Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Cerita Sahabat tentang Teman dan Kawan

with one comment

Seorang teman mulai bercerita.
“ Aku tak mau mengorbankan persahabatan hanya karena ada perasaan.”
rubal-friendshipfeelings00

“Maksudmu?” kataku
Dia meringis, “ tak sampai kapok berteman, tapi hampir, kalau sudah dekat jatuh suka dan justru akhirnya jauh,” dia terlihat sedih.

Aku juga pernah merasa kehilangan teman, tapi kalau kehilangan itu justru karena perasaan yang orang katakan sebentuk cinta, mengapa malah berujung kesedihan.
Kata dia, “ Awalnya bahagia namun aku harus siap-siap memutus hubungan, segera, mau tak mau, ada sikap yang berbeda, aku mendengus aksi menghindar, apa karena perempuan memang terlalu perasa.”
Aku juga perempuan, maka aku tak mau menjawabnya. Aku tersenyum.
“ Ayo berceritalah,” kataku.

“ Apa yang kau lakukan jika pada suatu saat kau merasa mendapatkan seorang teman baik , bisa berbicara banyak dengannya, tak sungkan mencercanya, terasa lepas tertawa dengannya, tak ada rasa bersalah menggodanya dan tiada rasa takut membuka rahasiamu di depannya. Sungguh itu keberuntungan bukan? Teman yang dapat dipercaya tak banyak jumlahnya. Itu benar-benar teman yang berpotensi menjadi seorang sahabat. Waktu berganti, tak semua seperti semula. Dia mulai menghindarimu, kadang canggung bahkan tak mau lagi melihatmu. Ah, bisa saja mungkin kau merasa masih kurang mencairkan suasana. Bersikap biasa saja, apapun yang ada dihatinya itu urusan pribadi. Tapi jauh di dalam hatimu, tak begitu bukan? Kau akan merasa bersalah kalau kau tak membantunya menghindarimu. Dirimu akan merasa hina jika membuatnya tak bisa melupakanmu. Mungkin dia ingin agar kenangan tentangmu tak lagi ditambah. Cukup segitu saja. Tak terucap darinya, tapi ini menuntut pengertian dan pengorbanan. Kau pasti ingin menangis. Pertemanan kalian tak akan berakhir dengan tali persahabatan. Relasi kawan ini berada di ujung tanduk. Serba salah pastinya. Ingin tetap bercanda seperti biasa, kau akan merasa tak enak hati. Kalau tak peduli terhadap dia, terasa aneh juga. Bukankah kalian selama ini berteman?” Dia diam sebentar.

Kemudian melanjutkan.
“Aku tak tahu harus berbuat apa. Jadi hanya bisa berharap yang terbaik untuk seorang teman. Ikuti aturan mainnya. Ini kan tak hanya terjadi sekali. Nanti juga akan baik-baik saja. Dia pergi atau aku pergi. Lama-lama semua akan menjadi buram, akan ada masa kadaluarsanya,” dia mencoba tertawa.

Tapi aku tahu itu bukan tertawa yang sebenarnya. Hanya mencoba memanipulasi hati yang sedang gundah. Asmara memang bisa membuat indah sekaligus menjadi penghalang kebahagiaan. Tak jarang membuat yang tertimpa bersikap tak seharusnya. Semisal, itu tadi, mempertahankan pertemanan yang mahal harganya. Dibangun tak mudah dan bukan sebentar.

“ Itu saja?” kupancing lagi.

“ Apa yang kau harapkan dari cerita yang bertolak belakang dari kisah lagu Lucky, Jason Mraz dan Colbie Caillat. Toh akhir ceritanya sudah kau ketahui. Makanya, tugasmu saat ini sebagai teman itu menghiburku. Ayo lakukan apa saja.”

“ Berbicaralah dengannya,” saranku.

Dia menggeleng.

“ Bukankah dengan menyambut gayung bisunya kau sakit hati?”

Dia tertunduk.

“ Memang tak harus bersama, tapi alangkah sayangnya sebuah relasi yang harusnya membangun itu dikorbankan,”

“Aku tak mengorbankan relasiku, hanya mengorbankan perasaan, sekarang jadi teman kesekiannya yang seperti kenalan biasa. Tak tahu apa-apa tentang dirinya, karena kalau aku bertanya, dia sering diam saja dan tak ada kata panjang lebar saat berbicara. Relasi itu tak bisa dibangun atas kemauan satu orang saja tapi juga satunya. ” Dia menjawab.

“ Betul juga.”

“ Aku pun tak tahu sekarang itu yang betul atau keliru, hanya mencoba mereka-reka apa yang terbaik, tak apa. Kalau aku memang tak bisa menjanjikan apapun maka tak mau memberi harap dan membuka peluang itu” dia melempar pandang ke arah lain.

Lanjutnya, “ aku hanya bisa berkata dengan mulutku, kau temanku, tak lebih,”

“ Aku tahu kau kuat dan akan belajar siap untuk ini. Terlalu lebar memang jarak itu. Dan kau tak lagi hanya sekali mengalaminya. Suatu saat itu kau akan mendapat lagi seorang sahabat yang tepat dan kekasih yang welas asih.

Tell me why you’re so hard to forget.
Don’t remind me, I’m not over it.
Tell me why I can’t seem to face the truth
I’m just a little too not over you my friend.

Written by Me

April 11, 2009 at 1:45 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. ceritanya mirip dengan apa yang ku alami sekarang…

    taxido

    July 31, 2009 at 4:41 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: