Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Hendri Saparini : Tak Mau Sekadar Ikut Arus

with one comment

Ekonom Ini Tak Pernah Bercita-Cita Jadi Pengamat Ekonomi. Menurut Dia Tak Ada Anak-Anak Zaman Dulu Yang Tahu Profesi Peneliti Dan Pengamat. Kini Dua Anaknya Juga Mulai Mengikuti Jejak Sang Ibu.

Hampir 21 tahun Hendri Saparini menekuni bidang ekonomi sejak lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi Gajah Mada. Beberapa tahun terakhir ini dia banyak dimintai pendapat soal ekonomi dan diundang menjadi panelis oleh berbagai media dan pembicara di berbagai seminar. Sebagai peneliti, perempuan ini memfokuskan penelitiannya pada bidang makro ekonomi, industri, perdagangan internasional serta usaha kecil dan menengah. 
11(151)

Nama Hendri memang lekat dengan ekonomi, sampai-sampai kalau mengklik namanya di internet akan keluar sederet berita ekonomi yang mengutip pernyataan dan pengamatan perempuan berdarah Jawa ini.

“ Karena kompetensi saya cuma itu, kalau yang lain saya enggak dipercaya ngomong,” katanya. Hendri kemudian bercerita bahwa masuk ke dalam bidang ekonomi dianggapnya sebagai terdampar. Pasalnya awal tahun 80 an, jurusan ini tidak popular. “ Orang kan saat itu hanya tahu dokter dan insinyur,” katanya lagi. Tapi keinginannya yang sudah bulat untuk memasuki salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa saat itu membuat Hendri tak sibuk berpikir soal popularitas jurusan. Tahun 1983 dia diterima di fakultas ekonomi jurusan Manajemen UGM. 

Namun Hendri ternyata tak selamanya merasa terdampar. Dia mulai menyadari bahwa jurusan yang dia pilih penting dan menurut perempuan ini banyak memberi jawaban-jawaban seputar persoalan masyarakat yang harus dihadapi. Memang sejak tahun 90-an jurusan ekonomi mulai populer. Sekarang pun masih, bahkan pada tahun Pemilu ini para ekonom tampaknya dominan mengingat para pasangan capres dan cawapres saling menjagokan program-program ekonomi. Di samping dunia yang belum bangkit dari imbas krisis global, ekonomi menjadi tiang penting keberlangsungan suatu masyarakat dalam negara.

Hendri banyak mengkritisi soal kebijakan ekonomi pemerintah sekarang yang banyak mengutamakan liberalisasi. Dia ingin agar pasangan presiden wakil presiden terpilih nanti tidak melanjutkan praktik ekonomi neoliberal. Selain itu soal gagasan ekonomi, Hendri mendorong ide ekonomi kerakyatan dari Mega-Prabowo dan kemandirian ekonomi dari JK-Win. Perempuan ini sempat diminta salah satu pasangan untuk menjadi tim sukses, tapi dia menolak. Baginya memberi masukan tak harus masuk dalam tim sukses bahkan memperluas kesempatan untuk bisa berbicara dengan ketiga pasangan tanpa ada kecenderungan pada kubu tertentu.

Sebagai ekonom, Hendri memang kerap berseberangan dengan arus utama. Di zaman orde baru, pada tahun 90-an, timnya tak segan-segan mengeluarkan hasil penelitian yang tak sejalan dengan kebijakan ekonomi saat itu. Tapi tak pernah menyurutkan langkahnya sekalipun kata Hendri intimidasi pasti ada. “ Pastinya kita akan enggak disukai oleh beberapa pihak tapi yah kalau untuk kepentingan masyarakat dan nasional, itu yang paling utama,” kata dia. Tahun 1994, bersama mantan menteri keuangan Rizal Ramli dan beberapa temannya, Hendri mendirikan lembaga riset dan konsultan ekonomi, Econit Advisory Group. Hendri bercerita soal EPPR, ( Econit Public Policy Review) yang sangat terkenal ketika era Soeharto. Mereka mengkritisi soal ekonomi contohnya masalah pupuk tablet yang dari segi harga tinggi padahal manfaatnya tak berbeda dengan pupuk tabor. Kebijakan ini lantas merugikan para petani yang seharusnya mendapatkan pupuk murah. 

Perempuan berjilbab ini memang tak sungkan-sungkan lagi harus sibuk ke mana-mana. Sejak SMP dia sudah membiasakan diri terjun ke dalam kegiatan masyarakat. Sejak menginjak remaja, dia kerap ikut dalam kegiatan membantu masyarakat yang tertimpa bencana di sekitar daerah Jawa. Saat SMA, Hendri sendiri terpilih menjadi ketua OSIS. “ Padahal saya kan dulu ndeso, sampai SMP di Kebumen, sekolah ke Yogya dan jadi ketua OSIS di sebuah SMA ternama dan mahal di sana ,” kata Hendri tertawa. 

Tak hanya teman-temannya yang menganggap Hendri sebagai sosok yang bermobilitas tinggi sejak sekolah, kakak-kakaknya dulu selalu bertanya mengapa sang adik selalu mencari kesibukan. “ Yah bagaimana saya merasa itu nikmat dan memberi kepuasan,” tawanya kembali terdengar. 

Mandiri Sejak SMP


Saat kuliah, Hendri juga menjadi penggerak teman-temannya mengajukan aspirasi kepada dekan saat itu. Dia merasa bahwa kenaikan SPP dari sembilan ribu rupiah menjadi empat puluh ribu rupiah per semester akan sangat membebani para orangtua.

Dia mengajak teman-temannya untuk menghadap dekan. Teman-temannya mewanti-wanti, beasiswa Supersemarnya bisa dicabut tapi Hendri hanya menjawab, “Enggak apa-apa , itu urusan belakang.” 

Selain menyibukkan diri dalam perkumpulan mahasiswa dalam hal akademis, perempuan ini juga mulai asyik terjun ke dunia masyarakat sejak kuliah. Hendri ikut dalam kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang pendidikan. Saat akhir pekan dan libur, dia ikut ke desa-desa mengajari anak-anak membaca dan menulis. Selain itu, Hendri zaman dulu dikenal tomboy, tak suka berdandan dan senang melakukan kegiatan menantang. Hampir setiap minggu dia ikut mendaki gunung yang diadakan kelompok pencinta alam sekolahnya . “ Setiap malam minggu saya ke Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan lain-lain jadi sudah sejak zaman kuliah main sama embah Marijan sudah sejak SMA,” tambahnya.

Menurut Hendri kemandirian itu mau tak mau mulai dipupuk sejak dia duduk di bangku SMP. Kakak-kakaknya yang kemudian hijrah sekolah ke Yogya mulai SMA, membuat anak keenam dari sepuluh bersaudara ini diposisikan sebagai anak paling tua. Untuk ngemong adik-adiknya, Hendri paling suka membuatkan perahu-perahu kertas. Sementara itu dia juga membantu pekerjaan orang tuanya mengelola toko. Ayahnya berdagang perhiasan sementara sang ibu membuka toko kelontong. Perempuan ini membantu mengorganisasikan toko ibunya, mulai menghitung apa saja yang menjadi prioritas barang dagangan. Kata dia mungkin itulah yang melatihnya cepat berhitung, intinya ilmu ekonomi dasar yang secara tidak langsung sudah dia kecap.

Seusai menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, ibu dua anak ini bertekad harus melanjutkan sekolah kembali. Menurut dia masih banyak hal yang harus diperdalam soal ilmunya dan membuat dia penasaran. Untuk mendapat akses itu, Hendri bertolak ke Jakarta . Mengapa harus Ibu Kota ? 

“Saya kira di Jakarta informasi akan lebih cepat dari derah dan ada peluang yang bisa segera dimanfaatkan,” katanya. 

Awalnya dia bekerja di bidang perencanaan produk, kemudian di sebuah lembaga penelitian CPIS yang saat itu didirikan atas kerja sama Departemen Keuangan dan Harvard Institute. Namun jika hasil penelitian hanya disimpan di dalam lemari dan tak segera diimplementasikan, menurut Hendri tak ada artinya. 

Sejak tahun 1994 dia bergabung dengan lembaga riset ekonominya sekarang menurut Hendri independen, termasuk dalam pengadaan dana untuk penelitiannya. Saat berkarir di sana pulalah, perempuan ini bisa menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 di Jepang.

Dalam kehidupan Hendri, ada tiga kota yang memberikan kesan tersendiri baginya. Kebumen, kota kelahirannya dianggap sebagai tempat dia belajar pertama kali menanggungjawabi adik-adik dan membantu ibunya yang kemudian memberikan pelajaran ekonomi sederhana bagi perempuan ini. 

Saat masuk SMA, sesuai tradisi keluarganya, Hendri meneruskan di Yogyakarta, tempatnya yang kemudian banyak menghabiskan waktu mengolah kemampuan diri untuk berorganisasi. Sementara saat ke Jakarta , perempuan ini memiliki keyakinan tak hanya sekadar ikut hidup di Jakarta. “ Jadi jangan ada enggak ada Hendry sama aja,” katanya tertawa lagi.

Sore itu perempuan ini mengenakan setelan blazer dan celana hitam yang berwarna sama dengan sepatu vantouvel bertumit sedang. Dipadukan dengan jilbab pink dan bros penghias berwarna sama. Arloji putih melingkar di pergelangan tangan kanan Hendri. Perempuan ini mengaku tak pernah melakukan perawatan ala perempuan dengan alasan kecantikan. “ Kalau tubuh harus dirawat karena dengan demikian menghargai diri sendiri dan orang lain juga, dan biar tetap sehat,” katanya. 

Bagi Hendri cantik mungkin sering dikaitkan ke masalah fisik tapi menarik itu macam-macam mulai dari enak dilihat dengan gaya yang tak dibuat-dibuat, berbicara gampang dimengerti, ini semua juga menjadi daya tarik perempuan. Dia sendiri merasa senang melihat kaum Hawa yang terbiasa berdandan dan memperhatikan perawatan tubuh, meskipun dia sendiri merasa tak bisa melakukannya, barangkali karena bawaan tomboy itu. Lalu selain membaca apa yang menjadi hobi perempuan ini?

Kata dia paling bingung ditanya soal hobi, yang pasti Hendri senang berkegiatan. Kalau olahraga, meskipun tak kuat lagi naik gunung, kadang-kadang dia menyempatkan lari di halaman depan rumah dan sesekali melakukan exercise di rumahnya. N ezra sihite



Bukan Harus Sabtu Minggu


Menghabiskan waktu dengan anak tak harus dengan acara piknik atau acara khusus.

Dua buah hati Hendri Saparini kini sudah beranjak dewasa dan memasuki jenjang kuliah. Yang sempat membuat Hendri kaget, kedua anaknya itu memilih jurusan yang sama, ekonomi sama dengan jurusan yang dipilih Hendri. “Saya juga takut jangan-jangan intervensi saya terlalu kuat,” Hendri tertawa. 

Semenjak kecil Hendri memang melatih anak-anaknya untuk memperhatikan isu-isu sosial di sekitar mereka. Sejak SD , keduanya dibiasakan membaca koran dan kemudian mendiskusikan dengan sang ibu atau ayahnya. Menurut Hendri, mungkin karena kebiasaan ini, ilmu sosial lebih diminati anak-anaknya.

Si sulung juga bulan depan akan bertolak ke negeri matahari terbit. Memang saat Hendri menempuh pendidikan di sana , dia membawa putrinya itu saat masih usia sekolah dasar. Ini salah satu alasan menurut Hendri yang membuat sang anak ingin kembali ke sana karena mengingat kenangan masa kecil barangkali. Atau karena ingin seperti ibunya? Hendri tertawa. 

Yang pasti kata dia, ingin menjadi teman bagi anak-anaknya dalam hal apa pun khususnya untuk berdialog soal apa pun. Hendri bercerita dulu saat SD, pernah si anak merasa tak ingin membebaninya dan merasa harus memberikan kebanggaan bagi orang tuanya, misalnya dalam hal keberhasilan akademis. “Itu kan sudah enggak baik karena dia akan berupaya tak pernah ada masalah padahal yah namanya anak harus ada sisi nakalnya, melawan sekali-sekali,” katanya. 

Soal kebersamaan dengan keluarga, menurut Hendri tak harus dibatasi hanya saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu contohnya. Saat anak-anak masih balita, perempuan ini memang menargetkan sebelum pukul enam harus sudah ada di rumah, tapi ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, aturan itu lebih fleksibel. “Bagi saya menghabiskan waktu dengan anak tak harus dengan acara piknik atau acara khusus untuk refreshing,” kata Hendri. 

Duduk bersama membicarakan berita di koran atau pergi berempat tak harus akhir pekan juga waktu khusus bagi keluarga baginya. Sejak anak-anaknya masih kecil dan bisa berbicara, Hendri memang sengaja menularkan kebiasaan berdialog itu tadi. Seusai salat bersama, kata dia biasanya ada kuliah tujuh menit, yang membicarakan mulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Dia memberikan kesempatan buat kedua putra-putrinya bertanya apa saja dan kemudian dijelaskan saat kuliah singkat lingkup keluarga itu.

Saat masih kecil namun Hendri harus ke kantor pada Sabtu, dia biasanya membawa kedua anaknya ke kantornya di daerah Tebet. Kata perempuan ini, kedua buah hatinya justru sangat senang bila dibawa ke kantor, bagi mereka itu rekreasi. “Mereka piknik di kantor, bisa main komputer, bisa memfotokipi diri sendiri macem-macem, nah sekarang mereka masuk ekonomi saya yang kaget,” tawa Hendri kembali terdengar. 

Selain membiasakan diri berdiskusi, Hendri juga sering meminta anak-anaknya mengoreksi ejaan tulisan-tulisannya yang akan dipublikasikan, yang kemudian membuat mereka makin terbiasa dengan isu-isu ekonomi. Yang pasti menurut Hendri, pendidikan itu keharusan tapi kalau soal di mana dan ambil ilmu apa, menjadi pilihan bagi putra dan putrinya yang maki mengidentikkan diri dengan ibu mereka tersebut. zra

dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 5 Juli 2009

Written by Me

July 6, 2009 at 8:44 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ekonomi Islam adalah pelaksanaan program tugas khalifatullah fil ard, memelihara dan melestarikan harta Allah yang ada di bumi dan yang ada dilangit dan memanfaatkan untuk kemakmuran dan jwswjahteraan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.

    Eddy O.M. Boekoesoe

    July 20, 2009 at 3:04 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: