Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Yang Muda Yang Berpantomim

leave a comment »

Pegiat Pantomim Di Indonesia Bahkan Bisa Dihitung Dengan Jari Tangan. Rendra, Dedengkot Teater Di Indonesia Menyebut Pantomim Sebagai Seni Bercerita Dengan Gerak Semata Yang Menjadi Dasar Pertunjukan Teater. Bukan Kebetulan Belaka Sekelompok Anak Muda Di Jogyakarta Malah Mendirikan Bengkel Teater Pantomim, Mirip Bengkel Teater Yang Didirikan “Si Burung Merak”.

web- BSA2009040311
Istilah pantomim berasal dari bahasa Yunani yang artinya serba isyarat. Berarti secara etimologis, pertunjukan pantomim yang dikenal sampai sekarang itu adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Pertunjukan itu bahkan bisa sepenuhnya tanpa suara apa-apa. Jelasnya, pantomim adalah pertunjukan bisu.

Kebisuan pantomim sejalan dengan terpinggirkannya kesenian ini, setidaknya di Tanah Air. Baik dari hiruk pikuk pertunjukan maupun peminatnya. Pegiat pantomim di Indonesia bahkan bisa dihitung dengan jari tangan. Dulu ada Septian Dwi Cahyo, anak muda di tahun 80-an yang suka berpantomim. Namun, ia belakangan lebih banyak bergiat di industri film. Begitu pun dengan Sena A Utoyo dan Didi Petet. Satu-satunya senian pantomim yang masih aktif menggelar pertunjukan hanyalah Jemek Supardi asal Jogyakarta.

Tinimbang Jakarta, Jogyakarta sebagai salah satu kota satelit kebudayaan banyak memiliki stok seniman penerus Jemek. Salah satunya mereka yang tergabung di Bengkel Teater Mime. Bengkel teater pantomim ini genap berusia lima tahun pada Mei nanti. Dan mereka merencanakan menggelar pertunjukan.

Dari pergulatan dengan pantomim, Ari Dwinato (sutradara), Andy Sri Wahyudi (penulis naskah), Asita. Pingky Ayako Saputro, Ficky Tri Sanjaya, dan Hambar ‘Gigon’ Riyadi, telah melahirkan sembilan karya. Di antaranya : Langkah-langkah, Suspect Datangmu Terlalu Cepat, Romantika Daun Pisang, Jalan kenangan,dan SuperYanto. Yang hebat, nomor-nomor yang mereka pentaskan selalu memberi kemungkinan baru pada seni pertunjukan pantomim. Meski mengaku pantomim adalah basis dari kesenian mereka, kelompok ini relatif cair terhadap pengaruh dari bentuk-bentuk kesenian lain. “Itulah salah satu alasan kenapa kami gunakan diksi teater di belakang mime,” kata Andy SW, pimpinan kelompok ini mewakili teman-temannya. “Bahwa pantomim kami juga memungkinkan menggunakan naskah yang runut, musik yang kuat dan tata lampu yang baik..alur yang mirip dengan teater..” tambah Andy.
Benar memang, kebanyakan orang mengerti pantomim dalam bentuknya yang paling awal yang kemudian menjadi sebuah pakem pantomim konvensional. Ditandai dengan ciri-ciri : pertujukan cenderung lengang, tanpa set, dan miskin properti, tanpa karakter jelas dan juga sengaja dibuat datar ekspresinya dengan melumuri wajah dengan singuid (pemutih).

Joned Suryadmoko, sutradara teater Gardanala Jogjakarta membuat catatan menarik tentang salah sebuah pementasan Bengkel Mime beberapa bulan silam, yang berjudul Aku Malas Pulang Ke Rumah :
“Yang saya lihat dalam pentas ini memang sebuah pementasan yang tidak melulu pantomim. Kecerdasan Bengkel Mime mempertemukan pantomim dan seni pertunjukan lain seperti teater, tari dan lain-lain saya catat sebagai inovasi paling besar yang mereka lakukan.”

Di lakon ini, sepanjang satu jam penonton disuguhi pentas pantomim yang mendekati teater realis. Ada salesman bernama Buchori yang merefleksikan susahnya orang kecil di kota. Gerak-gerak pantomimnya juga berangkat dari gerak sehari-hari. Elemen konseptual realis seperti (akting, ruang, dan waktu) nampaknya juga mendapatkan perhatian khusus oleh Bengkel Mime sehingga Malas menjadi media bertemunya tubuh (salesman, orang-orang kota) dan ruang (kota itu sendiri). Konflik yang jelas sehari-hari ini berhasil dibingkai oleh Bengkel Mime dengan detil-detil akting pantomim, setara dengan permainan realis dalam drama konvensional. Tak berhenti pada pagar konvensi, Bengkel Mim meneruskan tabrakannnya ke wilayah penyutradaraan yang cenderung mendampingkan keseharian dan khayalan lengkap dengan setting dan properti, yang sekali lagi hal ini tak dirambah oleh pantomim konvensional.

“Untuk eksplorasi ini Bengkel Mime seperti membuka lahan baru bagi pengembangan pantomim, “ demikian kesimpulan Joned.
Mereka tak hanya rutin melakukan latihan untuk proses pertunjukan yang sedang digarap, tapi juga memiliki kelas bahasa asing. Gigon, panggilan akrab untuk Hambar Riyadi, manajer Bengkel Teater Mime, mendapat mandat khusus belajar manajerial organisasi dan keuangan. Untuk soal ini, Gigon banyak belajar pada Mbak Reni, manajar Teater Garasi Jogjakarta- sebuah kelompok teater yang dianggap maju secara gagasan maupun manajemen organisasi-.
“Kami ingin, kelompok kami bisa punya daya tahan secara gagasan maupun sebagai organisasi kesenian modern” kata Inyong.
Tahun lalu, mereka menjadi fasilitator workshop pantomim oleh seniman Prancis Philipe Bizzot, Bizzot menyarankan bengkel teater ini untuk pentas tidak hanya di panggung tapi mendekati penonton. Di kafe atau di jalan-jalan, misalnya. Menurut Fiki, mereka sudah mengagendakan itu, tetapi hari-hari ini mereka sedang menyiapkan pentas bulan depan, judulnya Album Foto Yang Berserakan. Adiyanto/Eko S Putro
Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu ( 31 Mei 2009 )

Written by Me

June 3, 2009 at 2:20 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: