Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Tawa Ada Makna Curiga

leave a comment »

Ketika masuk kuliah pagi dulu ada kenangan soal tawa. Tepatnya tak ingat lagi semester berapa, tapi bagaimanapun momen ini masih segar dalam ingatan. Pukul tujuh tiga puluh pagi ada kuliah Sastra, telaah Drama Prancis. Mahasiswanya tak lebih dari sepuluh, maklum sudah menjelang semester akhir, maka jumlah mahasiswa terbagi ke pengutamaan yang berbeda-beda. Presentasi dari kelompok teman yang akan membawakan makalah sebuah drama klasik Prancis akan dimulai. “ Yah mengapa anda tertawa?” tanya dosen saya yang sering kami panggil Madame. Teman saya sedikit kaget. Memang dia terkekeh karena kalau tak salah ada urutan yang kurang tepat dalam makalahnya. Itu setelah pengajar ini menanyakan sesuatu. Sontak teman saya itu bingung menjawab. Dosen perempuan yang berusia menjelang lima puluh tersebut melanjutkan, “ Biasanya kalau tertawa itu kan ada kesan merendahkan atau menganggap remeh sesuatu atau orang lain,”. Barangkali dia menyangka dirinya ditertawakan. Padahal tidak sama sekali.

Tawa memang banyak maknanya dan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda di pikiran orang yang melihat wajah tawa dan derai tawa itu. Makin bertambah umur maka makin banyak pula pengalaman tawa. Bukan lagi seperti saat kecil, tertawa karena senang, kenyang dan  dampak mendengar dendang. Benar, orang bisa tertawa karena geli mendengar humor atau menonton komedi. Ada juga yang tertawa karena tak tahu berkata apa atau barangkali sinis. Kalau yang lain menebar tawa karena berbagi senda gurau, bukan tak mungkin juga sebagai pekikan simbol keberhasilan. Di satu sisi bisa karena terlalu sedih hingga tak mampu menangis dan adapula seperti kada dosen saya itu, sebagai bentuk meremehkan akan perkataan seseorang yang konyol atau mungkin dianggap tak masuk akal.

Di acara perayaan ada tawa. Ruang gedung pertunjukan juga bisa riuh akibat tawa oleh penonton yang tergelitik dengan tingkah pelakon. Tapi di rumah sakit juga tak jarang mereka tertawa, ini artinya tertawa itu bukan tergantung kewarasan atau tidak. Ini memang bagian hidup, setiap manusia punya itu, tak masalah mereka punya akal, sehat mental atau otak gagal. Milton Berle, bintang televisi, aktor dan komedian Amerika berkata, “ I live to laugh and I laugh to live,”. Intinya hidup dan tawa itu saling berkontribusi. Dengan hidup maka seseorang bisa bertindak tawa dan dengan tawa juga hidup ini lebih berwarna.

Sebagai cara membentuk pencitraan, tawa pun tak diragukan potensi keberhasilannya sebagai alat. Para selebritis mencoba tertawa di depan kamera sekalipun baru bercerai. Para pejabat tertawa menanggapi pertanyaan soal perkara korupsnya selain ada yang marah bahkan berang dengan wajah bagai ingin menelan para pekerja media. Para tokoh politik tertawa saat berjabat tangan dengan rival politik yang bisa sedang saling sikut di belakang. Seperti sekarang tawa lebar ketua KPUAbdul Hafidz Anshari misalnya, yang tak hilang dari jepretan foto-foto media sekalipun beribu keluhan dilemparkan ke komisi yang dipimpinnya itu. Masih muncul dengan tawa juga ketika banyak pihak merencanakan gugatan akibat tidak terdistribusinya Daftar Pemilih Tetap dengan baik sehingga membuat hamper setengah penduduk negeri ini kehilangan hak pilihnya. Dalam tawa bisa tersimpan semua rahasia, itu sebuah ungkapan. Saat seseorang dibebaskan dari dakwaan membunuh seorang aktivis pun, dia tertawa. Entah itu tawa kepuasan atau tawa penyesalan.

Dalam konsep yoga ada istilah tertawa tanpa alasan. Tawa tak harus dikarenakan adanya sensivitas humor, barangkali jika endorphin bekerja maka setelah segaris senyum tawa itu akan hadir. Atau bisa karena tertawa maka rasanya hangat merasuki urat-urat nadi. Bukankah memang tawa itu unik? Tak bisa digeneralisasikan, sensivitas orang jawa akan berbeda dengan etnis batak, itu semua bermuara pada kultur. Tertawa tanpa alasan tak mustahil menjadi sebuah terapi kebahagiaan kecil. “ Tawa itu bagai matahari yang mengusir salju dari wajah manusia,” kata Victor Hugo, sastrawan kenamaan Prancis abad 19. Sebegitu besarnya kah pengaruh tawa hingga dialegorikan sebagai mentari, satu-satunya benda antariksa yang mengeluarkan cahaya itu. Lalu Pablo Neruda berkata bahwa laughter is the language of the soul. Ada tawa atau tidak, bagaimana derail tawa dan kapan tertawa merepresentasikan sebuah jiwa, itulah yang bisa jadi ingin disampaikan politikus sekaligus sastrawan Amerika Latin kelahiran Chili itu. Tawa sungguh kompleks tak hanya dalam arti, dengan indra pendengaran dan penglihatan pun sejuta maknanya. Yang pasti tawa bukan harus sebagai kebahagiaan. Kegembiraan yang dalam justru sering diantar dengan bulir airmata, rasanya hangat di dada, sebuah sesak kebahagiaan. Tawa dan tangis bukan oposisi, keduanya bisa suka bisa duka.

Written by Me

May 27, 2009 at 4:52 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: