bahwa perbedaan itu tak mengganggunya. Dalam keluarga dia dibesarkan oleh ayah dan ibu dengna keyakinan yang berbeda. “ Saya jadi lebih bisa menghargai dan nyaman berada di lingkungan keduanya, tapi memang saat itu salah satu alasan mami memilih yah karena kualitas sekolah itu bagus,”. Sejak di Jakarta, Dita tinggal bersama ibunya.

 

Dita mengaku, dirinya anak baik dan anak patuh. Buktinya, sejak SMA selalu menuruti kata-kata sang Bunda. Sejak SMA Dita ingin memilih jurusan Bahasa, tapi sang mama mematahkan argumennya dengan alasan, itu bisa jadi sampingan. “ Saya bilang tapi kan bisa belajar budaya juga, ah itu bisa dibaca sambilan, kata mami,” kenangnya yang menganggap sang ibu selayaknya orangtua kebanyakan. Menjelang kuliah, niatnya kukuh ingin menggeluti bidang musik. Untuk memantapkan, Dita berniat masuk ke IKJ. “ Itu kan hobi, jangan jadi yang utama, bisa jadi sampingan,” kata ibunya yang mengusulkan untuk mencoba UMPTN. Lagi-lagi pucuk dicinta, ulam tak kunjung tiba. Akhirnya Dita harus melewati tes “bergengsi” itu dengan tak berharap banyak. Bukan tak serius, tetap belajar, tapi dia tak terlalu berharap akan hasilnya. Dia lulus di Fakultas Hukum, akhirnya mencoba menekuni. Komunitas di Fakultas tersebut yang akhirnya mempertemukan dia dengan dunia buruh sekalipun harus keluar dari sana tanpa selembar ijazah.

 

Kuliah dua tahun membuatnya merasa bahwa jurang antara dunia akademis dan dunia luar begitu jauh. “ Mam, daripada mami ngeluarin duit buat kuliah, aku sudah memutuskan nggak perlu nerusin kuliah lagi.” Kata Dita, dia sadar bahwa maminya tak bahagia dengan semua itu. “ Kalau pengen bantu orang lain tunggu kamu berhasil dulu, bekerja dulu,” alasan orangtua yang bercita-cita anaknya mendapat gelar Sarjana Hukum itu. “ Mam, orang susah nggak bisa menunggu, susahnya sekarang bukan sepuluh tahun lagi,” jawab Dita kala itu. Ibu dua anak ini di satu sisi bersyukur kalau orangtuanya tak terlalu keras melarang niatnya. Apalagi setelah mendapat vonis hukuman penjara saat berusia 23 tahun, pihak Fakultas memberi label DO. “ Saya memang bukan mahasiswa yang baik, tapi tak semua orang berani mengambil risiko ini, harus ada yang memulai, “ kata Dita yang mencontohkan dirinya sebagai babad alas , dia terima itu bagiannya.

 

Untuk pilihan antara buruh dan kuliah, Dita berdiri di pihak buruh. Dia mulai aktif mengadakan advokasi dan mengorganisir buruh. Ini menjadi pilihan hidupnya. Lantas, ketika sudah menetapkan pilihan, justru memasuki jalan yang berkerikil lebih tajam. Tatkala memimpin aksi di Tendes, Surabaya tahun 1996, Dita ditangkap. Saat itu rezim Soeharto. Tak tanggung-tanggung yang didakwakan, pelanggaran UU Subversif dan dituduh komunis. Tuntutan minimal UU Subversif itu sepuluh tahun. Dita membayangkan dirinya akan keuar penjara di atas usia tigapuluh. Sebulan, dua bulan, saat-saat yang begitu menyakitkan, begitu kata Dita yang belajar menerima hidup terbelenggu, tak ada lagi kebebasan pergi ke mana-mana bahkan untuk membaca sekalipun. Apalagi hitungan bulan di penjara, ibunda tersayang dipanggil ke alam baka akibat stroke. “ Mungkin mami menerima apa yang terjadi pada saya secara rasional tapi tidak hati,” kata Dita. Saat masuk penjara keluarga tidak lagi menyalahkan Dita, mereka tak ingin menambah bebannya. “ Sempat berpikir bahwa kenapa ibu saya nggak meninggal saat saya sudah sukses, tapi yah mau bagaimana”.

 

Setengah tahun mendekam bi balik jeruji, Dita mulai terbiasa. Ada saja cerita lucu yang muncul di balik duka. Waktu itu teman-teman di penjara perempuan Dita bilang agar waktu di pengadilan dia mengakoni semua dakwaan agar hukuman bisa lebih ringan. Alasannya? agar keluar dari penjara tak terlalu tua, jadi masih bisa punya anak. Saat itu Dita tertawa geli menceritakannya, “ Saya nggak pernah mikir gitu, tapi yah barangkali ini hal juga yang harus dipertimbangkan”. Dia memang saat itu sedang menjalin hubungan kasih dengan sesama teman aktivisnya. Delapan bulan di penjara, si kekasih melamar Dita kepada bapaknya. Tapi jawabannya, agar pria itu menunggu saja, kalau jodoh akan bertemu. “ Mungkin sisi gentlemannya muncul, dia kali kasihan ngelihat saya yah,” Dita tertawa lagi sambil menambahkan bahwa sebenarnya dia sudah minta putus dengan pria itu sejak divonis. “ Kamu mau nunggu saya sampai kapan, kena UU subversif itu dapat hukuman sekitar 10 tahun minimal,” terangnya lagi.

 

Di penjara Surabaya, Malang dan Tangerang, Dita ditempatkan berpindah-pindah. Tiga tahun, tak satupun teman yang menjenguknya. Waktu itu para aktivis memang lagi dikejar-kejar. Mengunjungi Dita berarti menyerahkan diri, karena setiap pengunjung harus mencatatkan nama dan KTP untuk dilaporkan ke kodim. Vonis delapan tahun, akhirnya hanya dijalani tiga tahun. Selama itu kakak pria semata wayangnya yang setia mengunjungi perempuan berdarah Ambon Padang ini. Sementara kekasihnya, bersua tiga bulan sekali. Setelah keluar bui, cinta mereka bersemi kembali? Sebulan sebelum Dita menghirup udara kebebasan, kisah asmaranya kandas. Saat itu kabar adanya perempuan lain terdengar ke telinga Dita hingga akhirnya mereka memutuskan jalan sendiri-sendiri. “ Keki gitu yah rasanya, padahal aku kan emang udah bilang nggak perlu ditungguin, yah wajarlah,” Dita tertawa kembali.

 

Tantangan tak hadir kala di penjara saja. Bersama para buruh, perempuan ini juga tak jarang merasa ada saat down bahkan sangat jatuh kala gagal merealisasikan pergerakan buruh. Kadang-kadang saat gerakan mogok tak berhasil bahkan sampai ada yang di PHK, para pekerja menunjuk Dita sebagai tampuk kesalahan. “ Harusnya kami pengen begini tapi karena ikut saran mba Dita akhirnya gagal deh,” Dita mencontohkan. Saat-saat seperti itu, yang dirasakan putri bungsu ini, kesal, merasa bersalah, jengkel ditambah malu. Hal ini dibahas di rapat evaluasi mereka. Biasanya dia akan mundur sejenak dari lingkungan para buruh beberapa hari.

“ Setelah dua hari balik, pas ke sana lagi situasi sudah membaik, saya sudah segar mereka juga udah seperti biasa,” kenangnya.

 

“ Teman saya ada yang kasih nasihat saat itu, jangan diambil hati, mereka itu nggak benci kamu secara personal ko”. Dia ingat nasihatnya, seperti air saja, kalau nabrak batu, cari jalan lain. Sebab kalau semua terlalu dipikirkan, akan kena stroke. Kata-kata itu selalu diingat ibu dua anak ini untuk kembali memulihkan semangatnya.

 

Cerita pertama kali mendekati buruh dan minta tinggal dengan mereka? Gampang, kata Dita. Menurutnya, para buruh itu orangnya open kepada orang. Beberapa kali ditemui, mereka sudah mulai  bisa terbuka. Menurutnya, minta tinggal di rumah para buruh tak sulit. “ Barangkali karena nothing to loose aja, mau curi apa sih dari kami cuma ada cermin di kontrakan, mereka mikir gitu mungkin,” Dita saat itu memperkenalkan diri sebagai mahasiswa yang ingin belajar banyak tentang kehidupan para buruh. “ Mungkin mereka pikir saya sedang KKN atau penelitian, gak pa palah yang penting saya kasitau saya memang pengen belajar.” Opini Dita, para buruh juga senang dan bangga saat ada mahasiswa yang bersedia melebur dengan mereka.

 

 

Pertanyaan yang kemudian muncul, pernahkah menyesal dengan semua itu? Sedikitpun tidak, saya malah bersyukur akan semua itu, kata Dita. Di Fakultasnya, saat itu yang mengambil keputusan untuk mundur dari studi hanya dirinya dan seorang teman. Bagi Dita memang tak berarti harus semua mundur, tapi dia memang kebagian jatah harus mengambil risiko. Dia kemudian menjemput tantangan hidupnya yang sedang diumpankan. Dita mengaku justru bangga karena zaman presiden Soeharto tak banyak yang mau mengambil risiko. “ Asalkan saya, pekerjaan dan hidup saya aman, maka tak perlu bergerak sekalipun dalam hati tak suka dengan keadaan yang ada,” jelasnya.

 

Selepas hukuman, Dita kembali ke dunia aktivis. Di ranah ini, kembali dia menemukan tambatan hati dan memulai lagi kisah cintanya pada tahun 2002. Pria ini pula yang akhirnya bersanding dengan Dita di pelaminan. Waktu itu temann-teman aktivis perempuan Dita mendorong dia untuk meminta Joko bertunangan. “ Kata mereka biar ada ikatan karena potensi cowok untuk selingkuh itu besar kali di mata aktivis perempuan,” kisahnya sambil tertawa. Tapi iseng Dita mencoba mempraktekkan anjuran teman-temannya itu. Gayung bersambut, segera Joko bersedia mengumumkan pertunangan. Beda lagi dengan teman-teman Dita di Partai Rakyat Demokratik ( PRD ). “ Mereka tanya, ko pake tunangan segala sih.” Dita sebenarnya menyadari bahwa pertuangan dengan pacaran sama saja, hanya bedanya ada pengumuman ke publik. Itu pendapat perempuan yang mengaku punya enam mantan pacar tersebut.

 

Tak sungkan-sungkan, Dita Sari memuji lelaki yang kini menjadi teman hidupnya. Menurutnya, di antara mantan kekasih, yang paling klop memberikan pertanyaan adalah sang suami. “ Bagiku dia nggak hanya suami tapi sebagai teman, saat ada pertanyaan yang membingungkan, aku tanya dia,” komentarnya tentang sang suami yang kini masih aktif di dunia aktivis dan memunyai usaha handifcraft tersebut. Kalau gaya berpacaran dulu, gaya alktivis. “ Kadang aku pengen makan di mana, dia ada rapat atau dia pengen ngajak nonton, aku ada seminar,” katanya. Pembicaraan mereka diwarnai tentang hal-hal politik tapi saat hati bertaut, hal pribadi juga jadi topic perbincangan keduanya. “ Waktu itu kita rencana pergi makan enak berdua, tapi karena ada teman belum makan, muncul deh solidernya, akhirnya kita semua makan  nasi bungkus yang penting bareng-bareng,” tutup Dita soal cerita perjalanan asmaranya.

 

 

 

Tak Jadi Musisi Juga Penulis

 

Sehabis  sekolah semasa di Medan, Dita ikut kursus musik. Itulah sebabnya perempuan ini bisa bermain piano dan gitar. Memang dia tampaknya berbakat di bidang seni musik, yang membuatnya sempat berniat menempuh hidup sebagai seniman. Itu jadikan sampingan saja, komentar ibunya yang tidak menyetujui putrid semata wayangnya masuk IKJ. Sebelumnya, perempuan ini juga ingin mengambil jurusan bahasa di SMA karena suka menulis, tapi tak kesampaian juga. Kemudian dia belajar hukum di Universitas yang mengantarkannya menjadi seorang aktivis. Sekarang, Dita mengaku tak lagi sering memainkan alat musik. Sesekali dia masih menyentuh keyboard yang ada di rumah.

 

Selera musik Dita sendiri beragam. Dia menyukai The Police, grup musik Inggris dengan vokalis Sting. Selain itu, Enya, Creed, Coldplay dan James Blunt ada dalam daftar favoritnya. “ Saya tak menyukai satu saja, tapi suka banyak termasuk lagu Indonesia,” Tapi kalau untuk Dangdut, Dita angkat tangan. “ Saya nggak tahu bagaimana cara menikmati dangdunt, dag dug dag dug nya malah bikin pusing,” tambahnya. Dulu waktu kursus, musik, latar belakangnya musik klasik. Tapi untuk konsumsi jenis musik ini, biasanya menjelang tidur. Saat perlu ketenangan, yang biasa diputar, karya Bethoven dan Mozart. Kalau urusan menyanyi, kata Dita, “ ya bisalah, nggak merdu sekali tapi tak cempreng.”

 

Meski tak kesampaian menjadi penulis maupun musisi, Dita cukup menonjol sebagai aktivis. Dia tak mau tanggung-tanggung terjuan pada apa yang diperjuangkannya. Konsistensi Dita ini menganugerahi dia berbagai penghargaan dari berbagai media di Indonesia. Dari luar negeri, Dita dianugerahkan Magsaysay Awards kategori Emergent Leadership, dan perempuan ini adalah tokoh termuda dari Indonesia yang pernah meraih penghargaan internasional tersebut. Dita mengaku terharu dan terkejut saat 2001, dia dinyatakan sebagai penerima. Penghargaan itu menambah keyakinannya, bahwa aktivis buruh memang jalan hidupnya.  Selain itu Wertheim Award digondolnya. Reebok Internasional juga pernah memberikan Dita Human Right Awards, tapi ditolaknya. Menurut Dita, perusahaan itu justru salah satu perusahaan yang kurang memperhatikan hak-hak para buruhnya.

 

Ibu dua anak ini juga kerap jadi pembicara dalam seminar dalam dan luar negeri sejak belum menikah sampai sekarang. Apa kiatnya sehingga terlatih berbicara di depan umum, menjadi orator saat demonstrasi dan memberi jawaban dengan sistematis? Itu semua karena pengalaman, pergaulan yang mengajarkan banyak hal, tak ada orang yang lahir untuk pintar berbicara, demikian tanggapannya. Dita berbicara banyak soal politik di luar, tapi itu salah satu hal yang dihindari ketika bertemu kakak satu-satunya yang kini tinggal di Bali. “ Kakak saya itu sejak dulu tak mau lepas tangan terhadap saya, tapi dia memang apolitis, bagi dia apa yang saya lakukan tak masuk diakal, tak realistis,” kata Dita. Lalu saat bertemu, pembicaraan soal politik disingkirkan dulu. Toh, yang paling penting, mereka masih bisa menjalin silaturahmi kekeluargaan yang hangat tanpa politik dan intrik-intriknya.-ezrasihite-

 

 

 

 Dikutip sebagian dari Koran Jakarta edisi Minggu, 22 Maret 2009

Written by Me

March 23, 2009 at 10:24 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: