Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Cinta Centhini

with one comment

Perempuan Eropa yang jatuh cinta pada suluk Jawa, menerjemahkannya, lalu mencintainya.



Dari namanya Elizabeth D. Inandiak jelas bukanlah orang Indonesia, apalagi orang Jawa. Perempuan ini orang Prancis. Kepada Elizabeth akan tetapi jangan ditanya soal Indonesia apalagi soal Jawa, karena bahkan orang Jawa yang mengaku paling Jawa sekali pun pengetahuannya tentang Jawa bisa tak ada apa-apanya dibandingkan Elizabeth.

Benar, Elizabeth memang tergila-gila dengan Jawa, budaya dan kesusastraannya. Dialah perempuan nonJawa dan nonIndonesia itu, yang kali pertama menerjemahkan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras-Amongraga. Kitab itu ditulis oleh para pujangga di lingkungan Keraton Surakarta dan diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV, pada 1742. Isinya semacam pengetahuan umum tentang masyarakat Jawa, entitas yang tak serta merta menerima “teks besar” Islam melainkan melalui sebuah penyesuaian.

Kitab itu aslinya ada 12 Jilid dan halamannya berjumlah 4.000. Oleh Elizabeth diringkas hanya menjadi 400 halaman meski dia tetap menyertakan 722 pupuh yang terdapat dalam Centhini. Alasan Elizabeth, 722 pupuh itu bukanlah pelengkap melainkan berfungsi sebagai ruh cerita Chentini yang penuh dengan mistis, religius, konflik sosial-politik, juga seks itu.

Salah satu cerita Centhini yang terkenal adalah kisah tentang kegelisahan Sultan 
Agung terhadap Sunan Giri. Pemimpin agama yang bermukim di Cirebon itu tak bersedia tunduk pada Mataram. Sultan Agung akhirnya menyerbu Cirebon dengan mengirim Pangeran Surabaya. Tak ada yang tersisa dari Keluarga Sunan Giri, kecuali anak sulungnya yang bernama Amongraga. 

Dia kemudian mengembara mencari dua adik perempuannya yang hilang setelah penyerbuan Mataram. Kisah pengembaraan Amongraga termasuk kisah percintaannya itulah yang membuat Elizabeth jatuh hati kepada budaya Jawa. Menurutnya nilai-nilai kemanusiaan dalam budaya Jawa dalam kitab itu, dibicarakan penuh dengan simbol. 

Elizabeth menghabiskan waktu tujuh tahun untuk membaca dan kemudian menerjemahkan teks Centhini. Awalnya teks itu dia terjemahkan ke dalam Bahasa Prancis. Lalu belakangan, Centhini juga bisa dinikmati dalam Bahasa Indonesia, setelah Elizabeth meminta bantuan Sunaryati Sutanto, agar menerjemahkannya dari Bahasa Prancis ke Bahasa Indonesia. Judulnya Kekasih yang Tersembunyi.

Elizabeth akan tetapi tak hanya tertarik pada Centhini. Dalam waktu dekat perempuan ini juga berniat menuliskan ulang beberapa kitab Jawa kuno, termasuk karya Ronggo Warsito. Sebelumnya dia juga dikenal banyak menerjemahkan novel-novel karya sastrawan Asia. Antara lain Fables karya Tan Swie Hian dari China, Saman (Ayu Utami). Sebuah lagi yang akan segera rampung adalah Putri China, novel karya Sindhunata.

Sebagai pencinta Elizabeth pun menulis beberapa esai soal sastra dan budaya. Bukunya yang The White Banyan juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Lahirnya Kembali Beringin Putih (1998). Tahun ini dia akan menyelesaikan penulisan buku Ma vie Balagan, buku biografi Marceline Loridan-Ivens, perempuan Prancis keturunan Yahudi Polandia yang dideportasi ke Auschwitz-Birkenau pada masa PD II. Bukunya yang lain yang juga akan segera terbit adalah Atisha, berkisah tentang seorang guru besar Buddha.

Kebatinan Islam


Elizabeth datang ke Indonesia sekitar 21 tahun yang lalu. Tujuannya satu: mencari tahu soal Islam dan kebatinan. Awalnya dia mendatangi H. M Rasjidi, yang pernah menjabat sebagai menteri agama di zaman Soekarno—yang pernah menulis disertasi tentang Centhini dalam Bahasa Prancis pada tahun 1956. Saat itu memang sedang terjadi perdebatan, apakah kebatinan akan dimasukkan atau tidak sebagai agama resmi negara. Tak puas hanya mendapatkan ilmu dari satu pihak, Elisabeth mendatangi Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang kemudian memberinya informasi seputar masyarakat Jawa dan ajaran sufi. 

Tak banyak yang diketahui Elizabeth perihal Centhini. Pada tahun 1991, setelah melahirkan putri satu-satunya, dia mulai mempelajari Le Carrefour Javanais karya Denis Lombard, antropolog yang pernah mengadakan studi tentang Jawa. Buku itu berisi esai sejarah global, di dalamnya terdapat dua lembar ringkasan yang menyinggung sedikit soal serat Centhini yang disimpulkan sebagai penggambaran seseorang yang tak puas. 

Keingintahuan itulah yang lebih memacunya untuk menerjemahkan karya klasik Jawa itu. Kesempatan itu datang, ketika Elisabeth memilih menetap di Indonesia, tepatnya di salah satu kawasan di Sleman, Yogyakarta. Jawa memang telah merenggut hati Elizabeth. Mungkin menyihirnya.

Menetap di Jawa baginya seolah melompati terowongan waktu menuju ke masa kecil, di Lyon, Prancis: masyarakat yang masih erat dengan kepercayaan dan makhluk khayalan seperti yang sering diceritakan sang nenek, dulu saat Elizabeth masih kanak-kanak.

Tapi Lyon bagi Elizabeth adalah kota yang murung. “Kota itu jauh dari laut sehingga kehilangan keceriaan, untunglah masih ada satu sungai yang batu-batunya dulu digunakan bangsa Romawi untuk mendirikan teater dan gelanggang pertunjukan,” katanya. 

Itu kata Elizabeth, berbeda dengan Jawa. Sebuah tempat di dunia, yang telah menyihir dirinya dengan berbagai mitos dan legenda. Cerita-cerita itu kata dia tersimpan dalam karya-karya sastra Jawa dan secara simbolik tergambar dalam praktik-praktik budayanya. Kenangan sang nenek memang begitu tertanam di memori ibu satu anak ini, saat lampu dipadamkan dan cahaya dari luar memantul di dinding, dia masih ingat neneknya yang kerap membuat bayangan-bayangan tangan di dinding untuk menarik perhatian sang cucu, begitu dikisahkan perempuan ini tentang neneknya. 

Menepi di Pantai


Perempuan yang menguasai Bahasa Inggris, Indonesia, Jepang, Jerman dan Rusia ini memang menyukai pengembaraan. Sebelum ke Indonesia, Elizabeth sempat menetap di India selama setahun. Dia pula pernah bermukim di Jerman dan Amerika Serikat. Lalu di Indonesia itu, sudah banyak tempat yang dikunjunginya, selain tentu saja Jawa.

Pengalaman yang membuatnya tak henti mengingat ketika dia juga terlibat sebagai relawan di Aceh, kala tsunami menelan wilayah itu. Dia turun langsung, mengangkat mayat-mayat basah yang tercecer di jalanan, atau membusuk di tepi laut. “Kalau biasanya air digunakan untuk wudu, membersihkan diri sebelum beribadah, di Aceh saat itu, air justru menimba segala sampah duniawi, mengantarkannya ke permukaan bumi,” kata Elizabeth. 

Mengaku sudah menulis syair sejak kecil, Elizabeth merasa tak ada resep istimewa untuk memelihara kreativitas dan menumbuhkan inspirasi. Kalaulah ada, itu tak lain karena dia tak mau dibelenggu rutinitas. Dia akan tetapi lebih memilih senja, atau malam yang gelap untuk menuliskan pikiran-pikirannya. “Tak pernah saya mengalami rutinitas karena hidup saya selalu berubah dan dalam proses kreatif, hiduplah pada saat ini, tanpa memikirkan masa lampau atau masa depan dalam rasa syukur,” tambahnya. 

Kini di rumahnya di Sleman itu, Elizabeth mengenang Aceh yang malang meski yang dirindukan adalah ombak samudra Indonesia itu. Sering kali dia lalu menepi ke pantai Laut Selatan, Parangkusumo. Hampir setiap Selasa malam, ketika pantai itu ramai dengan pasangan yang meluncah, Elizabeth memilih sendiri ke ujung pantai. Mendengar debur ombak dan suara angin, ditemani pasir hitam. 

“Saya menutup mata dan kembali mengingat-ingat nostalgia awal perjalanan ke Jawa,” katanya. Tempat di ujung dunia, yang telah membuatnya jatuh cinta dan menahannya untuk tidak beranjak. ezra sihite Kerohanian yang terlalu tinggi dan syahwat yang terlalu bejat telah menghalangi penerjemahan suluk ini.

Kitab Centhini tak hanya menarik dari unsur sejarah yang ditulis di dalamnya, tapi bagi Elizabeth yang lebih penting adalah yang disampaikan di dalamnya melalui serat atau teks-teks itu. Di dalamnya, Centhini mengisahkan detail mulai soal mistis, religius, konflik sosial politik dan juga seks. 

Menurut Elisabeth, di situlah keindahan dan keagungan Centhini: jujur menggambarkan segala sesuatu. Kitab itu juga dianggapnya menyerupai ensiklopedia Jawa yang bisa disandingkan dengan ensiklopedia ala Diderot di Prancis. Bedanya Centhini ini berbentuk sastra bukan nonfiksi seperti karya Diderot.


Elisabeth memulai proyek penerjemahan Centhini sejak tahun 1996. Awalnya dia mengaku kesulitan menerjemahkan karya klasik itu, apalagi akan menuliskannya kembali. Bagi kebanyakan orang yang menguasai Bahasa Jawa kuno, kitab ini dianggap ekstrem. Ada yang menganggapnya suci tapi ada juga yang menilainya kotor karena begitu gamblangnya mengungkapkan segala sesuatu termasuk hubungan sek. 

Penerjemahan dan pembukuan kembali Centhini dibiayai oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, setelah Tierry de Beauce Duta Besar Prancis untuk Indonesia juga tertarik. Ketertarikan Pak Dubes itulah yang lantas meretas jalan Elizabeth, ketika ada kesediaan pihak kedubes untuk mengongkosi penerjemahan. Mulanya ke dalam Bahasa Prancis, tapi sejak tahun lalu sudah Centhini juga terbit dalam Bahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Prancis, Centhini berganti judul menjadi Les Chants de l’ile a dormir debout Le Livre de Centhini. Terbit sejak 2002, karya itu meraih penghargaan karya-karya berbahasa Prancis, Prix de La Francophonie pada tahun berikutnya.

“Demikianlah, rupanya kerohanian yang terlalu tinggi dan syahwat yang terlalu bejat telah menghalangi penerjemahan suluk yang patut dihormati ini.” Begitulah Elisabeth menuliskan pada bab awal buku Centhini versi Bahasa Indonesia . 

Dia mengaku sengaja tak menghilangkan dan tak tak mengubah erotisme Centhini karena dengan gaya bahasa seperti itulah serat itu justru semakin tajam kecantikannya. “Kontroversi yang selalu membayanginya justru keindahan yang akan selalu menghidupkan karya ini dalam berbagai diskusi yang akan terus digelar membicarakan Centhini,” kata Elisabeth.

Lalu apa Centhini bagi Elisabeth? “Aku adalah kenangan bersama seratus dua puluh juta manusia Jawa, pengembaraan edan luar batas, dua belas jilid, empat ribu dua ratus halaman, tujuh ratus dua puluh dua tembang, dua ratus ribu bait lebih, “ katanya.

Di Sleman Yogyakarta, Elizabeth kini tinggal bersama putrinya Sarah Diorita. Anaknya itu berencana untuk kuliah di Yogyakarta. 

Setelah belasan tahun tinggal di Jawa, Elisabeth tak hanya fasih berbahasa Indonesia, melainkan pula Bahasa Jawa. “ Masakan Yogya terlalu pedas dan manis buat saya, tetapi saya suka daun singkong, tempe goreng, urap dan gudeg,” katanya. Monggo ndoro, maturnuwun. -ezrasihite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 14 Juni 2009



Written by Me

June 15, 2009 at 12:25 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Menarik sekali ceritanya ttg ibu Elizabeth ini… She must be a very special lady:)

    Lois

    November 3, 2009 at 10:04 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: