Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Sylviana Murni : Nikmatnya Jadi Walikota

leave a comment »

Perempuan Ini Tak Mau Menjadi Pejabat Yang Dibatasi Oleh Dinding-Dinding Jabatan Dan Kekuasan.

web- WAP20090525_12

Pernah menjadi None Jakarta, aktif berorganisasi, mengajar di beberapa perguruan tinggi, perempuan ini lalu menjadi walikota pertama di Jakarta. 

Sejak bergabung di Facebook, Sylviana Murni bisa dibilang tak pernah lepas dari blackberry, alat komunikasi yang sekarang banyak digandrungi orang. Senin siang pekan lalu, ketika ditemui di kantornya di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Bu Walikota ini terlihat sibuk dengan alat komunikasi itu. 

Mengaku mengenal internet sejak awal 90-an, menurut Sylvana internet bisa mengikis kesan birokrat yang berbelit-belit dan sulit dihubungi. Sebagai walikota, dia, karena itu terbuka menerima pesan dan laporan melalui surat elektronik, Facebook, blog dan juga SMS itu. Lewat cara itu dia berharap masyarakat menganggap dirinya, sebagai bagian yang bisa mengatasi masalah kota mereka.

Lewat blackberry itu pula, kata Sylviana, setidap hari dia banyak menerima surat elektronik dan pesan singkat, SMS. Sehari, bisa ada 50 hinga 100-an SMS, dan email yang diterimanya. Isinya macam-macam. 

Pengaduan sudah pasti. Namun banyak pula pujian. “Emang kenapa kalau pejabat di-SMS, kan nggak apa-apa? Gampang kan? Justru bagus karena laporan langsung dari masyarakat, nggak pakai rekayasa dan asal bapak senang?” perempuan asli Betawi ini.

Senin siang itu, Sylviana mengaku menerima pengaduan soal pembangunan panggung kampanye yang mengganggu ketertiban di daerah Menteng. Ada laporan soal kaki lima yang sudah ditertibkan di Lapangan Banteng. “Kadang laporan masalah banjir, kebakaran. Jadi tantangan untuk menyelesaikannya,” kata ibu dua anak dan seorang cucu itu. 

Menjadi pejabat publik seperti Sylviana, seringkali memang dihadapkan pada persoalan yang dilematis. Bukan hanya harus siap dimaki, dia sering pula mesti siap dianggap tak berpihak kepada warga. Dia lalu bercerita soal penggusuran pedagang buku Kwitang, di persimpangan Pasar Senen, April tahun silam.

Saat digusur, seorang pedagang menganggap Sylviana sebagai orang yang tak mengenal bangku sekolahan sehingga tak mengerti arti penting buku dan tega menggusur pedagang buku. Dia lalu memilih berdialog dengan para pedagang di sana. Kepada mereka dijelaskan, dirinya tak pernah lupa, dari salah satu kios buku di Kwitang itu, dia pernah mendapatkan buku yang dia cari-cari dan tak didapatinya di banyak toko buku lain di Jakarta. 

Lalu kepada para pedagang itu, Sylviana menjelaskan tidak mungkin pihaknya meminta mereka pindah tanpa menyiapkan solusi terlebih dahulu. Pihaknya kata Sylviana telah menyiapkan tempat di Blok I, lantai 2 dan 4, Pasar Senen. Kios-kios itu semuanya ber-AC. Para pedagang diberi waktu dua tahun menempati tanpa membayar uang sewa alias gratis. 

Soal pelanggan, kata Sylviana, para pedagang toh tetap bisa menambahkan di papan nama kios mereka dengan tulisan “Eks-Kwitang.” Apalagi sosialisasi melalui spanduk dan internet juga dibantu oleh pihaknya. “Namanya tempat baru nggak bisa langsung rame, tapi lama-lama akan seperti Kwitang. Lah daripada tramtib grubuk-grubuk, buku jatuh berantakan?” kata Sylviana.

Pertama


Sebagai walikota, Sylviana mengerti betul, pentingnya dekat dengan warga, tokoh masyarakat di wilayah yang dipimpinnya. Tak jarang dia memberi pujian kepada lurah, petugas RT, camat dan pegawai yang mengerjakan tugasnya dengan baik. Prinsip yang dia pegang, kalau orang tidak melakukan tugas, yang bersangutan wajar jika diberi sanksi. Sebaliknya kalau sudah bekerja dengan baik, mereka juga layak mendapat dipuji. Dan itu baginya cudah cukup, karena penghargaan menurutnya tak harus berupa uang.

Prinsip lain yang dia pegang, tak mau menjadi pejabat yang dibatasi oleh dinding-dinding jabatan dan kekuasan. Pintu rumahnya, karena itu selalu terbuka bagi pegawainya yang tersebar di sembilan kecamatan di Jakarta Pusat. Cara lainnya, dia menggelar pengajian rutin setiap bulan. Tempatnya bergiliran di tiap-tiap kecamatan.

Lewat acara itu, Sylviana bisa bersosialisasi langsung dengan warga dan aparaturnya. Misalnya masalah pemilahan sampah dan pembudidayaan tanaman sansevieria yang awam disebut lidah mertua. Tanaman ini memang berfungsi menyerap lebih dari seratus jenis polutan dan menetralisirnya. Itu sebabnya perempuan ini sedang getol-getolnya mengkampanyekan budi daya tanaman lidah mertua tersebut. 

“Dengan mendekatkan diri kepada masyarakat maka mereka bisa melihat bahwa kita adalah bagian yang mungkin bisa menyelesaikan segala permasalahan kotanya,” kata Sylviana.

Sylviana resmi menjadi Walikota Jakarta Pusat, sejak 1 April 2008. Dia perempuan pertama di DKI Jakarta yang menjabat sebagai walikota. Sebelumnya, dia adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta. Kini setahun menjabat walikota, Sylviani paham, jabatan itu adalah amanat yang luar biasa. “Saya diberikan kesempatan emas, jadi ini saatnya untuk beres-beres,” kata perempuan itu tertawa. 

None Jakarta 


Yang kemudian tak banyak diketahui orang dan mungkin para pegawainya, Ibu Walikota ini, pernah menjadi None Jakarta 1981. Itu adalah ajang perebutan gelar perempuan istimewa tingkat DKI Jakarta. Selain harus cantik, pesertanya juga harus memiliki kepribadian dan kecerdasan. Dan Sylviana, terpilih sebagai None Jakarta karena semua kriteria itu.

Perempuan berusia 51 tahun ini juga tercatat sebagai salah satu pendiri Persatuan Wanita Betawi yang berdiri pada tahun 1984. Ini merupakan wadah bagi para perempuan Betawi untuk bisa lebih aktif berperan di masyarakat. Lalu apa pandangan Sylviana terhadap perempuan Betawi? 

“Perempuan Betawi itu tawaddu’ (taat) kepada suami. Sosok suami dipandang sebagai wakil Tuhan sehingga istri akan sangat hormat pada suami,” katanya.

Dan sebagai perempuan Betawi, Sylviana memegang teguh prinsip itu. Dia misalnya, masih menyempatkan diri sekadar menyediakan minum dan memasak untuk suaminya. Bersama sang suami, seringkali dia berbelanja di pasar Pondok Kelapa, Cikini atau Pasar Senen. 

Sylviana mengaku, dia termasuk orang yang beruntung, karena sang suami sama tak melarang perempuan ini berkarir. Punya anak tak membuatnya membatalkan rencana mengayunkan langkah pertama sebagai pegawai negeri sipil. “Suami saya orang yang paling berpengaruh dalam setiap hal yang tercapai selama ini,”.

Awalnya mereka sama-sama pegawai negeri, namun sang suami yang kemudian melihat potensi Sylviana besar sebagai pegawai negeri sipil, membuat pria itu mengundurkan diri lalu meniti karir di sebuah perusahaan swasta asing. “Kata suami saya, mama nggak jelek-jelek amat, kalau nanti tidak membuktikan kinerja dengan otak maka orang bisa mikirnya macem-macem,” ujar Sylviana.

Dorongan suami itulah, yang membuat Sylviana tak mau berhenti belajar dan membuktikan bahwa dia benar-benar profesional dalam bekerja. Selain tercatat sebagai penyandang gelar S2 dan S3, Ibu Walikota ini juga melengkapi diri dengan berbagai bacaan dan mengikuti banyak seminar dan pelatihan “Waktu saya melanjutkan sekolah yang benar-benar mendukung suami,” katanya. 

Kini sebagai orang nomor satu di Jakarta Pusat, Sylviana meyakini, berumahtangga tak harus memampatkan karir. N ezra sihite



Cinta Ayah dan Mengajar


“ Kalau boleh saya ingin mengajar hingga akhit hayat.” 

Di tengah kesibukannya sebagai Walikota Jakarta Pusat, tak membuat Sylviana absen mengajar. Kadang Sylviana diundang membawakan kuliah umum di Universitas Indonesia, sering pula dia terlihat mengajar di Universitas Negeri Jakarta, kampus almamaternya dan UHAMKA. Sekalipun mengajar benar-benar menguras pikiran, menurutnya dia tak mau setengah-tengah melakukannya. “Saya selalu melakukan persiapan beberapa kali dan menantang mahasiswa saya untuk berdiskusi dari apa yang sudah mereka baca,” katanya. 

Nyatanya tantangan Sylviana di kelas yang diajarnya tak membuat para mahasiswa ciut bahkan banyak yang mengatakan ingin ikut kelas yang dia ajari. Sylviana akan tetapi tak hanya menantang para mahasiwanya untuk berdiskusi melainkan juga diposisikan sebagai teman. Sering misalnya, dia mengundang para mahasiswanya untuk berkunjung ke rumahnya di Bogor, menciptakan suasana kuliah yang santai tetapi tetap membiacarakan seputar topik perkuliahan. “Lauk yang biasanya saya sediakan ya ala mahasiswa saja, ikan mas goreng, lalapan, tahu tempe, emping atau keripik dan sambal,” katanya. 

Saat menjabat Kepala Dinas Pendidikan Dasar, Sylviana memang dikenal memerhatikan tingkat kesejahteraan guru di Jakarta. Selama periode kepemimpinannya di dinas tersebut, beberapa kali nominal gaji guru dinaikkan hingga dua setengah juta rupiah. “Saya sampai seperti ini kan karena guru dan anak-anak saya bisa sekolah tinggi juga karena guru,” itu alasan ibu walikota. 

Selain meningkatkan kesejahteraan guru yang paling harus dibidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah fasilitas belajar seperti ruang belajar yang nyaman dan kondusif dan buku-buku pelajaran yang bagus dan relevan. Perempuan itu juga menganggap kegiatan organisasi selain edukasi formal tak kalah penting. “ Itu justru the first university karena di sana belajar bagaimana bersosialisasi dan berani berbicara menyampaikan pendapat,” kata Sylviana. 

Sejak SMP, dia memang sudah aktif di Karang Taruna. Lalu semasa di sekolah aktif di OSIS dan berlanjut di Senat saat mahasiswa. Dia berkisah soal ayahnya yang sengaja memberikan salah satu ruang di rumah sebagai kantornya saat SMA. “Aku happy banget saat itu, jadinya sekretariat OSIS dan teman-teman suka datang,” katanya.

Bagi Sylviana dan juga saudara-saudaranya yang lain, sang ayah memang menjadi idola. Sylviana bercerita, pernah ketika dia remaja, Sylviana dan saudara perenpuannya yang lain diajak sang ayah ke tempat-tempat hiburan di Jakarta, diskotik, pub dan tempat judi. Saat itu mereka ke daerah Ancol dan Kuningan. “Ayah saya menjelaskan itu tempat apa dan kalau ke sana harus benar-benar sadar dan jangan sampai mabuk, karena ada hotel di atas, kala tak sadar, apapun bisa terjadi sehingga sebagai perempuan harus hati-hati,” kisahnya. 

Lalu di tempat judi, Sylviana diijinkan mencoba peruntungan. Dia meraup kemenangan, uangnya menjadi hampir 10 kali lipat. Di saat girang itu, sang ayah kemudian menyuruhnya membagi-bagikan uang hasil judi kepada satpam dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Kata sang ayah, mereka harus kembali dengan jumlah uang yang sama seperti mereka datang. “Kalau kamu lama-lama di sini kamu nggak akan berhasil,” begitulah pesan sang ayah.

Bagaimana dengan sosok ibu. “Ibuku itu hormat pada ketegasan suami tapi dia bisa menjadi tempat curhat anak-anaknya” katanya. Nzra

Dikutip sepenuhnya dari KoranJakarta edisi 31 Mei 2009

Written by Me

June 3, 2009 at 2:14 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: