Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Cerita Dibalik Hujan

with one comment

Dua lapis berbentuk kaca, satu pintu dua jendela. Diluar guyuran hujan deras menghantam. Deru jalanan kalah dengan rintik air yang volumenya makin membesar. Aku diam dan ingin mengajakmu bicara.Namun kuurungkan. Di bawah cahaya lampu putih di dalam ruangan nyaman kokoh, terasa aman berlindung tapi ada hujan. Tak hanya di luar juga terasa di dalam sini. Menepis rasa bukan hal mudah karena tak secepat itu bisa musnah. Namun barangkali ini saat mencoba.

purple-rose-by-bpbp-on-flickr

Aku duduk di sini engkau di sana. Enggan menoleh, toh punya kesibukan sendiri. Tak ada kemarahan, apalagi pertengkaran maupun perselisihan. Justru semuanya yang baik-baik ini terasa tak menyamankan.

Barusan tadi berangkat, bis yang kutumpangi mengalami sedikit gangguan. Bis bersertifikat yang seharusnya bagus itu mogok. Terpaksa menunggu lama sampai ada cara untuk mengalihkan penumpang. Sebenarnya aku mulai berjudi dengan hati. Antara enak dan tak enak hati. Hari ini ada apa? Pasti ada yang tak menyenangkan, pasti…… Tapi yang pasti yah ketidakpastian itu. Tertawa sedikit dan mencoba menarik senyum. Ini salah satu terapi saat hati mumet dan tak seorangpun yang bisa diajak berbicara.

Sesekali kau mengoceh yang tak tahu dialamatkan untuk siapa dan aku tak mau merasa itu untukku. Sebentar kau melagukan tembang yang entah lagu apa aku tak tahu. Yah memang bernyanyi bukan bagianmu. Setiap orang punya talenta masing-masing. Tak usah dipaksakan. Ini biarlah salah satu pengalaman yang menarik hati. Sadar tak sadar kau bernyanyi juga. Kalau diminta tak pernah mau, tapi perasaan itu tak pernah berbohong kabarnya. Begitu kuat dia mendorong hingga rasa malu atau enggan pun tak bisa memenjara keinginanmu untuk mendendangkan satu dua lirik.

Biasanya, beberapa menit lagi atau mungkin setengah jam lagi kau akan mendekati. Mungkin mulai sadar kalau suasana seperti ini tak perlu dipertahankan. Kita tak melakukan apa-apa dan tak mengganggu siapa-siapa. Masih hujan tapi langitnya lebih ceran, dibanding selimut gelap yang tadi menggelantung langit Jakarta. Aku hampir tahu ujung cerita ini. Kau juga tak bodoh untuk bisa menebaknya. Haruskah ditambah dengan rekaan tindakan yang tak menyenangkan hati? Ini sepertinya tak beralasan. Akan kuhitung berapa kali waktu jarum jam berputar. Tinggal sebentar. Toh terasa waktu bisa berlari begitu cepatnya menandingi pelari hebat manapun dan kecepatan apapun. Mari kita berjanji, tak akan menciptakan kenangan buruk karena setelah ini mungkin tak akan bertemu lagi.

Written by Me

April 21, 2009 at 9:09 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hi, nice post. I have been thinking about this topic,so thanks for writing. I will certainly be coming back to your blog. Keep up great writing


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: