Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Akhir Cerita Dendeng Prita

leave a comment »

Sejak menikah dengan pria berdarah Jawa, selera makannya berbeda.

 

 

 

Kendati Kagum Terhadap Sosok Guru, Prita Tak Meneruskan Pendidikan Keguruan Sebagai Langkahnya. “Waktu Itu, Kebetulan Ibuku Ada Usaha Di Perhotelan Dan Aku Diharapkan Menjadi Penerusnya. Akhirnya Aku Ambil Jurusan Perhotelan,” Kata Dia Beralasan.

1102

Nah, jalur perhotelan ini yang lalu memperkenalkan dia dengan profesi terkait dengan bidang hubungan masyarakat ketika mengikuti pelatihan di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta.

Usai menekuni bidang hubungan masyarakat tersebut, Prita malah menemukan kesulitan soal pengadaan pelatihan bidang yang ditekuninnya yang hanya bergantung pada beberapa universitas di Jakarta. Di sinilah daya kreatifnya muncul. 

“Saya pikir kenapa nggak bikin sendiri saja?” Pikiran ini yang kemudian terwujud dengan pendirian London School yang mulai dirintis pada 1992. “Saya bisa memimpin sekarang tapi kalau saya tak bisa mengurus anak saya sendiri, itu tak ada gunanya,” jawabnya ketika ditanya mengapa tak mau lepas mengurusi keluarga setiap hari. Semua yang dia lakukan untuk keluarga. Itu pengakuannya. 
Prita yang masih sering berkumpul tiap tiga bulan sekali dengan teman-teman sekolahnya dulu, sudah jarang memasak. Padahal itu termasuk salah satu minat hobinya. Alasannya Cuma satu: suami. Dulu dia pandai memasak dan dikenal teman-temannya sebagai jago masak, khususnya masakan Padang seperti rendang dan dendeng balado. “Maklum, ibuku kan orang Padang, jadi terbiasa dengan makanan itu,” katanya. 
Malah saat belajar di Inggris, teman-temannya yang tinggal di Liverpool dan Manchester sengaja mengunjunginya, kadang kala menanti, kala lain memesan masakannya. “Rendang Prita terkenal di antara teman-temanku dulu,” ujarnya dan lalu tertawa. 


Namun sejak menikah dengan pria berdarah Jawa, selera makannya berbeda. Suatu kali pernah Prita memasak makanan khas Jawa, tapi sang suami tak menyukainya. Akhirnya, dia malas memasak dan tak terlalu soal bagi suaminya. Masih tertawa, lalu dia bilang bahwa lidah memang berbeda-beda seleranya. Mungkin ini alasan perempuan yang sering tersenyum itu menyerah masak untuk suami. 


Ada hal lain juga yang menjadi pelampiasannya yang tak jauh-jauh dari pekerjaan rumah. Daripada masak, dia lebih menyukai beres-beres rumah, menata ruangan dan meja-meja. “Aku paling nggak bisa lihat sesuatu yang berantakan,” katanya. 
Dia merasa stres kalau menemukan rumah berantakan dan banyak sampah. Karena terbiasa, ketiga anaknya mulai mengerti apa yang dimaui ibu mereka. “Walaupun kecil-kecil mereka mulai rapi termasuk kamarnya,” tambahnya. Hampir tiap hari ada saja yang dibereskan dan ditatanya, sekalipun hanya merapikan majalah yang tergeletak di atas meja. N ezra sihite 

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 26 April 2009

Written by Me

May 2, 2009 at 9:54 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: