Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Patgulipat Transaksi Derivatif

with one comment

Kerugian Yang Diderita Perbankan Akibat Transaksi Derivatif Mencapai 5,4 Triliun Rupiah.

Dan sebagian besar dari transaksi valuta asing itu ternyata diketahui bermasalah. Sejumlah nasabah bank bahkan meminta BI agar bisa menengahi perselisihan mereka dengan bank. Bank mana yang paling banyak bermain transaksi ini?

danamon-dhiky-dalam

Pada masanya, penyair Khairil Anwar pastilah tak mengerti apa transaksi derivatif. Namun kata-kata Khairil bahwa “hidup hanyalah menunda kekalahan” mestinya memang berlaku pula pada transaksi derivatif. Benar, patgulipat dalam transaksi valuta asing ini memang menjanjikan keuntungan berlipat-lipat. Namun kerugian yang selalu siap menerkam para pemainnya sebetulnya juga hanya soal waktu. Seorang bankir pernah mengibaratkan, transaksi spekulatif ini mirip arena kasino, siang dan malam.

Dan kini, kekalahan semacam itu harus ditelan oleh beberapa perusahaan dan BUMN. PT Aneka Tambang Tbk, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Elnusa Tbk. adalah tiga BUMN yang banyak disebut-sebut mengalami kerugian karena terjebak dalam transaksi derivatif. 

Belum ada keterangan resmi berapa nilai kerugian yang mesti ditelan oleh tiga BUMN tadi. Beberapa catatan hanya menyebutkan, nilai kerugian yang harus ditanggung oleh tiga BUMN tadi bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Aneka Tambang dan Danareksa masing-masing memiliki transaksi dengan Standard Chartered Bank dan PT Bank Permata Tbk. senilai 200 miliar rupiah. Sementara Elnusa melakukan transaksi derivatif dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Terungkapnya kasus ini, salah satunya berawal dari siaran pers yang diterbitkan Bank Danamon pada 21 Januari 2009. Presiden Direktur Danamon Sebastian Paredes dalam siaran pers mengumumkan bahwa Danamon membukukan penurunan keuntungan 29 persen hingga menjadi tinggal 1,5 triliun rupiah pada 2008.

Sebastian menyebutkan penurunan laba itu antara lain disebabkan oleh krisis keuangan global. Gara-gara badai ini, rupiah pada kuartal keempat tahun lalu merosot hebat dan harga-harga komoditas rontok. Akibatnya arus kas para eksportir yang notabene nasabah kontrak berjangka valuta asing atau foreign exchange forwards juga terganggu sehingga Danamon pun kesulitan memenuhi kewajibannya.

Bank milik Temasek Holdings Pte (Singapura) dan Deutsche Bank AG (Jerman) itu mau tak mau, harus menyediakan dana pencadangan. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengantisipasi tagihan mereka agar tak macet. Danamon kata Sebastian, karena itu mengambil posisi amat konservatif dengan menyediakan dana provisi pada kuartal keempat 2008. 

Dia tak lupa juga menambahkan, bahwa Danamon juga aktif bernegosiasi dengan nasabah untuk mencari solusinya. Per 21 Januari 2009, eksposur para nasabah Danamon (mark-to-market) dari kontrak foreign exchange forwards telah turun hingga dibawah 93 juta dollar AS, dan sebagian besar telah diprovisikan.

Andai saja persoalannya sesederhana itu, barangkali pengumuman penurunan laba Danamon itu tak akan berbuntut panjang. Persoalannya laba Danamon yang turun itu kemudian ikut menekan indeks di pasar modal. Kali pertama diumumkan 12 Januari 2009, indeks pasar modal langsung menukik tajam. Investor seakan membaca bahwa kondisi yang dialami Bank Danamon bakal dialami emiten lainnya, terutama emiten perbankan.

Memutus Kontrak
Faktanya, tak hanya Danamon yang dibelit masalah derivatif. Bank CIMN Niaga juga sudah mencadangkan 400 miliar rupiah akibat transaksi ini. Di luar dua bank tadi, sejumlah bank asing dan beberapa bank lokal lain juga diduga terlilit transaksi spekulatif ini.

Maraknya bank yang tersandung transaksi ini, antara lain bisa dibaca dari isyarat yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Data bank sentral menyebutkan hingga Januari silam, kerugian transaksi derivatif yang dialami perbankan mencapai 5,4 triliun rupiah. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan kerugian yang sama pada periode setahun sebelumnya yang mencapai 3,6 trilun rupiah. 

Kerugian terbesar ditanggung oleh bank-bank asing yang nilainya lebih dari separoh dari nilai total kerugian. Sisanya dipikul oleh bank swasta nasional devisa sebesar 1,5 triliun rupiah, dan bank campuran sebesar 850 miliar. Ada pun kerugian yang ditanggung oleh bank pemerintah 255 miliar rupiah.

Dan ini yang kemudian juga terungkap: sebagian dari transaksi itu ternyata diketahui bermasalah. Sejumlah nasabah bank bahkan meminta BI agar bisa menengahi perselisihan mereka dengan bank soal produk derivatif itu. 

Kepada wartawan Halim Alamsyah Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI menyatakan, hingga Januari silam, penyelesaian produk derivatif bank sudah mencapai dua per tiga atau sekitar 70 persen dari total transaksi yang sebesar 4 miliar dolar AS itu. Pola penyelesaiannya antara lain restrukturisasi, memutuskan kontrak dan pola penyelesaian lainnya. Halim menyebut semua proses penyelesaian produk derivatif itu sudah berjalan dengan baik, sesuai ketentuan BI. 

Kendati Halim tak merinci nama nasabah dan bank, belakangan diketahui salah satu kasus yang dimediasi oleh BI adalah transaksi antara Danamon dengan Elnusa. Nama yang disebut terakhir adalah anak usaha Pertamina yang sempat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyangkut perbedaan transaksi Selling Dolar AS yang dijual oleh Danamon.

Inisiatif BI
Untungnya sebelum Elnusa dan Danamon berhadapan di depan hakim, keduanya sepakat menyelesaikan masalah dengan bantuan BI. Isi kesepakatan antara Elnusa dan Danamon Danamon menyebutkan, Danamon bersedia menanggung kerugian akibat transaksi derivatif yang terjadi, dan Elnusa tidak ikut menanggung kerugian. Elnusa mencabut gugatannya pada 16 Februari silam. “(Kasus itu) sudah ditutup tidak bisa dibuka lagi,” kata Hanny H. Soemarno, Corporate Communication Manager.

Ricardo Simanjuntak, penasehat Bank Danamon menyebut Elnusa mampu mengintepretasikan bahwa pengadilan bukan satu-satunya upaya akhir. Dalam keterangan persnya Jos Luhukay, Wakil Presiden Direktur Danamon mengatakan, yang dicapai pihaknya dengan Elnusa adalah jalan keluar terbaik. “Kami sangat menghargai inisiatif BI untuk menengahi persoalan ini,” kata Jos.

Informasi yang dikumpulkan koran ini menyebutkan hampir semua BUMN yang terlibat transaksi derivatif dengan bank, akhirnya memang berhasil menyelesaikan masalah mereka. Sebaliknya dengan perusahaan swasta, sebagian terkatung-katung hingga sekarang. Salah satunya adalah transaksi derivatif yang melibatkan PT Esa Kertas Nusantara dengan Danamon. 
Perusahaan yang dimiliki oleh Soenaryo Sampoerna— keluarga dari mantan raja rokok nasional itu— bulan lalu menggugat Danamon sebesar 1 triliun rupiah karena menuduh Danamon tak melakukan prinsip mengenal nasabah (know your costumer). Esa Kertas juga menilai penjelasan yang diberikan oleh Danamon dalam kontrak derivatif disampaikan secara tidak seimbang.
PT Independent Research & Advisory Indonesia atau IRAI yang menjadi advisor Esa Kertas menganggap Danamon menawarkan produk tersebut berkali-kali dan sangat agresif. Dalam presentasi yang diberikan Danamon, kata Chengwy Karlam, Direktur IRAI, bank itu menyatakan kebutuhan EKN adalah untuk lindung nilai, bukan produk spekulatif. “Kontrak produk Danamon tidak fair,” kata Chengwy.
Namun kata Ricardo, itu hanya alasan Esa Kertas. Ricardo bercerita Esa Kertas memakai transaksi derivatif dengan nilai yang cukup besar, mendapat fasilitas L/C dan transaksi derivatif. Di mata Ricardo, Esa Kertas adalah eksportir dan juga trade finance. “Jadi, saya pikir agak repot bila kami tidak melakukan lindung nilai,” kata Ricardo.

Siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang antara keduanya, tentu masih ditunggu. Namun sekali lagi benar kata Khairil Anwar itu, transaksi derivatif eh hidup hanyalah menunda kekalahan. N 
rusdi mathari/agus triyono/kristian ginting/rangga prakoso N rusdi mathari/agus triyono/kristian ginting/rangga prakoso

Written by Me

April 11, 2009 at 12:43 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. 77NJp0 kcntbarmpuhu, [url=http://hbwoxxylepzz.com/]hbwoxxylepzz[/url], [link=http://qcqwztzchisc.com/]qcqwztzchisc[/link], http://cfkjriqckxbj.com/

    cnduvnk

    April 30, 2009 at 8:03 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: