Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Ideologi Hanya Sebuah Permainan

leave a comment »

Ciri dari masyarakat yang insecure adalah paranoid.

WEB - 01

Bisa Dibilang Para Ekonom Yang Berada Di Belakang Pasangan SBY Boediono Adalah “Alumni” LPEM UI. Muhammad Chatib Basri, Mohamad Iksan, Adalah Mantan Pentolan Dari Lembaga Itu. Belakangan Nama Faisal Hasan Basri Yang Juga Pernah Menjadi Direktur LPEM, Disebut-Sebut Pula Sebagai Orang Yang Juga Bergabung Dengan Pasangan Itu, Meski Kemudian Dibantah Oleh Faisal. “Saya Belum Masuk Dan Tidak Mau (Masuk),” Kata Faisal.


style=”padding: 0px; margin: 0px;” />Di luar Chatib dan Iksan, tercatat pula nama Raden Pardede dan Lin Che Wei. Dua nama terakhir sama-sama pernah menduduki posisi puncak di PT Danareksa, BUMN yang bergerak di bidang jasa keuangan. Menurut Che Wei, alasannya bergabung dengan pasangan SBY Boediono, karena SBY dan Boediono adalah dua tokoh yang paling cocok dengan sudut pandangnya mengenai pengelolaan ekonomi di negara ini. “Kedua tokoh juga merupakan tokoh yang sangat well-respected oleh market dan masyarakat,” kata Che Wei.
Pendiri IRAI yang pernah bermasalah dengan beberapa dengan perusahaan itu juga mengaku belum ada tawaran untuk menjadi menteri. “Tidak ada tawaran untuk jatah menteri,” katanya.

Entah dari mana asal-usulnya, pasangan SBY Boediono dan tentu juga para ekonom di belakang mereka, kemudian dijuluki sebagai kelompok yang menganut paham liberal. Mereka dituduh lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi, berpihak kepada pasar, dan tidak berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat. Sebuah tuduhan yang niscaya kemudian dibantah oleh mereka.

Soalnya kata Chatib sederhana, tak pernah ada sebuah negara yang ekstrem, antara negara dan pasar. Jika semua diserahkan kepada negara, itu berarti marsis dan kreatifitas berkurang. Namun, ada hal-hal yang juga tidak sepenuhnya bisa dilakukan oleh pasar. Misalnya soal BLT, pasar tentu tidak mau. “Faktanya nggak pernah ada satu kebijakan yang murni negara, murni pasar, nggak ada,” kata dia.

Chatib bercerita dulu, ketika para ekonom yang disebut sebagai Mafia Berkely berkuasa di era 70-an, salah satu kebijakannya malah substitusi impor. Waktu itu, PT Krakatau Steel diperbesar skala produksi dan organisasinya. Begitu juga dengan Pertamina. Satu hal yang harus diingat, menurut dia, kebijakan itu sama sekali tak berhubungan dengan kepentingan ideologi ekonomi, melainkan karena dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. “Uangnya ada,” kata Chatib.

Hal yang sama terjadi pada tahun 2003. Ketika belum menjadi menteri, Aburizal Bakrie sebagai Ketua Kadin termasuk orang paling keras menentang kenaikan harga BBM yang dilakukan Presiden Megawati. Namun ketika dia menjadi menteri, harga BBM malah kembali dinaikkan. “Sederhana, karena kebijakannya memang tidak ada pilihan,” kata ekonom, yang akrab dipanggil Dede itu.

Di tengah hingar bingar persaingan capres/cawapres sekarang, Chatib karena itu menihilkan ada pertarungan ideologi ekonomi dari masing-masing capres/cawapres berikut tim ekonomi di belakang mereka. Siapa pun yang akan memerintah, kata dia, mereka akan dipaksa menjadi pragmatis. “Tidak ada ideologi. Itu tak relevan. Ideologi hanya permainan di sekolah, di dalam fakta itu tidak ada,” katanya.

Yang menjadi persoalan, kata dia, masyarakat terlalu terbiasa dengan teori konspirasi. Penyebabnya karena selalu gagal, selalu kalah. Dan tipikal orang-orang yang kalah itu adalah masyarakat melodrama. Akibatnya ketika bertemu dengan sesuatu yang riil, tidak percaya dan selalu dihubung-hubungkan dengan motif di belakangnya. “Setiap kali kita meneriakan hati-hati terhadap asing, itu berarti kita nggak yakin dengan ideologi kita. Itu ciri dari masyarakat yang insecure, paranoid,” kata Chatib. 
Beda dengan Chatib, Che Wei malah sama sekali tidak peduli dengan label neoliberal dan sebagainya. Baginya yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan penggunaan dari ilmu ekonomi yang dia miliki. Siapa tahu berguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Itu saja.
“Peranan yang kami berikan hanya memberikan input apabila diminta dan dibutuhkan saja,” kata Che Wei. N agus triyono/kristian ginting/sari handini

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu 31 Mei 2009

Written by Me

June 3, 2009 at 2:06 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: