Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Drama Angka di Panggung Politik

leave a comment »

Mengaku sama-sama ilmiah tapi hasil beda.


Politik adalah panggung dengan drama dengan babak panjang. Lima tahun silam, pada Pemilu 2004, Susilo Bambang Yudhoyono berhasil menarik simpati karena berdiri pada posisi korban. Mantan menkopolkam itu mendapatkan ”momentum” ketika dikritik secara tajam oleh Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati, dan kemudian mundur dari kabinet. Dan pemilu 2009 sudah terlihat lagi skenario drama baru. Antara pihak-pihak yang dulu bersahabat sudah melepaskan rangkulan masing-masing dan mulai saling menyerang. 


Konstelasi tak banyak berubah. Tapi skenario politik sejak pemilu 2004 lebih kaya dalam metode, seperti kehadiran peran lembaga survey dan konsultan politik. Lembaga survei politik sering dicibir kesahihan ilmihanya, karena sangat tendensius, lebih melayani pesanan politik. Sering terjadi dalam waktu survei yang bersamaan, hasil riset dua lembaga survei menunjukkan hasil yang berbeda. 


Jejak rekam lembaga survei hakikatnya tak sepenuhnya kredibel. Kasus pemilu kepala daerah Jawa Barat bisa jadi contoh. Hampir semua lembaga survei mengunggulkan kandidat Agum Gumelar dan Danny Setiawan, namun fakta di lapangan, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf justru menumbangkan calon unggulan survei. 


Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani, penelitian lembaganya tidak selama untuk pemenangan dalam pertarungan politik. “Survei opini publik membantu mendekatkan keputusan-keputusan publik dengan aspirasi publik, dan elite mengetahui keputusan-keputusan yang kurang populer tapi harus dibuat sehingga perlu dijelaskan kepada publik secara luas,” kata Saiful. 


LSI adalah pionir dalam survei politik, didirikan oleh dua sahabat Saiful dan Denny Januar Aly pada 2003. Kala itu, Denny bertindak sebagai Direktur Eksekutif, sementara Saiful selaku Peneliti Utama. Nama LSI pun terus berkibar seiring dengan menangnya duet SBY-Jusuf Kalla dalam Pilpres 2004. Dalam pemilu yang pertama kali digelar secara langsung tersebut, lembaga ini juga memelopori pelaksanaan hitung cepat (quick count). 
Seiring waktu, LSI terus mengembangkan organisasi. Lingkaran Survei Indonesia pun didirikan yang kemudian dikomandani Denny. LSI Denny lebih bersifat untuk menampung proyek-proyek politik dari parpol atau elite. Sedangkan Lembaga Survei Indonesia dipimpin Saiful. LSI Saiful terfokus pada proyek non profit yang berasal dari lembaga donor. 


Di tengah jalan kedua sahabat sejak masih mengenyam ilmu politik di Ohio State University, Amerika Serikat ini bercerai, Denny JA mendirikan Lingkaran Survei Indonesia. LSI Denny kian menasbihkan diri sebagai surveyor sekaligus konsultan politik. Sementara, LSI Saiful tetap masih pada jalur semula.


Akronim keduanya yang sama-sama LSI memang sering membingungkan, apalagi hasil riset mereka yang sering bertolak belakang. Pada bulan Oktober 2007 silam misalnya, dua LSI itu sama-sama menakar tingkat popularitas SBY. Hasilnya cukup mencengangkan. LSI Denny melansir data popularitas SBY jatuh dan berada pada posisi 35,3 persen. Sedangkan LSI Saiful menyatakan SBY masih dalam posisi aman pada 54%. 
Terakhir pada survei terlawas yang dilansir keduanya juga menunjukkan perbedaan. LSI Saiful menempatkan Partai Demokrat di posisi pertama dengan 23%, diikuti PDIP 17,1%. Sedangkan LSI Denny menunjukkan hasil berbeda yakni PDIP di posisi pertama dengan 31%, dibayangi Demokrat 19%.
Kecenderungan LSI Denny yang bekerja untuk PDI-P terlihat dari kerja survei mereka dalam pemenangan pilkada di beberapa daerah. 


Wakil Ketua Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, mengatakan menyewa LSI Saiful untuk melakukan survei. Alasannya, Demokrat ingin mengetahui tingkat elektabilitas menjelang Pemilu 2009. “Kita minta kepada mereka (LSI) untuk survei di daerah ini, atau daerah sana, bahkan sekarang caleg (PD) juga komunikasi dengan LSI untuk mengetahui elektabilitas mereka bagaimana,” kata Mubarok.


Di mata Mubarok, data yang disampaikan LSI Saiful sangat obyektif. “Siapa yang memberikan data obyektif itu yang kita pilih. Lembaga survei semua datang ke Demokrat. Tapi kita pilih yang profesional dan mana yang tidak. Meski data itu merugikan Demokrat, tapi itu betul, nggak masalah,” tegasnya. “Kami uji mereka, dan kita tanya kenapa hasil surveinya begini dan setelah itu kita menemukan hubungan yang jelas, bahwa jika (elektabilitas) SBY naik, partai naik dan sebaliknya. Itu kelihatan korelasinya semuanya di data LSI.” 
Saiful Mujani mengatakan meski pesanan, lembaganya tetap bekerja secara profesional, berdasarkan kaidah ilmiah. “Soal hasilnya, itu terserah mereka. Kami hanya mengumpulkan data-data. Mereka mau pakai atau tidak ya terserah,” kata dia. Saiful menambahkan kehadiran lembaga survei adalah tradisi baru dalam demokrasi Indonesia. ”Padahal di negara-negara maju seperti Amerika dan Jerman, banyak lembaga survey, Bahkan, lembaga survey berperan juga sebagai konsultan politik. Dan itu sah-sah saja, asal tetap profesional dan dapat dipertanggung jawabkan kinerjanya,” kata Saiful.
Mengenai seringnya terjadi perbedaan hasil survei antara lembaga surve, Denny mengatakan perbedaan hasil adalah lumrah. “Kalau terminologinya sama, hasilnya juga harus sama,” kata dia. “Wajar bila lembaga survei dibiayai parpol tertentu. Asalkan, akurasi hasil dapat terus terjaga. “Klien saya saat ini cukup banyak, bukan hanya satu parpol saja,” kata Denny.
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu survei? Saiful mengatakan untuk survei nasional tergantuk jumlah responden. “Dengan 1.500 responden sekitar 500 juta rupiah,” kata dia. Pertambahan responden tinggal dikalikan secara proporsional saja- Adiyanto-Alfred Ginting

Dikutip dari Koran Jakarta edisi Minggu, 31 Mei 2009

Written by Me

June 3, 2009 at 2:10 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: