Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Babak Kedua Sengketa Dollar

with one comment

Masalah Bank Danamon Dan Esa Kertas Nusantara Bukan Mediasi Melainkan Soal Uang 133 Miliar Rupiah.

Bank Danamon dan PT.Esa Kertas Nusantara tetap saling ancam terus akan meneruskan sengketa mereka ke meja hijau, jika masingmasing dianggap tetap tak bersedia memenuhi kewajiban.
Para petinggi Bank Danamon dan PT Esa Kertas Nusantara, untuk sementara kini bisa menghela nafas lega. Di Pengadilan Jakarta Selatan, pengacara kedua perusahaan, Selasa pekan lalu sepakat menunda perselisihan kedua perusahaan dari jalur hukum ke jalur mediasi. Salah satu kesepakatannya, baik Danamon maupun Esa Kertas harus mengajukan proposal upaya damai hingga 40 hari ke depan terhitung sejak sidang pertama sengketa antara kedua perusahaan, 31 Maret silam.

bank-danamon-1
Itu adalah upaya damai yang kese kian yang ditempuh Danamon dan Esa Kertas, setelah kedua perusahaan sempat beberapa kali melakukan upaya negoisasi, yang berujung pada jalan buntu awal tahun lalu. Sebagai gantinya Danamon dan Esa Kertas sepakat menempuh jalur hukum. Esa Kertas menilai tindakan Danamon dalam transaksi darivatif itu sebagai menyesatkan, dan sebaliknya Danamon menganggap Esa Kertas wanprestasi karena tak bersedia memenuhi kewajiban.

 
Ketiadaan kata sepakat itulah yang lalu menyeret keduanya ke jalur hukum menyusul gugatan Esa Kertas kepada Danamon sekitar 1 triliun rupiah bulan lalu.
“Dari dulu kami selalu siap untuk mediasi asalkan tidak merugikan atau menguntungkan salah satu pihak yang bertikai,” kata Chengwy Karlam, Direktur PT Independent Research & Advisory Indonesia yang menjadi konsultan Esa Kertas.
Esa Kertas adalah sebuah perusahaan kertas milik Soenaryo Sampoer na. Perusahaan ini resmi berdiri 2004 dan saat ini memiliki 1.200 karyawan. Berkantor pusat di Jalan Tanah Abang II Jakarta Pusat, Esa Kertas memiliki pabrik di Karawang, Jawa Barat. Produk kertas yang diproduksi antara lain tisu, LWC dan kertas cetak dengan merek-merek Aviator, Byzantium dan Infi nitecopy. Sebagian besar produk-produk tersebut merupakan komoditas ekspor yang antara lain dipasarkan ke Malaysia.

Keuntungan Transaksi 
Sengketa Danamon dan Esa Kertas bermula dari transaksi derivatif yang diteken kedua perusahaan pada 9 Oktober 2007. Chengwy ber cerita, saat itu Danamon selalu datang ke Esa Kertas dan menjelaskan orientasi perusahaan kertas itu adalah ekspor dengan penghasilan dolar.
Lalu Danamon mencari tahu, kebutuhan dolar apa saja yang dibutuhkan yang bisa menunjang operasional Esa Kertas. Tak lupa Danamon kata Chengwy menjelaskan produk yang mereka tawarkan adalah produk lindung nilai.
“Kami percaya pada Danamon sebagai bank yang mengerti atas transaksi jenis ini,” kata Chenwy.
Ricardo Simanjuntak, pengacara Danamon mengakui saat itu pihaknya memang melihat Esa Kertas membutuhkan transaksi foreign exchange.
Kontrak pertama itu kemudian disusul dengan kontrak kedua beberapa hari kemudian. Hingga dua bulan berikutnya, tak ada masalah dari kontrak itu.
Persoalan mulai muncul, ketika di penghujung 2007 Danamon mendeteksi ada potensi loss (kerugian dalam transaksi derivatif itu) yang dihadapi Esa Kertas. Danamon karena itu memberitahukan kepada Esa Kertas agar dilakukan restrukturisasi dengan meneken perjanjian transaksi lainnya. Dan itu benar dilakukan pada Januari 2008. 
Dalam perkembangannya kontrak transaksi yang disepakati oleh Danamon dan Esa Kertas terus bertambah.
Ricardo mencatat ada 16 transaksi yang sudah diteken oleh Esa Kertas dan Danamon. “Satunya lagi cross curently swap,” kata Ricardo.
Masalah semakin rumit karena harga dolar saat itu juga lumayan melambung terhadap rupiah. Dolar terutama mengalami penguatan terhadap enam mata uang utama dunia yang termasuk ke dalam indeks dolar, antara lain yen, euro, dan pundsterling. Rupiah pun terkena imbasnya.
Dari Juli hingga September 2008 saja, pergerakan harga dolar terhadap rupiah bahkan sudah melonjak lebih mahal 2 ribu rupiah. Pada Juli 2008 harga dolar masih bertahan pada angka 9 ribuan rupiah, namun kemudian terus merangkak naik menjadi 11 ribuan rupiah per dolar pada akhir September.
Menguatnya nilai tukar dolar tadi antara lain dipicu oleh anjloknya harga minyak mentah yang mencapai level terendah saat itu. Rally dolar itulah yang lantas mengakibatkan harga komoditas yang diperdagangkan dengan mata uang dolar menjadi relatif lebih mahal termasuk untuk produk kertas seperti yang diproduksi oleh Esa Kertas. 
Dari Chengwy diperoleh data, nilai kontrak 16 transaksi itu mencapai 91 juta dollar AS. Namun hingga September 2008 yang baru terlaksana baru 29,5 juta dollar AS. Itu belum termasuk untuk kontrak cross curently swap senilai 5, 5 juta dollar AS. “Kunci permasalahan sebenarnya terdapat pada 16 produk tadi,” kata Chengwy. 
Itu kata Chengwy terutama disebabkan tak adanya lindung nilai alias hedging yang dilakukan oleh Danamon. Kenyataan itu dianggap berbeda dengan yang ditawarkan Danamon di awal perjanjian yang menyebutkan produk derivtaif itu adalah produk lindung nilai dan bukan produk spekulatif. Menyadarai kerugian yang bakal ditanggung, Esa Kertas lalu merundingkan masalah tersebut.
“Ada gejolak kurs sehingga Esa Kertas mendapat kerugian sangat besar,” kata Chengwy. 
Betulkah demikian? Ricardo me nerangkan, sangat tidak mungkin Esa Kertas tak mengerti ada risiko dalam transaksi yang mereka sepakati. Paling tidak sejak Januari 2008 Esa Kertas sudah melakukan restrukturisasi terhadap semua kemungkinan potesi kerugian akibat transaksi yang disepakati.
“Kalau seandainya mereka tidak mengerti, seharusnya mereka menghentikan transaksi tersebut,” kata Ricardo. 
Apalagi menurutnya, sembilan dari 16 transaksi itu juga sudah mendatangkan keuntungan bagi Esa Kertas. Lalu tujuh dari transaksi yang masih tersisa, lima di antaranya juga telah diselesaikan sementara sisanya memang tidak diselesaikan dan tak dibayar oleh Esa Kertas. Padahal keuntungan mayoritas dari dua kontrak yang tak diselesaikan itu pun, sudah menjadi milik Esa Kertas. “Lima transaksi dan dua transaksi itulah yang kemudian dipermasalahkan. Nilainya 133 miliar rupiah,” kata Ricardo.
Kembali ke Pengadilan Pihaknya menurut Chengwy bukan tak mengakui ada keuntungan yang dikantongi Esa Kertas. Namun masalah itu tak sesederhana yang dihitung oleh orang. Bukan saja nilai keuntungan itu tak sampai pada angkat miliar rupiah, melainkan keuntungan yang dikantongi Esa Kertas itu pun sebetulnya sudah “disetel” oleh pihak bank.
“Keuntungan kita dibatasi tapi sebaliknya bila terdapat kerugian tidak pernah dibatasi dan pihak bank bisa melakukannya secara sepihak. Dan nasabah bisa mengalami kerugian hingga dua kali lipat,” kata Chengwy.
Lalu ke mana upaya mediasi antara Danamon dan Esa Kertas yang diusulkan oleh Bank Indonesia itu akan berujung? “Kita ini bukan pengadilan, kita orang bisnis. Mau negoisasi mau pengadilan, monggo.
Bagaimana pun prosesnya dan mau apa pun akan kita layani,” kata I Made Dewa Susila Head of Investor Relations Bank Danamon kepada Teguh Nugroho dari Koran Jakarta.
Dalam bahasa Ricardo, Danamon tetap akan melihat apakah Esa Kertas akan memenuhi kewajibannya membayar transaksi yang telah disepakati, atau tidak. Seandainya Esa Kertas tetap tidak bersedia membayar 133 miliar rupiah yang menjadi kewajiban mereka ke Danamon dan melanjutkan ke proses hukum, menurut Ricardo pihaknya juga tetap akan menghadapinya.
“Jangan beranggapan bila kasus ini diselesaikan secara hukum akan mampu menekan Danamon. Karena kita juga memiliki bukti-bukti yang kuat atas perjanjian transaksi derivatif ini,” kata Ricardo. 
Sebaliknya Chengwy juga bersikukuh, bila upaya mediasi tidak berjalan baik, Esa Kertas juga tetap akan menempuh jalur hukum. Kalau sudah begitu, dalam waktu 40 harian ke depan, para petinggi dua perusahaan itu tentu akan kembali bersitegang menyangkut duit 133 miliar rupiah itu.

rusdi mathari/agus triyono/
kristian ginting (adiyanto)

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu, 5 April 2009

Written by Me

April 11, 2009 at 12:10 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Babak Kedua Sengketa Dollar […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: