Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Dari Bank Duta hingga Citic “

leave a comment »

Inilah Sejumlah Kasus Transaksi Derivatif Yang Pernah Menyita Perhatian Publik.

Kasus yang timbul akibat transaksi derivatif valuta asing bukan kali ini saja terjadi. Dua tahun lalu PT Indosat Tbk. juga tersandung transaksi ini, setelah Drajad W. Wibowo, anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR-RI menyoalnya. Drajad menengarai Indosat mengalami kerugian hingga 653 miliar rupiah akibat transaksi derivatif yang dilakukan selama tiga tahun.
logo-indosat

Tudingan Drajad terutama didasarkan pada laporan keuangan Indosat 2007, yang salah satu komponennya menunjukan kerugian dari transaksi derivatif. Tudingan terhadap Indosat itu, belakangan dianggap oleh pemerintah sebagai bukan transaksi derivatif. Kasusnya selesai meskipun faktanya Indosat memang menerbitkan obligasi (surat utang) dalam bentuk dolar masing-masing 300 juta dollar AS dan 250 juta dollar AS.

Bunga dari obligasi itulah dibayarkan dalam bentuk dolar dan besarnya tetap (fixed). Indosat juga memiliki fasilitas kredit ekspor dari Finlandia sebesar 34 juta dolar AS. Indosat juga diketahui memasuki kontrak interest rate swaps dan cross currency swaps. Nilai nominal dari kontrak tersebut pada akhir Desember 2006 mencapai 400 juta dollar AS atau sekitar 68,5 persen dari total kewajiban dolar Indosat.

Jauh sebelum Indosat, beberapa bank juga pernah terbelit persoalan transaksi ini. Yang terbesar dan menghebohkan adalah skandal transaksi valuta asing yang melibatkan Bank Exim pada 1998. Bank itu limbung setelah mengalami kerugian akibat transaksi hingga 6,64 triliun rupiah.

Sebelum kekalahan itu terbongkar, Bank Exim memang dikenal banyak mengambil keuntungan dari perbedaan suku bunga antara suku bunga rupiah dengan bunga pergerakan kurs. Polanya, bank itu meminjam dana dalam bentuk dolar Amerika tanpa di-hedging (lindung nilai). Dana itu lalu dipinjamkan kembali dalam bentuk rupiah dengan bunga cukup tinggi di pasar uang antar bank.

Katakanlah pergerakan kurs berkisar 5-6 persen (saat sebelum krismon 1998), dan sementara suku bunga rupiah bergerak pada kisaran 17 persen, maka Bank Exim akan menangguk selisih bunga hingga 12 persen. Mei 1997, bank itu kembali melakukan pola yang sama dengan mengikat kontrak forward sebesar 2.725 rupiah untuk 1 dollar AS.

Nilainya mencapai 2,16 miliar dollar AS atau 15 kali lipat melampaui ketentuan yang dibolehkan otoritas moneter. Mengantongi ekuitas 1,5 triliun rupiah, dengan ketentuan itu Bank Exim sebetulnya hanya bisa melakukan transaksi derivatif sekitar 350 miliar rupiah.

Bank Duta
Singkat cerita dengan kontrak itu, berarti Bank Exim akan menyerahkan dolarnya (short position) dengan harga yang sudah dipatok rata-rata 2.725 rupiah. Dua bulan kemudian badai krismon menghantam Indonesia dan berujung pada melambungnya nilai dolar. Hingga Agustus 1997, bank itu sebetulnya sudah berpotensi rugi 150 miliar namun belum dilakukan langkah pencegahan. Tak juga melakukan lindung nilai itu.

Puncaknya terjadi pada Desember, ketika harga dolar sudah mencapai 3.191 rupiah. Saat itu potensi kerugian Bank Exim sudah menggelembung hingga 6,64 triliun rupiah. Kasus itu terbongkar setelah ada dalam laporan keuangannya kepada Bank Indonesia, neraca Bank Exim terlihat bersih. Padahal dalam off balance sheet atau neraca yang tidak dilaporkan, keuangan Bank Exim tidak mencantumkan kewajiban membayar 2,16 miliar dolar AS.

Skandal menghebohkan di ujung 1998 itu belakangan menyeret Hedi Rahadi Salmun, Direktur Sindikasi dan Jasa Keuangan Bank Exim dan Saleh Azis, Kepala Biro Pengelolaan Dana Bank Exim ke sel tahanan. Bank Exim kemudian dilebur ke dalam Bank Mandiri, bersama antara lain Bank Bumi Daya.

Bank lain yang juga pernah kolaps akibat transaksi derivatif adalah Bank Duta. Pada kuartal terakhir 1990, bank itu terhuyung-huyung karena kalah bermain valas sebesar 417 dollar AS. Sama dengan Bank Duta saat itu mengikat transaksinya melalui delapan bank. Salah satunya melalui National Bank of Kuwait cabang Singapura.

Diketahui kemudian, Bank Duta dinilai salah mengambil posisi karena membuat kontrak forward lewat mata uang Jerman dengan valas dolar AS. Kasus ini bukan hanya menyebabkan Dicky Iskandar Di Nata (Direktur Utama Bank Duta) dipecat dari jabatannya, melainkan juga membuatnya mendekam di penjara.

Kasus yang lebih kecil pernah terjadi antara Bank Subentra dan Bank Internasional Indonesia (BII). Dua bank ini sempat bersengketa, setelah transaksi valas yang dilakukan keduanya pada 1997. Oleh BII, Bank Subentra dinilai cidera janji memenuhi tagihan 97,9 miliar rupiah setelah mengikat transaksi valas dengan BII.

Alasan penolakan Bank Subentra, karena mereka menilai BII tak memenuhi sejumlah syarat. Antara lain syarat-syarat dan ketentuan umum mengenai opsi pertukaran valas. Merasa dipermainkan, manajemen BII lalu mengadukan kasus ke polisi. Herutomo, Direktur Treasury Subentra sempat diperiksa polisi.

Kasus yang relatif baru menimpa Citic Pacific Ltd. Hong Kong. Perusahaan baja dan properti itu menelan kerugian setelah melakukan spekulasi terhadap dolar Australia. Perusahaan ini memperkirakan dolar Australia akan menguat terhadap dolar Amerika.

Kontraknya diteken pada 7 September 2009. Namun sekitar 40 hari kemudian, Citic sudah mengumumkan kerugian akibat transaksi itu. Dari kerugian 2,4 miliar dola AS yang diumumkan, kerugian Citic karena bertaruh di mata uang Negeri Kanguru itu diperkirakan mencapai 2,2 miliar AS. N AR-4

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta, 5 April 2009

Written by Me

April 11, 2009 at 12:17 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: