Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Catur Yang Menenangkan

leave a comment »

Grand Master perempuan ini mengaku pernah menjadi anak hiperaktif, yang tidak bisa tenang itu.

Di luar catur, Irene menyukai membaca buku, belajar sastra, dan mencari teman di internet. Jangan minta dia memasak, kecuali merebus air.

ayah(1)

Apa kabar Irene? Grand Master Wanita ini, diam-diam ternyata sedang menyiapkan studinya ke Amerika Serikat. Ada tawaran beasiswa dari Universitas Texas kepadanya untuk berkuliah di sana tapi baru tahun depan dia akan berangkat ke Abang Sam. Sementara menunggu waktu itu tiba, Irene mendaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Jakarta dan menekuni bahasa Inggris. “Ya untuk menambah kemampuan berbahasa Inggris saya,” kata Irene.

Jangan membayangkan, di Amerika Irene akan mengambil bidang studi catur. Di Texas itu, dia rencananya akan mengambil bidang studi politik, atau semacam itu. Tak ada alasan khusus, kenapa harus bidang politik, termasuk jika itu harus dikaitkan dengan catur, olahraga yang ditekuninya dan melambungkan namanya. “Kalau saya sudah ambil jalan ini, saya pikir harus fokus dan mungkin inilah kebahagiaan saya dan teman-teman yang lain punya kebahagiaan berbeda,” katanya.

Irene dan olahraga catur, memang seperti dua warna bidak catur itu sendiri, tak terpisahkan. Tak banyak untuk menyebut nyaris tidak ada, perempuan Indonesia yang menekuni olahraga asah otak itu apalagi sejak masih kanak-kanak. Namun Irene adalah pengecualian.

Ikut kejuaraan catur sejak masuk SD, Irene yang sekarang berusia 17 tahun, sudah sejak tujuh bulan lalu menyandang Grand Master Wanita. Itu predikat tertinggi di olahraga catur dunia dan sedikit orang yang bisa meraihnya meski ketika kali pertama diberitahukan mendapat gelar Gran Master, Irene sempat tak percaya.

Ceritanya terjadi di Singapura tahun lalu. Waktu itu Kejuaraan Singapura Terbuka sudah berlangsung lima hari dari enam hari yang dijadwalkan sejak 9 Desember 2008 dan memasuki babak ke delapan. Irene yang gelisah karena tawaran remisnya ditolak oleh Yang Kaiqi (peringkat 2.429) dari China sedang berjalan menuju kamar kecil, ketika secara kebetulan berpapasan dengan Presiden Konfederasi Catur ASEAN Ignatius Leong. Tanpa tanda-tanda apa pun, Leong kemudian mencegat Irene dan menyerahkan sertifikat Gran Master. “Ah, yang benar, seriuskah ini?” kata Irene kepada Leong.

Alasan Irene masuk akal, karena menurut hitungannya rata-rata peringkatnya kurang sedikit dari persyaratan. “Kamu lihat saja sertifikat tersebut, siapa saja yang menandatanganinya? Perhatikan pula keaslian stempelnya. Kok bukannya senang malah meragukan?” kata Irene menirukan Leong.

Sejak itu Irene resmi menyandang Grand Master Wanita. Predikat itu diberikan kepada Irene, karena sebelumnya dia sudah meraih norma Grand Master ketiga setelah menyelesaikan Olimpiade Catur di Dresden, Jerman. Di Indonesia, gelar untuk Irene itu menjadi satu-satunya, pertama kali dan tentu saja membanggakan.

Lebih Tenang

Perkenalan Irene dengan dunia catur, diakuinya berkat peran sang ayah. Sejak Irene masih kanak-kanak, sang ayah memang sudah mengenalkan beberapa cabang olahraga termasuk catur. Dan Irene kecil sudah memegang buah-buah catur sejak berusia lima tahun, saat bersekolah TK.

Perkenalannya dengan turnamen diawali ketika dia ikut kejuaraan catur nasional, dua tahun setelah itu. Oleh pelatihnya dia diminta mewakili Sumatra Selatan. Kalah, tapi catur sejak itu lalu semakin memikat Irene.

Sekitar dua tahun kemudian, Irene meraih juara 3 Kelompok Umur 10 Kejuaraan Catur ASEAN di Singapura. Itu terjadi 2002. Tahun-tahun berikutnya, Irene seolah tak terbendung. Berbagai medali dan penghargaan hampir setiap tahun menghinggapinya dan puncaknya saat dia menyandang Grand Master tahun lalu.

Kadang bagi Irene, terasa lucu, jika mengenang bagaimana dia ketika kanak-kanak yang termasuk anak yang tidak bisa diam dan hiperaktif, bisa menekuni catur yang penuh dengan kesabaran dan ketelitian. “Dulu, biarpun pintu sudah dikunci dan pagar ditutup, aku akan cari cara keluar dan memanjat,” kata Irene mengenang masa kecilnya.

Belakangan dia tahu, catur telah mengubah perilakunya, membantunya membangun mental pemenang dan membentuk karakter yang lebih tenang menyikapi segala sesuatu. Kini kata Irene, yang dia saksikan di sekolah catur tempatnya belajar, banyak orang tua mendaftarkan anak-anak mereka. Bukan supaya anak-anak itu menjadi juara catur, melainkan terutama agar mereka bisa lebih kalem dan tenang.

Tak lalu hidup Irene hanya penuh dengan papan-papan catur. Sebagai perempuan dan muda, Irene tetaplah sama dengan perempuan-perempuan sebayanya: pergi ke mall, belanja dan sebagainya. Untuk urusan baju, Irene menyukai yang simpel dan polos. Kaus, jins, jaket. Kasual.

Busana semacam itu pula yang dikenakannya saat bertanding catur. Kadang saat dibelikan atau diberikan baju yang ternyata tak dia sukai, Irene setengah hati memakainya dan sengaja menutupinya dengan jaket. “Kalau dari segi fesyen memang aku enggak banyak ikut remaja cewek kebanyakan, aku pakai apa yang membuat aku nyaman,” ujarnya.

Atau saat jenuh dengan catur, dia menghabiskan waktu berinternet. Itu salah satu aktivitas favorit Irene di luar catur. Lewat internet pula, Irene memperluas koneksi, mencari informasi seputar turnamen catur di luar negeri.

Beberapa kali dia mendapat undangan kompetisi karena mendapat rekomendasi dari teman-temannya di luar negeri. “Kata Papa saya, dalam olahraga membangun koneksi itu penting agar tak ketinggalan informasi baik ilmu caturnya atau info seputar turnamen,” kata Irene.

Mahabarata

Dan ini pengakuan Irene: dia justru senang jika tak harus berlatih catur. Entah mengapa, kata dia, kalau harus latihan sering ada kejenuhan. Sebuah perasaan yang menurutnya sangat berbeda dibandingkan ketika dia harus menghadapi turnamen, yang bisa memakan waktu hingga dua pekan. “Saat duduk berhadapan dengan lawan, aku tak lagi panik tapi justru tenang, dan mulai membaca situasi pertandingan,” katanya.

Kesukaan yang lain dari Irene adalah membaca buku terutama buku-buku sejarah khususnya cerita wayang seperti Ramayana dan Mahabarata. Koleksi bukunya cukup lengkap. Irene menyukai kisah-kisah itu karena kakeknya dan ceritanya yang panjang. Biasanya kalau ada acara wayang di televisi, sang kakek menerjemahkan bahasa Jawa dari sang dalang ke bahasa Indonesia dan Irene tekun mendengarkannya. Krisna adalah tokoh wayang favoritnya. Di matanya, Krisna tokoh paling cerdik.

Minat Irene pada bahasa dan sastra memang tak lekang pada Irene meski dia dikenal sebagai pecatur. Saat SD dan SMP karya-karya puisi dan cerita pendeknya sering dipampang di majalah dinding sekolah dan ikut beberapa kali lomba penulisan bahasa dan sastra. Pernah kata Irene, gurunya memercayakan satu kunci perpustakaan sekolah kepadanya.

Tapi jangan tanya Irene soal memasak dan urusan-urusan semacam itu. Dia sama sekali tak menguasainya. Bagaimana nanti kalau bersekolah dan tinggal di Amerika? Irene mungkin akan menjawabnya, gampang tinggal beli.

Yang tidak gampang menurut Irene, adalah berharap semakin banyak orang tua yang melihat potensi catur untuk anak-anak mereka. “Kalau di Indonesia mungkin usia tujuh belas tergolong muda tapi di luar negeri itu hal yang sangat biasa,” ujarnya.

Menurutnya itu, salah satu indikasi bahwa dunia catur Indonesia memang masih jauh ketinggalan. Irene paham, jarangnya orang tua melibatkan anak-anak mereka ke olahraga, karena dunia itu memang masih belum bisa memberikan jaminan kehidupan bagi para atletnya. Kata dia, menjadi atlet tak akan selalu berprestasi dan bisa menjamin hidup mereka. “Karena itu harus punya usaha atau keahlian lain,” katanya.

Apakah rencana berkuliah politik di Universitas Texas termasuk usaha lain yang dipersiapkan Irene?

Kesabaran Sang Ayah

Untuk Saat Ini, Keluarga Menjadi Tempat Berlabuh Irene Yang Paling Utama. Saat-Saat Yang Dia Sukai Kala Malam Hari Mereka Sekeluarga Berkumpul Dan Membicarakan Setiap Rencana Dan Memutuskan Pilihan Yang Harus Diambil Anak-Anak Dalam Hal Apapun. Remaja Perempuan Ini Sangat Mengagumi Sosok Ayah Yang Juga Mantan Atlet Tenis Meja Nasional.

Untuk saat ini, keluarga menjadi tempat berlabuh Irene yang paling utama. Saat-saat yang dia sukai kala malam hari mereka sekeluarga berkumpul dan membicarakan setiap rencana dan memutuskan pilihan yang harus diambil anak-anak dalam hal apapun. Remaja perempuan ini sangat mengagumi sosok ayah yang juga mantan atlet tenis meja nasional.

Baginya, sang ayah tahu betul bagaimana harus menangani anak-anaknya yang sedang menggeluti dunia olahraga. Dari figur ayah, Irene makin belajar bagaimana menjadi seorang dengan mental pemenang. “Mental pemenang artinya menyadari bahwa tak akan selalu menghadapi kemenangan sehingga saat kalah tak tertekan atau saat menang jangan jadi over,” kata Irene.

Irene mengakui, sekolah catur memang mengajarkan teknis dan strategi bermain catur. Namun masalah mental dan motivasi kata dia, justru harus kembali ke keluarga. Banyak anak-anak yang akhirnya putus bersekolah dan menekuni catur karena orang tuanya tidak sabar mendampingi. Padahal untuk menunjukkan hasil butuh proses dan waktu yang panjang. Irene mengaku, dirinya bahkan menghabiskan waktu selama 10 tahun.

Benar, Irene telah berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA). Sejak di bangku SD dia diantarkan oleh sang ayah dari rumahnya di Jakarta Selatan, berlatih di SCUA di Bekasi. Baru belakangan, Irene dan keluarganya akhirnya memilih pindah ke Bekasi.

Irene bercerita, pengorbanan sang ayah sangat luar biasa. Irene dan kakaknya yang juga pecatur, awalnya harus mengeluarkan ongkos sendiri untuk bisa mengikuti berbagai turnamen. Tak ada sponsor. Sang ayah bahkan sempat menjual dua rumah untuk keperluan pertandingan catur yang diikutinya.

Buahnya, baru Irene rasakan setelah 10 tahun. Sponsor dan sebagainya tak susah lagi dicari. Berkat menjuarai beberapa turnamen, Irene bahkan sudah bisa menebus kembali rumah sang ayah pernah dijual itu. Sebuah rumah yang dianggapnya sangat berkesan, tempat dia dan kakaknya lahir dan bermain saat kecil. -ezrasihite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 20 Juli 2009

Written by Me

July 21, 2009 at 8:32 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: