Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Pertarungan Para Panglima Ekonomi

leave a comment »

Persoalan Ekonomi, Seperti Peningkatan Kesejahteraan, Pengurangan Angka Kemiskinan, Dan Masalah Pengangguran Pada Masa-Masa Pemilu Seperti Sekarang Memang Menjadi Isu “Seksi” Untuk Dijual.

web - WAP20080814_16

Mungkin Itu Sebabnya, Masing-Masing Pasangan Capres/ Cawapres Kemudian Merekrut Sejumlah Ekonom Untuk Menjabarkan Konsep Ekonomi Yang Menjadi Jualan Mereka.

Pemilu Presiden 2009, seolah momentum bagi para ekonom untuk menjual konsep selain tentu karena mengejar jabatan. Persoalan ekonomi, seperti peningkatan kesejahteraan, pengurangan angka kemiskinan, dan masalah pengangguran pada masa-masa pemilu seperti sekarang memang menjadi isu “seksi” untuk dijual. Mungkin itu sebabnya, masing-masing pasangan capres/ cawapres kemudian merekrut sejumlah ekonom untuk menjabarkan konsep ekonomi yang menjadi jualan mereka. Rizal Mallarangeng, Boediono, Faisal Basri. Tiga nama itu disebut terang-terangan oleh Iman Soegema sebagai antek neoliberal. Rizal, saudara kandung Andi Mallarangeng juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, bahkan disebut Iman sebagai salah seorang yang ikut bertanggung jawab terhadap masuknya perusahaan minyak asing, Exxon di Blok Cepu. “Sebulan setelah dia jadi negosiator Blok Cepu, dia malah dapat award dari Freedom Institute yang dibiayai Exxon,” ungkap Iman.

Padahal, menurut penilaian Iman, kehadiran Exxon itu sangat merugikan karena mereka seolah mendapat hibah. ”Gila, negara miskin menghibahkan sesuatu pada negeri kaya. Sinting itu, karena pada saat yang sama kita masih berutang. Padahal kalau dibeli masih dapat uang,” kata Iman. Ekonom lulusan Department of Economics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University yang kini merapat ke kubu Megawati-Prabowo ini, menilai sejak era Orde Baru hingga kini, perekonomian Indonesia selalu condong ke paham tersebut. Penyebabnya apalagi, kalau bukan karena para ekonomnya adalah penganut mazhab ekonomi neoliberal. Iman tak menampik, di zaman Megawati menjadi presiden juga banyak terjadi privatisasi BUMN. Namun yang harus diingat, saat itu ekonom di kabinet Megawati juga ditempati kaum neolib. “Boediono (kala itu menteri keuangan) kan neolib? Jadi dalam setiap rezim itu memang (selalu ada) neolib,” kata Iman. Hari-hari belakangan ini, isu ekonomi neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan memang menjadi jargon paling popular. Kedua istilah itu seolah sengaja dibenturkan dalam persaingan merebut singgasana pemerintahan dalam Pemilu Presiden 8 Juli mendatang.

Pasangan SBY-Boediono yang didukung partai Demokrat dan partai-partai menengah seperti PAN, PKS, dan PKB, dituding beraliran neolib. Pro pasar. Sementara dua kandidat lainnya, Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto sesumbar mengusung ekonomi kerakyatan dan kemandirian. Benar, persoalan ekonomi, seperti peningkatan kesejahteraan, pengurangan angka kemiskinan, dan masalah pengangguran pada masa-masa pemilu seperti sekarang memang menjadi isu “seksi” untuk dijual. Mungkin itu sebabnya, masing-masing pasangan capres/cawapres kemudian merekrut sejumlah ekonom untuk menjabarkan konsep ekonomi yang menjadi jualan mereka. Ibarat panglima perang, para ekonom itulah yang menyiapkan strateginya. Kontroversi Boediono Awalnya adalah ketika Yudhoyono memutuskan untuk memilih Boediono sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada Pemilu Presiden 2009. Boediono adalah orang yang pernah menduduki beberapa pos menteri sejak zaman Presiden B. J. Habibie hingga masa Yudhoyono berkuasa. Entah dari mana asal usulnya, kemudian menyeruak banyak penolakan terhadap Boediono. Masalahnya satu; Boediono dianggap sebagai antek Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan karena itu, dia adalah bagian dari ekonomi neoliberal. Selain beberapa elemen mahasiswa yang melakukan protes, sejumlah parpol yang menyatakan berkoalisi dengan Partai Demokrat, juga menyatakan keberatan mereka atas dosok Boediono.

Belakangan ketika SBY mengundang pimpinan tiga partai koalisi bertandang ke istana, persoalan kemudian dianggap selesai. Bahkan, PKS yang semula paling keras menolak Boediono, para petingginya ternyata juga ikut hadir di acara deklarasi pasangan SBY Boediono, di Sabuga, Bandung. Pada saat deklarasi di Bandung itu, Boediono sebetulnya juga sudah menjelaskan beberapa argumen dan posisinya. Kata dia, perekonomian Indonesia, tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pasar bebas. Perlu intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil. Nah alat untuk melakukan intervensi itu adalah negara meski menurutnya, negara juga tidak boleh terlalu ikut campur tangan. Isu ekonomi neoliberal akan tetapi lebih cepat menyebar ketimbang penjelasan Boediono dan dia tetap dianggap sebagi antek neolib. Label itu kemudian seolah dimanfaatkan para saingan Yudhoyono dalam pemilu kali ini, untuk menawarkan konsep ekonomi yang berlawanan, kerakyatan dan kemandirian itu. ”Padahal semua itu nggak jelas. Tunjukkan pada saya, negara mana yang betul-betul menganut paham neolib dan juga betul-betul murni kerakyatan. Semua itu nggak ada,’’ kata Faisal Hasan Basri, ekonom yang dianggap Iman sebagai antek neolib. Baik Iman dan Faisal, sebelumnya pernah aktif di Indef, lembaga riset dan kajian ekonomi. Faisal boleh jadi benar.

Namun Hendri Saparini punya pendapat lain. Menurut ekonom dari Econit itu pertentangan antara ekonomi neoliberal dan kerakyatan sangatlah nyata. Misalnya menyangkut Konsensus Washington, yang lebih mengedepankan liberalisasi, privatisasi dan stabilitas makro. Konsensus itu berbeda dengan paham ekonomi kerakyatan yang masih memandang perlu ada campur tangan negara. Boediono menurut Hendri adalah sosok ekonom yang saleh pada Konsensus Washington. Dia juga merupakan bagian dari Mafia Berkeley; yang selalu mendukung privatisasi dan sangat pro pasar itu. Dan itu bukan sesuatu yang baru, karena pemerintahan Yudhoyono menurut Hendri memang cenderung pro pasar. “Bahwa memang ada pertumbuhan ekonomi enam persen atau tujuh persen tapi kesenjangan masih saja ada di situ. Kalau tidak percaya, bisa dilihat di Amerika latin,’’ kata Hendri. Idealisme vs Jabatan Mengapa para ekonom itu saling tuding seolah mereka yang kini bertarung dalam Pemilu Presiden 2009? Lien Che Wei yang bergabung dengan tim SBY Boediono mengaku memilih Yudhoyono karena diangap orang yang paling cocok mengelola perekonomian di negara ini. Kedua tokoh tersebut juga merupakan tokoh yang sangat well-respected oleh pasar dan masyarakat. Che Wei juga mengaku bergabungnya dia dengan tim SBY Boediono bukan karena dijanjikan jabatan. “Saya tidak dijanjikan apa-apa. Lagi pula saya juga pernah masuk lingkar kekuasaan di awal tahun 2004-2007. Ketika saat itu saya menjabat staf khusus Menko Perekonomian dan juga staf khusus Meneg BUMN disamping menjabat sebagai salah satu Dirut BUMN – Danareksa,’’ kata Che Wei melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada koran ini. Iman yang mendukung Mega-Pro, mengaku, konsep ekonomi kerakyatan yang diusung pasangan tersebut sejalan dengan pikirannya. Iman yang semula menjadi dewan pakar PKS bergabung dengan Mega Institut sejak Desember tahun lalu. Dia menampik tuduhan, bergabungnya dia ke kubu Mega-Pro lantaran karena diiming-iming jabatan atau untuk mencari jalan masuk ke lingkar kekuasaan.

Namun menurut Ikhsan Modjo, rekan Iman di Indef— seniornya itu bisa saja kelak menjabat sebagai menteri, jika Megawati terpilih sebagai presiden. Masalahnya satu, peluang itu tak akan didapat bila bergabung dengan PKS. “Ya bisa saja karena PKS kan partai tertutup, walau deklarasinya partai terbuka. Mau seperti apa saja, PKS itu tetap partai kader,” kata Ikhsan. Menurut Hendri, sebetulnya amat disayangkan jika pertarungan para ekonom itu kemudian bukan lagi dalam tataran adu konsep, melainkan karena ada ambisi pribadi yang ingin dicapai. “Wah, jika itu benar saya sedih. Karena bagi saya, ini perjuangan yang sudah dilakukan puluhan tahun,’’ ujarnya. Mestinya kata dia, para ekonom bertarung dengan konsep, karena pesoalan yang lebih besar sedang berada di depan mata yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kata dia selama pelaksanaan perekonomian masih seperti sekarang, Indonesia tidak akan pernah maju dan sejahtera.

Oleh karena itu, menurut dia, pertarungan para ekonom itu mestinya pada paradigma ekonomi, terlepas apakah nanti mereka memang bisa melaksanakannya seratus persen atau tidak. Paling tidak garisnya akan berbeda. Dia lalu membandingkan antara ketiga pasangan capres/cawapres. Kalau SBY yang menang, arah kebijakan ekonominya sama saja. Sebaliknya kalau JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo mungkin agak berbeda. “Tugas saya hanya mengkritisi dan memberi masukan. Jadi saya tidak perduli siapa yang menang. Yang jelas asal bukan neolib. Indonesia tidak bisa lagi dibawa seperti itu (neolib),” kata Hendri.adiyanto/agus triyono/ezra sihite/kristian ginting/rizky amelia/teguh nugroho

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 31 Mei 2009

 

adiyanto/agus triyono/ezra sihite/kristian ginting/rizky amelia/teguh nugroho

Written by Me

June 3, 2009 at 2:01 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: