Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Tanpa Jahitan, Simpel dan Kekal

leave a comment »

Setelah cuplikan tari klasik Jawa, Kanjeng Raden Tumenggung Hartoyo Brodjonegro mempraktekkan proses pengenaan ngadibusono Jawa di ruang Cendrawasih Balai Sidang Jakarta 15 April lalu. Menang semua orang bisa memaki baju, tapi dalam ngadibusono, sama sekali tak diperkenankan peniti, kancing maupun jepitan.10_2

Lalu master tata busana klasik Jawa tersebut memakaikan kain berukuran 4,5 x 2 m kepada seorang penari lelaki. Dengan melipat dan mengikat, dalam lima menit, si penari sudah berdiri gagah dengan kain yang dilengkapi sabuk. Sentuhan terakhir, keris disematkan di antara lipitan kain dan sabuk.

Tak hanya Hartoyo, perancang Samuel Wattimena juga kini berputar arah dan cenderung mempopulerkan kain bukan sebagai busana setelah proses jahitan. Tak ada benang jahit, kancing, dan kreasi detail. Cukup sehelai kain.
Perancang busana yang kerap dipanggil Sammy ini menganggap bahwa kain lebih bertambah nilanya makin tahun. Baju, akan menjadi pakaian bekas namanya. “Kalau kain lebih kekal karena gampang diwariskan, mau tubuh kurus, mau gemuk semua bisa mengaplikasikan kain terus pemeliharaannya lebih sederhana,” katanya.
Sammy karena itu, kini getol mengangkat kembali kain tenun Maluku yang dulu disebut dengan kain Tinimbar karena hanya diproduksi di wilayah Tinimbar, Maluku Tenggara. Pria berdarah Ambon itu memasok langsung kain-kainnya dari tujuh belas pengrajin yang ada di Ambon. “ Mereka sekarang sudah mulai malas mengerjakan, jadi harus didorong. Caranya dengan dibeli dulu, dan sebaiknya tetap di Ambon agar ekonomi kreatif di sana meningkat,”.
Sammy tak mau membuat motif baru karena justru menurutnya, motif-motif lama saja belum cukup dikenal. Namun perancang satu ini membubuhkan bordiran ke potongan-potongan kain itu. Alasannya? “ Yang sudah pernah punya kain tenun Maluku akan menemukan sesuatu yang baru dan beli lagi,” katanya tertawa.
Hanya saja masalah komposisi yang dia modifikasi, kalau komposisi tenun asli lebih jarang motifnya, maka yang tenun baru ada yang berbentuk komposisi rapat dan diagonal. Warna utamanya, merah, hitam, coklat, putih atau merah muda yang merupakan campuran putih dan merah. Dan sejak empat tahun lalu Sammy fokus pada busana pria. “Kalau kreasi untuk cewek sudah banyak banget.”
Alasan lain, pria-pria Indonesia belum berani tampil dengan gaya-gaya baru. “Padahal laki-laki zaman dulu tampil sangat dressy dengan busana tradisional masing-masing,”.
Laki-laki zaman sekarang memang enggan dianggap modis Sam, kalau dulu pun mereka mengenakannya bukan atas nama fesyen kan? N ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 26 April 2009

Written by Me

April 27, 2009 at 7:59 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: