Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Karena Tanah Kelahiran

with one comment

Yang Paling Mendesak Dibenahi Di Papua Adalah Mentalitas.

Tak mudah membangun kepercayaan para perempuan Papua, apalagi untuk ikut kontes kecantikan. Apalagi mereka merasa sering mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Dibutuhkan pendekatan tersendiri, dan Audra melakukan itu.

11(142)

Kepuasan batin bagi perempuan ini jadi prioritas utama dalam bekerja,. Itulah mengapa dia memilih kegiatan sosial budaya dengan wadah Putri Papua. Yang tebersit di pikirannya, tak ingin Papua dikenal hanya karena isu separatis. Kegiatan positif harus juga mencerminkan tanah ini, katanya. Berdarah campuran Jawa Timur, Papua dan Cina, Audra berkata bahwa akar identitasnya tertanam di provinsi tifa tersebut. 

Dalam usia yang masih muda Audra Resania tak mau tinggal diam tanpa mengerjakan apa pun untuk Papua, tanah kelahirannya. Itulah sebabnya perempuan ini kembali ke bumi cenderawasih pada Maret 2004. Sebelumnya, sejak tahun 1997 dia sempat menetap dan menuntut ilmu di kota Surabaya selama tujuh tahun. Namun waktu hampir sewindu itu tak melunturkan impian Audra tentang Papua khususnya Jayapura, tempatnya bermain pada waktu gadis kecil. 

Pagi itu, Audra mengenakan blouse satin dengan aksen bolero dipadukan celana panjang hitam. Mata sipitnya terlihat hanya segaris saat dia tersenyum apalagi tertawa, rambutnya ikal dan kulitnya putih. Memang, dara dua puluh enam tahun ini berdarah campuran, Papua, Jawa dan Cina. Namun yang dipilih Audra sebagai kampong halaman dan tempat untuk pulang adalah provinsi tertimur Indonesia itu. 

Masalah identitas eksistensinya digambarkan Audra sempat berhenti pada sebuah kebingungan khususnya saat perempuan ini menginjak masa remaja dan pra dewasa. Kata dia, saat di Jawa, sekalipun di dalam tubuhnya mengalir darah Jawa, entah mengapa tak membuatnya nyaman. Begitu juga dengan darah Tionghoa tak memuaskan rasa pertanyaan dalam hatinya soal akar identitas Audra. Dia kemudian menyadari bahwa Papua adalah tempatnya. 

Sempat melanjutkan pendidikan di Surabaya , membuat Audra mulai tenggelam dengan kegiatan dan pergaulan multi kultural. Tapi setiap orang barangkali menyimpan rasa rindu pulang ke tanah kelahiran yang akan muncul suatu saat. Itulah yang dirasakan perempuan ini yang kemudian mengantarnya kembali ke kampung halaman, tempat dia menghabiskan usia hingga lulus Sekolah Menengah Pertama. 

Pulang ke Papua, kepala perempuan ini jauh dari sejuta ide atau konsep yang sudah dia siapkan matang. Sekalipun visi melakukan sesuatu untuk Papua menjadi keinginan perempuan berpipi agak tembem itu. “ Saya awalnya enggak ada ide mau bikin apa, saya hanya percaya kalau punya niat baik pasti ada jalan,” kata Audra sambil mencoba mengingat-ingat kembali kisah kepulangannya lima tahun yang lalu. 

Audra mengakui di balik visi ini memang ada sebuah keprihatinan, bahwa Papua yang memiliki sumber daya alam mulai dari hutan dan bahan tambang seharusnya bisa lebih baik. Menurut dia, langkah awal sebuah pembenahan harus segera dimulai, kalau tidak akan terlambat. 

Mendapat Lisensi


Di ruang duduk lantai dua hotel Rimba Papua Timika, sesekali Audra harus menerima telepon. Memang dia lumayan sibuk pada hari kepulangan para finalis setelah malam pemilihan putri Indonesia malam harinya, akhir bulan silam. Senin pagi itu 15 kontestan Putri Papua memang akan kembali ke kabupaten masing-masing. Audra yang merupakan ketua Yayasan Putri Papua dan sekaligus menjadi salah seorang juri, harus memperhatikan koordinasi kepulangan para finalis. Sementara cuaca saat itu cerah dan dari dinding kaca yang besar di lantai dua terlihat pepohonan dan kolam buatan di depan hotel. 

Setahun setelah kembali ke Papua, perempuan ini kemudian mencoba pengalamannya di ajang pemilihan Putri Indonesia 2005. Sekalipun tidak menjadi pemenang, tapi sebagai finalis, Audra merasa banyak dibekali melalui program seperti ini. Di masa-masa keikutsertaannya, ingatannya melayang kepada perempuan-perempuan Papua. Dalam hati dia berkata saat itu, “ Saya ingin para perempuan Papua maju, tak kalah dengan perempuan di provinsi lain”. 

Berbekal pengalaman dan koneksi dengan pihak YPI akhirnya mencetuskan gagasan menyelenggarakan acara sejenis di Papua. Sebelumnya sejak tahun 1992, para perempuan yang ingin ikut harus berusaha sendiri mendaftar dan mengikuti seleksi. Namun keinginan Audra, kemauan para perempuan yang ingin ikut bisa diakomodir dengan adanya program yang terkoordinasi dengan baik. Hasilnya tentu akan rapi dan efektif. 

Efektivitas pengaruh seorang putri Papua diterjemahkan Audra dengan cara mengajukan permohonan untuk mendapatkan lisensi dari YPI pusat. Dengan adanya lisensi ini, maka putri Papua yang akan mengikuti pemilihan Putri Indonesia tidak akan bingung soal apa yang akan dikerjakannya setelah kontes itu usai. Dengan adanya yayasan, maka kegiatan mereka akan diatur dan menjaga komitmen putri Papua yang sedang menjabat terhadap misi kebudayaan dan sosial di daerah yang diwakilinya. Maka sejak tahun 2005, sekaligus melakukan peran sebagai putri Papua, Audra mengantongi lisensi pengadaan kontes putri di kampung halamannya tersebut. 

Sebagai ketua Yayasan Putri Papua, kegiatan yang dilakukan kebanyakan bernuansa humaniora. Selain kunjungan ke desa-desa Papua memberikan bantuan, yayasan ini juga memprogramkan pengobatan gratis yang dilaksanakan di berbagai desa. Program berbau kesehatan sangat dibutuhkan masyarakat Papua mengingat letak geografis yang rumit dan membatasi penyebaran tenaga medis yang cukup. Padahal secara gaya hidup, masyarakatnya masih jauh dari pengertian cara hidup sehat. Bukan rahasia jika masih banyak suku di Papua yang tinggal bersama hewan peliharaan sehingga mempercepat kemungkinan penularan penyakit. 

Perempuan itu bercerita tak sedikit orang yang merasa skeptis dengan idenya menyelenggarakan acara seperti ini. “ Awalnya modal nekat saja bahkan pemda pun sebelumnya tak memberikan perhatian, mungkin orang berpikir untuk apa acara seperti ini? “ katanya. 

Kepercayaan Diri


Tapi Audra tetap ngotot mewujudkan gagasannya tersebut dan sejak membeli lisensi, sudah empat kali penyelenggaraan putri Papua seprovinsi diadakan. Penyelenggaraan pertama dan kedua diadakan di Jayapura, yang ketiga di Merauke dan tahun 2009 di Timika. Selain itu mereka juga bekerja sama dengan pengadaan pemilihan di tingkat kabupaten. 

Lalu apa saja yang harus dilakukan soal lisensi dengan YPI pusat? Kata Audra rincian itu semua ada di perjanjian kerja sama. “ Yang pasti berdampak baik bagi kedua belah pihak, banyak sih perjanjiannya, sebenarnya kalau diungkapkan detail bikin saya bisa jadi ragu untuk maju,” tambahnya.

Kalau soal perjanjian dalam soal dana pembelian lisensi, sambil tersenyum perempuan ini menganggap itu sebagai rahasia perusahaan. “Tapi sebenarnya saya harus mengakui bahwa apalagi dua tahun pertama yayasan ini bahkan merugi,” katanya yang beralasan memang pada awal-awal tak banyak pihak yang mau menaruh kepercayaan dan menjadi sponsor.

Namun defisit secara dini tak masalah bagi Audra. Baginya sebuah acara yang berjalan dengan kepuasan batin tak tergantikan harganya. Maka Audra memberikan gambaran hitung-hitungan secara kasar. Untuk tahun 2009, dia merasa banyak terbantu dengan bertambahnya pihak yang mau menjadi sponsor acara ini. “Transportasi kan mahal, kalau bawa tim dari luar Papua pulang pergi minimal hanya untuk ongkos saja 1, 6 juta per orang, selain itu masih ada transportasi di dalam Papua sendiri,” katanya. 

Selain itu mereka harus mengusahakan akomodasi dan gedung penyelenggaraan acara. Tahun 2009, pengadaan acara tersebut masih jauh dari satu miliar. “ Saya bersyukur karena makin ke sini saya menemukan rekan-rekan yang bisa mengerti tujuan acara ini dan kooperatif membantu,” katanya. 

Sebagai ketua Yayasan dan sekaligus salah seorang juri, Audra merasa bahwa yang pertama kali penting dibangun dari perempuan Papua adalah kepercayaan diri. Menurut cerita teman-temannya, tak jarang perempuan Papua merasa mendapatkan perlakuan yang berbeda saat harus keluar Papua. “Mereka jadi sensitif padahal dengan menumbuhkan kepercayaan diri, rasa termarginalkan itu bisa diatasi,” katanya. 

Itu pula yang menjadi alasan panitia dan dewan juri tidak langsung mendiskualifikasikan finalis yang dari segi tinggi badan tak memenuhi syarat. Perempuan ini bercerita salah seorang finalis dari salah satu kabupaten di Papua. Dia datang dari lingkungan yang mungkin pakai sandal pun jarang, sukunya itu zaman dahulu tinggal di pepohonan, tapi sekarang bisa pakai high heels. Audra percaya bahwa semakin tahun akan semakin banyak peminat ajang ini dan secara kualitas pun, kemungkinan besar para finalis tahun berikutnya akan menunjukkan peningkatan. 

Memang, Kusuma Dewi, ketua Dewan juri Putri Indonesia yang hadir pada malam grand final menyatakan bahwa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, secara pengetahuan para finalis menunjukkan peningkatan. Lalu apakah YPI ikut membantu penyelenggaraan daerah dalam hal dana. “Bukan kami tak mau membantu, tapi dana yang harus dikeluarkan YPI pun cukup besar dalam menyelenggarakan acara Putri di Jakarta,” terangnya. 

Berbicara tentang hal yang paling mendesak dibenahi di Papua, Audra memilih fondasi dari diri seseorang, yaitu masalah mental dan kepribadian. “ Saya akui bahwa orang Papua memang cenderung keras yah, dan belum menyadari bahwa mereka harus bergerak maju dan tidak ketinggalan,”. Dengan adanya pembenahan mental ini umpama melalui pendidikan, menurutnya akan memengaruhi berbagai sisi lainnya. “ Kalau kita punya alam yang luar biasa tapi orang-orang tak tahu bagaimana harus merawatnya, saya rasa akan sia-sia,” lagi Audra berkomentar. 

Penyuka buku-buku biografi dan pembangunan karakter ini juga mengutarakan pendapatnya soal tingginya tingkat HIV AIDS di Timika. Menurut dia , kalau memang tingkat penularan sebagian besar melalui hubungan seksual, maka secara moril kembali ke diri masing-masing. “Saya enggak mau menghakimi orang lain, di samping ketidaktahuan soal penularan HIV AIDS, maka kembali pada tanggung jawab seseorang akan dirinya dan kepedulian terhadap orang lain,” katanya. 

Audra sendiri beberapa kali harus bersinggungan dengan para penderita HIV/AIDS, namun tak membuatnya merasa risi sebab menurut Audra, para penderita justru butuh dukungan sosial. “Hati dan perasaan kita kan sama sekalipun mereka ODHA, ngapain harus diperlakukan berbeda?” kata Audra. 

Kepedulian sosial Audra memang sudah tampak sejak dia menetap di Surabaya selama tujuh tahun. Saat kuliah dia mendatangi kampung-kampung kumuh di Surabaya dan masyarakat miskin yang anak-anaknya tak sanggup mencecap sekolah dengan alasan biaya. “ Saya masuk-masuk gang naik-naik motor, rasanya capek tapi senang sekali saat bisa menemukan donator bagi anak-anak miskin yang membutuhkan biaya pendidikan,” kenangnya.

Saat itu Audra bergabung dengan sebuah yayasan yang berhaluan keagamaan tapi memfokuskan kegiatannya pada pelayanan sosial. Sehingga sempat bekerja dan mencoba berbisnis tak memberi perempuan ini kepuasan. Dia pulang dan berharap melakukan sesuatu untuk Papua yang selama ini terkenal dominan karena gerakan separatis. 

Memelopori hal baru dan memperluas jaringan untuk mendukung program sejenis ini tak lepas dari tantangan. Tak hanya lelah secara fisik dan mengatur konsep dalam pemikiran, secara finansial pun tak bisa pelit-pelit. Dalam keadaan yang berat, Audra merasa bahwa orang tua dan kedua orang saudaranya menjadi tempat berkeluh kesah. “ Sejak awal saya sudah mengomunikasikan keinginan kepada orang tua dan untungnya mereka mengerti, sekalipun ada sanak yang suka mempertanyakan tapi orang tua saya mendukung pekerjaan ini,” katanya lagi. 

Sementara itu, acara yang paling disukai Audra dan keluarga tercintanya? “ Kami berkumpul dalam kamar, ramai-ramai satu tempat tidur dan ngobrol, itu saja,” kata perempuan yang memfavoritkan Putri Diana tersebut. Menurut Audra, masih banyak impian yang masih harus diwujudkannya untuk Papua sehingga provinsi ini akan dikenal dengan hal-hal yang positif. Namun apa yang bisa dilakukannya saat ini akan diupayakan sebaik mungkin. N ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 22 Juni 2009

Written by Me

June 23, 2009 at 12:00 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. salut deh buat mantanku ini,maju terus!!!

    chandra s

    August 5, 2009 at 5:21 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: