Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Hidup Lebih Peka,Itu Saja

leave a comment »

“Mendengar Dan Mengungkap, Berbeda Dengan Bertanya Dan Menjawab. Dyad Bukanlah Percakapan.”

dee_koranjkt4

Sejak awal Dewi Lestari tak pernah berpikir bahwa menulis bisa menjadi profesi. Yang dia ingat, semasa anak-anak harapannya hanya bisa menerbitkan buku. Dan kini dia dikelan pula sebagai seorang pertapa. 
Tiba-tiba Dewi Lestari sering diundang menjadi pembicara pada berbagai kegiatan. Bukan berbicara soal bagaimana menulis buku atau berdiskusi tentang novel-novelnya melainkan untuk membahas soal meditasi. Meditasi itu sendiri sebetulnya bukan kegiatan terbaru Dewi, karena sudah sejak sekitar lima tahun lalu, perempuan yang akrab dipanggil Dee itu menekuni meditasi, dunia sunyi itu. 

Perkenalan Dee dengan apa yang disebut meditasi atau bertapa itu, bermula ketika dia mempraktikkan yoga. Itu 10 tahun silam, bersamaan ketika Dee mulai meninggalkan konsep lama tentang agama dan sebagainya. Tahu-tahun sesudahnya, jadilah Dee seorang pertapa meskipun tentu saja dia tak mengharapkan menjadi seorang resi.
Di blognya, Dee pernah menggambarkan dirinya seperti Lucky Luke, tokoh koboi dalam komik yang tak pernah menetap di satu tempat dan tak mengikatkan diri pada apa pun itu. Dalam Menyibak Aku Melalui Kamu Dee menulis, pada penelusuran spiritual, seringkali (jika tidak selalu) dirinya merasa seperti Luke, berkuda sendirian menghadap matahari terbenam.
Ceritanya, dua tahun silam, Dee mengikuti program Enlightenment Intensive semacam retreat yang diadakan di Ubud, Bali selama tiga hari. Bersamanya juga ikut 16 peserta yang menjalankan satu metode bernama Dyad. Ini istilah yang berasal dari bahasa Latin yang berarti dua. 
Jack Wexler (Zyoah), yang berpuluh tahun berpengalaman menjalankan metode ini, dan lalu mengembangkannya ke berbagai format menjadi fasilitator. Kata Dee, metode yang pertama kali digagas oleh seorang spiritualis bernama Charles Berner ini pada dasarnya adalah kontemplasi mendalam terhadap koan Zen yang didesain sedemikian rupa agar jerat logika pikiran dapat tertransendensi. Bedanya, jika seseorang lazimnya memecahkan koan Zen dengan bermeditasi diam berhari-hari, dalam Dyad koan tersebut digarap oleh dua orang sekaligus dalam bentuk mendengar dan mengungkap.
“Mendengar dan mengungkap berbeda dengan bertanya dan menjawab. Dyad bukanlah percakapan,” kata Dee dalam tulisannya itu. 
Hasilnya Dee merasa menemukan banyak pengalaman menarik dan jadilah Dee tekun bermeditasi. Baginya meditasi mengajarkan orang untuk semakin peka dan jujur pada diri sendiri dan karena itu bisa lebih memahami sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Lalu belakangan ini, Dee banyak menjadi pembicara yang membahas meditasi itu meskipun kegiatan menulis tetap dilakukannya.
Naik Helikopter 
Kini Dee bahkan sedang menyiapkan novel terbarunya. Judulnya Partikel. Novel ini bercerita tentang hubungan seorang ayah dengan anak perempuannya bernama Zarah. Semacam pencarian kalau tak mungkin disebut sebagai pengalaman pribadi Dee dengan sang ayah tercinta.
Hubungan Dee dengan sang ayah memang istimewa. Dia menyimpan banyak kenangan mendalam tentang ayahnya, yang berprofesi sebagai tentara itu. Suatu hari misalnya, bersama sang adik, Dee diajak sang ayah berkeliling kota Medan menggunakan helikopter. Hanya berputar-putar dan hanya itu. Namun kenangan itu melekat di benak dan jiwanya, tentang bagaimana sang ayah memperlakukan anak-anaknya.
Kendati berlatar belakang militer, baginya sang ayah adalah orang yang rendah hati, tak pernah memaksakan kehendak dan bukan sosok yang rajin memberi nasihat. Selain soal pendidikan yang harus dinomorsatukan, Dee ingat ayahnya mengedepankan silaturahmi. Dan karena itu, Dee kini terus berusaha menjaga hubungan baik dengan semua orang termasuk dengan teman-teman semasa SMA.
Dulu ketika SMA, Dee mengaku punya gang dan merasa menjadi senasib sepenanggungan. Kini ketika teman-temannya itu sudah terpencar, Dee berinisiatif untuk mengumpulkannya kembali, membuat arisan atau apa saja, supaya bisa kembali berkumpul secara rutini. “Saya orangnya sahabat minded banget,” kata Dee mengurai tentang hubungan dirinya dengan teman-temannya. 

Untuk novel terbarunya itu, kini Dee sedang melakukan penelitian. Pergi ke penangkaran orang utan dan berencana melanglang ke Amerika Latin. Ini memang proyek besar setelah Perahu Kertas novelnya yang diproduksi secara digital akan dicetak dalam bentuk buku tahun ini. Namun soal terbang ke Amerika Latin, Dee baru akan melakukanya setelah kelak dia melahirkan anak keduanya, yang kini sudah tiga bulan dikandung rahimnya.

“Menulis pun merupakan kegiatan meditatif. Jadi bukan sembarang menulis,” kata Dee. 
Baginya menulis adalah proses kreatif, dan proses kreatif itu adalah sesuatu yang magis. Dia menggambarkan sebagai sebuah keadaan yang mirip dengan perempuan hamil seperti dirinya kini. Seperti ditarik-tarik, terjadi pertarungan, jatuh cinta, putus asa, atau malah seperti naik roaller coaster. “Kalau mual ya sakit tapi enaknya banyak diperhatikan, didukung suami serta keluarga,” kata Dee.
Bayi Kembar
Sebetulnya Dee sejak awal tak pernah berpikir bahwa menulis bisa menjadi profesi. Yang dia ingat, semasa anak-anak harapannya hanya bisa menerbitkan buku. Itu saja. Di Jakarta awanya dia hanya berlaku sebagai penyanyi latar untuk Iwa K, Java Jive, dan Chrisye. Lalu bertemulah Dee dengan Rita dan Sita hingga terbentuk RSD, trio penyanyi Rita Sita Dewi itu.

Tahun ini semua kenangan Dee tentang dunia nyanyi itu diabadikan dalam Rectoverso. Ini sebuah buku yang berisi 11 kumpulan cerita dan 11 tembang sebagai latar belakangnya. Dee menyebut karyanya ini sebagai bayi kembar. “Bagi saya, baik menyanyi maupun menulis menjadi saluran berekspresi,” kata Dee. 
Memang tak ada yang berubah dari Dee, sejak dia dikenal sebagai penyanyi dari RSD. Wajahnya polos tanpa polesan make up meski untuk wewangian pada tubuhnya dia memilih parfum Philosophy dari jenis baby grace dan falling in love. “Saya suka aroma yang menyenangkan hati dan nggak pasaran,” kata Dee.
Satu hal yang diakuinya berubah adalah pola menulisnya. Dulu, dia paling fanatik dengan suasana malam hingga subuh untuk merangkai pikiran menjadi deretan kata. Namun sejak melahirkan Keenan Avalokita Kirana anak pertamanya, Dee merubahnya, belajar menyesuaikan waktu. Malam dan subuh tak harus jadi syarat penting, kecuali suasananya sepi dan hening. 
Lewat perubahan itu, Dee merasa memiliki banyak waktu untuk berdekatan dengan Keenan dan Reza Gunawan, suaminya. Sering misalnya, Dee bersama Keenan dan Reza menghabiskan waktu hanya dengan bermain di kamar atau menginap di vila. Atau mengajak Reza berkunjung ke rumah orang tua Reza. “Biar mereka (Keenan dan Reza) menemukan ramuan kimiawi secara natural dengan kebersamaan,” kata Dee.
Keenan memang anak genetik Marcell Siahaan, suami Dee pertama. Dan sejak bersuamikan Reza, Dee berpengharapan Keenan bisa menjadi manusia yang sehat luar dalam, lahir batin, apa adanya. I feel blessed to experience this companionship with him,” kata Dee, tentang Reza, yang ahli dalam pengobatan holistik itu.
N jacques umam/ezra sihite

 

Memahami Fana dan Tom Yam

Semuanya itu bisa berubah dan cair.

Bila menjumpai Dewi Lestari tak mandi seharian, yakinlah hari itu dia sedang gelisah mencari inspirasi. Sama seperti penulis yang lain, Dewi atau Dee, memang sering terbentur pada inspirasi, ide itu. Kalau sudah begitu, dia biasanya berhenti sejenak, mengambil jarak untuk tidak menulis. Sebagai gantinya, dia bisa hanya berdiam diri, nonton bioskop, berkumpul dengan teman-temannya atau tak mandi itu.
Namun dunia tulis menulis hanya satu bagian kepingan dari kehidupan Dee. Dia yang kini menekuni meditasi, juga pembaca buku yang saleh. Favoritnya adalah buku-buku seputar spiritualitas, sains, filsafat dan kesehatan. Juga musik tentu saja, meskipun untuk yang satu ini dia cukup selektif. Tears for Fears, Sarah McLachlan dan Paula Cole adalah sedikit penyanyi yang Dee sukai. 
Bagaimana dengan memasak? Ehmm… Dee ternyata mahir pula. Seringkali dia memasak menu Thailand untuk anak dan suaminya seperti Tom Yam, Green Curry dan Pad Thai. Syaratnya satu, tak ada daging binatang. Apa pun. “Alasan saya bukan semata-mata kesehatan, industri hewan sangat signifikan kontribusinya bagi pemanasan global,” tambahnya.
Kebiasaan itu dijalani Dee sejak tiga tahun silam dan kini mulai menular pada Keenan Avalokita Kirana, anaknya dan Reza Gunawan, suaminya. “Kami kompak sekeluarga, jadinya bisa masak dengan praktis,” kata Dee.
Selain bugar, pola hidup vegetarian semacam itu secara tak langsung juga mengajarkan Dee untuk lebih menghargai hidup. Dee karena itu tak mengenal strss dalam kamus hidupnya. Kuncinya, karena itu tadi, dia menyadari setiap manusia adalah fana (tidak kekal). “Kita sering stress, karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, baik sedih dan bahagia, senang dan sakit, padahal semuanya itu bisa berubah dan cair,” kata Dee. 
Bagi Dee, hidup hanya merupakan kumpulan aktor yang sedang akting. Semua bermain dan punya peran. Hanya sementara. N ezra sihite

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 19 April 2009

Written by Me

April 20, 2009 at 8:15 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: