Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Jalan Panjang si Kuning Beringin

leave a comment »

Partai Golkar dengan paradigma baru. Kata-kata itu menjadi semacam sihir yang dimunculkan hampir setiap hari pada iklan-iklan layanan masyarakat di televisi dan media cetak di awal-awal reformasi awal 1999.

akbar2

Tujuannya jelas Partai Golkar (selanjutnya disebut Golkar) ingin dianggap bukan bagian dari rezim lama atau kalau pun dianggap bagian dari Orde Baru, Golkar ingin publik menilai telah terjadi perubahan mendasar di dalam Golkar, sejak reformasi. Sebuah manuver politik, yang kelak ternyata ampuh mendongkrak perolehan suara Golkar di parlemen secara dominan.

Partai Golkar dengan paradigma baru. Kata-kata itu menjadi semacam sihir yang dimunculkan hampir setiap hari pada iklan-iklan layanan masyarakat di televisi dan media cetak di awal-awal reformasi awal 1999. Tujuannya jelas Partai Golkar (selanjutnya disebut Golkar) ingin dianggap bukan bagian dari rezim lama atau kalau pun dianggap bagian dari Orde Baru, Golkar ingin publik menilai telah terjadi perubahan mendasar di dalam Golkar, sejak reformasi. Sebuah manuver politik, yang kelak ternyata ampuh mendongkrak perolehan suara Golkar di parlemen secara dominan.

Orang boleh berkata apa saja tentang Gokar tapi partai itu terbukti tetap kalis dan lebih dari sekedar bertahan lalu menjadi kekuatan politik utama di zaman reformasi, sebuah orde yang niscaya menghendaki Partai Golkar tak ada. Ia bahkan menjadi satu-satunya partai dengan perolehan suara terbanyak dan satu-satunya partai yang memperoleh tambahan suara di DPR pada Pemilu 2004, meninggalkan perolehan suara dari partai-partai baru yang dibentuk pada zaman reformasi.

Dalam Pemilu 1999 Golkar terbukti meraih suara 23 juta suara (22,4 persen) atau 120 kursi di parlemen, nomor dua setelah perolehan suara PDI-P, partai yang dicitrakan sebagai partainya orang kecil. Perolehan suara Golkar yang mengalahkan perolehan suara dari banyak partai baru yang dibentuk pasca reformasi itu, tentu saja mengejutkan terutama karena adanya anggapan bahwa Golkar akan segera ditinggalkan orang seperti Soeharto yang ditinggalkan oleh orang-orang Golkar atau sebaliknya.

Posisi Golkar semakin kuat di parlemen, ketika pada pada Pemilu 2004 partai itu justru berada di puncak teratas perolehan suara untuk kursi DPR (128 kursi) dan menjadi satu-satunya partai yang mendapat tambahan suara. Sebuah kemenangan dari Golkar yang niscaya meruntuhkan harapan-harapan partai baru yang dibentuk setelah reformasi dan berbau reformasi yang katanya membawa angin perubahan.

Menjadi Olok-olok
Kemenangan Golkar itu sekaligus menjadi olok-olok bagi arus besar reformasi yang telah menganggap remeh Golkar. Di awal reformasi, di akhir 1998, Amien Rais lokomotif reformasi dan pendiri Partai Amanat Nasional pernah membuat pernyataan yang meremehkan Golkar. “Saya kira dengan turun panggungnya Pak Harto, otomatis Golkar akan mengecil kalau tidak malah bubar…”

A.S Hikam pakar dari LIPI yang kemudian bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan menjadi Menteri Ristek di zaman Abdurrahman Wahid juga pernah mengatakan, “Golkar menjadi besar dan solid pada masa Orde Baru karena tidak lepas dari dukungan militer, birokrasi dan kendali mantan Presiden Soeharto yang bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina…Golkar dengan sendirinya akan pecah dan hancur kalau tidak nanti juga akan digulung rakyat dan zaman sendiri…”

Ketika Soeharto diturunkan oleh desakan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang lain, masa setelah itu yang disebut reformasi memang telah meninggalkan kebencian mendalam pada sejumlah orang terhadap Golkar. Seperti halnya Soeharto, Golkar dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas sejumlah kegagalan pembangunan politik, ekonomi, pelanggaran HAM dan sebagainya.

Golkar lalu dianggap sampah dan kuman, sehingga karena itu harus dibuang jauh-jauh. Banyak kader Golkar termasuk para jenderal tentara dan polisi yang pernah sangat aktif di Golkar lalu mengambil langkah seribu: Meninggalkan kandang Golkar. Ketika mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa pada akhir 1998, jalur ABG pecah kongsi menyusul kekalahan Jenderal Edi Sudradjat dari Akbar Tanjung sebagai Ketua Umum Golkar.

Unsur-unsur yang menjadi pilar di dalam Golkar seperti Kosgoro, MKGR dan sebagainya sejak itu satu per satu meninggalkan Golkar. Edi dan pendukungnya lantas mendirikan Partai Keadilan Persatuan (PKP) yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Beberapa ketua organisasi massa yang sebelumnya menjadi bagian kekuatan politik Golkar juga mendirikan partai baru. Siti Hardiyanti Rukmana dan Jenderal R Hartono (seorang jenderal yang pernah dengan sangat bangga mengenakan jaket kuning saat menjabat sebagai KASAD) mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa. Adapun Soeharto sebagai Ketua Dewan Pembina tak pernah ada kabarnya dan “membiarkan” Golkar.

Singkat kata, pasca Munaslub 1998, Golkar menghadapi fenomena pergerseran dukungan politik pada tingkat organisasi dan menghadapi realitas persaingan baru dari sejumlah kader Golkar yang mendirikan partai baru. Namun yang dibayangkan banyak orang tentang Golkar yang akan mati karena reformasi, tak pernah benar-benar terjadi pada Golkar. Akbar Tandjung sebagai Ketua Umum Golkar waktu itu bahkan sanggup membalikkan logika politik yang sangat tidak menguntungkan bagi partainya saat itu.

Kini pada Pemilu 2009, perolehan suara Golkar kalah telak dari partai yang baru berdiri 10 tahun, Partai Demokrat. Persentase perolehan suaranya hanya saling menyalip dengan PDI-P yang juga tak beranjak dari angka 14 persen. Lalu di balik kekalahan itu, sengketa politik “dalam negeri” Golkar kembali menyeruak ke permukaan.

Adakah setelah keputusan Golkar untuk tidak berkoalisi dengan Demokrat dan mencalonkan Jusuf Kalla sebagai presiden pada pilpres mendatang akan benar-benar menjadi pendorong baru bagi kekuatan Golkar pada pemilu lima tahun yang akan datang? Atau inikah sebetulnya, isyarat awal, partai kuning ini, mulai kehilangan taji? N rusdi mathari

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 26 April 2009

Written by Me

April 27, 2009 at 8:11 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: