Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Ragam Pesona Kain Nusantara

leave a comment »

Agar bisa masuk ke kalangan anak muda, warna-warna kain tradisional kini lebih beragam. Hampir semua warna bisa dijadikan.

10_11

Dulu ketika Suharto masih berkuasa, batik menjadi keharusan yang dikenakan pada berbagai acara. Korps PNS bahkan dibuatkan batik khusus, warna biru kembang-kembang itu. Setiap Jumat anak-anak sekolah juga diminta mengenakan batik. Swadesi, katanya meski saat itu banyak yang mengecam, terutama karena penggunaan batik dipaksa.
Kini lebih dari 10 tahun sejak kekuasaan Suharto runtuh, penggunaan batik seolah kembali menemukan semangatnya. Bedanya, sekarang tak ada yang memaksa, karena orang mengenakan batik selain karena swadesi itu, juga karena ini tuntutan mode. Sama dengan di zaman Suharto, sekarang setiap Jumat, orang-orang juga mengenakan batik dengan berbagai model.
Lalu belakangan, muncul pula kecenderungan untuk tak sekadar mengenakan batik, melainkan pula kain-kain yang asli Indonesia, tenun itu dan sebagainya. Beragam peragaan busana untuk menampilkan busana-busana itu pun kerap digelar. Salah satunya Art to Wear Beyond Fashion yang berlangsung pekan lalu di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Ini bagian dari Seni Kriya Wastra 2009.
Oscar Lawalata yang tampil di acara itu, menampilan 12 potong koleksi berbahan dasar tenun ikat Nusa Tenggara Timur, dari Flores, Sumba dan Rote. Ada dress panjang dan pendek yang terinspirasi dari baju kurung dan baju bodo. Warnanya cokelat dan oranye dipadu dengan kain bermotif ikat. Tak banyak detail ataupun kancing, Oscar bermain pada kerah dan aksen bolero yang melebar.
Warna-warna asesoris yang terang menghidupan nuansa kain yang cenderung natural ke gelap. Tak hanya dress modern, perancang ini juga menyajikan ala busana yang kental dengan tradisional, terinspirasi dari kebaya tapi praktis mengenakannya. Setelan yang biasanya dipakai para profesional ditambah aksen selendang. Rok dari tenun ikat dipadukan dengan blouse polos yang berpotongan kebaya.
“Sejak 2000, desainer yang tergabung dalam APPMI memang didorong untuk mengangkat kain-kian tradisional dalam rancangan mereka,” kata Lenny Agustin. Perempuan ini adalah bendahara APPMI, Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia.
Dengan mempopulerkan kain tradisional, kata Lenny tak hanya memberi ciri khas bagi para desainer Indonesia tapi juga membantu para pengrajin. “Mungkin ada pergeseran pandangan, sekarang pakai busana nuansa tradisional kayaknya jadi keren,” tambah Lenny.
Di acara itu, Lenny juga menampilkan koleksi busananya. Dia mengadaptasi kain tradisional yang cenderung berwarna netral menjadi busana-busana ramai, penuh warna dan ceria. Tak takut bereksperimen dengan warna dan bahan, Lenny juga memadukan kain-kain adat dengan legging polkadot bercorak bunga dan penggunaan renda yang ramai. Inspirasinya, hibridisasi antara busana Afrika yang minim bahan, asimetrik, terkesan acak kadu.
Tapis dan Inuh
Agar bisa masuk ke kalangan anak muda, warna-warna kain tradisional kini lebih beragam. Hampir semua warna bisa dijadikan. Ini diakui Tri Wiratni dari Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Lampung. Perempuan yang juga bisa menenun itu mengatakan bahwa warna-warna kain tenun inuh dan tapis, dua kategori besar kain Lampung kini lebih variatif.
Awalnya warna merah, hitam, keemasan, makin beragam dengan adanya pilihan hijau, ungu, merah muda, dan sebagainya. “ Permintaan pasar kan makin beragam dan banyak yang sekarang minta warna lebih terang, jadi kita penuhi,” katanya.
Baik tapis maupun inuh biasanya ditenun di atas kain katun sutra. Bisa katun biasa, tapi hasilnya tak akan mengilap dan lebih berat. Dulu kain jenis ini hanya dipakai para ningrat dan pembesar tapi kini berubah. Siapa saja bisa memakainya.
Tapis ditandai dengan benang emas sementara inuh lebih polos. Itu sebabnya, inuh yang kebanyakan dimodifikasi menjadi berbagai busana. “ Kalau inuh sering dijadikan seragam, kalau tapis, mungkin karena ramai cenderung untuk busana formal atau pesta.” Kata Tri. Kalau untuk pengantin? “ Pakai tapis tapi benang emasnya lebih rapat sampai padat kelihatannya. “
Corak-corak kain inuh terinspirasi dari alam yang ada di sekitar Lampung, bisa berupa motif laut, gajah, ikan, teripang, burung, sulur-sulur dan pohon. Kalau yang lebih baru, ada juga yang bermotif kapal. Sering dijadikan dress, rok, vest, blazer dan pakaian anak-anak.
Kalau tapis, kain bersulam emas itu, bisa bercorak pucuk rebung, mata kibau dan belah ketupat. Pengerjaan kain tenun sendiri bisa mencapai sebulan lebih kata Tri. “ Mulai dari masuk-masukin benang bisa berminggu-minggu lamanya, untuk finishing saja satu minggu, jadi itu sebabnya tak bisa dihargai murah, tak hanya bahan yang berkualitas tapi juga pengerjaan yang ribet,” tambahnya.
Sutra China
Di acara itu terlihat Mannah, penenun songket Palembang, yang tekun menenun. Sejak remaja perempuan ini diajarkan bertenun oleh kakaknya dan kini sudah lima tahun lebih Mannah menenun. Untuk satu kain songket Palembang, waktunya bisa sebulan. Kain ini bisa bermotif mawar, bintang ataupun kombinasi keduanya. Warna-warna dasar yang dipakai, hitam dan merah yang kemudian dihias dengan benang emas, perak dan benang limar.
Sepintas mirip dengan songket Padang yang memang tak terlalu berbeda pengerjaannya. Warna dasar pun hampir sama. “ Yang membedakan songket padang dengan palembang, kalau Padang biasanya pakai renda dan itu buatan tangan, “ kata Tatu Maisaroh, staf Rumah Songket, usaha kain yang dipunyai Mufdiah Kalla.
Tenun songket Padang biasanya berasal dari Pande Sikek dan dari Kuto Gadang untuk sulamnya. Namun kini, penggunaan sutranya kebanyakan berasal China dibandingkan sutra yang berasal dari Padang.
Kain-kain Indonesia memang seakan tak ada habisnya. Bahkan menurut Adiati Arifin Siregar, masih banyak yang harus digali. Adiati adalah Ketua Wastraprema, organisasi pecinta seni kain tradisional.
“Ini kain tenun Jambi yang sedang diusahakan untuk dikembangkan kembali oleh pengrajin di sana. Enggak mahal, jadi bisa digunakan oleh wanita kebanyakan, paling tidak para perempuan Jambi, “ kata Adiati sembari memamerkan baju yang dikenakannya. Kini memang saatnya berkiblat pada tradisi busana nusantara, asal tidak dipaksa saja, seperti zaman Suharto.
N adiyanto/ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 26 April 2009

Written by Me

April 27, 2009 at 7:54 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: