Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Ketua KPK itu Akhirnya…

leave a comment »

Mereka berusaha dengan berbagai cara, agar Antasari bisa tersandung dan syukur-syukur terjatuh.

Antasari kemungkinan besar bakal ditahan karena bukti-bukti mengarah padanya sebagai otak di balik tewasnya Nasrudin.

66672_ketua_kpk__antasari_azhar_memberikan_keterangan_pers

Sebagai jaksa karir, perjalanan hidup Antasari sungguh penuh liku. Dia diduga pernah menerima suap dan juga menyuap, sengaja meloloskan Tommy Soeharto, hingga dalang pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran.
Sekitar setahun lalu, enam pejabat mengundang dua lelaki untuk bertemu di salah satu kamar karaoke, di Menara Thamrin, Jakarta Pusat. Pria yang berjaket kulit hitam, dengan badan yang terlihat lebih besar dari yang lima pejabat lainnya memulai pembicaraan. “Bisa nggak Anda bantu kami, membongkar aib Antasari,” kata dia.
Dua pria yang diajak bicara hanya manggut-manggut. Lalu pria berkajet hitam melanjutkan, “Yang penting ada orang yang mau bersaksi dan kesaksiannya bisa direkam,” katanya. Pria itu mengaku utusan seorang pejabat negara.
Saat itu nama Antasari Azhar sebagai Ketua KPK, memang sedang naik daun menyusul penangkapan Urip Trigunawan, jaksa yang tertangkap tangan menerima suap dari Artalyta Suryani alias Ayin. Kasus itu kemudian menyeret Untung Udjie, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara. Dia diberhentikan sebagai pejabat teras di Kejaksaan Agung setelah rekaman pembicaraan Untung dan Ayin dibeberkan di Pengadilan Tripikor.
Enam pejabat itu rupanya terinspirasi dari rekaman di pengadilan dan karena itu mencoba melakukan hal yang sama untuk membongkar kejelekan Antasari. Tapi dua pria yang diajak bersepakat, menolak ajakan enam pejabat tadi. “Itu kerjaan dari musuh-musuh dan orang-orang yang tidak suka kepada Antasari,” kata seorang dari dua pria itu.
Orang-orang yang tidak menyukai sepak terjang Antasari sebagai Ketua KPK, memang akan selalu mencari celah untuk menyudutkannya, termasuk enam pejabat yang bertemu di kamar karaoke itu. Mereka berusaha dengan berbagai cara, agar Antasari bisa tersandung dan syukur-syukur terjatuh. Kini ketika Antasari benar-benar tersandung karena menjadi tersangka/saksi dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, musuh-musuh Antasari itu niscaya bertepuk tangan.
Jaksa Karir
Antasari adalah jaksa karir hingga anggota DPR menetapkannya sebagai ketua KPK dua tahun silam. Sebelum itu, dia pernah menjabat Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana serta pernah pula menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di Sumatera Barat dan Sulawesi Tenggara. Ketika menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Antasari gagal mengeksekusi Tommy Soeharto yang dihukum penjara 18 tahun karena terlibat dalam pembunuhan Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Hukum Pidana Umum, M Syafiuddin Kartasasmita pada 2001.
Waktu itu Tommy “kabur” dan Antasari hanya kuasa menyita tanah dan rumah Tommy yang katanya untuk mengantisipasi kalau Tommy tidak mau membayar uang ganti rugi kepada negara. Dalam kasasi Tommy, majelis hakim agung yang diketuai Syafiuddin memutuskan menghukum Tommy dengan hukuman pidana 18 bulan penjara dan membayar denda serta membayar sejumah uang untuk ganti rugi keuangan negara.
Dalam kasus korupsi senilai dua miliar rupiah yang melibatkan Lukman Abunawas, Bupati Konawe (Kendari) pada 2004, Antasari juga pernah bertemu dengan Lukman justru ketika Lukman sudah menjadi tersangka. Dalam pertemuan yang disebut-sebut terjadi di Bangka Belitung itu, dikabarkan telah ada pemberian uang tiga miliar rupiah dari Lukman kepada Antasari.
Soal uang itu Antasari tegas menolak, namun perihal pertemuannya dengan Lukman, Antasari tak menampik “Saya bertemu justru di kantor saya dalam konteks penyelesaian perkara. Ia datang sebagai tersangka,” katanya saat itu.
Mungkin saja Antasari memang tidak pernah menerima uang dari Lukman dan belum tentu juga Lukman melakukan korupsi. Namun pertemuan seorang jaksa dengan terdakwa, sulit diterjemahkan kecuali mereka sedang membicarakan perkara.
Di Amerika Serikat dan Eropa, seorang jaksa dan hakim yang bertemu atau menemui terdakwa dianggap telah melakukan kejahatan, bahkan jika pertemuan itu hanya sekadar untuk makan-makan. Alasannya jelas, jaksa dan hakim bisa terpengaruh dalam menuntut atau memutuskan perkara. Lalu untuk apa Antasari bersedia bertemu Lukman di kantornya?
Cerita akhirnya, Lukman diputus bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kendari. Dalam sidang pembacaan vonis setebal 251 halaman yang dipimpin Jessay Tarigan, pada 23 Juni 2005, Lukman dianggap tidak terbukti melakukan korupsi seperti yang dituduhkan Jaksa Penuntut Umum Fadil Zumhana. Dan ini yang menarik: majelis hakim menganggap semua tuntutan jaksa tidak berdasar karena tindakan yang dilakukan Lukman tidak memenuhi unsur korupsi.
Seorang yang dekat dengan mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, bercerita, semasa menjabat Kajati Sumatera Barat, Abdul Rahman mencopot Antasari dari jabatannya. Dia ditarik ke Jakarta dan tidak mendapatkan tugas apa pun. Antasari tak suka dengan pencopotan itu, dan di Jakarta dia berusaha mendekati banyak kalangan termasuk pejabat tinggi. “Ketika seorang pejabat negara mengadakan hajatan pernikahan anaknya, Pak Antasari bahkan bersedia dijadikan pagar bagus hanya agar kembali mendapat pos jabatan,” kata dia.
Lalu Antasari terpilih sebagai Ketua KPK pada Rabu malam, 5 Desember 2007. Melalui pemungutan suara langsung, sebanyak 41 anggota Komisi III DPR-RI malam itu memberikan suaranya kepada Antasari. Mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan itu, menyisihkan pesaingnya Chandra M. Hamzah. Ucapan selamat kepada Antasari dan tepuk tangan mengakhiri sidang para anggota dewan yang terhormat.
Tak Direstui
Terpilihnya Antasari sebagai Ketua KPK itu, tentu saja mengagetkan terutama bagi Kejaksaan Agung. Apalagi nama Antasari sebetulnya tidak direkomendasikan pihak Kejaksaan Agung. Calon yang disetujui oleh Kejaksaan Agung untuk maju sebagai Ketua KPK adalah Marwan Efendi, yang kini menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus. “Saya tak mau mengungkit-ungkit masa lalu,” kata Marwan.
Bersama Antasari, Marwan waktu memang maju dalam seleksi pencalonan Ketua KPK. Berbeda dengan Antasari yang berada di urutan ke-10, posisi Marwan berada di urutan lebih atas. Di urutan Sembilan ada Saut Situmorang yang kemudian mundur karena karirnya di Badan Intelijen Negara dipersoalkan banyak pihak. “Entah kenapa, Antasari kemudian masuk dalam lima besar,” kata sumber Koran Jakarta, yang pernah ikut seleksi ketua KPK.
Terpilihnya Antasari menjadi Ketua KPK sebetulnya tak terlepas dari kesuksesan Antasari “mendekati” banyak pihak. Sigid Haryo Wibisono ditunjuk ketua tim” kampanye” untuk pemenangan Antasari. “Banyak partai besar yang terlibat. Semua orang sudah tahu itu,” kata Boyamin Saiman, anggota advokasi kasus Nasrudin.
Belakangan ketika benar-benar terpilih sebagai Ketua KPK, sepak terjang Antasari malah mengejutkan orang-orang yang dulu memilihnya termasuk kalangan DPR, yang sebagian anggotanya justru dicokok oleh KPK, yang dipimpin Antasari. Sepak terjang seperti itulah, yang lantas menimbulkan ketidaksukaan banyak pihak terhadap Antasari.
Ketika Agus Condro melaporkan kasus suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom ke KPK, misalnya ketidaksukaan banyak pihak semakin menjadi-jadi. Antasari bahkan diancam segala. “Kalau kamu bongkar, kami akan bongkar juga kamu bagi-bagi duit waktu pemilihan Ketua KPK,” kata Boyamin.
Kamis 23 April silam, Antasari menerima Koran Jakarta di ruang kerjanya. Wajahnya tampak tenang. Di ruang kerjanya, tampak kamera pemantau, CCTV yang memantau semua kegiatan di lingkungan KPK. Dia menghindari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kasus. “Anda mau menyeret saya ke wilayah abu-abu,” katanya.
Setelah dinyatakan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung, tentu kini, orang-orang yang tidak menyukai Antasari, tak perlu lagi repot mencari celah menjatuhkan Ketua KPK nonaktif itu, seperti yang pernah dilakukan oleh enam pejabat, di ruang karaoke, Menara Thamrin, setahun lalu. adiyanto/ezra sihite/rusdi mathari/teguh nugroho

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 3 Mei 2009

Written by Me

May 6, 2009 at 1:59 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: