Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Karut Marut KPU

leave a comment »

Ketidakberesan kinerja KPU ini terkait sumber daya manusia di dalamnya
Pelaksanaan pemilu legislatif yang dinilai amburadul, telah melahirkan tudingan ketidakbecusan KPU sebagai penyelenggara pemilu. Mulai dari DPT yang bermasalah hingga pendistribusian surat suara. Bagaimana persiapan KPU pada pilpres kali ini?


Dua pekan jelang pelaksanaan pemilihan presiden, kesibukan di kantor Komisi Pemilihan Umum, kian meningkat. Dalam sepekan, Ketua KPU, Abdul Hafiz Anshari bahkan harus bolak-balik ke luar kota untuk melakukan sosialisasi tata cara pemilihan maupun pendaftaran. Begitu pun jajaran stafnya.

4(480)
Selain sosialisasi, KPU sebagai pelaksana hajatan lima tahunan ini, juga kebagian tugas mengatur debat kampanye capres.”Jika Anda perhatikan hampir tiap hari ada running teks di televisi tentang sosialisasi pemilu,’’ ujar wakil Ketua KPU, I Gusti Putu Artha yang ditemui di ruang kerjanya Jumat (26/6).
Menurutnya, iklan di televisi itu cuma sebagian kecil upaya mereka dalam menyosialisasikan pilpres. Cara lainnya adalah dengan menjemput bola, mendatangi warga di kampung-kampung melalui KPU daerah setempat. Hal yang paling krusial, diakui Putu, memang soal pembenahan daftar pemilih tetap (DPT). Apalagi, persoalan ini sempat menuai kritik lantaran banyak warga yang kehilangan hak pilihnya sewaktu pelaksanaan pemilu legislatif, Apri lalu. Namun, kata Putu, sejauh ini konsep pemutakhiran DPT berbasis domisili, sudah ada usaha yang signifikan yang dilakukan KPU. Kesalahan-kesalahan di pileg lalu sudah perbaiki.
Menurutnya, dibanding pileg, persiapan logistik kali ini relatif lebih mudah dan tidak rumit. Distribusi dan pelipatan suara, kata dia, sudah sampai di kabupaten kota. Jadi kabupaten sudah akan mendorong ke kecamatan. “Kalau dari sisi seluruhnya mungkin angkanya 80 %. Sisa dari 20 % yang belum itu adalah kepastian distribusi logistik masih belum semua sampai ditingkat TPS,’’ tegasnya.
Namun, ironisnya, di saat kondisi pontang-panting melakukan persiapan itu, anggota KPU malah plesir ke luar negeri, termasuk Putu. “Loh, saya kira itu sangat urgen. Karena UU memang memerintahkannya. Kedua, kenyataannya ada 117 PPLN (panitia Pemilih) di luar negeri yang memang butuh bimbingan tehnis, sama seperti di dalam negeri,’’ kilah Putu. 
Sebagai lembaga penyelenggara pemilu, wajar jika KPU kini jadi sorotan. Apalagi, hasil penyelenggaraan pileg lalu, kinerja mereka dinilai kurang becus. Selain banyak pemilih yang tidak terdaftar, berkas gugatan yang masuk ke Mahkamah Konstitusi pun mencapai puluhan. Ini menunjukan banyak yang kurang puas dengan kinerja mereka.
Fakta di lapangan memang menunjukan demikian. Untuk masalah DPT, misalnya, di Kabupaten Sleman, Jogyakarta, ditemukan DPT Ganda sekitar 500 nama. Temuan ini baru terungkap di 82 desa, belum di desa-desa lainnya. “Itu baru yang kita cermati, ada kemungkinan jumlah pemilih ganda lebih dari itu,” kata Ketua KPUD Sleman Djajadi, Kamis (25/6)
Selain itu, Panwaslu DIY juga mengkhawatirkan mengkhawatirkan distribusi formulir C 1, sebab sampai Jum’at (26/6), yang terdistribusikan baru surat suara dan tinta. Itu pun jumlahnya kurang. “Kalau sampai Rabu belum terdistribusikan, maka Panwaslu akan menegur KPU,” kata Ketua Panwaslu DIY Agus Triayatno.


Menurutnya, surat undangan (formulir C1) harus segera didistribusikan ke seluruh kabupaten kota karena terkait pengisian nama dan penyebaran ke masyarakat, jangan sampai mengganggu distribusi logistik yang lain.
Lain di Jogya, lain pula di Semarang. Di wilayah ini, KPUD setempat mengaku kekurangan surat suara sekitar 18 ribu lembar. Penyebabnya, pasokan dari KPU Pusat tidak sesuai dengan kebutuhan. Anggota KPU Jateng Nuswantoro Dwiwarno mengatakan, daerah yang kekurangan surat suara Pilpres tertinggi adalah Kabupaten Pemalang, sebanyak 10 ribu lembar. Menurut Nuswantoro, pihaknya sudah melaporkan hal ini ke KPU pusat dan berharap kekurangan itu segera dikirim.


Kurang  Inisiatif


Menurut Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (Cetro), Hadar N Gumay, sejauh ini memang belum ada perubahan signifikan yang dilakukan KPU dibanding persiapan dan pelaksanaan pileg lalu. “Karena lagi-lagi persoalan DPT ini tidak saja kembali diragukan publik. Tapi, mereka (KPU) sendiri pun tidak dapat menunjukkan seberapa akurat, bersihnya dari DPT yang KPU susun itu. Dari itu saja sudah kelihatan,” ujarnya.
Hal yang lain juga dapat dilihat, kata Hadar, adalah soal sosialisasi. Sekalipun iklan di media cukup banyak , hal itu belum cukup menjangkau ke wilayah Indonesia yang begitu luas, serta keragaman lapisan masyarakat yang tidak semua bisa dijangkau televisi.


Jangan kan di daerah terpencil, masyarakat di Jakarta pun belum seluruhnya paham tata cara pelaksanaan pilpres ini. Hadar mencontohkan soal simulasi pilpres yang baru sekali dilakukan di Cilincing, Jakarta Utara, pekan lalu. Padahal, saat pileg dilakukan berulang-ulang. Itu pun hasilnya tingkat kesalahan pemilih sangat tinggi, sekitar 7 persen. Seharusnya paling tinggi tingkat kesalahannya sekitar 3 persen. “Jadi secara keseluruhan kinerja KPU tidak ada perubahan secara nyata antara pemilihan legislatif dengan persiapan menuju pilpres,” tegasnya.


Hadar menilai ketidakberesan kinerja KPU ini terkait sumber daya manusia di dalamnya. Seharusnya, kata dia, setiap anggota KPU harus punya cukup visi tentang bagaimana pelaksanaan pemilu yang demokrastis, baik, dan adil. Yang kedua, cara mereka memandang posisi mereka sebagai penyelenggara pemilu yang kaitannnya dengan perundang-undangan yang ada. “Mereka mereduksi diri sangat kaku bahwa mereka hanya sebatas atau sesuai dengan peraturan yang ada. Perundang-undangan kita kan tidak selalu baik. Bahkan persoalan terkadang timbul dari undang-undang. “
Seharusnya, kata Hadar, KPU punya inisiatif dan kreativitas untuk membuat langkah terobosan. Misalnya bikin terobosan agar semakin banyak orang untuk bisa memilih. Jangan orang tidak bisa memilih hanya gara-gara tidak ada dalam DPT. KUP semestinya punya inisiatif, misalnya mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat Perpu untuk melayani masyarakat secara menyeluruh. “Tidak hanya orang yang terdaftar dalam DPT saja.”
Selain kurang inisiatif, KPU juga kerap tidak konsisten. Bererapa kali mereka sempat meralat pernyataan mereka sendiri, misalnya tentang boleh tidaknya kampanye terbuka. Sabtu (27/6) kemarin, KPU bahkan terpaksa memerintahkan jajarannya untuk menarik spanduk sosialisasi pemilu yang terlanjurkan mereka pasang di jalan-jalan.


Masalahnya, spanduk-spanduk tersebut menempatkan tanda contreng di tengah, yang bisa mengarahkan warga untuk memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Spanduk sosialisasi ini dipermasalahkan tim kampanye nasional Jusuf Kalla-Wiranto. KPU pun akhirnya membuat surat edaran ke KPUD agar menurunkan spanduk-spanduk itu. 
Anggota KPU, Syamsul Bahri membantah pihaknya sengaja mendesain spanduk untuk menguntungkan pasangan calon bernomor urut dua. Sambil menunjukkan contoh desain spanduk, dia mengungkapkan bahwa spanduk dibuat 25 Mei 2009. “Jadi, sebelum pengundian nomor,” kata dia seperti dikutip Antara. 

Sebagai “panitia”, KPU memang semestinya bersikap netral. Begitu pun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai wasit. Mereka justru harus jeli sebagai pengawas. Sebab, bukan tidak mungkin di tengah kelemahan kedua lembaga ini, para kubu kandidat capres memanfaatkan celah itu untuk melakukan kecurangan. 
Bawaslu bahkan telah mencium indikasi itu, terutama kegiatan-kegiatan tim sukses bayangan para capres yang ternyata tidak didaftarkan ke KPU. Hal ini paling banyak ditemukan di daerah-daerah. Menurut Nur Hidayat Sardini, ketua Bawaslu, mereka sedang mengerjakan draft agar hal ini ditertibkan, bekerjasama dengan KPU. Pasangan capres yang ada dalam catatan Bawaslu yang paling banyak memiliki tim bayangan adalah pasangan SBY-Boediono, disusul JK-WIN, dan kemudian Mega-Pro. (adiyanto/agus triyono/ezra sihite/kristian ginting/teguh nugroho/risky Amelia/eko s putro/henry palupessy)

Dikutip  sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu 28 Juni 2009

Written by Me

June 29, 2009 at 12:58 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: