Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Soal Kiamat Lagi Tersemat

leave a comment »

Pada akhirnya kembali kepada dua.

watch-knowing-movie-online

Menjatuhkan pilihan pada sepasang Adam dan Hawa baru. Itu barangkali yang ingin disampaikan melalui film Knowing yang dibintangi aktor kawakan Nicolas Cage dan diputar di Indonesia mulai awal April. Meskipun bagian itu ditampilkan pada adegan terakhir, tapi puncak cerita letaknya justru bisa di bagian penghabisan itu. Orang-orang pilihan yang kemudian menjadi umat baru dari Sang Khalik yang dalam layar lebar itu memang tak disebut secara eksplisit. Tapi rujukan kitab Yehezkiel dari Alkitab, kitab umat Kristiani, menguatkannya. Sebuah kehancuran terbesar, kiamat, hari terakhir, hari penghakiman, banyak istilahnya.Sifat ilmiah yang digabungkan dengan unsur ramal dipaketkan dalam film ini.

Tokoh utama sendiri seorang dosen fisika yang mengerti benar soal aktivitas matahari yang memang menjadi pusat antariksa. Sementara Lucinda hadir sebagai tokoh masa lalu yang memiliki kemampuan mendengarkan pesan-pesan dari yang Maha. Tak hanya Lucinda, putraJonathan ( Nicolas Cage ) yang masih duduk di sekolah dasar, Caleb dan Abby cucu Lucinda ternyata dipercayakan kemampuan ini. Dua tokoh anak, Caleb dan Lucinda kemudian menjadi sepasang orang pilihan yang terangkat sebelum bumi hancur ditelan intensitas api maha dasyat yang mengubahnya menjadi padang debu. Eskatologis, tentang zaman akhir dan sering dikatakan kiamat ini tak pernah habis menariknya menjadi sebuah topik yang diangkat dalam berbagai momen. Salah satunya dalam sinema. Baik yang dikemas secara agamawi, spiritualitas, teknologi, science atau gaib. Masih ingat film The end of the Days yang dibintangi Arnold Swartzenegger dan sederet film lainnya yang berbau sama? Sesuatu yang futuris, yang belum terjadi, masih menjadi misteri dan selalu ditutup dengan tanda tanya benar-benar tak pernah tuntas bagi manusia. Oleh karenanya, tema-tema serupa tak pernah luntur, selalu diminati para penonton. Saya teringat zaman Sekolah Menengah Atas dan awal-awal semester kuliah,saya tak menyangkal begitu tertarik dengan hal seperti ini, yah soal akhir dunia itu. Beberapa acara yang membahasnya yang kebanyakan didasarkan pada pengetahuan agama saya ikuti. Cukup mendapat banyak pengetahuan dan bisa membandingkannya dengan informasi seputar ini yang kemudian saya dapatkan. Tak seorangpun yang tahu akhir dunia ini. Bahkan menurut beberapa mungkin, siapa yang tahu dunia ini berakhir? Sekalipun semua ajaran agama mengajarkannya, beberapa menyelimuti dengan reinkarnasi, berpusat pada ketiadaan kekal dan dunia sebagai siklus yang tak berujung. Kembali ke film Knowing, tak bisa dilepas dari sebuah siklus akhir hidup yang disebut kematian. Ini juga salah satu hal paling popular selain kiamat yang mau tak mau sering saling dikaitkan. Para sastrawan dan filsuf bermain pikir pada titik ini, mulai dari Nietscze, Samuel Beckett, Albert Camus dan banyak lagi. Jonathan dalam Knowing begitu merasa terpukul dan kehilangan karena kematian istrinya akibat kebakaran di sebuah hotel. Hingga saat itu dia mengganggap bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini sebuah kebeteluan. Tak ada determinisme. Keputusasaan yang lahir dari sebuah kehilangan membuat pria ini tak mau tahu apa yang terjadi setelah kematian. Itu sebabnya tak ada yang pasti, itu jawab Jonathan, ketika Caleb menanyakan tempat ibunya setelah kematian. Akhir cerita film garapan sutradara Alex Proyas ini memang tak muluk-muluk. Jangan berharap menyaksikan aksi Cage yang dengan kepintaran dan kesigapan mencegah terjadinya suasana akhir maha dasyat itu. Dentum keras, bencana di mana-mana , teriakan dan tangisan orang-orang jadi bagian-bagian yang disuguhkan. Sampai-sampai dua orang gadis remaja yang duduk di belakang saya meringis, ketakutan bahkan keduanya kalau tak salah terdengar sedikit terisak. Belum kejadian saja sudah begitu besar pengaruhnya. Saya bayangkan kalau nanti itu terjadi. Naif, kalau membayangkan mentah-mentah akan begitu yang terjadi di hari kemudian yang barangkali tak ada satupun orang yang tahu bahkan mama Laurence, paranormal kondang yang paling melejit di negeri ini. Kitab suci pun tak menerakan dengan gamblang, hanya menyajikan perlambang dan para pekerja film mencoba mewujudkan imajinasi itu melalui sinematografi. Kisahnya sendiri disadur dari novel yang ditulis Ryne Douglas Pearson. Yang juga tak kalah menarik, soal penerimaan tokoh Jonathan terhadap kedatangan ajal itu. Dia sadar tak ada yang bisa menghentikannya dan kemudian ikut mengamini kata-kata ayahnya yang tak menuruti saran Jon bersembunyi di bawah tanah, “ if it is my time, let it be,” kira-kira begitu ucapan sang ayah yang hadir sebagai sosok ulama. Menjelang gulungan badai api, Jonathan, kedua orangtua dan adiknya berpelukan, siap menerima sang Maut. Keterlibatan Jonathan sendiri mencoba membantu korban pesawat yang jatuh dan meledak tak jauh dari jalan, tempat dia mengalami kemacetan, membuat rasa terkejut luar biasa yang bagai membuka kembali bahwa manusia-manusia mau tak mau akan sampai di ambang maut itu , apakah dengan tragis atau tidak. Tapi ada ketidaksejajaran antara tokoh yang dilabelkan sama, Lucinda, Caleb dan Abby. Kalau dua bocah cilik Caleb dan Abby akhirnya terangkat tanpa menderita sakit dan melalui kematian, maka Lucinda meninggal, dialasankan dengan tragis. Menurut putri Lucinda, Diana yang juga ibu Abby, Lucinda meninggal akibat kelebihan dosis obat. “ Karunia” itu mungkin dianggap “kutuk” oleh Lucinda sehingga dia tak tahan. Bukankah dia harusnya tokoh istimewa? Mengapa begitu. Atau sang penulis mensejajarkannya dengan para nabi di agama monoteis yang tak jarang menderita dan mati karena sesah sekalipun bukan seorang kriminal. Tapi tak ada seorangpun nabi atau rasul yang meninggal dengan tak terhormat, karena mabuk, overdosis, atau bunuh diri apalagi. Yah, ini kreasi si penulis untuk mengkontekskannya dengan masa kini, walaupun nilai moralnya berbeda. Atau si penulis takut terlalu mengesankan kemagisan jika menciptakan sebuah cerita pengangkatan terhadap Lucinda yang sudah melakukan tugas layaknya sang Hermes. Seakan tak mau terlalu mengidentifikasi dengan kisah nabi Eli, nabi besar umat Israel yang tak mengalami kematian.

Written by Me

April 24, 2009 at 1:01 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: