Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

I’m Done

leave a comment »

Kapan terakhirnya menulis tentang diri sendiri, tak lagi persis ingat. Bukan tak mau tapi terasa tak nyaman terlalu mengekspos diri apalagi bercurhat di situs jejaring sosial. Rasanya tak ingin menorehkan notes kalau masih berkisar aku, dia, dan mereka yang jaraknya hanya satu jengkal dariku. Dari dulu memang tak merasa aman kalau manusia lain terlalu bisa membacaku. Hanya orang-orang tertentu saja yang perlu tahu  tapi itu pun tak mau berekspektasi terlalu besar. Istilahnya dengan berbicara dan didengarkan sudah cukup terhibur, tak mengharap hal yang lebih besar. Takut kecewa. Itu sebabnya lebih baik berjaga-jaga.

 

Akhir-akhir ini cuaca panas sekali, tak terduga, tiba-tiba bisa turun hujan, tak tanggung-tanggung plus angin kencang. Tapi dengan keadaan seperti ini, kau akan mendengar pas masuk ruangan orang akan berkomentar, “ oh panas banget di luar,”, “ gila panasnya,”, “ Aduh panas minta ampun,”, “ akhir-akhir ini panas yah,”,”Jakarta gila panasnya,” semuanya dan di mana-mana ada kata panas. Berpeluh makin banyak, cepat pula letih dan tak jarang urat kemarahan pun lebih cepat memuai. Bisa jadi.

 

Di cuaca panas seperti ini tak mau terlalu memanjakan diri. Bukankah semuanya harus berpeluh yang ada di muka bumi ini? Tak perlu takut capek, tak usah banyak mengeluh, bukan hal yang aneh kalau tubuhmu merasa sedikit sakit dan akumulasi pegal berhari-hari makin menyiksa. Toh, ada waktunya istirahat dan lepaskan lelah itu untuk dipulihkan. Hanya, kok berbeda kali ini. Seperti belum ada akhir. Kutunggu seminggu dua minggu, dimana desire yang sama. Mencoba meyakinkan diri, jangan terbawa orang lain. Yah, tak semudah yang dibayangkan dan dikatakan. Lantas bukan berarti harus menyerah. Setiap orang punya impian, tak selalu sama denganku, tak harus terpilin juga semangat kami tak terpisahkan. Klise sekali, tak mungkin dibangun sebuah brotherhood atau sisterhood hanya dalam waktu hitungan bulan. Orang bertahun dan berpuluh tahun saja belum tentu tamat.

 

Menebak-nebak mungkin sempat terlena, dibuai oleh kelonggaran dan tubuh yang merasakan kemanjaan ini berontak tatkala ada perlawanan di luarnya. Aduh, pelik berbahasa bunga-bunga seperti ini. Aku tak mau dan lagi malas. Kalau begini biasanya ingat kata retraite, mundur sejenak mengumpulkan energi kembali untuk maju lagi dengan gairah dan tawa yang tak terpaksa. Lega, itu namanya. Sempat berpikir memang akhir-akhir ini rasanya tak mampu untuk bersabar. Kata orang bijak, sabar itu bukan tergantung orang lain, tak pula melihat keadaan apalagi tak sabar tapi tanpa alasan, hanya karena jiwa yang bergejolak, hati yang resah, pikiran gelisah, emosi yang menyiksa dan inspirasi yang akhrinya mati. Untuk apa dan apa itu? Tak perlu dipertahankan. Jangan terlalu lembek pada diri sendiri. Bukankah dirimy adalah musuh terbesarmu. Tapi kesimpulannya, bukan jadi menyiksa diri dan ekstrimnya menganggap diri berdosa dan menghukumnya dengan hal-hal yang tak masuk di akal. Sudah, itu kisah lama, ala sekte-sekter tertutup yang patah tumbuh di zaman ini. Yang barangkali terinspirasi filsafat Plato yang menganggap bahwa tubuh itu lebih rendah dari roh, kalau bahasa ilmunya, dunia materi di bawah dunia ide yang mulia dan lebih agung.

 

Waktu menulis ini sambil chating dengan salah seorang teman di persekutuan yang sudah cukup lama tak kontak. Berbicara dengannya cukup menghibur. Salah satunya masalah keren kalau terbiasa bekerja dengan laptop dan modem karenanya bisa mobile ke mana-mana. Bercandanya terasa tulus. Yap, aku tahu bertemu dengan teman-teman lama walau hanya sekadar ngobrol di dunia maya bisa menyegarkan. Jadi, tetaplah jaga hubungan dengan teman lama. Minggu lalu aku juga begitu, penat mati. Terus, aku bertemu dengan dua teman satu SMA, nonton kemudian makan bareng dan ngobrol sampai larut malam dan it works. Mulai ada semangat baru walaupun tak besar tapi aku butuh mengumpulkan pecahan-pecahannya agar kembali utuh lagi. Thanks God I have friends, ini memang berkah, selalu kuingat itu. Sekalipun tak harus mengutarakan segala resah hati di hadapan mereka tapi bertemu dengan muka baru akan meyegarkan. Dengan teman yang sekarang di suatu saat juga akan begitu. Ada teman di segala suasana. Ada keluarga juga untuk selamanya.

 

 

 

 

 

 

Written by Me

April 2, 2009 at 12:56 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: