Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Pat Gulipat Iklan Kampanye

leave a comment »

Persoalan Dana Kampanye Para Kandidat Capres Dinilai Tidak Transparan. Itu Bisa Dilihat Dari Gencarnya Tayangan Iklan Yang Mereka Lakukan Di Berbagai Media. Siapa Bisa Memberikan Sanksi?

Akhir Mei lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan saldo awal dana kampanye tiga pasangan capres. Saat itu terungkap, saldo awal dana kampanye tertinggi dimiliki pasangan SBY-Boediono sebesar 20 miliar rupiah lebih.

4(497)

Saldo awal dana kampanye terendah dimiliki pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) yang cuma sebesar 10 miliar rupiah. Sedangkan pasangan Megawati-Prabowo nilainya mencapai 15,5 miliar rupiah.
style=”padding: 0px; margin: 0px;” />
Tentu tak ada yang percaya dengan semua data ini. Apalagi jika mengamati tayangan iklan di televisi yang gencar dilakukan ketiga pasangan akhir-akhir ini. Mulai pagi hari hingga dini hari berikutnya. Belum lagi iklan di berbagai media lainnya, entah itu surat kabar, radio, spanduk, billboard dan sebagainya. Jumlahnya mungkin mencapai ratusan miliar bahkan triliunan rupiah.

Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana kampanye tadi? Memang ada aturan yang membolehkan mereka menerima sumbangan. Namun, itu pun jumlahnya dibatasi. Undang-undang pemilu legislative, misalnya, mengatur bantuan dana kampanye dari individu maksimal 1 miliar rupiah. Sedangkan dana bantuan kampanye dari perusahaan ditetapkan maksimal 5 miliar rupiah. 
Namun, undang-undang tersebut tidak mengatur soal holding company. Sehingga pemilik saham yang menanamkan modal pada sejumlah perusahaan yang berada dalam satu holding company berpeluang menyumbang dana kampanye lebih dari 5 miliar rupiah. Nah, siapa yang bisa mengawasi dan mengaudit hal ini?

Dalam proses pemilihan legislatif lalu saja, misalnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan 32 transaksi mencurigakan, berasal dari sembilan partai, dan tiga KPUD. Sebagian besar sudah diteruskan ke penegak hukum dan sebagian kecil ke Bawaslu dan KPU. “Tapi nanti yang KPUD kami tambahkann juga ke Bawaslu tiga-tiganya karena dia mengawasi KPU juga,” kata Ketua PPATK Yunus Husein, pertengahan pekan lalu.


Selain itu, kata Yunus, Bawaslu juga bisa meminta informasi dari PPATK soal rekening-rekening tadi. “Itu nanti kita tindak lanjuti dengan permintaan kepada bank-bank agar bisa memberikan data pada mereka (Bawaslu). Tapi kalau mau minta bantuan seperti itu informasi awalnya harus spesifik,” kata Yunus. 


Lebih jauh dia menjelaskan, bila informasi itu berkaitan dengan orang, maka harus disebutkan nama orang bersangkutan. “Nama saja tidak cukup, orang nama yang sama juga banyak. Yang kita perlukan adalah apa yang membedakan orang itu dengan orang lain. Bisa saja tempat tanggal lahir. Lalu periode transaksinya kapan. Ini lebih spesifik. Kalau nggak jelas susah mencarinya.”

Kerjasama PPATK dengan Bawaslu diteken 6 November 2008 untuk masa tiga tahun dan bisa diperpanjang lagi. Untuk pilpres nanti, menurut Yunus, pihaknya bisa menemukan bila transaksi kubu capres yang mengelabui angka belanja iklan. Sebab, kata dia, dalam hitung-hitungan paling kasar pun bisa diketahui belanja iklan.

Misalnya, untuk iklan di televisi hitung-hitungan sederhana belanja itu untuk satu capres bisa sampai 500 juta rupiah untuk sekali beriklan. “Apakah benar uang yang digunakan itu hanya yang dilaporkan saja. Bisa terdeteksi tidak penggunaaan uang di luar dana yang dilaporkan tadi,” kata Yunus. 

Menurut Yunus temuan itu hanya diketahui oleh KPU dan akuntan publik. Perihal tidak adanya kesesuaian antara dana yang dikeluarkan dan yang dilaporkan, bisa saja terjadi dan itu sangat mungkin. Bisa saja sumbangan-sumbangan itu tidak melalui rekening dana kampanye yang di laporkan itu, tapi lewat rekening lain. 
“Mestinya sumbangan itu ya lewat itu saja, nggak boleh lewat tempat lain. Tapi saya yakin ada sumbangan-sumbangan tunai, sumbangan in natura yang tidak dilaporkan,’’ tegas Yunus.

Dia mengakui agak sulit mengetahui hal ini. Bahkan, katanya, akuntan publikpun akan kesulitan mengaudit karena tidak semua verifikasi yang dilakukan akutan publik itu direspon. Kesulitan yang lain adalah bagaimana mengecek sumbangan in natura seperti spanduk, kaos, dan lain-lainnya. “Itukan udah dipakai orang kemana-mana nggak bakalan punya waktu dia. Sebulan dan harus memeriksa seluruh Indonesia. Akutan publiknya terbatas dananya terbatas, “ ujar Yunus.


Lantas, siapa yang berwenang menyelidiki ini semua? PPATK pun, kata Yunus, tidak merasa bertanggung jawab atas hal ini. Sebab, ini merupakan tugas Bawaslu dan KPU. PPATK hanya membantu jika diminta.

Persoalan dana kampanye ini sebetulnya kerap di soal dalam setiap pelaksanaan pemilu. Pada Pemilu 2004 lalu, misalnya, Transparansi Internasional Indonesia (TII) pernah mengaudit dana ini. Pada waktu itu mereka melakukan investigasi yang panjang dan hasilnya telah dibuku kan. “Di situ Anda bisa lihat secara keseluruhan mengenai perbedaan antara selisih dana kampanye yang dilaporkan ke KPU dengan hasil temuan kita,” ujar Dwipoto Kusumo, Communication Officer TII. 

Tapi, kata Dwi, untuk pasangan capres dan cawapres masih lebih mendingan kalau dilihat dari segi kataatannya. Mereka bisa menyerahkan rekening kekayaan dan juga laporan rekening dana kampanye empat pasangan yang maju dilengkapi dengan data penyumbang dan sumber data penyumbang.


Sayang, pada pemilu kali ini TII tidak lagi melakukan audit dan investigasi karena kekurangan SDM dan dana. Mereka hanya membantu pihak Indonesia Corruption Watch (ICW) yang kebetulan melakukannya. Namun, hanya menyuplai data yang dibutuhkan.
Akan tetapi, hasil investigasi ICW sendiri belum bisa diumumkan.

Masalah dana kampanye yang tidak transparan yang kerap kali terjadi lantaran tidak adanya sanksi tegas dari KPU maupun Bawaslu. Selain itu juga disebabkan oleh lemahnya peran KPU dalam menjaga sistem ketaatan administrasi para peserta pemilu.Agus Triyono/kristian ginting/ezra sihite/risky amelia

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 5 Juli 2009

Written by Me

July 6, 2009 at 9:00 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: