Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Prita Kemal Gani: Terinspirasi Anak Autis

leave a comment »

Di London School yang dirintisnya, Prita kini juga mendirikan sebuah usaha fi lantropis untuk autisme.

 

 

 

Sebelumnya, Ibu Tiga Orang Anak Ini Tak Pernah Peduli Soal Autisme. Namun Sejak Dua Tahun Lalu Ketika Anak Bungsunya Divonis Menderita Autis, Dia Harus Peduli Soal Penyakit Itu.

 

 

1101

Mulanya Prita Kemal Gani tak menyadari anak terkecilnya, Raysha Dinar, menderita autis. Dulu, perempuan yang menyukai musik David Foster and Friends itu mengaku tak mau peduli tentang autisme. “Kalau ada seminar tentang autis di sekolah Ghina dan Fauzan, saya nggak berminat,” ungkapnya. 


Dua nama yang disebut Prita adalah putera pertama dan keduanya. Bahkan saat beberapa mahasiswa binaannya menulis makalah mengenai autisme, hal itu tak juga menyadarkan direktur London School of Public Relation ini. “Sebenarnya saya menyesal karena pada awalnya saya tak langsung menerima bahwa anakku memang autis.” 
Tak langsung menerima diagnosis para dokter atas autisme anaknya, Prita bersama suaminya kerap mendatangi lembaga-lembaga konsultan dan para psikolog dengan harapan menerima hasil yang berbeda. Namun harapan tinggal harapan, karena vonis pada Rasya tak berubah: Autis. Prita pasrah. 
Menjelang usia yang keempat, Rahsya lalu diterapi intensif dengan perawatan yang sesuai untuk anak autis. Sekolahnya pun khusus, terletak di bilangan Parung, Bogor. Itu kenapa ibu tiga anak ini mesti bangun pagi setiap hari agar bisa melayani kebutuhan si bungsu. Sebagai ibu, Prita menyadari betul bahwa dia harus menaruh perhatian penuh terhadap anak-anaknya dan terutama Rasya. 
Bukan Cacat
Kini Rahsya berusia lima tahun. Tak pernah Prita absen mengurusi anak tercintanya itu. Makanan khusus pun selalu dia siapkan. Dan ini yang kemudian tertanam dalam lubuknya: Anak autis tak boleh mengonsumsi terigu, makanan berbahan pengawet, susu, keju, dan sebagainya. Kalau dilanggar, si anak bisa langsung terkena dampaknya. 

Suatu kali, misalnya, Rasya makan kue—ya hanya kue. Namun perutnya langsung sakit. Sebagian besar penderita autis memang mengalami masalah pencernaan. 
Lalu Prita mulai menekuni soal autis. Berbagai bacaan mengenai autisme dilahapnya. secara mendalam. Dia juga kerap turut serta acara-acara terkait seputar penyakit tersebut, sekaligus mengorganisirnya. Terakhir, Prita membikin paket acara yang diselenggarakan awal April lalu selama lima hari. 
Beberapa program yang diadakan misalnya festival peduli anak yang menyosialisasikan hasil riset pola tingkah laku anak autis, pola makan, juga konser 41 anak autis. Dia terharu ketika melihat anak-anak autis bisa memainkan gendang, violin, gitar, dan lain-lain. Meski banyak alat permainan tapi mereka bisa mengharmoniskannya. Acara itu juga memamerkan lukisan karya-karya anak autis. 


Prita bercerita, jika ditangani dengan baik, orang-orang autis bisa mengembangkan bakat-bakat yang terpendam. Hanya saja, kerap kali kemampuan mereka tak terkuak lantaran sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Satu hal yang harus diketahui, autisme kata Prita bukanlah cacat mental. 
Prita mengingatkan, yang terpenting bagi orang tua adalah menguatkan mental supaya menerima dan menangani si anak dengan penuh kasih. Dan untuk tujuan pengertian itulah Prita amat getol menyuarakan kepedulian terhadap anak autis. 
Kini di London School, Prita juga mendirikan sebuah usaha filantropis untuk autisme. Relawannya para mahasiswa. 


Cerita Kecil


Nama Prita memang tak lepas dari London School. Sekolah yang dia bangun sejak 1992 itu, kini cukup dikenal publik. “Kiat membuat sekolah sebetulnya sama saja seperti membuka usaha. Yang dibutuhkan komitmen dan keinginan besar,” katanya. 

Di London School Prita bersyukur memiliki tim yang bisa bekerjasama dengan baik sehingga mengantarkan lembaga pendidikan tinggi itu lumayan bergengsi. Padahal, sekolah tinggi yang menekuni ilmu komunikasi itu awalnya hanya menyewa sebuah ruang di gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Kini, tempat itu sudah merambah, ke banyak tempat. 

Keberhasilan Prita di dunia pendidikan sebetulnya tak lepas dari masa kecilnya. Dia bercerita, dulu dia menyukai permainan sekolah-sekolahan dengan teman-teman tetangganya. Prita menjadi guru, sementara teman-teman lainnya menjadi muridnya. Prita bilang ia sangat mengagumi keluhuran seorang guru sehingga bersedia memberikan ilmu kepada murid-muridnya. “Ya cita-cita saya nggak jauh berbeda dengan profesi saya sekarang ini,” katanya. 

Bercerita lebih mengenai masa kecilnya, anak kedua dari lima bersaudara ini harus menerima kenyataan ditinggal sang ayah saat berusia masih lima tahun. Ibunya lalu memerankan seorang bapak sekaligus. Pengaruh sang ibu yang kuat dan mandiri membesarkan anaknya amat berpengaruh pada Prita. Itu kenapa sekalipun berkarir, tapi keluarga bagi Prita disimpulkan dalam satu kata: segalanya. 

Suami dan anak-anak adalah rahmat Tuhan. Demikian kata perempuan yang murah senyum ini. Setiap hari, Prita langsung mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan sebisa mungkin bisa mengurusi mereka sampai sore. Kebutuhan ketiga putera-puterinya tak pernah dilewatkan. 

Hillary Clinton menjadi perempuan favoritnya. Alasannya, sekalipun menjabat menteri luar negeri dan mantan ibu negara Amerika Serikat, tapi Hillary tetap berperan penting dalam keluarga. Intinya, peran sebagai ibu, isteri dan profesional selalu harus diseimbangkan. Dua perempuan lain yang ia sukai ialah Ratu Elizabeth dan Madonna “Mereka memiliki prestasi dan kharisma yang luar bisa,” katanya. 

Sekalipun lembaga perguruan tinggi yang dikelolanya kini sudah cukup terkenal dan menelurkan 6000 lulusan, Prita berharap suatu saat punya kesempatan untuk membuka wadah pendidikan lain. Terinspirasi dari autisme, ia ingin mendirikan lembaga pendidikan bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus seperti kesulitan dalam berkomunikasi. 

Sore itu, 22 April lalu, Prita mengenakan kebaya hitam dengan benang emas, kain batik, selendang merah muda yang dihias bros. Kalung berhiaskan berlian menggantung di lehernya. Rambutnya digerai melewati bahu. Sofa yang dia duduki senada dengan warna gordin, merah juga. Kami asyik bercerita tentang kehidupannya, hingga tak terasa menjelang maghrib. Perbincangan kami di Lounge Trocedo, kawasan Sudirman Park berakhir dan Prita mulai berdiri dari tempat duduknya di sofa merah hati. N jacques umam/ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 26 Januari 2009

Written by Me

May 2, 2009 at 9:49 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: