Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

” Berkah Pak Dul Naga “

leave a comment »

Susah Betul Menagih Bayaran Pesanan Atribut Kampanye Dari Para Caleg.

60232_seorang_caleg_memprotes_penertiban_atribut_partai_di_cilegon

Istilah Pak Dul Naga akhir-akhir ini sering terdengar di kota Medan, Sumatera Utara, terutama di kalangan pengusaha kecil percetakan dan sablon. Pengusaha sektor ini sedang bergelimang untung di musim pemilihan umum. Pak Dul bukan nama sapaan seorang calon legislatif dari kota itu. “Pake dulu nanti ganti. Itu kepanjangannya,” celetuk Indra (34) pemilik usaha jasa sablon dan percetakan Bandung Production di Jalan Amaliun, Medan.

Para caleg yang berebut simpati pemilih dengan memesan spanduk, poster, baliho, kaos, bendera, kartu nama, maupun kalender tak selamanya berlebih modal. Mereka tak ingin ambil resiko rugi terlalu banyak. Sehingga membayar separo lalu pura-pura lupa pada utangnya di tukang sablon. Tapi ya tetap saja, mumpung sedang musimnya, para caleg seperti itu masih saja dilayani oleh pemain jasa percetakan dan sablon. “Daripada keduluan orang lain, kami tidak berani menolak pesanan pembuatan kalender atau kartu nama bahkan kaos yang jumlahnya ribuan dari seorang caleg atau tim suksesnya walaupun dengan bayaran hanya separo dari nilai biaya pemesanan,” kata Indra. 
Saat ini Indra masih memiliki piutang pada sejumlah caleg sekitar 20 juta rupiah. Sementara modal yang sudah ia gelontorkan setara dengan piutangnya. Indra menyebutkan nama-nama caleg yang masih berutang padanya. Ada seorang caleg yang sampai mengaku tak lagi memiliki tabungan untuk membayar utangnya sampai-sampai meminta Indra menjualkan sebuah mobil Mercy buatan tahun 90-an senilai Rp 45 juta, agar utangnya terbayar. Karena piutangnya masih berkeliaran belum tertangkap, Indra belum mampu membayar upah pekerjanya. Meski begitu, Indra masih saja bisa “bersyukur” sebab seorang koleganya harus menanggung rugi 400 juta rupiah.
Cerita Pak Dul Naga juga marak terjadi di Jogjakarta. Apelkit Group, yang terletak di kampong Ambarbinangun Kasihan Bantul, terkibuli oleh caleg dari salah satu partai besar. Ceritanya, sang caleg memesan bendera 1600 lembar. Harga normal 6.500, tapi tawar-menawar jadi 3.800 rupiah, tapi hasilnya tidak sebagus harga wajar. Deal. Pembayaran 50 persen di awal. Saat pesanan selesai, sang caleg marah-marah, menuding kualitas barang tak sesuai pesanan. Terjadi adu mulut. Sang caleg pulang. Esoknya muncul lagi bersama orang-orang bayaran. Mengamuk di kantor Apelkit. Memaksa mengembalikan uang yang terlanjur dibayarkan. “Tentu saja saya nggak mau mengembalikan, semua sudah jadi bendera kok, bahkan pembayarannya masih kurang,” kata Farid Armanto, direktur Apelkit.
Tidak cuma Farid sang direktur yang takut, enam pekerja di Apelkit juga keder. Seminggu mereka meliburkan diri. Tapi orang-orang bayaran sang caleg masih saja rutin menyambangi. “Akhirnya, saya panggil pengacara yang kebetulan teman saya,” kata Farid. Farid sudah bertekad untuk tidak takut menghadapi ancaman. Sampai suatu malam, saat sang caleg datang bersama centeng-centengnya, Farid sudah bersiap dengan pengacara. Tak terjadi baku pukul. Pengacara pasti akan memenangkan adu argumentasi. Rombongan sang caleg pulang dengan sumpah serapah. Bendera tak pernah diambil.
Modal kerja Farid tidak banyak. Sebagian dari pinjaman. Farid harus terus memutar uang untuk membayar semua pengeluaran dan bunga pinjaman. Gara-gara bersitegang dengan sang caleg Apelkit tidak mengerjakan apa-apa selama tiga pekan. Laron Advertising di daerah Depok, Sleman juga dirundung kasus mirip. Biasanya yang seret bayarannya pesanan terakhir. Pesan pertama, pembayaran beres, kedua beres. Nah yang mendekati waktu-waktu pemilu sebagian besar belum terbayarkan. “Modal kecil resiko besar. Kalau caleg itu nanti menang, pasti terbayar, kalau tidak, ya ngemplang,” kata Yusrol, pemilik Laron. 
Yusrol berkesimpulan yang paling hobi ngemplang justru dari partai besar. Dan mereka, seperti biasa, punya banyak centeng. Yusrol yang juga mantan satgas ini, pengeluaran caleg untuk pemilu justru yang terbanyak untuk membayar massa dan operator penyedia massa. “Dan permintaan dari operator massa selalu lebih didulukan daripada untuk membayar atribut,” ungkapnya.
Pemilu kali ini punya gejala berbeda daripada pemilu sebelumnya. “Pemilu 2004 yang pesan partai, sedang sekarang caleg,” kata Farid Apelkit. Menurut Yusrol, itulah yang membuat prilaku pembayaran juga berbeda. “Partai lebih pasti membayar, sebab uangnya bukan uang pribadi, tapi uang partai,” kata Yusrol. Perbedaan lain adalah pada jenis pesanan. Pemilu 2004 pemesanan didominasi oleh sablon, baik kaos partai maupun bendera. “Kalau sekarang cetakan semua,” ujar Yus. 
Kenapa begitu? Cetakan berupa kalender, kartu nama, contoh surat suara, jelas lebih murah daripada memproduksi kaos. Dan lebih efektif mengenalkan diri sang caleg pada calon pemilih. “Ini juga bertepatan dengan awal tahun, jadi kalau bagi-bagi kalender bisa nampang di dinding setahun, kaos paling jadi lap gombal,” kata Farid.
Meskipun ada proyek-proyek pesanan yang tidak terbayar, Apelkit dan Laron, mengaku tetap menangguk untung meski harus menekan harga. Tenggat penyelesaian pesanan tidak boleh meleset. Farid menyebutnya seperti fatamorgana di padang pasir. ”Dari kejauhan seperti uap air, setelah didekati ternyata tidak ada apa-apa,” kata dia. 

Pesanan Lintas Daerah
Sementara itu di Makassar, pengusaha sablon banyak menikmati pesanan dari “jauh.” percetakan Citra Satria di Jalan Rajawali Makassar harus melayani order dari Papua. Makassar adalah pintu masuk ke Indonesia Timur. Sugianto, pemilik Citra Satria mengatakan omsetnya naik hingga 20 persen. Untuk harga, dia mengaku tidak mematok keuntungan terlalu tinggi. Paling laba hanya 500- 1000 rupiah dari tiap set kartu nama dan sepotong kaos. Sedang baliho dari harga 30.000 rupiah per meter, Sugianto cuma menarik untung 5.000 rupiah per meter. 
Cerita pengusaha sablon di Jakarta tak terlalu buram. Adi Sutrisno, pemilik CV Sumber Jaya mengalami omset melejit 300 persen. “Kebanyakan kaos,” jelas Adi ketika ditemui di Pasar Senen. Dalam keadaan normal omset Sumber Jaya dari kaos saja mencapai 50-75 juta rupiah per bulan. Saking ramainya order, saat pemilu Adi hanya fokus menggarap kaos. Untuk pesanan spanduk, Adi terpaksa mengalihkannya ke koleganya. “Pemilu kali ini benar-benar keteteran, sampai menolak orderan,” cerita Adi yang sudah mencetak lebih dari 1 juta potong kaos dalam waktu 4 bulan. 
Adi menyebutkan, pemesan paling banyak berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Rata-rata setiap caleg memesan kaos antara 10-25 ribu potong. Selain harga yang kompetitif, Adi juga menawarkan proses yang cepat. Sejak uang muka diterima, Adi hanya butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan 1000-5000 potong kaos. “Kecuali kalau warna kain yang diminta itu khusus, dan tidak ada stoknya maka harus pesan dulu ke Bandung, butuh seminggu,” terang Adi. 
Selain dari gethok tular, di pasar Senen, pengusaha sablon mendapat pesanan dari agen atau makelar, “Mereka jual suara. Mereka beli 4.500 rupiah, mau jual berapa tergantung pinter-pinternya ngomong dan cari order,” kata Adi yang memiliki 40 karyawan. Saat ditemui di tokonya, Adi masih meliburkan karyawannya. “Kecapekan kemarin. Pesanan kaos untuk pilpres sudah mulai masuk,” kata dia.
Selain Senen, sentra produksi atribut pemilu ada di jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Yudi manajer King Repro, memastikan pesanan pemilu tahun ini lebih ramai dari tahun 2004. “Untung hampir seratus juta rupiah,” kata Yudi. 
Umumnya para pebisnis sablon yang sudah pengalaman mematok uang muka di atas 70 persen dari harga total. “Harus pakai trik saat menyetujui orderan para caleg itu. Kalau tidak, jika mereka kalah dalam pemilihan, tak lagi mereka ingat utangnya di sablon, yang mereka pikirkan cuma penyesalan saja,” kata Indra. 
Zulham (38), pemilik Naskot Production di Jalan Brigjen Katamso, Medan tak pernah bersedia menerima panjar kurang dari 50 persen. “Karena kami tak memiliki bahan maupun pekerja sendiri, jika si pemesan lari dan tak mau membayar setidaknya tak rugi terlalu besar. Sebab hutang-piutang ini kan kasus perdata, bukan pidana. Rumit kalau di bawa ke jalur hukum,” kata Zulham. 
Namun Zulham bisa berkipas-kipas sekarang ini karena sejak Januari hingga Maret dia bisa meraup omset 400 juta rupiah. Keuntungannya 20 persen. Seorang teman Zulham bahkan meraup untung sampai 2 milyar rupiah karena punya mesin cetak serta akses bahan-bahan produksi berharga murah. Zulham menjalankan bisnis ini sejak awal masa reformasi, dan dia merasa kenyang berbisnis dengan sistem kepercayaan ala politikus. “Sudah kenyang ditipu politikus,” kata dia. 
Uniknya Zulham memanfaatkan hasil usahanya untuk mendukung dirinya menjadi calon legislator di DPRD Medan dengan nomor urut 7 dari Partai Amanat Nasional (PAN). Nah, kalau bursa caleg pemilu tahun ini diramaikan oleh para pesohor, pemilu 2014 jangan-jangan akan diramaikan oleh pengusaha percetakan dan sablon. N Alfred Ginting/ Budi Alimuddin/Era Sihite/Teguh Nugroho/Akhyar

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta, 12 April 2009

Written by Me

April 18, 2009 at 1:06 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: