Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Kisah Cicak Melawan Buaya

leave a comment »

“…Cecak Kok Mau Melawan Buaya….\\\” Pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji Di Majalah Tempo Itu, Kini Terus Memantik Perseteruan Antara Kepolisian Dan KPK. Istilah Itu Mencuat Setelah Sang Komjen Merasa Telepon Selulernya Sedang Disadap Terkait Dengan Penanganan Kasus Bank Century.

Gambar Berita Koran Jakarta 419 4 100 - 4 - 20090808 233023


“…Cecak kok mau melawan buaya….” Pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji di majalah Tempo itu, kini terus memantik perseteruan antara kepolisian dan KPK. Istilah itu mencuat setelah sang Komjen merasa telepon selulernya sedang disadap terkait dengan penanganan kasus Bank Century. 
Susno tak menyebutkan siapa atau pihak mana yang menyadap. Dia menyatakan, hanya menyesalkan dan menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga, kata dia, dirinya malah sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati. Benarkah?
Sebelum muncul pernyataan Susno itu polisi sudah memeriksa Chandra M. Hamzah. Wakil Ketua KPK itu diperiksa lantaran disebut-sebut melakukan penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan. Pemeriksaan Chandra itulah, penyebab keluarnya pernyataan “ cecak kok mau melawan buaya…” dari Susno. 
Tentu saja arah pernyataan Susno mudah ditebak: cecak adalah KPK, sedangkan buaya adalah kepolisian. Pernyataan itulah yang lantas dituding sebagai upaya polisi untuk melumpuhkan KPK. Muncul kemudian Cicak, singkatan Cintai Indonesia Cintai KPK.
Gerakan ini dideklarasikan di Tugu Poklamasi 12 Juli silam diprakarsai sejumlah tokoh dan aktivis antikorupsi termasuk Teten Masduki, Erie Riana Harja Pamengkas dan Taufiqurrahman Ruki. Dua nama terakhir adalah mantan petinggi KPK periode pertama.
Menurut Ruki, rongrongan koruptor kepada KPK akhir-akhir semakin gencar dan karena itu perlu dukungan untuk KPK. “Perlawanannya makin sistematis,” kata Ruki. 
Salah satu contoh rongrongan itu, menurut Ruki, ditunjukkan antara lain melalui tidak selesainya RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penangkapan atas Ketua KPK, Antasari Azhar, dan pemeriksaan Chandra M Hamzah di Polda Metro Jaya. Dengan hadirnya Cicak, dia berharap akan mampu membangkitkan semangat KPK Jilid II. 
Ruki mengaku telah meminta kepada presiden terpilih untuk menaruh perhatian pada pemberantasan korupsi. Menurutnya, perlawanan dari mana pun terhadap KPK harus dihadapi. “Saya harap antarlembaga bisa bekerja sama memberantas korupsi. Jangan saling menjatuhkan,” tegas pensiunan polisi itu.
Peneliti hukum Indonesia Corruption Watch,ICW, Febri Diansyah mengatakan, selain dari pembahasan RUU Pengadilan Tipikor yang tidak rampung-rampung, upaya untuk melemahkan KPK juga tampak dari rencana audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap KPK. Rencana itu menuai kontroversi. Sebab, BPKP dinilai tidak memiliki kewenangan untuk mengaudit lembaga negara independen seperti KPK.
Pidana Berlapis
Tak lalu tidak ada perlawanan terhadap Cicak. Terpidana kasus suap, Sarjan Taher, bahkan menganggap, keberadaan Cicak mestinya tidak didukung. Kata doa, masyarakat seharusnya mendukung pihak polisi dan bukan komisi antikorupsi. 

Sarjan mengistilahkan Cicak hanya mampu menangkap nyamuk sementara buaya bisa menangkap kambing dan kerbau. “Kenapa deklarasi Cicak, seharusnya deklarasi buaya,” kata Sarjan dalam keterangan tertulis yang dibagikan usai diperiksa di Gedung KPK, tiga hari setelah deklarasi Cicak. Benarkah? Tunggu dulu.

Cicak hanyalah satu gerakan yang mendukung KPK, yang menurut Ruki sudah banyak dirongrong untuk dilumpuhkan itu— dan bukan KPK itu sendiri. Dalam hal memberantas korupsi, KPK sejauh ini harus diakui masih berada di depan, ketimbang lembaga penegak hukum lainnya. Dan dukungan Cicak terhadap KPK bertujuan, agar lembaga itu tidak dilumpuhkan oleh banyak kepentingan politik termasuk dari para aparat penegak hukum.

Cicak karena itu kemudian segera bereaksi keras, ketika pengakuan Antasari yang menyebutkan ada pimpinan KPK yang terindikasi menerima suap dari Anggoro Wijaya, Direktur Utama PT Masaro Radiocom— mencuat ke permukaan. Gerakan itu mendesak kepolisian agar Antasari dijerat dengan pasal pidana berlapis karena melakukan sejumlah tindak pidana. 

Menurut Adnan Topan Husodo dari Cicak pengakuan Antasari yang menyebutkan dua pimpinan KPK yang dituding menerima suap merupakan skenario pelemahan KPK. Menurut Adnan, jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengambil langkah mengatasi masalah pelemahan KPK tersebut, dia akan dianggap berada di balik skenario itu. “Atau minimal ikut menikmati lemahnya KPK,” kata Adnan, dalam jumpa pers, pekan lalu.

Soraya Aiman dari Transparency International Indonesia atau TII menjelaskan, testimoni Antasari mestinya bisa menjadi dasar untuk memidanakannya. Selain dianggap lemah sebagai alat bukti, testimoni itu oleh TII dituding sebagai bagian dari skenario melemahkan KPK. 

Kelemahan pengakuan Antasari itu, terutama karena dibuat hanya berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari orang lain. “Dia tidak mendengarnya atau mengalaminya sendiri,” kata Soraya.

Berdasarkan testimoni itu pula, Antasari juga dinilai telah melanggar UU KPK. Antara lain yang berhubungan dengan larangan bagi pimpinan KPK untuk bertemu dengan tersangka. Selain itu, Antasari juga bisa dapat dijerat dugaan pasal pemalsuan surat pencabutan cekal terhadap Anggoro. 

Lalu siapa bilang, Cicak tak bisa melawan buaya? N rangga prakoso

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 9 Agustus 2009

Written by Me

August 11, 2009 at 12:59 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: