Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Kecantikan Anggrek Hitam

leave a comment »

Marcelina Rahawarin :

Marcelina memang anggrek hitam itu. Mungkin juga mutiara hitam. Lihatlah, sorot mata yang berpendar, gigi bersih, dan hidung bangir itu. Berbincang-bincang dengannya, seolah laksana menemui debur ombak Lautan Teduh yang biru memikat itu. Dia mewakili kecantikan perempuan Indonesia timur. Pintar dan berbakat.


Kulit hitam, rambut keriting, mungkinkah itu bisa menjadi putri kecantikan? Di tengah anomali publik yang diracuni banyak iklan murahan, bahwa cantik itu harus putih, dan berambut lurus, pertanyaan itu mungkin akan dijawab iya. Para perempuan yang secara genial berpenampilan fisik seperti itu, sebagian juga sering pesimistis. Tapi Marcelina Rahawarin berpendapat lain. Cantik baginya adalah diri sendiri .yang utuh, bukan imaji iklan instan di televisi. 

“Perbedaan (persepsi) kecantikan fisik, itu biasa. Saya mulai percaya diri harus menjadi diri sendiri,” tutupnya

Bagi dara Papua itu, imaji cantik yang sering digambarkan oleh iklan, justru membuatnya termotivasi. Dia karena itu tak ragu ikut mendaftarkan dalam kontes Putri Indonesia 2009. Dan hasilnya, pekan lalu, dia terpilih menjadi Putri Indonesia Papua 2009. Acara yang berlangsung di Hotel Rimba Papua, Timika, Mimika, Papua itu diikuti 15 finalis.

“Hitam, keriting dan cantik seperti anggrek hitam,” kata Rosalyn, Event Organizer penyelenggara pemilihan Putri Indonesia Papua saat ditanya seperti Macrelina. Rosalyn adalah seorang dokter, berdarah Papua yang mendorong Marcelia tampil di ajang kontes kecantikan itu. 

Benar, Merci –panggilan Marcelina— memang anggrek hitam itu. Mungkin juga mutiara hitam. Ditemui di kamar hotelnya, pada sebuah siang, Senin lalu, Merci terlihat mengenakan celana sport biru gelap dan kaus abu-abu. Sama sekali tak ada rias make up di wajahnya. Lalu lihatlah, sorot mata yang berpendar, gigi bersih, dan hidung bangir itu. Berbincang-bincang dengannya, seolah laksana menemui debur ombak Lautan Teduh yang biru memikat itu. Dia mewakili kecantikan perempuan Indonesia timur

Saat disematkan tiara putri Papua, dia tampil mengenakan kebaya kuning berhiaskan bulu burung dan berkain batik Papua. Kostumnya malam itu memang tampak lebih menonjol ketimbang para kontestan lain. Busana itu, kata dia, dipersiapkan berkat bantuan seorang teman kerja, yang kebetulan memiliki salon kecantikan. 

Sebelum berbusana kebaya, malam itu, dia sempat mengenakan gaun malam berwarna hitam berhias corsace putih krem. Di bagian kaki melebar bagai kuncup bunga terbalik, lebih unik dibandingkan busana sesama finalis. Dari penampilan Merci malam itu, memang sudah seolah terlihat dia menjadi bulan di antara bintang-bintang yang lain.

Saat penjurian misalnya, Merci menunjukkan bakatnya menari. Dia memadukan tiga jenis tarian Papua, tari Mapia, Mapi dan Asmat. Tak hanya tari tradisional, salsa juga tari yang dikuasai Merci meski menurut pengakuannya, dia sudah lama tak menari salsa. 

“Saya sedang belajar untuk makin percaya diri dan kalah menang tak jadi soal, ini pengalaman,” kata gadis yang memiliki ukuran tinggi badan 172 centimeter itu.


Putri Indonesia


Dengan predikat barunya sebagai Putri Indonesia Papua 2009, tiga bulan lagi, Merci akan bertemu dengan 31 Putri Indonesia dari provinsi lain di ajang yang lebih besar; Putri Indonesia 2009. “Saya enggak terbayang kalau akan ikut ajang itu, di pikiran saya, mereka itu semua cantik-cantik, elegan dan pintar, saya enggak pernah menyangka bisa mengikuti,” katanya.

Itu bukan ungkapan rendah diri. Melainkan justru sebuah semangat buat Merci. Lebih dari itu dia sebetulnya sedang memperjuangkan sebuah nilai, memotivasi para perempuan Papua yang lainnya. “Kami harus terus belajar dan bisa menunjukkan kemampuan dan ciri khas kami,” katanya

Sebelum dinobatkan sebagai Putri Indonesia Papua 2009, Merci sempat bekerja di sebuah hotel di Bali. Pendidikannya di bidang wisata memungkinkan dia, mendapatkan pekerjaan itu dengan gajinya lumayan besar. Namun belakangan, Merci memilih untuk kembali ke Papua, Timika itu. Kecintaannya pada tanah kelahiran, membuatnya tak bisa melupakan Papua. “Banyak yang harus dibenahi di sini,” katanya.

Kematian ibu saat persalinan yang masih tinggi di Papua, antara lain termasuk hal yang harus dibenahi itu. Merci bercerita, di daerah Kamoro, para ibu masih melahirkan dengan posisi jongkok sementara lengan mereka sengaja dipegangi agar tak berbaring. Persalinan itu kata Merci dilakukan di atas pasir, dan saat si bayi keluar, maka langsung dilumuri dengan pasir. Ini dilakukan atas dasar kepercayaan untuk keselamatan bayi dan ibu. Merci tak mengerti soal kepercayaan itu, tapi menurutnya potensi sakit dan meninggal pastilah besar dengan proses semacam itu.

Hal lainnya menyangkut jumlah pengidap HIV di Kabupaten Mimika, yang masih merupakan yang tertinggi di Papua. Data yang tercatat di Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, Mimika, hingga 30 Juni 2008 sudah tercatat 1.681 orang yang tertular HIV/AIDS atau bertambah sekitar 200-an orang dari tahun sebelumnya. 

Menurut Merci faktor ketidaktahuan masyarakat soal penyakit HIV dan penularannya, menyebabkan penyakit itu cepat menyebar. Dia tak menampik di kota Timika terdapat lokalisasi dan pekerja seks komersial yang berpotensi besar memengaruhi pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS. Namun ketidaktahuan masyarakat, dianggapnya menjadi penyebab penularan virus itu di Papua. 

Bagaimana dengan budaya sebagian besar suku di Papua yang menikahi banyak perempuan? “Ini soal adat dan kebiasaan, yang sulit untuk dijawab,” katanya tersipu. Senyumnya tertahan.

Restoran dan Kafe


Merci memang gadis murah senyum. Suatu kebiasaan yang menurutnya susah dijumpai pada kebanyakan orang Papua termasuk pada perempuannya. Padahal senyum bisa menunjukkan sesuatu yang anggun dan santun. Merci karena itu merasa beruntung, pernah tinggal di Bali dan bekerja di bisnis wisata, yang memaksanya untuk selalu tersenyum. 

Kini, Merci yang murah senyum itu bekerja sebagai pelayan di lounge di sebuah hotel di Timika. “Pekerjaan ini butuh kesigapan dan kerendahan hati melayani pelanggan secara profesional, cita-cita masih panjang,” kata Merci, yang bisa berbahasa Prancis dan Inggris itu.

Dia bercerita, beberapa kali ada saja pengunjung lounge yang iseng dan menggoda perempuan berwajah tirus ini. Disikapi dengan sopan dan profesional, mereka akan mundur sendiri. “Terima kasih, saya hanya bekerja di sini Pak tak lebih dari itu,” Merci menirukan jawabannya yang sering dia sampaikan kepada lelaki genit.

Suatu hari, katanya, dia berharap akan bisa membuka restoran atau kafe. Di Papua, usaha itu kata dia, berprospek bagus dan akan bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Soal masa kecil, kata Merci tak terlalu banyak yang istimewa. Tapi dia mengacungkan jempol buat sang ibu yang sangat mementingkan pendidikan sehingga anak-anaknya bisa mencecap pendidikan tinggi. “Papa saya tegas dan mama saya lembut,” kata Merci yang mengagumi kedua orang tuanya.

Sayang kedua orang tua itu, pekan lalu tak menyaksikan putri mereka dinobatkan sebagai putri tercantik. Papanya sudah lama meninggal, sementara ibunya tinggal di Merauke yang berjarak ribuan kilo dari Timika. Hanya para kerabatnya yang datang memberi semangat. 

Merci malam Senin pekan lalu itu, akan tetapi tetap tak kehilangan pesona. Dia kini bahkan menyadari apa arti kecantikan setelah mengikuti ajang pemilihan putri Papua itu: menjadi diri sendiri yang utuh, bukan seperti imaji yang digambarkan reklame instan di televisi. N ezra sihite



Misi Budaya di Timika


Selama ini Timika identik dengan konflik dan semakin tingginya tingkat penularan HIV.

Marcelina Rahawarin terpilih menjadi Putri Indonesia Papua mengalahkan lima belas finalis yang datang dari berbagai kabupaten di Papua. Dirinya salah satu dari tiga perwakilan kabupaten Mimika. Sejak tahun 1992, provinsi paling timur Indonesia ini sudah terdaftar pernah mengikuti ajang kontes kecantikan Putri Indonesia, namun masih diwakili secara personal, bukan utusan dengan dasar pemilihan terlebih dahulu dilakukan di tingkat provinsi. 

Lisensi dari Yayasan putri Indonesia kemudian dikantongi mulai tahun 2005 yang mengakomodasi pengadaan kontes putri Indonesia seprovinsi. Sejak tahun itulah, ajang itu diadakan di Papua. Awalnya dia Jayapura selama dua kali berturut-turut, kemudian di Merauke dan tahun ini bertempat di Timika, kabupaten Mimika. 

Menurut Lessy Titihalawa, Ketua panitia penyelenggara, acara ini merupakan misi kebudayaan yang bisa mengangkat nama Papua. “Selama ini Timika identik dengan konflik dan semakin tingginya tingkat penularan HIV, oleh karena itu kita ingin menunjukkan bahwa tak hanya ada image buruk di Timika,” kata Lessy. 

Selama karantina tiga hari, 16 finalis putri Papua itu mengikuti berbagai pembekalan. Mulai dari pemberdayaan dan kesehatan reproduksi perempuan, kecantikan dalam dan cara bersikap, sesi dari Komisi Penanggulangan AIDS Papua, dan malam bakat untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam seni, sastra dan budaya. Salah satu kendala yang dihadapi Papua dalam penyelenggaraan ajang seperti ini, adanya sudut pandang dari masyarakat Papua bahwa para perempuan mereka masih kalah cantik kalau dibandingkan para perempuan dari provinsi lain. 

“Untuk apa ikut, kalau toh kalah juga nah mindset bahwa hitam itu tidak cantik harus diubah,” kata Rosalyn, dokter yang menjadi salah satu juri dari Timika. 

Rosalyn lalu menuturkan soal pengalamannya bersama sang suami, ketika mereka berkunjung ke Jerman, 2002. Ketika pemeriksaan di bandara, para petugas curiga bahwa mereka bukan Indonesia. “Mereka bilang orang Indonesia bukan seperti anda, mereka hanya tahu orang Indonesia yah seperti anda,” katanya sambil menunjuk saya, dan tertawa. 

Rasa pesimistis itu tak hanya membebani para perempuan muda tapi juga menghinggapi para orang tua. Menurut Lessy bahkan ada peserta yang ikut tapi kemudian dipanggil pulang oleh orang tuanya. 

Panitia kontes itu menganggap memang bukan hal yang mudah mengadakan acara seperti ini di bumi cendrawasih. Selain pesimistis yang masih menghinggapi masyarakat, dana juga harus diusahakan sendiri oleh Yayasan Putri Indonesia Papua. Itu termasuk untuk urusan transportasi karena dari masing-masing kabupaten, para finalis harus menggunakan pesawat terbang, yang biayanya tak murah. “Syukurnya ada sponsor yang mau membantu dan bisa dilaksanakan dengan dana yang kurang dari satu miliar rupiah,” kata Audra Resania, ketua Yayasan Putri Papua. 

Selain dihadiri oleh pihak juri dari Yayasan Putri Indonesia, Ayu Diandra Sari, putri Indonesia lingkungan 2008 juga turut menyambangi acara ini. “Saya baru pertama kali ke Papua dan saya salut Timika bisa mengadakan acara seperti ini sebagai wujud kepedulian terhadap para perempuannya,” kata gadis berdarah Bali yang kerap dipanggil Dhea ini.

Selain Merci yang terpilih sebagai PutriIndonesia Papua, terpilih juga Teguh Nugroho sebagai Putri Favorit. Teguh yang bersuku Asmat itu berbadan kekar mirip Naomi Campbel. Dia terpilih karena mendapat suara 17 ribu kupon. Kupon-kupon itu dibeli oleh pengunjung yang ikut hadir menyaksikan pemilihan Puteri Indonesia Papua. ezrasihite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 7 Juni 2009

Written by Me

June 15, 2009 at 10:02 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: