Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Soal Jeddah, Colekan, dan Film

leave a comment »

Sejak Kecil Suka Menghabiskan Waktu Dengan Membaca Dan Menonton Film. Nia Memang Bercita-Cita Jadi Film Maker. Sutradara, Penulis Skenario Sampai Produser Dibidanginya. Tapi Kalo Soal Jadi Aktris, Mentah-Mentah Ditolaknya. Perempuan Ini Sadar Dia Terlahir Bukan Sebagai Aktris.

Justru kekonservatifan yang melulu akan membuat angka kriminal terhadap perempuan berpotensi meningkat.

Sejak kecil suka menghabiskan waktu dengan membaca dan menonton film. Nia memang bercita-cita jadi film maker. Sutradara, penulis skenario sampai produser dibidanginya. Tapi kalo soal jadi aktris, mentah-mentah ditolaknya. Perempuan ini sadar dia terlahir bukan sebagai aktris.
62837_nia_dinata_thumb_300_225

Diguyur hujan dan angin kencang, di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat tak terasa dingin. Berbincang dengan Nia Dinata, sineas yang pada Maret lalu menggondol penghargaan Young Global Leader Honorees 2009 dari Organisasi Ekonomi Internasional, WEF, sore itu. Sambil menyeruput kopi di sebuah kafe, suasana jadi akrab. Hangat pula.

Seperti biasa. Nia tampil dengan poni depan namun rambutnya tak digerai. Perempuan tiga puluh sembilan tahun itu mengenakan jaket pink dengan dalaman putih bercoral, celana hitam dan sepatu oranye muda bergaya wedges. “Sebenarnya aku lebih suka warna beige, krem dan biru muda. Cuma karena jaket ini agak formal, jadi cocok untuk acara tadi,” kata Nia yang memang baru menghadiri acara pemutaran film antologi dokumenter Pertaruhan yang dia produseri.

Cuma sempat bercerita soal masa kecil Nia, kami pindah ke kafe lain di teras gedung Pacific Place. “Aku pengin ngerokok,” kilah Nia yang membuat kami berpindah tempat. Tak lagi hujan. Langit tak cerah. Setidaknya bercengkerama di ruang terbuka diteragi sinar lampu kuning menjadi lebih santai. Angin sepoi-sepoi berhembus.
Ihwal sinema sinema membuat Nia bergairah, berbicara. Ini impiannya sejak kecil: film maker. Santai bergaya dan ekspresif cicit pahlawan nasional, Otto Iskandar Dinata, ini mengisahkan masa kecilnya yang tak pernah terlepas dari buku dan film. Hingga remaja, Nia besar di kota Jeddah, menemani tugas kedua orang tuanya.
“Banyak hal traumatis sekaligus menarik saat tinggal di Arab Saudi,” ungkap Nia yang dia yakini juga sebagai faktor penting kedekatannya dengan buku dan film. Mengenai trauma, perempuan berambut lurus ini menceritakan keterkejutannya saat harus hidup dengan kebiasaan yang berbeda dengan Indonesia.
“Di Jakarta, usia enam tahun saya masih bisa keluar naik sepeda, pakai celana pendek dan singlet,” ujar Nia. Lantas tiba-tiba berubah. Tak lagi bebas, keluar pun harus menutup tubuh dengan burkah dan cadar. “Saya pernah melihat seorang perempuan Filipina yang hanya roknya kurang panjang, dipecut kakinya oleh polisi. Saya enam tahun waktu itu. ini traumatis.”

Pedagang Arab

Bukan hanya itu. menjejak remaja Nia yang saat itu mengenakan pakaian tertutup dicolek oleh pedagang pria di pasar. Membela Nia, tantenya memaki pedagang itu. Ini tak biasa, sebaliknya malah si pedagang yang balik menghardik. Tak betah kehidupan di ruang umum, Nia lalu betah membaca di perpustakaan komplek ekspatriat. Juga menonton film.

Nia kecil menghabiskan waktunya duduk di pinggir jendela kamar pribadinya, sembari mengamati onta-onta orang Arab yang lalu lalang di padang pasar. Tercenung, Nia merenung. Dia mengaku banyak berimajinasi kala itu, apa yang dilakukan kaum nomad dan dari mana mereka. Lembar cerita yang juga tak pernah dilupakannya ketika dia melihat rombongan etnik Arab tang berkerumun di tengah tanah lapang, selepas salat Jumat. Untuk apa?

Nia bertanya untuk apa hukum potong tangan dan cambuk bagi orang-orang bersalah. “Aku memang tak melihat langsung, tapi memerhatikan gerombolan orang-orang itu sudah seram. Coba kalau aku ceritakan kepada Janis, puteraku, bisa pingsan nggak tuh..” tambahnya.
Penggal hidup di jazirah Arab itu bukan menjadi pengalaman indah bagi seorang perempuan cilik yang sedang bertumbuh remaja. Manakala orang tuanya kembali ke Jakarta, Nia senang bukan kepalang. Sebelum ke Jeddah, Arab Saudi, berpikir sama tentang lelaki dan perempuan. Saudi mengubah pandangan itu. “Aku tanya sama orang tuaku, kenapa sih kita harus pakai jilbab, di Indonesia kita juga muslim dan salat tapi tak harus berjilbab,” cerita Nia.

Menanyakan hal-hal yang tak bisa diterimanya, Nia yang mengaku kritis itu suka menulis surat. Tapi bukan untuk dikirim. Itu surat untuk orang tuanya. Sengaja diselipkaan di sela-sela pintu kamar, berharap paginya baik ayah maupun ibunya akan membaca hal-hal yang selama ini bergejolak dalam hati Nia kecil. Berangkat dari kisahnya di pasar itu, Nia menilai justru kekonservatifan yang melulu akan membuat angka kriminal terhadap perempuan berpotensi meningkat. “Itulah akibat lelaki tidak dibiaskan menjadi manusia,” kata Nia tertawa.
Pengalaman hidup di Timur Tengah menjadi salah satu faktor terpenting kenapa Nia menyenangi film. Niat itu semakin membulat tatkala ia kuliah di Amerika. Film-film dari Cina, Iran dan Meksiko yang sebelumnya asing dia tonton semakin menarik minatnya. Negera-negara berkembang pun, ia pikir, tak mustahil membikin karya film yang bagus. Indonesia pun seharusnya bisa, demikian komentar Nia. Kata Nia, film juga bisa memengaruhi orang dan sebagai sarana kritik sosial. Ketika SMP, dia sempat bercita-cita menjadi astronot. Itu pun pemicunya film, karena Nia suka nonton film Star Wars.

Berdialog dengan Alam

Sambil menikmati lasagna, ibu dua orang anak itu bertutur. Menyukai beragam kuliner membuat Nia memfavoritkan kumpul bareng keluarganya saat akhir pekan dengan santapan makanan. “Ah jangan nanya itu, jadi bersalah…” jawab Nia saat ditanya berapa lama menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. “Mungkin orang berpikir klise, bagi saya dengan kedua orang tua bekerja, yang terpenting bahwa anak-anak itu waktu yang bemutu, bukan jumlahnya,” katanya. Daripada ibu-ibu yang tidak bekerja tapi tak tahu di mana anaknya berada, Nia berdalih, yang satu main play station, satu main apa, macem-macemlah.

Nia tak selalu bersama kedua orang tuanya, yang terpenting baginya justru menciptakan kebersamaan bersama anak-anak. Mereka tak jarang nonton bersama dan mendiskusikan film tersebut. Terakhir, mereka menonton Where the Hell is Osama bin Laden. “Anak-anak jadi tahu masalah-masalah dunia dari film,” tambahnya. “Gimana kalau ternyata Osama bin Laden ngumpet di Banten?” komentar salah seorang puteranya. Meski menggelikan tapi Nia mengaku senang memerhatikan imajinasi puteranya berkembang.
Impian Nia biasa dan sederhana. Dalam doanya, Nia berharap agar kedua puteranya sehat, bisa berbuat baik dan bahagia dalam hidup. “Terserah mereka mau jadi siapa yang penting mereka bisa berbuat sesuatu,” ujar Nia. Hal unik yang diajarkan Nia pada kedua puteranya sejak kecil saat mereka melancong ke tempat baru, misalnya ke pantau atau gunung, ia mengajarkan mereka berkomunikasi dengan alam. “Aku bilang mereka menyentuh air atau pasar, atau pohonnya, contohnya bilang halo air… halo pohon… kita mau main yah,” tambahnya.

Hingga sekarang Gibran dan Janis, dua putera Nia itu, terus dilakukan. Terakhir tahun lalu mereka berlibur ke Bali. Alam pun punya energi dan tak boleh berlaku sembarangan, menurut Nia, dan harus respek terhadap segala sesuatu. Ini dengan anak-anak, lalu tentang suami? “Yang pasti dia suka film lah, kalau nggak mana mau sama saya,” aku Nia yang tak mau berkomentar banyak tentang suaminya.
Soal perawatan tubuh, Nia tak terlalu berpusing ria, terutama terganjal oleh kesibukan. “Kalau harus ke salon-salon lama-lama aku lebih memilih yang bisa dilakukan di rumah perawatannya,” ungkapnya. Selama ini, Nia memerhatikan tubuhnya karena sering dikirimi rutin produk-produk perawatan tubuh salah satu label kosmetik dan body care. Alhasil, tak punya anggaran tertentu untuk perawatan tubuh. Kalau wewangian, “Aku suka yang tak terlalu manis, biasanya suka citrus atau jasmine.” Kalau diungkapkan dengan kata-kata, maka wewangian pilihan Nia adalah yang aromanya menyegarkan.

Mendapat penghargaan dalam bidang film bukan hal baru bagi sineas perempuan ini. Namun dianugerahi penghargaan sebagai salah satu Young Global Leader Honorees 2009 di antara lima tokoh muda Indonesia oleh WEC menjadi kebanggaan tersendiri bagi film maker tersebut. “Saya nggak menyangka organisasi internasional yang berpusat di Swiss masih sempat memerhatikan dan memberi penghargaan kepada orang di sini,” kata Nia. Tapi kejutan sesungguhnya bagi Nia yakni kepedulian lembaga itu bukan hanya pada orang-orang di bidang ekonomi dan politik, tapi juga ranah media dan seni.

Kini Nia sedang menyiapkan sebuah film tentang sisterhood yang sedang ditulisnya. “Sebenarnya sudah ditulis sejak tahun lalu, cuma tertunda terus karena ngurusin produksi film yang lain, makanya aku cuti sampai 20 April,” kata Nia. Selain menulis sendiri skenarionya, Nia akan menyuteradarai film yang akan segera digarapnya itu.

Tak satu pun setiap hari Nia melewatkan film, minimal menonton sebuah film sebelum tidur. Bahkan bisa hingga tiga film sampai tidak tidur. Ia suka menonton segala genre film, selain action dan horor. Nia mengaku tak bisa menikmati film berjenis itu. Nia Dinata punya segudang film favorit. Beberapa yang dikaguminya film Spanyol All About My Mother karya Pedro Aldomovar, Personal Velocity oleh Rebecca Miller dan Salaam Bombay. Berhasil memproduksi Cau Bau Kan pada 2002, Nia merasa itu, “Seperti melahirkan anak pertama dan saat itu lagi hamil anak kedua…” Nia tertawa. jacques umam/ezra sihite

Dihadang Pemerintah, Masih Banyak Jalan

Sekalipun impian membuat film sudah tercapai tapi Nia belum berpuas hati. Masih banyak sejuta inspirasi yang siap dia tuangkan melalui sinema dan pekerjaan ini diharapkannya akan terus digeluti sampai tua. Insya Allah, kata Nia.
Ada sebuah impian yang diharapkan ibu dua anak ini akan terwujud nantinya. “Aku ingin membuat film center,” kata Nia. Selama ini memang ada pusat film Usmar Ismail, tapi tak begitu tersosialisasikan di kalangan masyarakat. Padahal kebutuhan akan film dan data-data yang menyangkut tentang ini semakin diperlukan. Setiap bulan Nia bercerita selalu ada orang yang mengunjungi kantornya di Cipete untuk tujuan riset maupun tesis.

“Kalau seandainya ada pusat film dan perpustakaan yang menyediakan data pendukungnya kan lebih baik, nggak hanya untuk orang belajar, siapa saja boleh datang untuk nonton film,” katanya. Menurut Nia ini adalah salah satu cara melestarikan karya anak bangsa dan secara tidak langsung budaya Indonesia sendiri.
Bila merujuk ke negara Eropa, contohnya Prancis, ada beberapa pusat film. Orang-orang bisa datang kapan saja, memilih film, menontonnya dan mencari informasi seputar film itu. “Pastinya butuh dana yang banyak karena kan berarti non-profit kalau jadi fasilitas publik,” ucapnya lagi. Tapi tak ada salahnya kalau sejak sekarang, impian ini sudah mulai direka-reka. Nia juga tak berniat berkiprah di bidang lain, terkecuali film.
Sekalipun dia suka membaca fiksi tapi tak terbersit keinginan menulis novel atau sejenisnya. “Kalaupunme nulis buku mungkin yang masih berhubungan dengan film atau tentang festival-festival film yang sering aku kunjungi,” kata sutradara, produser dan sekaligus penulis skenario ini. Kalau menjadi bintang film? “Ah gila loe, nggak pernah,” kata Nia terbahak. Menurutnya, seorang aktor atau aktris itu harus seseorang yang memang sudah mencita-citakan ingin menjadi pemain film sejak dini dan itu bukan dirinya. Ia cukup berkiprah di belakang layar.

Mengomentari tantangan film Indonesia untuk mendunia, Nia menyaratkan adanya film yang mendidik saja tapi dengan pintar bisa mengemas film itu agar dirasa aman oleh pemerintah. Nia memberi contoh film Children of Heaven dan The Apple dari Iran . “Kelihatannya itu film anak-anak tapi sebenarnya wujud kritik terhadap pemerintah Iran,” kata Nia yang juga sudah cukup kenyang berpengalaman berurusan dengan peemrintah yang menjegal beberapa filmnya dengan sensor.

Saat itu pihaknya pernah mengajukan permintaan revisi UU film terutama bagian sensor ke Mahkamah Konstitusi. “Yang ada kita dikatain nggak bermoral dan mereka emosi, begitu cepatnya menghakimi orang dan itu suatu kemunduran berpikir,” ujar Nia. Moto Nia dalam memperkenalkan film-filmnya: Selalu ada banyak jalan mendistribusikan film sekalipun ditahan oleh pemerintah. Terbukti film terakhirnya, Pertaruhan, masih ramai mendapat permintaan untuk diputar oleh pihak-pihak tertentu. Seperti film About Elie yang mendunia itu dan dikenal oleh masyarakat internasional tetapi di negeri Iran sendiri ditolak. Persis. Ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 5 April 2009

Written by Me

April 11, 2009 at 11:57 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: