Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Kegamangan PKS dan Manuver Amien

leave a comment »

Pecahnya kongsi kubu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Partai Golkar mestinya memang menjadi berkah bagi Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Partai inilah, yang setelah Pemilu Legislatif 2009 menginginkan Yudhoyono tidak memilih cawapres dari Golkar.pks1

Setidaknya hal itu pernah diungkapkan oleh Wakil Sekjen PKS, Fachri Hamzah. Kata dia, Yudhoyono sebaiknya memilih calon wakil presiden yang tidak neko-neko, selama lima tahun. Syarat itu kata dia, akan sulit ditemukan pada watak tokoh dari Golkar.

Koalisi yang selama ini terjadi antara Yudhoyono dan Kalla selama ini menjadi salah satu buktinya.
“Mungkin secara personal benar, tapi secara profesional kerja berdasar undang-undang tidak benar,” kata Fachri kepada wartawan, pekan lalu.
Dalam bahasa yang lebih halus, mantan Presiden PKS, Hidayat Nuwahid pun mengakui jika partainya menginginkan untuk mengusung cawapres meskipun dia tak menyebutkan nama. “Masih terbuka. Semuanya masih berjalan dengan efektif dan semuanya masih wacana yang masih bisa ke sana,” kata Hidayat.
Hitungan Hidayat sederhana. Dengan perolehan suara sekitar sembilan persen, kata Hidayat PKS layak untuk diapresiasi dalam demokrasi. Apalagi kata Hidayat, dibandingkan dengan partai-partai yang suaranya menurun, kepercayaan kepada PKS sudah naik. Singkat kata, PKS memang menginginkan cawapres.
Isyarat bahwa PKS tidak menginginkan Golkar merapat ke Demokrat terus berlanjut, hingga partai itu menggelar pertemuan Dewan Syuro di Gedung Bidakara, Jakarta, Sabtu lalu. Di sela-sela pertemuan itu, Sekjen PKS, Annis Matta sekali lagi menegaskan, pihaknya menginginkan penggalangan kekuatan dengan partai-partai yang tengah termasuk dengan Demokrat.
“Kita ingin menjadi satu kekuatan koalisi supaya kita yang dulu memulai reformasi, bisa menuntaskannya,” kata Annis.
Meskipun soal koalisi itu masih dibahas oleh Majelis Syuro PKS, dari pernyataan Annis, bisa ditebak, ke arah mana sauh koalisi PKS akan dilempar. Apalagi dua hari sebelumnya, Golkar sudah memutuskan menghentikan semua proses pembicaraan dengan Demokrat dan mengusung Kalla sebagai calon presiden.
Nama Lain
Singkat kata, halangan pertama bagi PKS, untuk memeluk rapat Demokrat akan semakin terbuka dan peluang memajukan kadernya sebagai cawapres untuk mendampingi Yudhoyono juga semakin besar. Tapi benarkah PKS akan menuntaskan usulannya, termasuk mengajukan nama Hidayat sebagai pendamping Yudhoyono?
Realitasnya kemudian muncul juga ide lain agar tak hanya mengusung nama Hidayat. Alasannya primordial. Hidayat yang Jawa dianggap tak mewakili orang Indonesia nonjawa. Adalah anggota Majelis Pertimbangan PKS, Mutammimul Ula yang melemparkan nama Tifatul Sembiring, untuk cawapres.
Dulu, kata dia, Kalla dipilih karena dinilai mewakili dari orang nonjawa. “Sekarang ada juga Pak Tifatul, ia muda, lebih muda dari Pak Hidayat, bersih, dan dari luar Jawa,” kata Mutammimul. Tifatul yang disebutnya adalah Tifatul Sembiring, Presiden PKS.
Tapi Tifatul yang ditemui dalam rapat di Bidakara menyatakan, belum ada kepastian soal koalisi, juga soal nama cawapres. “Majelis Syuro masih membahas dengan siapa dan koalisi seperti apa yang nantinya akan dibangun,’’ katanya.
Di luar PKS, partai lain yang juga mengambil berkah dari pecah kongsinya Golkar-Demokrat adalah orang-orang Partai Amanat Nasional (PAN). Ketua PAN, Soetrisno Bachir sebetulnya lebih condong merapay Prabowo Subianto (Partai Gerindra) tapi Amien Rais pendiri dan mantan Ketua Umum PAN rupanya mulai mendekat ke Demokrat.
Nama Hatta Radjasa, yang kini menjabat Menteri Sekretaris Negara, kemudian mencuat sebagai cawapres lengkap dengan deklarasi di Jakarta, Jumat pekan lalu. Condongnya Amien ke Demokrat itu semakin memperkuat spekulasi mengapa Amien tidak hadir dalam pertemuan Soetrisno dengan Prabowo di rumah PAN, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pertengahan April silam.
Salah satunya, karena Amien dikabarkan telah bertemu lebih dulu dengan Yudhoyono dan karena itu kemudian mengumpulkan 28 Dewan Pengurus Wilayah PAN di rumahnya di Jogyakarta. Pertemuan itu tanpa dihadiri Soetrisno Bachir. N adiyanto/agus triyono

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 26 April 2009

Written by Me

April 27, 2009 at 8:21 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: