Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Wawancara KASAD Agustadi Sasongko Purnomo

with one comment

Kepala Staf Angkatan Darat Ini Bercerita Soal Gaji Tentara Yang Idealnya, Minimnya Anggaran Untuk TNI, Risiko Seorang Tentara, Dan Perjalanan Karirnya.

Jumat itu, 17 April 2009, rencana wawancara Koran Jakarta dengan Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo semula dijadwalkan pukul 10 pagi. Namun mendadak jenderal yang masih kuat berlari hingga 1,7 kilometer dan gemar membaca buku biografi ini, dipanggil Presiden RI. Jadwal wawancara pun ditunda hingga sore sekitar 14.30 WIB dan berlangsung hingga satu setengah jam kemudian.

Didampingi dua asisten berpangkat brigjen, dan dua perwira menengah, ayah dari empat anak itu menjelaskan banyak hal soal TNI kepada Rusdi Mathari, Alfred Ginting, dan Ezra Sihite dari Koran Jakarta di ruang kerjanya, di Mabes TNI-AD di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Sebagian tidak untuk konsumsi publik. Inilah sebagian dari penjelasan lulusan terbaik Akabri 1974 yang oleh anak buahnya dikenal santun dan tak banyak bicara itu.

39712

Anda kencang menyerukan pentingnya netralitas TNI dalam pemilu, termasuk meminta para purnawirawn agar tak menyeret-nyeret tentara aktif ke dunia politik. Apa memang ada upaya menyeret-nyeret tentara ke dunia politik?

Mungkin usaha-usaha itu ada walaupun kita tidak bisa ngomong tanpa bukti seperti soal purnawirawan yang “narik-narik” itu. “Lha saya nggak narik-narik kok.” Untuk itu kita melakukan pencegahan, kita kumpulkan dulu PPAD ( Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat ) dalam forum resmi, dan ada sekitar 400 orang berkumpul di Balai Kartini. 

Di forum itu, saya katakan bahwa yang pertama, intinya TNI itu netral, tak boleh bergerak kemana pun. Karena kita netral maka sifatnya tak boleh memengaruhi partai politik. Kemudian untuk purnawirawan statusnya sama dengan sipil biasa maka statusnya bebas. Purnawirawan juga tak boleh menarik-narik TNI dalam kancah politik praktis. Itu yang kita bilang ke mereka, dan mereka mengerti. Pada saat sebelum pemilu dilaksanakan, pimpinan PPAD, Soeryadi dan beberapa pengurusnya juga membuat pernyataan bersama bahwa PPAD tidak boleh menarik-narik TNI. Saya mengucapkan terimakasih kepada beliau bahwa sikap beliau sangat tepat.

Apa saat ini memang ada pergeseran dengan semakin banyaknya purnawirawan yang ikut dalam pemilu?
Oh tidak. Netralitas dari dulu seperti itu. Kriterianya nggak ada perubahan. Sama saja, intinya tidak memihak. Nggak ada urusan saya dengan purnawirawan dan yang aktif di sini semuanya nggak ada urusan dengan purnawirawan. Kita hubungannya hanya emosional saja. Dia senior kita, yang (dulu) memlonco kita, tetap kita hormati mereka. Mereka juga menyambut baik kalau saya minta purnawirawan tidak membawa-bawa TNI.

Kalau pensiun boleh terjun ke politik?


Ada beberapa. Ada yang pensiun dini mau jadi caleg, mau jadi bupati dan kepala desa yah silahkan saja. Nggak dilarang. Hanya beberapa saja seperti bupati Karawang, mengundurkan diri mengajukan pension dini, silahkan. Tempo hari, ada serka mau jadi lurah terus nggak kepilih tapi karena keburu pensiun ya sudah, nggak boleh balik lagi (masuk tentara).

Waktu menjabat Pangdam Jaya, Anda pernah memberikan sanksi kepada anggota yang dianggap tak netral dalam pemilu. Bagaimana ceritanya?


Ada seorang kopral rumahnya kalau nggak salah di Bekasi. Lalu ada laporan dari POM yang menangkap seorang kopral, itu ada di berita acara. Kopral ini memiliki tiga truk, satu disewakan untuk ngangkut pasir, satu ngangkut orang. Saat itu Partai Golkar mau nyewa truknya tapi karena sopirnya hanya ada dua, lantas dialah yang nyupir. Dia berpakaian preman dan mobilnya juga preman tapi ada yang tahu, dia itu kopral TNI-AD.

Tiba di lapangan, dia diberitahu oleh salah satu pengurus Golkar, “Bapak harus pakai jaket kuning, kalau nggak, nanti bisa diapa-apakan oleh partai lain. Si anggota ini akhirnya pakai kaus kuning. Namun selesai kampanye dia terus dijemput oleh POM, dibawa ke POM dan diperiksa. Saya diminta memutuskan. Lalu saya “Kapan dia pensiun?” “Beberapa bulan lagi.” Ya sudah saya pensiunkan saja. Risiko tentara begitu.

Kejadian di Aceh pada pemilu kemarin?
Oh yang menurunkan bendera? Ya sama. Menurunkan bendera (parpol), laporan masuk, ya sudah dicopot dulu jabatannya. Karena bukan tugas dia. Jadi kita harus tegas. Dengan demikian displin solidaritas bisa kita pertahankan. Hukum kita tegakkan karena hukum panglima kalau melanggar hukum berarti kita salah.

Soal Buku Saku netralitas TNI itu, apa setiap tentara dan tahu?

Harus ada. Dan sebelum diberikan, komandannya harus diberitahu dulu, kumpul. Isinya dijelaskan, ditanya “Jelas?” Tiga kali. Kalau sudah jelas, ya sudah jelas. Kalau tiga kali jelas tapi melanggar, ya risiko, itu saja. Nggak usah sulit-sulit kita berpikirnya.

Termasuk perwira tinggi dan semua kepala staf yang merembukkan buku itu ?
Aa pokja. Mabes TNI kan bikin pokja, mengundang kita.Tujuan kita baik. Kita memenuhi apa yang tercantum di dalam undang-undang. Cuma dari para parpol atau masyarakat kita kan ada yang pikirannya aneh-aneh, macam-macam ya toh? Kita lupa bahwa ada undang-undang, dan sekarang narik-narik polisi. Harusnya dihukum. Polisi pun yang narik-narik TNI harus dihukum

Jadi dalam pemilu kemarin, apa saja temuannya?
Sejauh ini tak ada, secara umum begitu. Kalau keadaan yang di Aceh kita tindak langsung. Kita nggak mau dicemarkan oleh kejadian yang seperti itu. Dengan demikian kita sudah melakukan tindakan yang benar. Kalau kita biarkan berarti salah. Ke depan kita akan mengimbau kembali baik melalui surat, telegram dan sosialisasi, memanggill para komandan. Untuk penyegaran kembali di pilpres bulan Juli nanti dan pilkada-pilkada. Setiap saya kunjungan ke daerah, saya mesti mengumpulkan anggota , ngomong itu lagi.

Anda rutin berkunjung ke daerah?
Per tahun. Mereka perlu dikunjungi. Mereka harus tahu tangannya KASA. “Oh ini Kasad saya.” Karena nggak semua (prajurit TNI-AD) kenal KASAD. Di pulau-pulau terluar sana mana pernah lihat KASAD.. Coba tanya nanti, prajurit di jalanan sana, “Mas tahu KASAS nggak?” Pasti nggak tahu.

Apalagi kalau Anda pakai pakaian preman?
Ya apalagi. Pakai dinas saja nggak tahu. Karena saya nggak ada potongan KASAD.

Di Aceh Anda menyatakan tidak ada lagi milisi. Apa batasan milisi menurut TNI?
Ya betul. Batasan milisi itu ada undang-undangnya. Jadi milisi itu adalah warga negara Indonesia yang dilatih untuk dipersiapkan melakukan tugas negara, intinya ke sana. Jadi memang yang melatih tentara dan militer untuk membela negara. Lain dengan wamil, wamil kan sejenis tentara.

Seperti dulu di Timor Timur?

Iya seperti itulah

Kalau ormas-ormas yang berpakaian ala militer itu?

Sebenarnya saya kurang setuju seperti itu. Mereka (ormas) pakai unsur tentara biar gagah. Pakai baret dan sebagainya tapi disuruh perang nggak mau. (Kerjanya) minta duit sana minta duit sini, orang kira tentara.

Kita sudah punya unsur, ada tentara ada polisi. Sudah ada unsur yang resmi, malah pakai yang ilegal. Baru-baru ini dilaksanakan operasi kamtib, kita sudah membuat kesepakatan dengan parpol-parpol. Waktu kita ketemu dari Istana Wapres. Dari sana, ormas-ormas dilarang mengenakan atribut-atribut yang menyerupai atribut TNI. Kemarin ada nggak muncul? Di kampung-kampung mungkin ada, sejauh ini belum ada laporannya.

Kalau di lapangan dengan prajurit, Anda juga blak-blakan begini?
Yah begitu. Saya ini tentara Kujang. Dekat dengan rakyat. Dulu kita tidur bukan di asrama, tapi di emperan rumah rakyat itu. Anak gadisnya cantik-cantik. Kita dekati. Lama-lama menikah dengan anaknya, salah satunya sekarang jadi ibu KASAD. Ya sudah kita tidur di dalam rumah mereka akhirnya. Begitulah tentara itu, kita dekat dengan rakyat. Ketika saya kawin, yang datang itu satu brigade, 3.000 orang yang datang. Belum yang dari kampong, karena Bapak saya kan Danramil. Acara perkawinan saya dua hari dua malam.

Sejak masih sekolah, memang bercita-cita jadi tentara?
Iya dong, waktu kecil kita main perang-perangan terus. Ayah tentara, kakak saya tentara, saudara tentara. Kami memang keluarga tentara, dan karena setiap hari ketemu akhirnya jiwa kita ke sana (tentara).

Bagaimana ceritanya Anda menjadi lulusan terbaik Akabri 1974?
Itu kebetulan.

Kebetulan bagaimana?
Ceritanya kurang seminggu mau dilantik, saya disuruh melapor ke Danyon Dewasa di Taruna? “Lapor taruna Agustadi pak.” “Wah nggak keliru ni?” “Siap Agustadi pak.”

Dulu aku kecil, tinggi 163 atau 164 gitu, berat 60 kurus lagi. Kalau SBY kan tinggi besar. Terus saya kan menjadi staf, asisten dua divisilah, asisten operasinya taruna. Burhanuddin itu panglima divisinya, wakilnya Robert Situmeang, yang sekarang menjabat Irjen saya sekarang ini.

Saya kecil dan nggak ada potongan begitu, ya kaget. Dilihat data dicocokkan oh iya benar. “Kamu sekarang menghadap Aspers?” “Saya salah apa pak?” “Ya sudah sekarang anggap aja kamu salah.” Nggak tahu saya itu, tahu-tahu, “Kamu nanti latihan, kamu yang menerima Makhayasa.” “Nggak salah pak?” “Benar kamu.” Lha saya nggak pernah bercita-cita apa-apa, bingung saya.

Agustadi adalah lulusan terbaik Akabri tahun 1974. Satu angkatan dengannya adalah Prabowo Subianto yang kini aktif di Partai Gerindra dan mencalonkan diri sebagai presiden, dan juga Syafri Syamsudin mantan Pangdam Jaya. Lulusan terbaik Akabri tahun sebelumnya adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Yang menyematkan Presiden Soeharto?
Iya Pak Harto. Itu kebetulan, bener.

Sekarang jadi nomor satu lagi di Angkatan Darat. Kebetulan juga?
Itu juga kebetulan. Orang saya dari Sesmenko, ada yang Wakasad, lha kok saya. Saya lama dibuang di situ kok. Belum ada ceritanya Sesmenko jadi KASAD.

Anak ada yang ikut jejak menjadi tentara?
Ada satu. Sekarang bertugas di Batalion 125. Batalion untuk operasi. Biar nyari pengalaman. Operasi kan sulit. Ini dia mau ke Ambon. Kalau saya kan dulu bolak-balik operasi. Ke Timor-Timur, ke Ambon terus ke Papua, dan Aceh saya ikut. Sudah kebagian semua saya.

Di Papua operasinya apa?
Pemberantasan OPM

Bareng dengan Prabowo?
Nggak. Aku kasdam di situ, jadi memimpin operasi. Kopassus malam hari senjatanya hilang, saya terjun langsung. Empat senjata hilang yang ditemukan dapat enam.

Berarti laporannya bohong?

Bukan, yang dua itu senjata bekas PD II milik Jepang. Jadi nambah dua. Itu di laut Sarmi, Papua. Saya ikut menyelam bersama tim saya. Bayangkan bintang satu terjun, ikut nyelam. Waktu itu saya Kasdam Trikora.

Anda ikut nyelam juga?
Ya nyelam, lha wong pemimpinnya saya.

Bisa menyelam itu bagaimana?

Dilatihnya di bawah laut. Nggak percaya kan? Saya kebetulan saja bisa renang. Saya dilatih di bawah laut. Empat kali. “Pak mau nyelam pak?” “Mau caranya gimana?” “Ini masuk kolam Pak.” Kolamnya air asin, sebelahnya laut. Hari pertama kelelep, bisa. Hari kedua, ketiga bisa. Terus yang keempat cari ikan dan nembak. Hari kelima dilantik.

Nembak ikan di laut?
Iya.

Enak jadi tentara?
Enak hanya 25 persen. Yang 75 persen lagi wuenak tenan (sangat enak). Iya toh? Kamu salah nggak mau masuk tentara. Masing-masing sudah punya garis tangan. Apa yang kita dapatkan sekarang ini titipan tok. Derajat pangkat titipan. Jadi nggak usah terlalu pusing-pusing. Santai-santai saja yang penting happy-happy biar umurnya panjang. Tahun depan kita sudah pensiun. Karena baik-baik sama orang, bapak-bapak tentara ini masih belum pensiun nih kita ngeri (Tangan Agustadi menunjuk ke asisten-asistennya yang ikut menemaninya menerima Koran Jakarta).

Ada rencana saat pensiun?

Saya mau melihara bebek. Bukan 10 tapi 10 ribu. Di Karawang sana. Untungnya lumayan.

Di Angkatan Darat, ada pelatihan untuk mempersiapkan pensiun?
Ada. Namanya Voctra. Vocational Training. Latihan bekerja untuk masa pensiun. Ada bengkel, ada jahit, tukang sepatu juga. Ada seperti itu, kita umumkan pada prajurit yang di bawah. Kebetulan teman saya presiden dirketur Astra, kita join bikin bengkel-bengkel dan paltihan. Jadi di seluruh Indonesia di mana ada agen Astra, bisa memberikan pelatihan kepada prajurit. Ini salah satu usaha menyejahterakan prajurit. Kalau nggak bisa kasi duit, yah kasi ilmu, ya toh?

Di semua level?
Yang mau. Lha Jenderalnya ora gelem (tidak mau) bikin bengkel-bengkel gini.

Sejak reformasi, tentara dan polisi di lapangan makin sering terlibat perselisihan. Apa sebetulnya yang jadi masalah?
Ini bukan menyangkut institusi tapi antara orang dengan orang. Orang dengan sifat dan karakter yang berbeda. Di beberapa kejadian, sekitar 70 persen akibat dari minum atau mabuk.

Itu namanya masalah manusia bukan institusi. Jadi saya minta rekan-rekan wartawan ini kalau nulis di koran jangan bilang TNI mukul Polri tapi si Polan anggota Kostrad mukul Barada , anggota Brimob. Saya tahu maksud wartawan biar laku korannya tapi dampaknya nggak bagus.

Untuk tindakan seperti itu kita nggak ada kompromi, lekas tindak. Anggotaku walaupun dipukul duluan oleh polisi tetap salah. Kita juga nuntut ke polisi agar anggotamu itu ditindak. Jadi antara komandan di atas kita sinkronkan untuk menyelesaikan masalah secara baik. Nggak ada lagi tawuran-tawuran seperti di Ambon, di Binjai. Karena sama-sama aparat kok berantem, rakyat bisa ngomong apa nanti. Yang rugi juga rakyat toh?

Itu juga menunjukkan bahwa komandannya nggak bisa ngatur anggotanya. Itu komandannya harus ditindak. Kasus Binjai, Ambon, komandannya kena. Jadi bukan zamannya lagi seperti itu. Makanya sekarang pendidikan di Akabri kembali empat tahun. Dan untuk tingkat satunya, kembali lagi jadi satu di Magelang, satu tahun bukan hanya tiga bulan.

Akademi polisinya juga?
Belum.

Belum tentu polisi mau?
Yah barangkali kalau Pak Bambang Hendarso Danuri nanti mau dan penggantinya nanti siapa, belum tentu mau juga. Atau mungkin kita cari metode lain bagimana polisi tentara bisa bersatu lagi

Tentara itu kan seragam, tapi sepatu yang digunakan banyak beda?
Iya memang, harusnya yang begitu (Agustadi menunjuk sepatu yang dikenakan salah satu asistennya). Itu mungkin pembagiannya kurang. Kalau ini, biar gampang salat Jumat saja (Agustadi menunjukkan sepatu yang dikenakan, yang ada resleting di sisi dalamnya). Kalau prajurit biasanya sama. Kita sedang cari motif apa yang bagus, mungkin sudah ada yang jebol terus beli sendiri. Karena pembagiannya satu tahun sekali.

Mengapa setahun sekali?
Anggarannya memang terbatas dan tidak dapat memenuhi semua prajurit kita. Pemakaiana mereka kan juga lain-lain. Kalau yang staf awet kalau yang di lapangan cepat habis. Jadi nggak sama, kadang usaha sendiri, beli di Senen, ada kan? Intinya masalah anggaran. Kita nggak bisa memenuhi pembagian setahun tiga atau empat kali.

Kendaraannya juga tak seragam?
Iya kalau tahun 75-an kita punya join dengan Amerika dan dapat bantuan Usaid. Sekarang ini anggaran terbatas dan tidak sanggup membeli kendaraan. Sementara kita difokuskan untuk alutsista. Sehingga kita nggak bisa memenuhi kebutuhan para komandan kompi. Zaman saya dulu, komandan kompi punya mobil satu. Sekarang kita mengajukan ke atas belum boleh. Prioritas tadi, karena kita dipotong sepuluh persen. Jadi kita nurut saja.Yang penting gaji jangan dipotong, kalau bisa gaji naik terus. Karena urusan perut nggak bisa ditahan.

Berapa gaji ideal tentara?
Saya sudah pernah usulkan ke DPR. Antara 4,5 juta-5 juta rupiah untuk prajurit paling rendah. Makan tiga kali sehari, anaknya bisa sekolah naik angkot, ada tunjangan lebaran agar bisa beli baju baru. PNS dan tentara itu ada 3,5 juta orang kalau dikalikan 5 per bulan berapa? Ada 17,5 triliun rupiah. Buatlah 15 triliun sebulan. Kalau setahun? Akhirnya DPR nggak mampu.

Nah sekarang anggaran pertahanan kita tinggal 35 triliun rupiah dibagi lima (TNI-AD, AL, AU, Mabes TNI dan Dephankam). Polisi sendirian 26 triliun rupiah. Tapi nggak apa-apa, asal gaji (yang sudah ada) tidak dipotong. Kita nggak pakai bedil nggak apa-apa tapi tetap akan bela negara.

Selain yang sudah jadi tentara, tiga anak yang bagaimana?
Kalau saya itu pengennya semua jadi dokter. Jadi kalau saya sakit, ada yang ngobati.

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 19 April 2009

Written by Me

April 20, 2009 at 1:44 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. kampanye damai pemilu indonesia 2009…

    Melalui blog ini, saya ikut mengajak para blogger indonesia untuk menyerukan aksi Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: