Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Jangan Samakan Papua

leave a comment »

George Junus Aditjondro, sosiolog yang pernah dicekal pada zaman Soeharto dan kini mengajar di salah satu universitas di Australia, pernah berkomentar soal orang Indonesia seperti yang dikutip harian Sinar Harapan 1 Mei 2006. Menurutnya, bangsa Indonesia itu bangsa yang rasis  dan ada dua jenis rasisme di Indonesia, rasisme ekonomi terhadap orang-orang bermata sipit dan rasisme biologis terhadap orang-orang berkulit gelap. Tak serta merta memang ucapan George ini bisa diterima. Namun sosiolog ini juga memang mendalami masalah sosial politik yang berkaitan dengan gerakan maupun gejala separatis di Indonesia, mulai dari Timor-Timur yang kini lepas, Aceh yang akhirnya masih dapat direm dengan pertemuan Helsinki dan Papua yang kini gaungnya masih kedengaran.

1

Saat gerakan Aceh Merdeka mulai teredam maka Papua yang wilayahnya tujuh kali luas Aceh itu dan berpenduduk tak lebih dari tiga juta tersebut dan dengan penduduk asli skeitar dua jutaan, belum selesai dengan persoalan meleburkan diri dengan NKRI atau lepas dan mencoba mandiri. Akhir tahun lalu, tepatnya menjelang tanggal 1 Desember yang merupakan hari ulangtahun Operasi Papua Merdeka ( OPM ), kota Timika yang berada di kabupaten Mimika berstatus siaga satu, kalau-kalau ada serangan dari golongan yang menurut sudut pandang NKRI adalah para separatis itu. Tak disangkal kalau penyelesaian konflik di propinsi paling timur Indonesia ini akan lebih kompleks dibanding Aceh. Pasalnya, ada 300 suku lebih di Papua yang belum tentu rukun satu dengan yang lain. Wilayahnya yang luas dengan pegunungan alami sekaligus mempersulit transportasi, ditambah konflik horizontal yang berpotensi timbul dengan adanya gerakan bintang kejora tersebut.

Sementara Aceh tak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan Indonesia. Rasnya melayu bukan Melanesia seperti penduduk asli Papua, negeri serambi Mekah ini mendapat banyak perhatian dari negara-negara petrodollar di Timur Tengah dan sejak dulu mendapat julukan Daerah Istimewa yang membuatnya merasa justru salah satu wilayah spesial di Indonesia, ditambah letak geografis yang tak sulit dijangkau seperti di Papua. Apakah pada akhirnya kedekatan secara kasat mata ini membuat salah satu faktor mulia terlihatnya keberhasilan kesepakatan dengan Aceh? Bisa jadi.

Tahun 1936, J.J Dozy, geologis Eropa yang berniat mencari kandungan minyak bumi di wilayah Indonesia Timur, justru menemukan sebuah bukut berbentuk gigi yang mengandung unsur tembaga. Bukit itu kemudian dinamakan Erstburg yang artinya Gunung Bijih. Temuan ini kemudian menarik hati Fobes Wilson dari Freeport Sulphur Co dan tahun 1967 pemerintah Indonesia menandatangani kontrak dengan Freeport McMoran Inc yang secara ekslusif mengelola luas wilayah Ertsberg seluas 100 km persegi. Kecantikan wilayah Pegunungan Dalam itu ternyata tak hanya dihiasi tembaga tapi juga endapan emas yang ditemukan Freeport pada tahun 1988, yang kemudian membuat Freeport tak sabar mengadakan perpanjangan kontrak. Terjadilah penandatanganan perjanjian delapan tahun setelahnya. Sejak masa itu, Papua sebagai obyek investasi mulai terdengar ke mana-mana. Tak hanya Freeport yang ketagihan mencicipi, awal tahun 2000, puluhan perusahaan memegang kontrak karya di Papua.

Dengan cadangan tembaga dan emas melimpah tak mustahil menyediakan segala fasilitas di bumi Cendrawasih ini. Orang-orang pendatang yang kemudian tak enggan berdiam di Papua, merasa harus mencukupi segala kebutuhannya. Di belantara Papua, tepatnya di kabupaten Mimika, sebuah distrik megah berdiri. Bahkan distrik yang dinamakan Kuala Kencana ini merupakan salah satu kota mandiri pertama di Indonesia yang memiliki penyaluran air kotor dan limbah sendiri. Letaknya bisa dijangkau dengan mobil tak lebih satu jam dari Bandar udara Mozes Kilangin, Timika. Kota mandiri ini diresmikan mantan presiden Soeharto pada Desember 1995. Kota ini sepenuhnya dikelola oleh PT. Freeport Indonesia. Dari atas dengan pesawat atau helikopter, rimba benar-benar mengelilingi lingkaran-lingkaran penanda multifasilitas di Kuala Kencana. Tak ada yang tak ada di distrik ini, mulai dari sekolah, pusat berbagai fasilitas olahraga, tempat rekreasi, pusat perbelanjaan, rumah-rumah ibadah, berbagai tempat hiburan dan tentunya perumahan para karyawan Freeport, khususnya yang datang dari luar .

Dalam sebuah situs tur wisata, disebutkan, liburan ke Papua tak lengkap tanpa mengunjungi Kuala Kencana. Tapi wajah Papua yang sebenarnya bukanlah distrik lengkap yang mendapat sentuhan peradaban modern itu. Luas kuala Kencana hanya sekitar 17.400 hektar dibanding Papua dengan luas hutannya saja lebih dari 31 juta hektar. Sekalipun kota modern itu dihiasi patung-patung totem Papua, bukan ras Melanesia yang kebanyakan tinggal di sana yang seharusnya representasi Papua yang benar-benar hidup. Masyarakat Papua sebenarnya, masih bergelut dengan penyakit TBC yang barangkali bukan lagi penyakit berbahaya tapi masih bisa mematikan di wilayah ini. Penduduk Papua yang sebetulnya masih buta soal HIV AIDS hingga di kabupaten Timika menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Februari 2009, terdapat 1793 orang di Kabupaten Mimika yang terinfeksi HIV AIDS. Wajah lainnya, angka kematian ibu yang tinggi akibat penanganan yang salah saat melahirkan. Bahkan di bagian utara Mimika, masih ada suku yang perempuannya harus melahirkan dengan posisi berjongkok di atas pasir.

Lebih lagi, penduduk Papua menurut data tahun 2005, 80 persen lebih penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Data BPS Juli 2008 menunjukkan penurunan angka kemiskinan, melingkupi Papua dan Papua Barat sebesar 72 persen, selama tiga tahun, turun sekitar 8 persen. Mereka masih tidur bersama hewan peliharaannya, tak berpakaian sehingga mudah dijangkiti penyakit dan secara temperamen mudah terprovokasi akibat rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar penduduknya. Dibalik wajah Kuala Kencana yang bagai surga itu, terdapat kehidupan liar yang seharusnya bisa terdongkrak dengan potensi alam yang bisa dijadikan modal pembangunan sumber daya manusia.

Ajang kontes kecantikan yang berlisensi dari ibukota diadakan di Papua Mei lalu. Ajang ini dengan sistem sentralisasi propinsi sudah diadakan selama tiga tahun berturut-turut. Sebelumnya, sejak tahun 1992, para kontestan yang ingin mengikuti kontes di Jakarta berinisiatif mengirimkan lamaran secara pribadi. Sekalipun dengan propinsi yang terbelakang, tak menjadi alasan bagi Papua untuk tak menyelenggarakan acara semacam ini. Tujuannya mencari para perempuan yang cantik secara fisik, pintar secara akademis dan santun dalam bersikap. Dari 29 kabupaten dan kota, enam belas finalis dari berbagai kabupaten menunjukkan kebolehan mereka dengan penilaian tim dari Jakarta dan daerah. Tak menampik bahwa tantangan Papua untuk kontes sejenis bukan hal mudah, seorang dokter  bernama Rosalyn yang berdarah Papua dan salah satu panitia penyelenggara menyebutkan, justru yang paling menghambat pelaksanaan justru kemauan dari para perempuan Papua yang menganggap dirinya inferior dibandingkan para perempuan dari bagian Barat Indonesia. “ Mungkin akan menang di Papua tapi tak ada harapan di Jakarta, itu anggapan mereka,” katanya. Barangkali doktrinasi iklan-iklan murahan di televisi yang membangun kecantikan dengan kulit putih dan rambut lurus itu juga jadi penyebab rasa pesimis ini. Terbalik dari kesan cantik dan putih, perempuan Papua justru berkulit gelap dan berambut keriting. Tapi lihatlah mereka lebih dekat, kulitnya yang bersih sekalipun gelap, postur tubuh tegap, rambut hitamnya yang legam seperti mutiara hitam, hidung mancung tegak, gigi putih yang bersih, dan tatapan mata tajam yang dikelilingi bulu mata yang lentik lebih dari sekadar prasyarat cantik iklan yang diusung bisnis itu.

Kalau mau diukurkan maka yang ada bukanlah para finalis yang terlihat percaya diri berbicara, menebar senyum ala putri dan lepas menunjukkan bakat-bakatnya. Barangkali untuk Papua memang punya ukuran sendiri. Dari enam belas perempuan itu, hampir setengah di antaranya tak memenuhi secara tinggi badan. Lebih lagi masih ada yang belum menyelesaikan sekolah lanjutan atas. Tapi panitia memang punya alasan khusus untuk ini yang barangkali tak terpikirkan oleh orang-orang di propinsi lain. “ Mereka sudah datang dari sukunya bahkan mungkin belum pernah memakai high heels, tak bijak rasanya mentah-mentah menolak yang diutus dari kabupaten, toh tetap akan ada seleksinya,” kata Audra Resania, ketua Yayasan Putri Papua. Terbukti memang, pada akhirnya sang pemenang kontes adalah perempuan dengan tinggi 172 cm dan menyelesaikan tingkat pendidikan akademinya.

Justru di sanalah keunikan kontes ini, melangkah dari sebuah misi kebudayaan, membentuk sisi-sisi kepercayaan diri para perempuannya yang punya hak yang sama dengan para perempuan Indonesia lain. Lalu tak lepas dari suara miring, beberapa orang dari tim yang bersama saya bahkan merasa “kecewa” dengan keberadaan kontes ini. Apakah karena terlalu mengharap akan menemukan Priyanka Chopra atau Dayana Mendoza di ajang ini, entahlah. Padahal titik berat kecantikan itu akan berbeda dengan ketidaksamaan suku bangsa di negeri ini. Menyamakan ukuran cantik dan menutup mata akan latarbelakang budaya masyarakat seharusnya ditinggalkan bangsa yang menyerukan bhineka tunggal ika. Saat berkunjung ke luar negeri dokter Rosalyn berkisah tentang pengalamannya yang dicurigai bukan orang Indonesia asli. “ Yang mereka tahu orang Indonesia yah seperti anda ( berwajah melayu ),” katanya sambil menunjuk saya dan tertawa. Sejak Irian Barat direbut tahun 1960an berubah nama menjadi Irian Jaya lalu Papua, tak cukup waktu membuat masyarakat internasional mengenali orang Papua sebagai suku asli Indonesia.

Lalu saat orang-orang Papua yang memang punya hak berusaha mensejajarkan dirinya dengan sebuah misi kebudayaan, miris jika kemudian ada yang menertawakan.

“ berbicara saja belum  lancar, kok ikut kontes kecantikan,” kata salah seorang kru yang kemudian ditimpali tawa sinis yang lain. Adapula yang berpendapat bahwa acara itu bukannya sebagai usaha untuk maju tapi justru mempermalukan diri. Barangkali mereka hanya sibuk menyoroti para finalis yang memang masih polos itu tapi tak menyimak kerinduan para pelopornya, bahwa kepercayaan diri itu bisa dibangun dan ukuran terhadap Papua tentu tak sama dengan kriteria di propinsi lain. Maka aku hanya tersenyum mengingat kata-kata George Junus Aditjondro itu, “ Orang Indonesia itu memang rasis,”. Saudara sebangsa saja dicemooh, apalagi orang luar. Para kru bermuka melayu itu masih tertawa. Tapi bagiku pengalaman yang hanya sebentar ke sana justru mengenalkan kecantikan yang tak pernah ku perhatikan sebelumnya. Saat di pesawat mata bulat bocah  Papua keriting yang bermata lentik selalu terbayang, sampai-sampai saat acara malam final, hasratku hanya ingin bermain dengan gadis kecil yang duduk di sebelah ibunya saat menonton malam grand final. Yang mungkin akan menjadi pemenang kontes limabelas atau delapan belas tahun lagi. Itulah saat para perempuan Papua berdiri anggun, tersenyum percaya diri, tak gentar sama sekali dengan pertanyaan para juri dan dibekali pendidikan yang membuat negeri Papua akan seperti Kuala Kencana, bahkan lebih.  Mungkin suatu

Written by Me

June 17, 2009 at 11:22 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: