Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Tumini dan Janji Mimpi

leave a comment »

Tumini menangis setiap hari. Bukan karena rasa sedih atau cengeng, tapi perempuan Madiun yang usianya melewati setengah baya itu harus merasakan sakit yang barangkali tak tertahankan akibat penyakit aneh yang dialaminya. Siapa yang pernah merasakan kehilangan wajah dan hanya tinggal setengah dahi dan rahang bawah yang tersisa. Selama tiga puluh empat tahun, perempuan yang masih bekerja sebagai buruh kasar tersebut tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sekalipun menurut seoarang anak lelakinya, pada tahun-tahun awal Tumini merasakan sakit, mereka mencoba mendapatkan jawaban dari beberapa pihak rumah sakit di daerah Madiun dan sekitarnya. Namun kesembuhan yang tak kunjung tiba dan yang terutama alasan ekonomi yang masih menjadi persoalan utama hidup sehari-hari memasrahkan Tumini dan keluarga. “ Awalnya hanya tumbuh sejenis jerawat di wajah tapi kemudian berlubang,” kata putra Tumini seperti yang disiarkan siaran berita di salah satu stasiun televisi nusantara. Jerawat yang kemudian menjadi lubang membesar itu perlahan-lahan menggerogoti rahang bagian atas, hidung, pipi hingga setegah dahinya. Kalau dilihat Tumini bukan lagi seperti manusia tapi sesosok zombie seperti yang ditampilkan di film-film. Tapi hampir setiap hari, dia masih bisa mencuci pakaiannya dan keluarga di sumur yang tak jauh dari rumahnya yang amat sangat sederhana.

Potret Kemiskinan-Hentakun[1]

Potret kemiskinan, kesakitan dan kesengsaraan memang bukan barang baru di negeri ini. Justru pada musim-musim kampanye Pemilu sekarang menjadi sebuah komoditas. Dengan mengatasnamakan pengentasan kemiskinan, mewujudkan rakyat makmur dan sejahtera, para politikus yang sedang berada di panggung menuju super elite politik percaya diri berkoar-koar. Para pasangan capres dan cawapres menjual diri dengan berbagai iklan baik cetak maupun elektronik. Padahal iklan sendiri merupakan salah satu simbol kemapanan yang tak banyak menyentuh bagi masyarakat pinggiran. “ Yang bisa dipengaruhi iklan itu kan masyarakat kota, bukan yang di desa-desa,” kata Arbi Sanit, seorang pengamat politik Indonesia saat ditemui pertengahan Juni di kawasan Fatmawati. Kalau dilihat-lihat, aktivitas para pasangan capres jauh dari menyambangi secara langsung rakyat kecil yang ada di desa-desa. Paling-paling berkunjung ke  daerah propinsi singgahnya di ibukota propinsi, atau kabupaten. Disorot ke desa-desa terpencil hanya sebatas untuk publikasi yang akan dicantumkan di iklan kemudian diputar berulang-ulang di stasiun televisi. Lalu para pasangan capres tiba-tiba demen berkunjung ke pasar, barangkali karena lagi hangat isu ekonomi. Pasar mana? Pasar-pasar perkotaan, paling Blok A dan sejenisnya yang ada di wilayah Jakarta, atau Beringharjo Jogjakarta itu. Lalu soal Deklarasi? Mega-Pro memilih di Bantar Gebang yang memang bisa jadi sebuah alegori wong cilik, tapi kan tempat itu disulap terlebih dahulu dan disemproti pewangi agar baunya tak meluap ketika deklarasi. JK-WIN, lumayan lah sedikit representatif di tugu Proklamasi. Mungkin karena tugu itu dan sekitarnya  banyak disambangi para anak jalanan dan manusi gerobak. Muncul pula pasangan nomor dua yang berdeklarasi di gedung mewah meniru-niru kampanye ala kandidat presiden Amerika. Belakangan tim kampanye calon nomor dua ini dianggap kedodoran dan kurang agresif dibandingkan para tim pencitraan dua kandidat lainnya yang berani menyerang dan makin bernafsu menggembar-gemborkan keberhasilan pribadi, mulai dari ide, tindakan sampai uang yang pernah dirogoh dari kocek sendiri, yang katanya dialokasikan untuk kepentingan negara itu.

Kala capres nomor tiga dielu-elukan sebagai man in action dan banyak menyumbang ide yang kemudian membuahkan hasil di periode eksekutif selama empat setengah tahun terakhir ini, maka mulai muncul gaya baru di kubu lain. Gaya ini dinamakan merendahkan diri untuk tujuan ditinggikan.

“ Bapak dan Ibu ini bukan karena saya, tapi justru hasil jerih payah rakyat, bapak ibu dan bla…bla…bla,” yang intinya mencoba mengalihkan perspektif bahwa itu semua keberhasilan masyarakat. Tujuannya? Mendapatkan simpati, padahal sebelumnya kan bunyi-bunyi iklannya sejenis Terimakasih Pak SBY karena Bapak dan seterusnya itu. Tak ada yang salah memang, toh sebenarnya kampanye itu bertujuan untuk menarik perhatian rakyat bukan berselisih antara  kandidat pasangan dan para tim pengangkat figur tersebut. Lalu pasangan nomor satu memang tak bisa banyak bicara soal jasa, maklumlah bukan posisi incumbent. Tapi kemudian mereka menyerukan rasa ketidakadilan yang diterima akibat penolakan dari beberapa stasiun televisi terhadap iklan Mega Prabowo.

“ Padahal iklan itu sudah lulus sensor nasional LSF, tapi bisa tidak lulus internal televisi katanya, padahal kami bayar dan bisa jadi lebih besar ” Fadli Zon , tim sukses Mega-Pro, Kamis, 18 Juni lalu berkisah soal penolakan iklan itu di Waroeng Daun, Cikini.

Janji-janji kampanye memang tinggal ditunggu menjadi mimpi. Rasanya seruan seperti ini sudah ribuan bahkan jutaan kali diungkapkan di mana-mana. Seakan-akan program, visi dan misi hanya sebatas prasyarat yang kemudian akan berujung pada sebuah kesimpulan “ Harap dimengerti kalau tak terjadi, kan kebiasaannya memang begitu,”. Periode selanjutnya, nama kampanye tak salah bila diganti dengan nama pencitraan, bukankah semuanya hanya imaji yang membuat meningkatnya para pemilih golput negeri ini, baik dari pilkada-pilkada dan pemilu legislatif tahun ini. Fenomena janji sekadar mimpi tak juga hanya ditemukan di bumi pertiwi. Kantor berita AFP, Jumat, 20 Juni melansir berita soal Bangladesh yang sedang getol dengan revolusi hijau di perkampungan. Seratus juta lebih rakyat Bangladesh sebagian besar adalah petani dan tinggal di pedesaan, mirip dengan Indonesia dalam hal ini. Pasokan listrik terbatas dinikmati oleh wilayah yang dekat dengan jalan-jalan raya dan daerah pertanian besar, tapi tidak dikecap oleh para petani-petani kecil. Stasiun pembangkit listrik negara hanya mampu menghasilkan listrik 3.500 Megawatt per hari sementara kebutuhan pasar mencapai 6000 Megawatt. Kemuakan terhadap janji-janji kampanye di Bangladesh yang tak juga merealisasikan listrik yang menghidupkan nadi pendidikan, perdagangan dan industri kecil tak membuat masyarakatnya diam saja. Saidul Islam, seorang penjahit di Bangladesh, menabung selama empat bulan untuk dapat membeli panel surya yang kemudian diletakkan di atas atap seng rumahnya. Alhasil, uang sebesar 335 dollar AS itu memberikan cahaya di kediamannya yang membuat Saidul Islam bisa menjahit hingga malam. Padahal sebelumnya terbentur matahari terbenam.

Bangladesh, negara berpenduduk dominan muslim ini masih bergelut dengan kemiskinan ditambah bencana banjir yang bisa setiap tahun merendam wilayahnya. Menurut data dinas intelijen Amerika Serikat, CIA tahun 2008, pendapatan perkapita Bangladesh 1.300 dollar AS dan menjadi peringkat 198 di dunia. Sementara Indonesia masih cukup beruntung meskipun jauh dari ideal, 3.700 dollar AS, peringkat 158 di dunia, tepat setingkat di atas Irak. Yang kemudian membuat rakyat kecil bisa menikmati listrik berpanel surya adalah keberadaan badan amal Grameen Shakti. Bersama beberapa organisasi kecil mereka memberi bantuan pinjaman lunak kepada masyarakat untuk membeli panel surya. Langkah ini membuat antusiasme mayarakat semakin besar untuk memiliki alat tersebut. Grameen Shakti adalah anak perusahaan Grameen Bank, milik Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, yang menerapkan kredit mikro. Lalu dengan bantuan Grameen Shakti, mereka mengharapkan bahwa pada 2015 separuh rumah tangga Bangladesh bisa menggunakan tenaga panel surya yang akan menciptakan lapangan kerja bagi 100.000 ribu perempuan negeri itu.

Melihat Bangladesh yang secara perkapita masih jauh di bawah Indonesia dan angka penduduk melek hurufnya tak lebih dari 70 persen, sangat menggambarkan sebuah harapan dibandingkan kesejahteraan utopis yang diumbar pada saat menjelang Pilpres Indonesia kali ini. Pemerintah Bangladesh yang terpilih Desember 2008 lalu tak menunjukkan indikasi menepati janji, akhirnya masyarakat mau tak mau bergerak sendiri. Inilah angin segar yang sesungguhnya itu. Janji-janji tak akan bisa menyembuhkan sakit fisik Tumini dan getir di dadanya. Tiap hari dia masih menangis dengan cacat merebak yang hanya ditempeli racikan tembakau, berharap mengurangi rasa perih yang minta ampun itu. Saya jadi ingat kata seorang teman, “ Jangan percaya pada manusia apalagi sudah jadi penguasa,”. Padahal bukankah kuasa ada  itu untuk membalut mereka yang terluka?

Written by Me

June 20, 2009 at 12:56 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: