Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Cuaca dan Roti Unyil dari Kalla

leave a comment »

Yang menyesakkan bagi Golkar, lima syarat cawapres dari Yudhoyono seolah isyarat bagi Golkar untuk tidak memaksakan orang yang tidak masuk kriteria tersebut.

akbar1

Seorang peserta rapat di Hotel Borobudur itu bercerita, saat memberikan sambutan, watak asli Kalla sebagai orang Bugis-Makassar seolah keluar. Pidatonya selama 10 menit sanggup membakar peserta rapat dan menekankan pentingnya menjaga martabat partai.

Jusuf Kalla dan Megawati tak henti menebar senyum. Duduk berhadapan, Jumat malam pekan lalu, keduanya asyik menyantap hidangan ayam hainan, burung dara hainan, sayur kailan dan sayur sop yang tersaji di meja panjang. Di sebelah kiri Megawati, terlihat duduk Taufieq Kiemas dan Panda Nababan dan di sebelah kanannya, Pramono Anung dan Puan Maharani. Di barisan Kalla, Surya Paloh duduk di sebelah kananya, dan di sebelah kiri terlihat Aksa Mahmud dan Soemarsono, Sekjen Golkar. “Akhir-akhir ini cuaca makin tak menentu ya?” kata Kalla. Megawati hanya tersenyum.

Itulah pertemuan kedua, antara petinggi Golkar dan pejabat PDI-P setelah malam sebelumnya, Taufieq Kiemas bertamu ke rumah dinas Kalla di Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Jamuan makan malam di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, yang tak jauh dari rumah Kalla, diakhiri dengan konferensi pers. Menurut Kalla, itu adalah pertemuan “puncak” meskipun pertemuan malam itu akhirnya tak menghasilkan kesepakatan apa pun bagi kedua partai.

“Dalam mencapai koalisi itu ada proses lebih lanjut,” kata Kalla diplomatis, sambil tersenyum. Wajah Megawati yang duduk di sebelahnya, terlihat tegang. Seorang petinggi salah satu partai yang ikut dalam jamuan makan malam itu mengungkapkan, Golkar dan PDI-P memang belum menemukan kata sepakat. Yang mengemuka terutama soal pencalonan presidendan wakil presiden.

PDI-P kata dia, tetap bersikeras mencalonkan Megawati, sementara Golkar berdasarkan Rapat Pimpinan Nasional sehari sebelumnya, juga menetapkan Kalla sebagai calon presiden. “Dua partai ini punya posisi yang berbeda secara prinsip,” kata Megawati.

Hanya sekitar 10 menit keterangan kepada wartawan itu berakhir lalu Kalla berpamitan dengan tuan rumah. Lambaian tangan Megawati dan Taufiq mengiringi kepergian mobil rombongan Kalla. “Ya memang hanya makan malam, sebetulnya,” kata petinggi tadi.

Soal pencalonannya sebagai presiden, Kalla tampaknya memang pantang surut. Beberapa jam sebelum acara itu, Ketua Umum Golkar yang juga Wakil Presiden RI itu, bahkan sudah melaporkan secara resmi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang niatnya untuk maju sebagai calon presiden. Setidaknya hal itu disampaikan Kalla dalam rapat koordinasi di Gedung Sekretariat Negara, Jumat sore.

Denny Indrayana, Staf Khusus Presiden, yang ikut hadir dalam rapat menuturkan, Kalla sempat membaca surat Al Fatihah untuk melapor ke Presiden. Sebagai Wakil Presiden, kata Kalla, hari itu dia merasa sulit melaporkan kepada Presiden tentang pencalonannya sebagai presiden. Yudhoyono terharu. Seorang gubernur ikut larut.

“Tadi saya bersama Pak Jusuf Kalla melakukan pertemuan khusus di ruang sebelah, sebagai dua sahabat dekat yang selama ini bersama-sama menjalankan roda pemerintahan,” kata Yudhoyono mengawali sambutan rapat.

Sebelumnya ketika keduanya baru masuk ruangan, tepuk tangan dari 33 gubernur dan para menteri memenuhi ruangan rapat. Baik Yudhoyono dan juga Kalla, hanya tersipu. “Kok ditepuk tangan? Nanti masuk siaran tv loh,” kata Presiden Yudhoyono. Kalla mesam-mesem.

Sepuluh Menit
Itu memang pertemuan pertama, antara Yudhoyono dan Kalla sejak keduanya terakhir kali bertemu pada 13 April silam atau empat hari sejak Pemilu 9 April. Tak ada yang istimewa dari pertemuan yang membahas APBN 2009 Kuartal I waktu itu, hingga keduanya terlibat “perang urat syaraf” soal kepentingan partai masing-masing. Lalu Jumat sore itu, keduanya bertemu lagi di hadapan 33 gubernur dan sejumlah menteri diringi tepuk tangan.

Drama pada rapat Jumat sore itu, berbeda terbalik dengan drama lain yang terjadi sehari sebelumnya di Hotel Borobudur, Jakarta. Membuka Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Golkar, Kalla mengungkapkan, pemerintahan sekarang memang baik dan tak ada yang bilang yang tidak baik. “Tapi akan lebih baik lagi kalau Golkar yang memegang pemerintahan,” kata Kalla sembari terkekeh disambut tepuk tangan sebagian peserta rapat.

Di rapat itu Kalla memang berkepentingan membesarkan hati para peserta rapat menyusul kekalahan partainya dari Partai Demokrat pada Pemilu 2009. Apalagi niat Golkar menyandingkan kembali Kalla dengan Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2009 seolah ditepis Demokrat setelah Yudhoyono mengajukan lima syarat bagi calon wakil presidennya mendatang, yang salah satunya adalah harus loyal kepada presiden. Seorang ketua Golkar menuturkan, yang menyesakkan bagi Golkar, lima syarat dari Yudhoyono seolah isyarat bagi Golkar untuk tidak memaksakan orang yang tidak masuk kriteria tersebut.

“Padahal itu tidak ada kaitannya sama sekali.Hanya kriteria umum tapi banyak orang mempersepsikan demikian, bahwa JK itu tidak loyal,” kata Marzuki Ali (Sekjen Partai Demokrat.

Itu sebabnya empat hari setelah pernyataan Yudhoyono sebagai Ketua Pembina Demokrat pada 19 April itu, Gokar membalas dengan keputusan untuk tidak melanjutkan pembicaraan koalisi dengan Demokrat. Sehari kemudian mereka menggelar rapat pimpinan khusus untuk membahas pencalonan Kalla sebagai presiden.

Seorang peserta rapat lain bercerita, saat memberikan sambutan, watak asli Kalla sebagai orang Bugis-Makassar seolah keluar. Pidatonya selama 10 menit sanggup membakar peserta rapat dan menekankan pentingnya menjaga martabat partai. Tak sedikit kader Golkar yang larut dalam suasana emosional dan penuh semangat.

Sebagian peserta rapat menyebutnya sebagai Siri. Ini budaya yang berkembang pada orang-orang Bugis-Makassar. Bagi mereka, jika Siri terganggu, pilihannya hanya dua: Memulihkannya atau mati. Dan Kalla dalam rapat itu dianggap telah memilih jalan Siri. “Harga diri partai sangat menonjol. Itu yang terjadi,” kata Muladi, salah satu Ketua Golkar yang juga ikut rapat.

Hasilnya seperti yang sudah ditebak banyak kalangan, rapat itu menetapkan Kalla sebagai calon presiden dari Golkar dan memberinya mandat mencari mitra koalisi dengan partai lain untuk pencalonannya. Keputusan lainnya, Golkar membentuk tim khusus untuk membantu pelaksanaan mandat tersebut tercapai dan sebagai Ketua Umum Golkar, Kalla harus melaporkan hasil dari komunikasi yang sudah dibangun. “Ini keputusan berat,” kata Kalla.

Tak Lazim
Tak lalu keputusan rapat pimpinan Golkar, diamini oleh semua orang-orang Golkar. Pada hari yang sama, saat rapat itu berlangsung, di Hotel Aryaduta sekitar 1 kilometer dari Hotel Borobudur, sejumlah Ketua DPD II Golkar juga menggelar pertemuan dengan Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Golkar. Inisiatornya, kata Akbar, antara lain beberapa orang ketua DPD II dari Jawa Timur. “Mereka datang ke rumah saya, Rabu malam, dan meminta diadakan pertemuan,” kata Akbar.

Karena tak mungkin diadakan di rumah Akbar, pertemuan diadakan di Aryaduta. Ongkosnya patungan dari anggota DPD II yang hadir. “Mereka datang ke Jakarta, karena mengharapkan bisa hadir di Rapim. Paling tidak sebagai peninjau,” kata Akbar.

Hasilnya mereka berencana untuk memboikot keputusan Rampinas. “Kami mendorong semua DPD Tingkat II untuk menekan DPP mencabut hasil rapimnasus,” tutur Ketua DPD Tingkat II Kota Pontianak Gusti Hersan Aslirosa.

Tapi menurut Akbar, dirinya tak akan membuat keputusan yang menentang hasil rapat di Hotel Borbudur meskipun keputusan itu sebetulnya bisa dianggap tak lazim. Ketidaklaziman itu, antara lain bisa diketahui dari jadwal rapat yang hanya sebentar. Padahal kalau mengikuti Tata Tertib Rapim Golkar, waktu yang dibutuhkan untuk rapat bisa memakan waktu berjam-jam. Rapat pimpinan Golkar Kamis lalu itu dimulai pukul 9 pagi dan berakhir pukul 15.00 atau sekitar 6 jam.

Setuju atau tidak, Kalla dan petinggi Golkar kemudian bergerak cepat. Usai menerima kunjungan petinggi PDI-P di rumah dinas Kalla di Imam Bonjol beberapa jam setelah rapat di Borbudur, Jumat pagi Kalla menggelar pertemuan dengan Wiranto, Ketua Umum Partai Hanura di rumah pribadinya di Jalan Kimangunsarkoro, tak jauh dari rumah Wiranto di Jalan Tanjung, Jakarta Pusat.

Fuad Bawazier, dari Partai Hanura yang ikut dalam rombongan Wiranto, bercerita, pembicaraan kedua orang itu adalah soal koalisi baru untuk menghadapi pilpres dan rencana untuk mengajak partai-partai lain. “Ya sambil minum kopi, minum teh dan makan roti-roti kecil, roti Unyil,” kata Fuad.

Sore harinya Kalla melapor ke Yudhoyono soal pencalonannya sebagai. Dan malam harinya dijamu makan oleh Megawati, sambil bercerita soal cuaca yang tak menentu. N rusdi mathari/ezra sihite/kristian ginting/rizky amelia

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 26 April 2009

Written by Me

April 27, 2009 at 8:08 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: